
Aya mendongak menatap indahnya malam di sawah, ah... ia tidak menyangka tempat ini bisa menjadi tempat favoritnya terutama pemandangan malam. "Boleh aku memberimu nama?"
"Nama?"
"Aku tidak tahu namamu, masa aku bilang teman Jonathan?" Aya tetap mendongak menatap langit.
"Kalau begitu kasih nama untukku."
"Kaze." Jawab Aya cepat.
"Apa?" teman Jonathan menoleh menatap Aya, ia terkejut Aya begitu cepat memutuskan. "Nama apa itu?"
"Itu bahasa Jepang, kalau bahasa Indonesianya angin. Karena kamu seperti angin yang bisa mencabut segala keindahan di dunia ini karena profesi kamu." Aya tidak berani menatap langsung Kaze.
"Yah, nama yang cocok untuk malaikat kematian sepertiku." Kekeh Kaze.
"Dan tidak bisa disentuh."
"Hah?"
"Angin tidak bisa disentuh dan dimiliki, sama seperti keadaanku sekarang. Kamu sudah menyegarkan hatiku tapi aku tidak bisa memilikimu, sebagai manusia aku ini egois banget ya." Aya tertawa hambar.
Kaze terdiam, "itu karena kita berdua tidak berani melakukan ritual itu."
Aya mengangguk, "aku berpikir ulang... Andrea bisa melakukan kenekatan itu karena sakit hati pada papanya, ia sudah tidak peduli hasil akhirnya bagaimana yang penting bisa bersama Jonathan. Aku? Aku memiliki orang tua lengkap dan saudara yang menyayangiku, aku tidak mungkin mati sia-sia demi orang lain."
"Orang lain ya." Kaze tersenyum sedih.
"Meskipun aku mencintaimu, kamu tetap orang lain." Aya menutup kedua matanya, "aku tidak bisa melakukan ritual itu."
"Aku juga. Aku juga tidak bisa melakukannya, aku... sudah mengalami berbagai hal menyakitkan, aku tidak mau mengulang hal yang sama."
"Aku jadi iri dengan para perempuan yang bisa menikah dengan orang yang dicintainya." Aya tertawa hambar. "Jadi ini hasil akhirnya?"
"Ya, ini hasil akhirnya."
Aya memberanikan diri menoleh, "kalau aku mati nanti... jangan kamu yang mencabut nyawaku ya."
"Kenapa?" Kaze menoleh.
"Karena aku tidak ingin melihat kedua bola matamu lagi."
__ADS_1
Kaze menghela napas dengan berat, "ya."
Aya menghapus air mata di pipinya, "aku pergi dulu ya."
Kaze menghalau Aya, "ada satu hal yang aku ingin lakukan di perpisahan terakhir."
Aya memunggungi Kaze, "apa?"
Kaze memejamkan mata sebentar lalu membuka matanya, "aku mencintaimu."
Aya tidak kuasa menahan air matanya, "aku tahu, aku tahu."
"Selamat atas pernikahanmu. Sampai jumpa."
Aya menoleh ke belakang, Kaze sudah tidak ada ditempatnya lagi. Ia menangis keras-keras di tengah sawah, kenapa... kenapa ia harus jatuh cinta pada malaikat itu, kenapa ia harus terpedaya.
Seroja menghampiri Aya, ia menghela napas. "Manusia memang bodoh, jatuh dengan sukarela." Seroja menarik kepala Aya ke pelukannya. "Jangan menangis, manusia bukan makhluk yang lemahkan. Aku antar kamu pulang ya, sudah malam."
Aya mengangguk setuju di dalam pelukan Seroja.
Paginya, selesai merias diri dan semua orang yang membantu keluar kamar, Aya membuka surat Andrea yang diberikan Seroja semalam.
Dear Aya,
Seperti perkataan Seroja, kita manusia merupakan makhluk paling bodoh... kita tidak akan belajar jika belum jatuh ke titik paling menyakitkan.
Jangan terlalu larut dalam kesedihan, cobalah berpaling dan mencari hal menyenangkan... Maaf, aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu. Dari perancis aku selalu mendoakanmu.
Andrea.
Ps. Cinta pertama jarang ada yang bisa menggapainya, bisa saja itu cinta monyet :p
Aya melipat kembali surat itu dan meletakannya di tengah buku yang diberikan Jonathan. Aya merenungi surat yang diberikan Andrea, benar yang ditulis Andrea... cinta pertama itu bagaikan cinta monyet, jarang ada yang bisa memilikinya dan membedakannya. Dari cerita Andrea semasa SMA saja, Jonathan bukan cinta pertamanya, begitu juga Jonathan. Cinta pertama Jonathan adalah bidadari cantik yang menolongnya, bidadari sih dimana-mana memang cantik... manusia saja kalah.
Aya menjadi kesal mengingat teman Jonathan juga ditolong bidadari. Duh...
"Aya, calon suamimu sudah datang. Yuk keluar." Kepala kakak Aya muncul di sela pintu.
Aya berdiri dan merapikan kebaya dan jilbabnya. "Ya." Setelah memastikan semuanya rapi, ia keluar dari kamar. Meninggalkan Seroja dan Kaze.
"Manusia memang tidak bisa melihat makhluk seperti kita." Seroja menghela napas, "saya sendiri juga menyedihkan... melindungi manusia yang tidak sadar kalau dirinya saya lindungi."
__ADS_1
"Memang itu tugas pelindung." Kaze tertawa keras. "Apa?" tanya Kaze melihat Seroja tersenyum kedirinya.
"Jadi, sekarang nama kamu Kaze ya." Goda Seroja.
"Cerewet!" Kaze menunduk malu.
"Kamu tahu Kaze, di dunia manapun hanya ada dua cinta. Mempertahankan dan melepaskannya, kalau kamu dan Aya memilih cinta yang terakhir."
"Kami hanya tidak cocok."
"Waktu yang akan menyembuhkan hati kalian, percayalah! Aku hidup dengan manusia sudah ribuan tahun lamanya."
"Aku tahu dan itulah yang aku takutkan, manusia memiliki banyak emosi... itu berarti manusia juga mudah melupakan semuanya."
"Kamu menyesal?"
"Menyesal apa?"
"Menyesal karena berpisah dengan Aya."
Kaze tersenyum. "Kamu tahu, setidaknya aku memiliki nama sekarang. Itulah hikmah yang bisa aku ambil."
"Hmmm... mau coba membelokan pembicaraan ya."
Kaze tersenyum misterius dan melihat jam di tangannya, "aku pergi dulu ya. Ada kerjaan."
"Kabur ceritanya?"
Kaze mendecak dan menunjukan telapak tangan kanannya ke Seroja.
"Percaya." Seroja tersenyum anggun.
Kaze menghilang dari pandangan Seroja, Seroja membuka surat yang dicurinya dari mantel Kaze.
Tulisanku tidak begitu bagus, tapi aku Cuma ingin mengucapkan terima kasih sudah memberiku nama yang penuh arti. Aku menyukai nama pemberianmu dan akan aku pakai selamanya.
Kaze
Seroja menghela napas begitu selesai membaca surat yang ditulis Kaze dan meletakannya di tengah buku, diatas surat Andrea. "Ya ampun, bahkan disuratnya hanya ada ucapan terima kasih saja. Dasar pria keras kepala."
Aya masuk ke dalam ruangan, keluarganya, keluarga pihak pria sudah siap di dalam bersama penghulu, Aya menghembuskan napas berusaha menahan haru. Ini adalaha langkah pertama dan terakhirnya, ia sudah memantapkan hati menerima lamaran Herman, teman kerjanya. Aya belajar mengikhlaskan Kaze.
__ADS_1
Aya memejamkan mata sekilas lalu duduk di samping Herman.
Terima kasih Kaze, sampai jumpa cinta pertama Aya.