KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TUJUH BELAS


__ADS_3

"Buka matamu."


Aya membuka matanya dan melihat tempat dia berada sekarang sudah berganti tempat, sekarang ia berada di kamar Andrea.


"Rapi juga." Teman Jonathan melihat sekeliling kamar Andrea.


"Kalau saja kamu tidak berprofesi itu sudah aku tendang kamu dari sini." Andrea membuka jaketnya. "Taruh saja tas kamu Ay, mama sama Andre belum pulang kok."


"Kerja?" tanya Aya sambil meletakan tas ranselnya di samping meja belajar Andrea.


"Mama buka kursus masak sementara Andre les persiapan masuk SMA," kata Andrea. "Nanti aku minta tolong mama kalau sudah pulang, sekarang kamu SMS saja dulu, bawa handphone kan?"


Aya mengangguk sambil mengeluarkan handphonenya dari saku rok. "Bawa-"


"Aku ambil minuman dulu di bawah terus-" Andrea melirik teman Jonathan. "Sampai kapan ada disini?"


"Sampai Jonathan menyuruhku pergi, kamu pikir aku senang apa menjaga anak kecil seperti kalian berdua?" cibir teman Jonathan.


"Aku ikut kamu turun deh, malas berdua sama dia." Aya mengikuti Andrea keluar dari kamar.


"Apa?!" seru teman Jonathan.


Andrea dan Aya tertawa bersama.


"Kamu masih ingat tempat gelasnya dimana kan? aku buka kunci pintu rumah dulu supaya tidak ada yang curiga."


"Iya, masih ingat kok." Aya masuk ke dapur dan membuka lemari atas berisi gelas-gelas lucu koleksi Andrea, biasanya Aya berkunjung ke rumah Andrea seminggu sekali di hari minggu tapi berhubung Andrea sibuk dengan Jonathan maka ia jarang ke rumah Andrea lagi. "Kamu mau minum apa, Ndrea?"


"Apa saja!" teriak Andrea dari ruang tamu.


Aya membuka kulkas. "Aku buatin sirup ya."


"Ah, kalau sirup aku minta tolong buatin yang leci ya, aku siapin camilannya." Andrea jalan menghampiri Aya.


Aya mengambil dua botol sirup, yang satu leci dan satunya sirsak. "Pantas saja waktu itu kamu sempat ketakutan tidak mau lewat gerbang sekolah, ternyata memang menakutkan."


"Apanya?" Andrea membuka lemari tempat penyimpanan camilan.


"Malaikat itu-"


"Ah, mas Jo."


"Kamu enteng sekali panggil dia mas Jo begitu."


Andrea menoleh. "Karena aku sudah terbiasa sama dia, awalnya kesel tapi lama-lama mengalir begitu saja."


Setelah membuat sirup, Aya mengembalikan botol sirup ke dalam kulkas. "Kamu suka dia?"


Andrea terdiam


Aya menoleh, "Ndrea?"


"Aku tidak mengerti tentang hal itu tapi, aku yang dulunya merasa kesepian sudah tidak kesepian lagi." Andrea tersenyum. "Aku senang dia muncul meskipun harus di kondisi seperti ini."


"Kamu tidak menyesalkan?"


Andrea tersenyum masam. "Apanya yang tidak menyesal? Kalaupun aku menyesal itu tidak akan mengubah apapun, selain itu aku harus menerima ini semua dari awal."


Aya memeluk erat Andrea. "Aku sahabatmu, kalau ada sesuatu, beritahu aku ya."


Andrea membalas pelukan Aya. "Terima kasih banyak, aku senang punya sahabat seperti kamu."

__ADS_1


Teman Jonathan berdehem.


Andrea dan Aya cepat-cepat melepas pelukan mereka.


"Aku senang melihat persahabatan kalian tapi kita tidak bisa berlama-lama disini," kata teman Jonathan. "Kita harus menemui Jo."


"Kapan?" tanya Andrea.


"Setelah mendapat kabar darinya. Jadi, setelah ini," jawab teman Jonathan.


"Memangnya kemana tunangan Andrea? kenapa harus menunggu dia?" tanya Aya.


"Kamu pasti sudah mendengar cerita temanmu mengenai kawasan wisata itukan?" tanya teman Jonathan ke Aya.


Aya mengangguk.


"Temanku sedang mencari tahu mengapa ada hewan yang menyerang kami ke pihak atas." Cerita teman Jonathan. "Kalau kita gegabah bertindak, kejadian sama akan terulang makanya kita harus mencari penyebabnya."


"Bukankah penyebabnya karena mereka menginginkan jiwaku dan menggagalkan syarat itu?" tanya Andrea.


"Kalau menginginkan jiwamu aku masih bisa mengerti tapi menggagalkan syarat menjadi manusia tidak ada untungnya sama sekali bagi mereka." Teman Jonathan mengangkat bahu. "Makanya untuk berjaga-jaga, dia menyuruhku menjagamu sepanjang hari."


"Terus kamu tidak kerja?" curiga Aya.


"Tentu saja aku kerja, buktinya tadi pagi aku tidak ada dan kamu melihatku saat bel masuk kelas kalian," jawab teman Jonathan.


"Itu mengingatkanku kenapa Aya bisa melihat kamu." Andrea menggigit jari jempolnya. "Aku senang Aya tahu tapi dalam hatiku aku tidak ingin dia terlibat lebih jauh."


"Bisa dimengerti, tapi kalau ditelusuri mungkin penyebabnya benda yang ada bersamaku ini." Teman Jonathan menepuk dadanya.


"Benda?"


"Ya, benda yang menyebabkan semua ini terjadi. Aku tidak bisa menunjukannya pada kalian sekarang, aku tidak mau mengambil resiko lagi." Dengus teman Jonathan.


"Tapi memang sebaiknya jangan dimunculkan ditempat ini-" Andrea menunduk cemas, "aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu."


"Keputusan yang bijak." Teman Jonathan menepuk kepala Andrea.


Aya memandang iri Andrea. "Hmmm tepukan kepala ya? Romantisnya- seperti drama korea, sayang lawan mainnya salah."


"Apa?" tanya teman Jonathan tidak mengerti.


"Enggak." Aya membuang muka. "Ngomong-ngomong, malaikat itu gak makan dan minum ya?"


"Ah iya, aku juga kepikiran itu, setiap bertemu mas Jo, dia tidak makan dan minum." Andrea menepuk kepalanya.


"Kami makan dan minum juga kok." Dengus teman Jonathan. "Buatkan aku sirup juga!"


"Lho? tahu sirup toh." Goda Aya.


"Tahulah! aku ini hidup lebih lama dari kalian, antar di kamar Andrea ya, aku duluan kesana." Perintah teman Jonathan.


"Dasar tukang perintah!" kata Aya.


"Meskipun tukang perintah, mau aja kamu disuruh." Komentar Andrea melihat Aya membuatkan sirup untuk teman Jonathan. "Kalau aku pasti tidak mau."


"Mau bagaimana lagi, diakan tamu." Sahut Aya. "Ndrea-"


"Mhm?"


"Aku bicara seperti ini sebagai sahabat baik kamu." Aya memutar badannya dan menatap serius Andrea.

__ADS_1


Andrea menghentikan pekerjaannya dan menoleh. "Ada apa Ay? tumben serius."


Aya menarik napas perlahan dan menghembuskannya. "Jangan terlalu bergantung pada Jonathan. Aku tahu sejarah keluarga kamu dan aku juga maklum kalau kamu sempat berpikiran untuk keluar secepatnya dari masalah keluarga kamu tapi... tetap saja kita tidak bisa percaya meskipun dia seorang malaikat."


"Tapi bukannya malaikat tidak bisa berbohong?"


"Kamu tadi tidak lihat yang dilakukan teman Jonathan? Dia menakut-nakuti ku padahal dia tahu manusia penakut untuk hal yang kamu tahulah- dilihat dari situ saja kita bisa tahu kalau dia itu usil sama seperti kita."


Andrea membenarkan penilaian Aya dalam hati.


"Nah, kalau dia bisa seperti itu, pasti dia juga bisa berbohong. Berbohong demi kebaikan tidak masalah tapi apakah membohongi kamu itu juga kebaikan?"


Andrea menunduk.


"Ndrea jangan terlampau jauh, kamu memang sudah terlanjur janji untuk menolongnya tapi jangan berharap banyak dia akan menikahi mu dan mengeluarkan mu dari masalah sekarang." Aya menggenggam tangan Andrea. "Aku sahabatmu, aku tidak ingin terjadi masalah buruk padamu."


Andrea membalas genggaman Aya. "Terima kasih Aya, akan aku pikirkan ini."


"Harus. Kalau tidak, kamu yang akan rugi, ingat dimanapun selalu perempuan yang rugi."


Andrea mengangguk pelan. "Terima kasih sudah mengingatkanku."


"Sudah sewajarnya." Aya tersenyum.


"Minumnya masih lama?!" teriak teman Jonathan dari kamar Andrea di lantai dua.


Aya mengangkat alisnya. "Kamu dengarkan?"


Andrea mengangguk. "Iya, ya."


Andrea dan Aya melanjutkan pekerjaan mereka lalu naik ke atas. Di kamar Andrea, teman Jonathan sedang membaca komik sambil bersila.


"Lama!" komentar teman Jonathan begitu melihat Aya masuk ke dalam kamar.


Aya tidak menjawab, dia meletakan gelas di depan teman Jonathan begitu juga dengan Andrea.


Teman jonathan mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis. "Ah, segar!"


Andrea dan Aya menatap herapn teman Jonathan.


"Apa?" teman Jonathan menyadari ditatap Andrea dan Aya.


Andrea dan Aya menggeleng bersamaan.


"Bersiaplah, sebentar lagi waktunya sudah tiba." Teman Jonathan melihat jam di dinding atas pintu kamar Andrea.


"Jonathan sudah menunggu?"


"Ya. Untuk syarat ke empat." Jawab teman Jonathan sambil mengambil kue.


"Aku boleh ikut?" tunjuk Aya pada dirinya sendiri.


"Boleh." Jawab teman Jonathan dengan mulut penuh kue. "Mhm, enak sekali."


"Kamu sudah sms ibu kamu?" tanya Andrea.


"Sudah tadi sebelum naik ke atas, langsung dijawab ok." Aya menunjukan pesan balasan ibunya. "Mama kamu pulangnya masih lama kan? Apa tidak apa-apa kita berangkatnya sekarang?"


"Bagaimana kalau menunggu mamaku pulang?" tanya Andrea ke teman Jonathan.


Teman Jonathan mengangguk. "Boleh."

__ADS_1


Andrea menghela napas lega. "Aku tidak mau membuat mama dan Andre khawatir."


__ADS_2