KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA BELAS


__ADS_3

Sudah ketiga syarat dipenuhi, tinggal empat syarat lagi yang harus dipenuhi Andrea. Syarat ke empat entah Andrea harus melakukan apa, yang ia ingat hanya cerita mengenai masa lalu Jonathan saat ingin lepas dari sosok tuyulnya lalu saat ini ia dan Jonathan berada di suatu tempat.


"Air terjun." Gumam Andrea pada dirinya sendiri. "Ini air terjun Coban Rondo kan?"


"Kamu tahu?"


"Hah? Jadi mas Jo dulu ke air terjun ini?"


Jonathan mengangguk. "Ada berbagai tempat air terjun yang aku kunjungi tapi hanya tempat ini yang menenangkan ku."


"Tapi ini bukan air terjun tempat bidadari mandi kan?"


"Itu ditempat satunya. Kita kesini hanya ingin mengetahui sesuatu."


"Syarat selanjutnya bukan disini?"


"Kita belum menuju kesana, kita akan menemui seseorang terlebih dahulu."


Andrea melihat sekeliling air terjun, sudah terlalu malam untuk menikmati air terjun seperti ini. Suasananya terlalu mencekam bagi Andrea. "Mau ketemu siapa?"


"Temanku." Jonathan melambaikan tangannya, "disini!"


Andrea berdiri di belakang Jonathan dengan takut. Temannya itu- sesama malaikat pencabut nyawa kan?. Andrea melihat seseorang memakai jubah serba hitam dengan borgol di kedua tangannya.


"Kenapa dia diborgol?" tanya Andrea pada Jonathan.


"Fashion." Jawab teman Jonathan tepat di depan mereka berdua. "Apakah ini tunangan mu?"


Andrea mengeratkan pegangannya di jas Jonathan.


"Jangan menakuti tunangan ku." Jonathan berwajah masam.


"Hihihihi maaf." Orang itu membuka tudung jubah dengan kedua tangan yang diborgol. "Manusia memang penakut."


Mata Andrea terbelalak lebar, dia seperti mengenali orang di depannya. "Kamu- kayaknya aku pernah kenal?"


"Oh ya dimana? Kami para malaikat pencabut nyawa tidak mengenal masa lalu kami."


Jonathan menatap dengan tatapan bertanya ke Andrea, "Kamu mengenalnya?"


"Aku- merasa mengenalnya tapi aku lupa, mungkin saja dia orang terkenal atau-"


"Masa lalu aku tidak penting, yang terpenting aku sudah bebas." Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. "Lebih baik menjadi malaikat pencabut nyawa daripada manusia."


Jonathan mengambil keris di saku dalam jasnya. "Kamu mengenal keris ini?"


Laki-laki itu mengamati keris di tangan Jonathan dengan seksama. "Aku mengenalnya, kenapa ini ditangan kamu?"


"Memangnya kenapa kalau ini di tangan kami?" tanya Andrea.


Laki-laki itu menatap aneh Andrea, "kalian manusia tidak tahu?"


"Memangnya kamu bukan manusia?" Andrea merasa terhina. Memangnya kenapa menjadi manusia?


"Keris itu ada isinya. Mr Gende."


"Mr. Gende?" tanya Jonathan dan Andrea bersamaan.


"Iya. Genderuwo."


Teman Jonathan menangkap keris yang dilempar Jonathan dengan jubahnya. "Hati-hati ini ada isinya, tapi tidak bisa keluar. Kita para malaikat pencabut nyawa otomatis mengeluarkan penahan jin semacam ini."


"Jadi di rumah aku dari kemarin ada Mr. Gende? Di dalam keris? Astaga!" erang Andrea.


"Pantas saja Seroja ingin cepat-cepat menghancurkannya." Gumam Jonathan.

__ADS_1


"Tentu saja harus dihancurkan! Ada mr. Gende di dalamnya gitu!" Seru Andrea ketakutan, "Jangan bawa semacam itu di rumah apalagi kamarku dong!"


"Aku kan nggak tahu," kata Jonathan.


"Sekali lihat saja pasti tahu kan, masa nggak tahu?" tanya teman Jonathan. "Ah, apa jangan-jangan efek akan menjadi manusia? Manusia kan tidak boleh memiliki kekuatan seperti kita."


Jonathan menatap kosong kedua tangannya. Apa benar kekuatannya perlahan sudah mulai menghilang?


Kepala Andrea menengadah ke atas. "Entah kenapa- aku merasa mulai hujan ya."


Jonathan dan teman Jonathan menoleh ke Andrea.


Andrea menyadari diperhatikan langsung menoleh dan menatap balik mereka berdua. "Apa?"


Tak lama rintik hujan mulai turun, teman Jonathan menepuk bahu Jonathan. "Sepertinya tunangan mu mulai memiliki kekuatan."


Jonathan menelan ludah dan membuang mukanya.


Teman Jonathan melambaikan tangannya ke Andrea, "Andrea, kamu bisa memikirkan sesuatu yang bisa melindungi kami bertiga supaya terhindar hujan?"


Andrea menoleh, "Melindungi?"


Teman Jonathan mengangguk, "pejamkan matamu dan pikirkan sesuatu lalu tiup jempol kamu dan teriakan dalam hati setelah itu jentikkan jari kamu."


Andrea mengikuti instruksi teman Jonathan, kurang dari lima detik payung sudah berada di tangan Jonathan dan temannya.


Teman Jonathan mengerutkan kening, "Payung?"


"Kalau kita kehujanan pasti butuh payung bukan?"


Teman Jonathan menghela napas, "Untuk ukuran pemula memang bagus. Ah, sudah mulai deras hujannya."


Jonathan menarik Andrea berlindung di bawah payungnya. "Intinya aku harus tetap menghancurkan keris itukan?"


"Terserah kamu, mau kamu hancurkan atau nggak. Tapi saran ku lebih baik kamu hancurkan meskipun ada timbal baliknya dengan pemiliknya." Kata teman Jonathan.


"Oh, jadi yang punya ayah kandungmu ya. Sebaiknya kamu hati-hati, jika kekuatan ayah kandung kamu melemah maka akan berpindah pada dirimu." Teman Jonathan berdehem, "Mengingat kamu tunangan temanku, sepertinya itu akan berbalik ke saudara kamu yang sedarah dengan pemiliknya."


Andrea melotot, "Adikku?!" serunya.


"Bisa jadi." Angguk teman Jonathan.


Andrea menarik-narik lengan Jonathan. "Mas Jo-" Rengeknya.


Jonathan menghela napas, "Terima kasih informasinya, kami kembali saja. Sudah larut, besok pagi Andrea harus sekolah."


Teman Jonathan mengangguk mengerti. "Tidak usah sungkan, aku senang kok bisa membantu teman sendiri."


"Ayo." Ajak Jonathan.


"Tunggu!" Andrea memicingkan mata, ia melihat sesuatu di air terjun, "Seperti ada sesuatu di sana."


Jonathan menarik mundur Andrea ke belakangnya. "Dimana?"


"Di tengah air terjun." Tunjuk Andrea. "Ada sesuatu-"


Teman Jonathan mengerutkan kening. "Aku tidak bisa melihatnya."


"Masih ada, kalian berdua kira aku bohong? Aku melihatnya! Masih ada di sana, di tengah air terjun, seperti melayang!" Tunjuk Andrea dengan panik.


"Aku tidak melihatnya." Jonathan memperhatikan air terjun yang ditunjuk Andrea.


"Sama." Timpal teman Jonathan.


"Masa cuma aku saja yang ngeliat?" erang Andrea.

__ADS_1


"Gini aja, biar aku yang ngecek di sana, tolong jagain Andrea." Jonathan mengambil keputusan.


Teman Jonathan menghela napas. "Hati-hati."


Andrea berpindah payung sementara Jonathan mengecek sekitar air terjun, ia melayang di atas air.


"Sudah berapa syarat kalian lewati?"


"Tiga." Jawab Andrea singkat.


Teman Jonathan bersiul. "Hebat juga, biasanya kaum kami tidak mau melewati syarat pertama."


"Apa itu sulit bagi kalian?" tanya Andrea.


"Mana ada yang mau pergi ke tempat mengerikan, tempat yang membuat kami terpisah dari orang tua. Yang ada kami ingin menghancurkan tempat itu, sayangnya tidak diizinkan."


"Kenapa? Lebih baik dihancurkan. Tahu nggak, tuyul itu dilarang lho."


Teman Jonathan tertawa, "hooo jadi si mr. calm itu dulunya tuyul toh hahahahaha."


Andrea mengerutkan kening. "Emangnya situ nggak?"


"Aku beda dengan Jonathan yang diculik dari janin, aku diculik kuntilanak."


Andrea menoleh, "kok bisa? Nggak ada yang nolongin?"


"Entahlah, seingat ku- aku main di sawah bersama teman-teman yang diculik, katanya aku diculik setelah dilahirkan." Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya.


"Jadi bukan karena tumbal atau apapun?"


"Nggak, murni karena si kunti nya."


"Terus gimana caranya-"


"Semua anak yang ingin diselamatkan selalu lari ke air terjun bidadari jadi di sanalah kami merasa dilahirkan kembali." Teman Jonathan tersenyum jahil dan membuka tudung jubahnya. "Sekarang kami jadi tampan kan?"


Andrea terkesima. Pria di hadapannya memang berwajah tampan. "Wow."


"Tapi masih kalah tampan sama tunangan kamu."


Mata Andrea mengikuti Jonathan yang sudah berdiri di atas air terjun. "Kok mas Jo di sana?"


Teman Jonathan menoleh. "Lha."


Perasaan Andrea mendadak tidak enak, dia balik badan dan mendorong teman Jonathan menjauh. "Awas!"


Andrea terkena sesuatu yang dilempar makhluk asing itu dan terhempas jatuh ke dalam air.


"Andrea!" seru teman Jonathan.


Jonathan yang mendengar teriakan temannya langsung berpindah tempat dan berjongkok di depan temannya. "Andrea mana?" tanyanya.


Teman Jonathan melotot saat ada sesuatu menghampiri mereka. "I- itu-"


"Itu apa?" Jonathan menoleh dan terkejut apa yang dibelakangnya, sesosok makhluk berwarna hitam dengan mata merah berukuran besar menyeringai ke arah mereka. "Salah satu anak buah, jin itu."


"Selamatkan Andrea! Dia dijatuhkan ke dalam air!" seru teman Jonathan dengan panik.


"Tenang saja, Andrea tidak akan mati semudah itu." Jonathan tersenyum, matanya menatap tajam makhluk itu.


Tiba-tiba di belakang Jonathan dan temannya menyembur air keluar, Seroja memandang marah makhluk hitam itu. "Berani-beraninya menyerang tuanku!" bentaknya.


Jonathan mengeluarkan tongkatnya sementara Seroja menyerang makhluk itu dengan air.


"Kamu!" Seroja menatap marah teman Andrea sambil melambaikan tangan untuk mendorongnya masuk ke dalam air. "Bawa tuanku keluar dari air, aku sudah melindunginya!"

__ADS_1


"Argh!" teriak teman Jonathan, lalu kepalanya muncul kembali. "Berani sekali kamu dengan malaikat sepertiku."


Seroja menatap marah teman Jonathan.


__ADS_2