
"DOR!"
Teman Jonathan menjerit dan menoleh, melihat om Re tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya.
"Astaga- ternyata malaikat pencabut nyawa bisa dikejutkan dengan cara lama," Katanya sambil tertawa. "Hahahaha-"
Teman Jonathan memijat kening, dia juga merasa bodoh- kenapa bisa terkejut dengan hal itu padahal dirinya lebih tua dari om Re. "Mau apa kamu kesini?"
"Aku dari tadi mengikuti kalian, tapi tidak berani mendekat gara-gara perempuan cantik itu, siapa dia? jin ya? Hayooo selingkuh sama jin." Goda om Re.
Teman jonathan memandang kesal om Re. "Berisik!"
Om Re tertawa geli. "Ngomong-ngomong kenapa Aya masuk ke dalam lubang ini?" tunjuknya.
"Mau ngecek sesuatu."
Om Re mengerutkan kening. "Kamu melibatkan cucu saya dengan hal-hal aneh ya?"
"Sejak kapan Aya menjadi cucu kamu?"
"Dari dulu! lagian, aku dengar dari kemarin- situ manggil saya kamu."
Teman Jonathan menghela napas dengan sabar. "Om Re."
"Nah gitu dong, manggil om Re."
Teman Jonathan memutar bola matanya. Menyebut Aya cucunya tapi manggilnya disuruh om. Tidak, tidak- ini bukan waktunya berdebat.
"Terus kenapa Aya masuk ke dalam lubang?"
"Ka- maksud aku, om Re tidak perlu ikut campur."
"Dia cucu saya, saya berhak tahu!" om Re menunjuk dirinya sendiri.
"Untuk sekarang saya tidak bisa cerita karena saya tidak tahu apa yang terjadi, tapi- Aya dengan sukarela masuk ke sana untuk mengetahui apa yang terjadi."
"Yang kamu bicarakan ini- tentang gempa tadi?"
"Ya," angguk teman Jonathan.
"Kalau begitu kenapa kamu tidak turun?"
"Aku tidak bisa turun, tadi mendekat saja tidak bisa kalau Aya tidak menghancurkan pelindungnya."
"Sejak kapan cucu saya punya kekuatan ajaib?"
"Aya sendiri tidak tahu mengenai hal itu, makanya aku dorong masuk Aya duluan dan ternyata berhasil."
"Lalu?"
"Lalu aku berusaha mencari cara supaya bisa turun."
"Terjadi sesuatu dengan Aya?"
"Aku tidak bisa memastikannya, aku tidak bisa merasakan apapun sejak Aya masuk ke dalam lubang, pelindungnya sangat kuat."
Om Re berjongkok di depan lubang dan mencoba memasukan tangannya. "Dari kejauhan aku melihat kamu memasukan tangan dan mengeluarkannya-"
"Itu tadi aku mencoba apakah ada pelindungnya dan ternyata memang ada," jawab teman Jonathan dengan cepat.
__ADS_1
"Kalau begitu kita memang harus menunggu nona Aya keluar."
Om Re dan teman Jonathan menoleh, Seruni berdiri di belakang mereka sambil memegang payung. Sekarang tidak memakai kebaya lagi tapi gaun ala belanda berwarna cokelat semata kakinya.
"Kamu salah satu bawahan Seroja kan." Tunjuk teman Jonathan.
Seruni menghela napas kesal dengan anggun. "Jangan menunjuk begitu! tidak sopan!" hardiknya. "Tuan putri menyuruh saya menjaga anda selama beliau kembali ke istana untuk melihat kondisi nona Andrea."
Om Re melihat perempuan berparas manis dan khas Jawa itu. "Kamu jin juga? manisnya."
Seruni menatap om Re dengan terkejut. "Dia roh kan?"
"Iya," angguk teman Jonathan. "Lalu tuan putrimu tidak memberitahu sesuatu mengenai lubang ini?"
"Saya hanya disuruh menjaga kamu dan dilarang keras untuk masuk ke dalam lubang," jawab Seruni dengan santai.
Teman Jonathan menunduk lemas. "Jadi satu-satunya cara memang menunggu Aya keluar dari lubang ini ya."
"Tunggu dulu! kalau terjadi sesuatu dengan cucu aku! aku adukan kamu ke malaikat lainnya," ancam om Re pada teman Jonathan.
"Adukan saja, nasi sudah menjadi bubur." Jawab teman Jonathan dengan pasrah.
"Tuan putri juga berpesan, kalau ada apa-apa dengan nona Aya- beliau tidak akan menanggung kemarahan nona Andrea." Seruni menyampaikan pesan ke teman Jonathan.
Teman Jonathan memeluk kedua lututnya, kepala disembunyikan di tengah lutut. "Aku pasrah dengan semuanya."
Om Re menepuk keras punggung teman Jonathan. "Jangan menyerah! kita tidak boleh menyerah! kita harus mencari cara demi Aya."
Teman Jonathan memutar kedua bola matanya. Bicara memang mudah, melakukannya ini yang sulit.
Andrea duduk di atas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya, di depan pintu terdengar suara keras. Andrea menutup kedua telinganya dengan ketakutan, ia bisa mendengar suara yang tidak ingin ia dengar, suara menakutkan yang ingin dirinya membuka pintu.
"Seroja!" isak Andrea ketakutan, "Seruni!"
Tiba-tiba Andrea merasakan sesuatu yang keras di jari manis kirinya. "Cincin?" Andrea melihat cincin polos berwarna emas melingkar di jari manis kirinya, ia tidak bisa melepas cincin itu. "Cincin apa ini?"
Andrea melihat telapak kiri jari manisnya tertera nama Jonathan. "Kenapa-"
Andrea mengangkat kepalanya lalu memeluk Seroja. "Seroja!!!!!!" Serunya.
Seroja balas memeluk Andrea. "Kamu tidak apa-apa? ada yang menyerang mu?"
Andrea menggeleng. "Untungnya tidak, tapi diluar... diluar..."Andrea terbata-bata dan duduk di atas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya, di depan pintu terdengar suara keras.
Andrea menutup kedua telinganya dengan ketakutan, bisa mendengar suara yang tidak ingin ia dengar, suara menakutkan yang ingin dirinya membuka pintu.
"Seroja!" isak Andrea ketakutan. "Seruni!"
Tiba-tiba Andrea merasakan sesuatu yang keras di jari manis kirinya. "Cincin?" Andrea melihat cincin polos berwarna emas melingkar di jari manis kirinya, ia tidak bisa melepas cincin itu. "Cincin apa ini?"
Andrea melihat telapak kiri jari manisnya tertera nama Jonathan. "Kenapa-"
Seroja muncul di samping Andrea, "Andrea! kamu tidak apa-apa?"
Andrea mengangkat kepalanya lalu memeluk Seroja. "Seroja!!!!!!" Serunya.
Seroja balas memeluk Andrea. "Kamu tidak apa-apa? ada yang menyerang kamu?"
Andrea menggeleng ketakutan. "Untungnya tidak, tapi diluar... diluar..."
__ADS_1
------
Sementara di tempat Aya yang masih menelusuri gua dengan obor gaib yang diberikan Seroja.
"Saya pernah dengar cerita mengenai gua gaib." Om Re mulai cerita. "Pada tahun 90an ada sebuah sumur yang sudah lama tidak digunakan, sumur itu hendak digunakan kembali oleh pemilik lama, sang pemilik menyuruh tukang untuk turun ke bawah memeriksa dan membersihkan sumur namun nahas tak lama tukang itu menjerit lalu meninggal begitu juga dengan tukang-tukang selanjutnya hingga tersiar kabar bahwa sumur itu angker."
Teman Jonathan melirik Seruni. "Bukannya itu ulah jin?"
Seruni menatap tajam teman Jonathan. "Jangan samakan kami dengan makhluk rendahan yang suka menyerang manusia. Mereka hidup mengandalkan insting."
"Lalu!" Om Re melanjutkan ceritanya. "Ada salah seorang ustad yang mendengar kabar itu, maka sang ustad meminta ijin pemilik untuk turun ke bawah dan memeriksanya, kalian tahu apa yang dilihat ustad itu?"
Seruni dan teman Jonathan menggeleng bersamaan.
"Yang dilihat ustad itu adalah sebuah gua besar di dalam sumur dan dari dalam gua itu muncul sesosok makhluk berbulu besar yang biasa disebut genderuwo! Lalu sang ustad membinasakan genderuwo itu dan sumur bisa dipakai kembali."
Teman Jonathan dan Seruni saling melirik.
Seruni menggigit kuku jari jempolnya. "Rasanya saya pernah mendengar cerita ini."
"Kalau di dunia kamu tidak aneh lagi bukan." Teman Jonathan melihat jam tangannya. "Gawat! sudah hampir satu jam Aya di dalam sana!"
"Nona Aya diberikan sebagian kekuatan oleh tuan putri, jadi mereka tidak akan menyerang nona Aya," kata Seruni. "Tapi kita juga tidak bisa membiarkan nona Aya berada di dalam lama."
"Lalu apa yang harus kita lakukan? yang bisa masuk hanya manusia seperti Aya." Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya. "Aku bisa dimarahi Andrea kalau terjadi sesuatu padanya."
Seruni menghela napas. "Dasar malaikat tidak berguna."
"Apa kamu bilang?!"
"Hei! ini bukan waktunya saling mengejek!" om Re berusaha menengahi.
"Dia yang mulai!" tunjuk teman Jonathan seperti anak kecil.
Seruni melihat kukunya yang dicat merah. "Memang kenyataannya begitu."
"Kamu-" teman Jonathan hendak memukul Seruni.
"Wei, wei. Apa ini perilaku malaikat?" om Re berdiri di antara teman Jonathan dan Seruni. "Bertengkarnya nanti saja-"
Teman Jonathan menurunkan kepalan tangannya dan mundur selangkah. "Disini tidak ada yang bisa berguna."
"Memangnya kamu berguna?" ejek Seruni.
Teman Jonathan melirik tajam Seruni. "Memangnya kamu sendiri punya ide?"
"Ada!" angguk Seruni dengan anggun.
"Apa?" tanya om Re dan teman Jonathan bersamaan.
"Tunggu orangnya keluar," jawab Seruni dengan santai.
Om Re dan teman Jonathan menghela napas kesal.
"Kalau itu mah sudah dari tadi," kata om Re dengan nada kesal.
Teman Jonathan memandang sekeliling. "Ngomong-ngomong- kalian merasakan sesuatu nggak?"
"Ada yang aneh?" tanya om Re.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada yang lewat area sini? Inikan masih siang." Teman Jonathan memandang sekeliling dengan curiga. "Suara hewan pun tidak terdengar disini."
Seruni ikut memandang sekeliling. "Kamu benar, kenapa saya tidak menyadarinya dari awal?"