KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT BELAS


__ADS_3

Teman Jonathan tidak berani mengatakan apa-apa lagi, dia berenang ke dalam air untuk menolong Andrea keluar. Saat menemukan Andrea di dasar, dia melihat seekor kucing berwarna abu-abu polos dengan dada berwarna putih duduk mendengkur di atas perut Andrea.


Teman Jonathan mengedipkan matanya tidak percaya. Yang ia lihat adalah jiwa kucing, biasanya kucing ini diberikan dua pilihan saat mati. Membalas budi di surga atau membalas budi di dunia manusia, rupanya kucing ini memilih balas budi di dunia manusia.


"Balas budi di dunia manusia, huh?!" teman Jonathan mengangkat Andrea setelah kucing itu menoleh dan menghilang entah kemana. "Dibuang manusia tapi dicintai hewan."


Kepala teman Jonathan muncul di permukaan air bersama Andrea, melihat pertarungan sengit antara Seroja dan Jonathan vs makhluk gaib. "Tidak mungkin aku meletakan Andrea di sana, tapi kalau terlalu jauh, aku tidak bisa menolongnya, aku tidak boleh berhubungan terlalu jauh dengan manusia."


"Meong."


Teman Jonathan mencari suara kucing itu, rupa nya hewan itu berdiri di atas bebatuan yang tidak terlalu jauh dari arena pertarungan. Teman Jonathan berenang menuju ke sana dan mengangkat Andrea ke atas dengan susah payah. "Berat sekali anak ini."


"Mrrrrrrrr!!!!!" Kucing itu menaikan ekornya dengan marah.


"Ah maaf, maaf. Hal itu memang terlalu sensitive untuk anak perempuan." Teman Jonathan naik ke permukaan dan duduk di batu pinggir. "Bisakah kamu melindungi Andrea? Aku tidak bisa melindunginya, menolongnya saja sudah kesalahan untuk kaum kami."


Seolah mengerti dengan perkataan teman Jonathan, kucing itu duduk kembali di atas perut Andrea.


Teman Jonathan mengerutkan kening, baru sadar kalau baju Andrea tidak basah, berbeda dengan dirinya yang sekarang basah kuyup. Dan sekarang juga merasakan, di area tempat mereka duduki tidak ada hujan, berbeda dengan tempat Jonathan dan Seroja.


Teman Jonathan merebahkan diri di atas batu dekat Andrea pingsan, menatap langit malam. "Apa aku memilih jalan seperti Jonathan saja ya? tapi memilih tunangan itu sulit, kalau aku salah memilih, bisa saja aku yang mati." Teman Jonathan menoleh ke Andrea, "Entah Andrea atau Jonathan yang beruntung mendapatkan salah satu dari kalian."


Teman Jonathan berdiri dan menatap temannya, "Sebaiknya aku menolong satu-satunya sahabat terbaikku di kaum ka..." kalimatnya terhenti ketika melihat Jonathan dan Seroja menghampiri mereka. "Sudah selesai?"


Jonathan lari ke Andrea dan berhenti karena amarah kucing di perut Andrea. "Ini siapa lagi?"


"Oggy. Kucing Andrea yang meninggal karena sakit, karena inilah Andrea bertengkar dengan ayahnya. Kucing ini merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab pertengkaran ayah dan anak." Seroja melempar hewan buas yang sudah mati di atas batu dengan airnya.


Teman Jonathan berjongkok melihat hewan gaib yang menyerang Andrea. "Ini peliharaan jin musuh kalian atau anak buahnya?"


"Anak buah sekaligus peliharaan." Jonathan tidak berani mendekati Andrea, "Seroja, bisa jauhkan kucing itu dari Andrea?"


Seroja menghampiri Andrea. "Kenapa? Takut sama kucing?"


Jonathan menggeleng. "Badanku bau hewan gaib, kucing sangat sensitif terhadap bau hewan gaib yang jahat."


Seroja mengangkat Oggy ke dalam pelukannya. "Sudah!"

__ADS_1


Jonathan menghampiri Andrea dengan takut-takut, Seroja masih berdiri di samping Andrea menggendong Oggy. Setelah itu Jonathan jongkok di samping Andrea dan memeriksa keadaannya, syukurlah ia baik-baik saja.


Seroja membelai Oggy, "Kucing ini yang menyelamatkan Andrea, kucing ini juga yang menyuruh kan untuk menolong mu, Jonathan."


Jonathan mengangkat Andrea ala putri. "Terima kasih Oggy."


Oggy mengeong.


"Terus mau kalian apakan hewan ini?" teman Jonathan menunjuk hewan gaib yang terkapar itu.


"Hewan itu sudah mati, tapi kita butuh keberadaan pemiliknya," jawab Jonathan.


Seroja menggeleng anggun, "Kemungkinan besar pemiliknya tahu kalau hewan itu mati, percuma saja! dia pasti menghilangkan jejak."


"Aku tahu, setidaknya kita mencoba," kata Jonathan. "Hewan itu kamu yang bawa."


"Apa? Aku?" teman Jonathan menunjuk dirinya sendiri. "Kamu pasti bercanda kan? Kode etik kita melarang berhubungan dengan makhluk gaib terutama menyentuhnya, sekarang kamu malah menyuruhku menyimpannya? Jangan bercanda bro!"


"Aku tidak bercanda! Kalau aku yang menyimpannya juga tidak mungkin, aku malah menyimpan keris di saku jas ku dan sekarang kamu tahu sendiri kekuatanku perlahan berkurang sementara aku harus melindungi Andrea." Jonathan menghela napas berat.


"Kenapa tidak menyuruh perempuan ala kerajaan Jawa yang kalau muncul pakai musik itu?" teman Jonathan menunjuk Seroja.


"Apa? Lalu bagaimana dengan tugas kamu sebagai pelindung Andrea?" seru teman Jonathan dengan kesal pada Seroja.


Seroja membuang muka.


"Hei!" seru teman Jonathan.


"Aku minta tolong menyimpannya untuk sementara." Jonathan memohon pada temannya. "Demi sahabat baik mu ini."


Teman Jonathan menghela napas. "Aku akan menolong mu tapi bukan yang seperti ini tapi-" Teman Jonathan melirik Andrea yang pingsan di gendongan Jonathan, "Baiklah, baiklah aku akan menyimpannya tapi sementara saja ya, aku tidak mau lama!"


Jonathan tersenyum penuh kemenangan. "Terima kasih."


Teman Jonathan berjongkok dan mengeluarkan sebuah botol di saku celana, "Botol ini seharusnya aku gunakan untuk menyelamatkan anak-anak tapi ya sudahlah."


"Anak-anak?" tanya Jonathan dan Seroja.

__ADS_1


Teman Jonathan membuka tutup botol dan makhluk itu tersedot masuk ke dalam botol. "Kalian tidak dengar kalau akhir-akhir ini janin yang dikorbankan orang tuanya semakin banyak?"


"Kalau dulu janin menghilang karena orang lain tapi sekarang janin dikorbankan orang tuanya? Tidak ku sangka kejadian yang menimpa Andrea banyak dan sayangnya tidak banyak yang memiliki pelindung." Seroja menggeleng anggun dengan raut wajah miris.


"Karena itu beberapa dari kelompok kita diturunkan untuk investigasi, masalahnya ini semua diluar takdir, orang tua yang mengorbankan janin rata-rata untuk mendapatkan kekayaan." Teman Jonathan menutup botol dan menguncinya. "Kalian harus berhati-hati."


"Hati-hati untuk apa?" Seroja mengangkat salah satu alisnya.


Teman Jonathan menarik napas lewat mulut. "Andrea merupakan salah satu janin yang gagal diculik berkat campur tangan Jonathan." Setelah itu menghembuskan napas dengan berat, "Menurut opiniku, kemungkinan besar hal ini berkaitan dengan kegagalan itu tapi aku tidak punya cukup bukti untuk memastikannya."


"Maksud kamu makhluk itu balas dendam?" tanya Seroja tidak percaya.


Teman Jonathan menatap aneh Seroja, "Memangnya di dunia kalian tidak ada berita mengenai hal ini?"


Seroja kembali mengangkat dagunya dengan bangga. "Kamu pikir saya ini siapa? Tidak mungkin tindakan menjijikan itu masuk ke dalam kerajaan kami, kami tidak mungkin meminta tumbal! kami setia pada tuan kami!"


Teman Jonathan memutar kedua bola matanya.


Jonathan melirik Andrea yang mengerang pelan. "Aku kembalikan Andrea ke rumahnya, kalau ada sesuatu tolong beritahu aku."


Teman Jonathan mengangguk, "Pasti."


Jonathan melihat Seroja sedang menggendong Oggy dengan sayang. "Aku juga minta tolong."


Seroja tetap memandang sayang Oggy. "Demi Andrea."


"Terima kasih semuanya, aku pergi dulu." Setelah berpamitan, Jonathan kembali ke kamar Andrea dan meletakkannya di atas tempat tidur. Seroja mengikuti Jonathan dari belakang.


"Aku akan meninggalkan Andrea beberapa hari ke depan, kamu bisa menjaga Andrea?" tanya Seroja.


Jonathan melepas sepatu Andrea dan menyelimutinya. "Bisa tapi tidak tiap hari, biar bagaimanapun aku masih ada pekerjaan."


Oggy loncat dari pelukan Seroja dan tidur di samping Andrea.


"Kucing jauh lebih berguna daripada seekor malaikat." Komentar Seroja lalu menghilang.


Jonathan melirik Oggy. "Gara-gara kamu aku jadi disindir! seekor pula! padahal derajat kami lebih tinggi dari pelindung."

__ADS_1


Oggy menguap lebar dan menggulung kan badannya supaya hangat.


"Cih!"


__ADS_2