KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH SATU


__ADS_3

"Mencari lubang lain?" tanya Seruni terkejut.


Teman Jonathan sudah kembali ke tempat Seruni setelah diceramahi panjang lebar oleh om Re dan telepon dari Aya. "Kemungkinan gua yang dimasuki Aya sudah berpindah tempat."


"Berarti itu gua milik makhluk lain."


"Bukan kata Aya. Kalau memang itu milik makhluk lain, dia dari awal sudah diserang tapi dia tidak diserang sama sekali, setiap dia ingin keluar dia tidak bisa keluar."


Seruni menggigit kuku jempolnya. "Pantas saja kita tidak bisa masuk."


"Kamu tahu sesuatu?"


"Dulu ada pertapa manusia yang masuk ke dalam gua untuk menyendiri, nah dia memblok gua itu supaya tidak ada yang masuk, termasuk malaikat dan bidadari."


"Bagaimana dia punya kekuatan seperti itu?"


"Entahlah, yang saya dengar pertapa itu malaikat tak bernama, benar tidaknya saya tidak tahu." Seruni mengangkat kedua bahunya dengan anggun.


"Tapi malaikat tidak bisa masuk, bagaimana mungkin-"


"Malaikat disini yang aku maksud adalah malaikat pencabut nyawa seperti kalian juga tidak bisa masuk ke dalam, berbeda dengan malaikat murni." Kata Seroja, "Dan malaikat murni tidak akan pernah mau berurusan dengan hal ini."


Teman Jonathan mengacak rambutnya. "Berarti yang membuat gua itu adalah malaikat seperti aku?"


Seruni mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tahu, aku kan tidak bisa masuk ke dalam."


"Ok, kesampingkan hal itu. Kita sekarang cari lubang yang bisa dibuat pindah-pindah gua ini. Kamu pasti tahukan."


Seruni mengangguk. "Ada banyak, kita harus mencari polanya."


"Seruni!"


Seruni dan teman Jonathan menoleh, Seroja melayang di belakang mereka berdua.


"Seruni, Aya belum belum keluar?"


"Belum, Yang Mulia."


"Padahal saya ingin meminta tolong untuk pergi ke rumah Andrea. Untuk melacak keberadaan sepupunya." Seroja mengerutkan kening.


"Memangnya ada sesuatu dengan sepupu nona Andrea?"

__ADS_1


"Andrea memiliki dua kakak sepupu lainnya yang sudah menikah, saya khawatir jika mereka memiliki anak."


"Eh? Bukannya kakak sepupu nona Andrea keduanya laki-laki?"


"Iya dan mereka berdua sudah menikah, saya khawatir salah satunya memiliki anak perempuan. Itu berarti saya tidak bisa melindungi Andrea kembali."


"Tapi bukankah hal itu hanya berlaku untuk keturunan anak pertama perempuan dan tidak berlaku untuk keturunan anak pertama laki-laki?" tanya Seruni khawatir.


Seroja menghela napas lega, "benar, saya terlalu panik, jadinya lupa dengan hal ini."


"Yang Mulia." Seruni tersenyum khawatir.


"Yah, pokoknya jangan beritahu hal ini pada Andrea, selain itu kalian tetap ke rumah Andrea untuk investigasi hal ini."


"Ah, aku akan menghubungi mama Andrea." Teman Jonathan mengangkat handphone milik Andrea. "Handphonenya masih ada di aku."


"Bagus. Kalian segera ke sana dan jangan menimbulkan keributan lalu-" Seroja melihat sekeliling. "Kalian masih disini? seperti baru ada perang disini."


"Ah iya. Saya lupa melaporkannya pada anda, ternyata di dalam lubang yang dibuat iblis itu ada guanya dan gua itu berpindah-pindah, sekarang sudah tidak ada disana lagi." Kata Seruni.


"Kamu sudah memastikannya?" tanya Seroja.


"Mudah saja bukan, kalau memang gua itu berpindah-pindah berarti gua itulah yang menyebarkan pelindung sehingga kita semua tidak bisa masuk kecuali manusia yang bisa melihat, kalau kalian berdua bisa masuk berarti gua itu memang sudah berpindah." Seroja mengerutkan kening. "Kalian harus benar-benar memastikannya."


"Tapi kata nona Aya-"


"Aya hanya seorang manusia, dia tidak tahu apa-apa. Manusia sekali masuk memang tidak bisa keluar kecuali dia bersama orang yang membuat pelindung gua itu." Kata Seroja.


"Benar juga." Teman Jonathan menepuk keningnya lalu menurunkan salah satu kaki ke dalam lubang. "Ah, kakiku sekarang bisa masuk. Aku cek ke bawah." Setelah mengatakan itu, dia terjun bebas ke dalam lubang.


"Ah, dia bisa masuk." Seruni terkejut.


"Tentu saja, kalau begitu saya kembali ke tempat Andrea. Saya tidak ingin meninggalkan Andrea lama-lama di jurang." Seroja berpikir sejenak. Mungkin saja kalau dia memberitahu hal ini pada Seruni bisa mendapat bantuan. "Seruni."


Seruni menoleh. "Ya?"


"Saya juga ingin minta tolong, jika kamu menemukan keris yang dibawa Jonathan selama ini tolong segera dihancurkan."


"Tapi saya tidak tahu bentuk keris itu."


"Teman Jonathan yang bersamamu saat ini tahu bentuk keris itu, kalian berdua bisa kerja sama untuk sementara waktu."

__ADS_1


"Apa? bekerja sama dengan malaikat tak bernama lagi?"


"Saya benar-benar minta tolong, ini bukan masalah Andrea lagi tapi masalah dunia manusia dan tempat kita sekarang."


Seruni menghela napas. Ia benar-benar tidak tega majikannya meminta tolong seperti itu, "Baiklah, Yang Mulia."


Seroja tersenyum dan menghilang setelah mengucapkan terima kasih pada Seruni.


Teman Jonathan kembali ke atas sambil bertumpu di sisi lubang. "Seroja sudah pergi ya."


Seruni balik badan, "TIDAK SOPAN! JAGA MULUT KAMU MALAIKAT TAK BERNAMA!!"


"Seperti yang dikatakan Seroja, sudah tidak ada pelindungnya berarti memang benar gua itu tidak ada." Teman Jonathan naik ke atas. "Nah sisanya tinggal tugas kamu untuk menutup lubang ini."


"Hal seperti ini bukan urusan kami, kamu bisa menutupnya sendiri!" Seruni melipat kedua tangannya.


"Kalau aku yang menutupnya aku tidak bisa menghemat energi, sementara kita tidak tahu kondisi Aya. Kamu sendiri tidak mau melindungi Ayakan?"


Seruni menghela napas kesal lalu mengarahkan telapak tangannya ke lubang, tak lama lubang itu tertutup oleh tanah-tanah di sekitar lubang.


Teman Jonathan bersiul. "Memang benar kata orang jaman dahulu, meskipun jin atau iblis melubangi bumi tanpa terlihat manusia tetap saja lubang itu benar-benar ada."


"Bumi adalah bumi, bumi tidak bisa ditipu, hanya manusialah yang bisa ditipu." Seruni menepuk-nepuk tangannya. "Nah sudah beres, sekarang kamu hubungi Aya. Kita ke rumah Andrea dulu untuk investigasi."


"Tapi Aya dalam bahaya sekarang."


"Pelindung gua hanya bisa dibuat oleh dua makhluk yaitu malaikat tak bernama dan pertapa manusia biasa karena itu kita masih bisa lega untuk sementara." Seruni meninggalkan teman Jonathan. "Yang penting hanya kamu yang tahu bagaimana bentuk keris yang akan kita cari nanti."


"Keris?"


"Ya, keris yang pernah dibawa Jonathan. kata Yang Mulia, kamu tahu bentuk keris itu."


Teman Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa tidak yakin meninggalkan Aya sendirian sementara tapi juga harus menuruti permintaan Seruni. Teman Jonathan melihat tangan kanannya sudah membentuk nama baru. "Ah, aku kerja dulu baru menyusul kamu ke rumah Andrea."


"Saat ini-" Seruni terdiam ketika teman Jonathan menunjukan telapak tangan kanannya.


"Aku tidak bisa meninggalkan tugasku, biar bagaimanapun aku malaikat pencabut nyawa."


Seruni menatap tajam teman Jonathan. "Baik, setelah tugas kamu selesai segera ke rumah Andrea, sebagai jaminannya jika kamu kabur, saya tidak akan membantu kamu menyelamatkan Aya dan saya juga akan melapor pada Andrea."


Teman Jonathan mengibaskan tangannya di udara. "Baik, baik. Aku tidak akan kabur." Setelah itu bernapas lega ketika Seruni menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2