KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

Andrea memasukan kakinya ke sungai lalu menggigil. "WWuaaahhh dinginnyaaa-"


"Dan segar." Tambah Seroja. "Tempat ini memang belum disentuh manusia karena itu-" Tunjuk Seroja.


Andrea melihat seekor monyet berwarna putih duduk diam di atas batu besar samping sungai seolah-olah sedang mengawasi dan melindungi sungai. "Itu-"


"Itu pelindung area ini, kami bersahabat sejak lama-" Seroja melepas mahkotanya. "Jika ada yang berniat jahat maka sungai ini akan menenggelamkan dan mengusirnya jauh dari tempat ini, makanya tidak ada buaya yang mengincar mangsa meskipun ini di hutan."


"Oh iya, ya. Tapi bagaimana dengan cerita buaya yang menunggu sungai?" Andrea mulai penasaran dengan cerita itu. Sebenarnya dia takut tapi belajar sedikit tidak apa-apakan?


"Jika memang ada yang seperti itu berarti sungai itu sudah tercemar." Seroja menjelaskan dengan sabar.


"Tercemar?" tanya Andrea tidak mengerti.


"Intinya jika ada sungai yang dihuni buaya maka sungai itu sudah tidak bersih lagi." Seroja menangkupkan air dengan kedua tangan. "Seperti air ini, sangat jernih."


Andrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak begitu mengerti, habisnya manusia biasakan tidak bisa membedakan antara buaya asli dan buaya jadi-jadian."


"Yah, memang hanya yang memiliki kemampuan saja yang bisa." Seroja mencipratkan air ke bahu. "Ah, sudah lama tidak menenangkan diri seperti ini."


Andrea termenung. "Kalau diperhatikan dengan seksama, kamu seperti bidadari ya. Cantik, kuat dan senang sekali mandi, padahal yang aku dengar jin, iblis dan sebangsanya tidak begitu suka mandi dan membersihkan diri."


Seroja tidak membalas perkataan Andrea. Toh suatu saat nanti Andrea tahu sendiri.


Andrea memainkan kakinya di dalam air, duduk di samping Seroja. "Sampai kapan ini akan selesai?"


"Sampai kita menemukan keris itu dan menghancurkannya," jawab Seroja.


"Apakah kita tidak menghancurkan jin itu? jin yang sudah membuat perjanjian untuk mengambil nyawaku? waktu itukan kita menghancurkannya."


"Jonathan yang menghancurkannya, bukan saya."


"Ya, tapi-" Andrea tidak melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya saya tidak boleh bertindak terlalu jauh, masalah kematian diserahkan pada malaikat pencabut nyawa. Jika tuan yang kami lindungi masuk dalam daftar kematian maka kami tidak bisa berbuat apa-apa berbeda jika tuan kami tidak masuk dalam daftar tapi nyawanya hendak dicuri."


"Seperti bayi yang belum lahir?" tanya Andrea.


"Ya."

__ADS_1


"Seroja." Panggil Andrea.


Seroja menoleh. "Ada apa?"


"Kalau kita tetap tidak bisa menemukannya disini, kita cari dimana?" tanya Andrea yang mulai khawatir.


"Entahlah." Seroja juga khawatir, jika muncul kemungkinan terburuk seperti itu.


"Seroja. Kenapa kamu sesantai itu? waktu terus berputar dan mereka-apalagi, mama dan adikku pasti khawatir. Aku juga tidak bisa terus-terusan disini!" Andrea mulai frustasi. "Sudah berapa jam kita disini?" tanyanya.


"Mandilah dulu Andrea, untuk meredakan emosi dan rasa lelahmu." Seroja menarik tangan Andrea masuk ke dalam air dengan cepat sehingga Andrea tidak bisa melawan.


"SEROJA!" kepala Andrea muncul dari dalam air. "Bagaimana kalau aku tenggelam?!"


"Dangkal kok." Senyum Seroja.


Andrea berdiri dan melihat ke bawah. "Ah benar, tingginya hanya sepinggang."


"Tidak akan tenggelam." Seroja memejamkan mata dan menikmati berendamnya. "Seandainya ini ada di istana-"


Tergoda dengan Seroja, Andrea duduk di samping Seroja pelan-pelan. "Ah, benar. Segar sekali, meskipun aku memakai baju leng- eh, apa itu?"


Seroja mendongak dan mengangkat tangan ke udara. "Burung merpati, pasti Seruni."


"Ah, kita terselamatkan."


"Apa?" tanya Andrea penasaran. "Kerisnya sudah ditemukan? kita harus bergegas kesana?"


"Bukan, kedua sepupu kamu tidak memiliki anak perempuan."


Andrea tersenyum lega. "Benarkah? syukurlah!"


Jika kedua sepupunya melahirkan cucu perempuan pertama, maka Seroja harus berganti tuan sementara dirinya masih membutuhkan bantuan Seroja.


Wajah Seroja menegang ketika membaca laporan lanjutan dari Seruni, setelahnya dia membakar surat itu. "Yang penting kita bisa lega sekarang dan konsentrasi mencari tujuan kita awal."


"Tapi kenapa wajah kamu tegang begitu? apakah ada sesuatu-" tanya Andrea yang khawatir.


"Tidak ada, hanya masalah istana." Geleng Seroja yang masih enggan bercerita.

__ADS_1


"Apakah istana kamu sedang dalam masalah?" desak Andrea yang ingin membantu Seroja meskipun agak tidak berguna.


"Tidak Andrea, kamu tidak perlu khawatir. Sudah ada yang menanganinya." Seroja menenangkan Andrea. "Tidak perlu khawatir, jika terjadi sesuatu- para bawahan saya masih bisa mengatasi. Kamu cukup konsen disini saja."


Andrea mengangguk ragu, masih melihat wajah tegang Seroja. "Seroja, aku akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu pada kamu dan kerajaan kamu."


Seroja menoleh bingung.


Andrea tersenyum sedih. "Kamu terikat dengan leluhur aku dan melakukan banyak hal seperti ini, seharusnya aku bisa berterima kasih kepadamu."


"Ini sudah menjadi tugas saya."


Andrea mengangguk mengerti sekaligus menghela napas panjang. "Seandainya ada yang bisa aku bantu, aku akan membantu sekuat tenaga."


"Cukup hidup dengan tenang dan damai, sudah melegakan hati saya."


Andrea merenung lalu memberanikan diri bertanya ke Seroja. "Berarti kalian pernah melihat aku menangis dong? haduh, aku jadi malu."


"Menangis adalah proses yang wajar untuk manusia, bangsa kami juga pernah menangis. Jadi itu bukan hal yang memalukan."


"Tapi, aku malu." Andrea menutup wajah dengan kedua tangannya. "Kalian jadi tahu sifat buruk aku."


"Apakah menangis juga bagian dari sifat buruk?" tanya Seroja tidak mengerti.


"Bukankah menangis bisa mengundang makhluk negatif?" Andrea balik bertanya.


Seroja membenarkan. "Ya, jika terlalu berlarut-larut dalam kesedihan, yang ada malah makhluk negatif berusaha membisiki manusia melakukan hal-hal bodoh, salah satu terburuk yaitu bunuh diri."


Andrea pernah memikirkan hal ini. "Maaf."


"Jangan diulangi."


Andrea nyengir. "Karena aku tahu ada kamu, aku janji tidak akan melakukannya meskipun hidup ini sangat berat."


Seroja ingin mengatakan sesuatu lalu ditahannya, dia membiarkan Andrea berendam santai tanpa memikirkan masa lalu yang menyakitkan.


"Maaf." Gumam Seroja lalu kembali menikmati berendam.


Andrea memejamkan mata dan mulai memikirkan masa lalu. Tuhan tidak pernah tidak adil hanya manusialah yang tidak pernah bersyukur. Dulu dirinya selalu mengeluh dan mengeluh kenapa dilahirkan lalu hidupnya berantakan seperti ini, tapi setelah dipikir ulang. Semua itu merupakan bagian dari naskah yang dibuat masing-masing manusia, Tuhan hanya membantu dan muncul jika dibutuhkan.

__ADS_1


Andrea membuka mata dan menatap langit. Seandainya saja ayahnya mau hidup normal, mungkin dirinya tidak akan bertemu dengan mas Jo lalu bagaimana mas Jo bisa menjalani ritual? apakah digaris takdir kan dengan wanita lain? apakah mereka berdua akan berjuang bersama seperti sekarang ini?


Andrea tidak bisa membayangkan, malaikat kesayangannya bersama dengan wanita lain lalu menjalani ritual bersama. Muncul cemburu di benaknya.


__ADS_2