
Jonathan dan temannya tidak tahu harus jalan menuju kemana, kekuatan mereka tidak berpengaruh di khayangan. Akhirnya teman Jonathan punya ide dengan mengikuti bau dari botol yang dimilikinya.
Tak lama mereka berdua tiba di tempat tujuan.
"Kalian berdua-" penjaga gerbang berparas tampan yang tadi mereka temui itu terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Jonathan dan temannya. "Mau apa kalian berdua kemari? Mengganggu tugas saya?"
Teman Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Justru kami disuruh kesini membantu anda."
"Siapa?" tanya penjaga gerbang berparas tampan itu.
"Entahlah," jawab Jonathan yang mengangkat kedua bahunya, begitu juga dengan temannya.
"Saya tidak bisa membiarkan pihak luar ikut campur tanpa-" Penjaga gerbang berparas tampan menaikan tombak untuk melindungi hewan gaib di belakangnya.
"Seorang wanita berparas cantik yang tinggal di dalam rumah serba kayu," sela Jonathan.
"Apakah beliau memberikan namanya?"
Jonathan dan temannya saling bertatapan lalu menggeleng bersamaan.
"Baiklah, silahkan bantu saya." Penjaga gerbang itu menyingkirkan badannya supaya Jonathan dan temannya bisa melihat makhluk itu.
Jonathan maju dan berjongkok, mengerutkan kening karena bau menusuk yang keluar. "Bau sekali."
"Tentu saja bau, sudah terkontaminasi dengan dunia jahat." Dengus penjaga gerbang itu. "Kamu- malaikat bernama bukan?" tanyanya ke Jonathan.
Jonathan mengangguk tanpa menoleh ke belakang. "Nama saya Jonathan."
"Nama saya- sebaiknya panggil saya J."
"J?" tanya teman Jonathan.
"Lebih baik dipanggil gitu, saya tidak mau memberikan nama saya ke sembarang orang." J mengangkat dagu dengan angkuh.
Teman Jonathan menaikan salah satu alisnya. "Hak eksklusif?" katanya tanpa bersuara.
"Saya rasa yang melukainya bukan makhluk biasa," kata J sambil berjongkok di samping Jonathan.
Jonathan tersenyum. "Saya yang melukainya."
J menatap Jonathan dengan tatapan tidak percaya. "..."
"Karena makhluk ini tiba-tiba menyerang kami, kalau memang ini makhluk khayangan tidak mungkin datang menyerang dan melukai kami." Jonathan buru-buru menjelaskan supaya tidak terjadi salah paham.
Teman Jonathan ikut mengangguk untuk mengiyakan.
J memijat kepalanya yang tidak sakit. "Benar-benar memuakkan."
Jonathan memiringkan kepalanya lalu mengeluarkan keris di saku dalam jubahnya. Tiba-tiba makhluk besar itu bergerak gelisah.
Jonathan berdiri dan melangkah mundur disusul temannya.
"Keris apa itu?" kedua mata J menyipit ke keris itu.
"Keris milik ayah kandung An- tunangan aku, penyebab semuanya terjadi," jawab Jonathan.
"Berarti tunangan kamu ada hubungannya dengan penyerangan makhluk kami," kata J.
"Bukan penyerangan mungkin dimanfaatkan atau- sebenarnya makhluk ini dari awal tidak menyerang kita melainkan menyerang keris ini?" tanya teman Jonathan ke Jonathan.
"Kalau hanya menyerang keris, tidak mungkin sampai berbau busuk seperti ini," sela J. "Makhluk ini dari awal memang dimanfaatkan, sepertinya memang ada yang berusaha menghalangi ritual kalian."
__ADS_1
Jonathan menelan ludah, memasukan kerisnya ke dalam jubahnya. "Berarti kita sudah tahu pelakunya."
"Pelaku? Siapa?" tanya teman Jonathan yang penasaran.
"Siapa lagi kalau bukan si raja jin itu," kata J. "Saya akan melaporkan hal ini ke atasan, sebaiknya kalian bersiap-siap kemungkinan terburuk."
"Kemungkinan terburuk?" tanya teman Jonathan yang tidak mengerti.
Jonathan menepuk bahu temannya. "Kemungkinan khayangan tidak akan membantu kita menyelesaikan ritual."
Teman Jonathan menepis tangan Jonathan dengan kasar. "Apa maksudnya? Kita sudah susah payah kesini-"
"Masalahnya makhluk gaib ini sudah dimanfaatkan oleh raja jin itu."
"Raja jin yang meminta nyawa Andrea?"
Jonathan mengangguk pasrah.
Teman Jonathan mengerang, akhirnya ia paham apa yang dimaksud Jonathan. "Sial!"
"Sebaiknya kita kembali saja dulu."
"Bagaimana dengan si penjaga gerbang?"
Jonathan melirik J yang berdiri jauh memunggunginya. "Biarkan saja dia, yang diinginkan wanita itu hanyalah siapa pelakunya."
------
"Ayah kamu sudah berbuat dosa banyak ya rupanya."
Kedua mata Andrea mengerjap. "Aku sudah lama tidak tahu keadaan beliau."
"Tapi bukan berarti putus komunikasi bukan?" senyum wanita cantik itu sambil membaca telapak tangan Andrea. "Kamu anaknya kuat ya, tapi sayang sering dimanfaatkan."
"Ada beberapa anak yang tidak kuat menahan sesuatu tapi Andrea berbeda, dia bisa menahan semuanya tapi hal ini dimanfaatkan berbagai pihak terutama dari keluarga sendiri," kata wanita cantik itu. "Aku bukan peramal tapi melihat garis tangan kamu seperti ini, sepertinya kamu bisa menanganinya dengan baik meski harus sendirian."
Andrea tersenyum miris. "Terima kasih."
"Tapi yang pasti-" Wanita cantik itu menutup telapak tangan Andrea. "Jangan pernah membencinya."
Andrea mengangguk.
"Sepertinya tunangan kamu sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik." Wanita cantik itu berdiri dan masuk ke dalam ruangan yang tidak berpintu.
Andrea dan Aya saling bertukar pandang.
"Kalau saja tidak duduk di samping kamu, mungkin saja aku tidak akan percaya kalau menginjak kaki di khayangan dan bertemu dengan bidadari," kata Aya dengan nada pelan.
Andrea tertawa pelan. "Sama, aku saja tidak menyangka bisa menghadapi hal seperti ini."
"Menurut kamu- kita bisa melewati ritual ini dengan mudah?" tanya Aya.
Kedua tangan Andrea mengepal di atas meja. "Entah kenapa, aku punya perasaan tidak enak."
Teman Jonathan membuka pintu dengan kasar. "Kami sudah kembali."
"Seperti angin, kadang ribut tapi juga kalem." Ejek Aya dengan nada pelan.
"Kalian cepat sekali." Andrea berdiri dan menghampiri Jonathan.
"Kalian berdua tidak apa-apa? Tidak ada sesuatu yang kurang?" tanya Jonathan sambil menatap Andrea dan Aya bergantian.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kenapa? Apakah ada sesuatu?" tanya Andrea.
"Itu-"
"Kalian berdua sudah tiba rupanya. Cepat sekali ya-" wanita cantik itu sudah berganti pakaian kebaya mewah dan anggun. "Sudah tahu siapa pelakunya?"
Jonathan menarik mundur Andrea dan menyembunyikannya di belakang punggungnya sambil tetap menggenggam tangan tunangannya. "Ya, kami tahu."
"Ada hubungannya dengan ritual kalian bukan?" tukas wanita cantik itu.
Jonathan tidak menjawab.
"Itu sebabnya mengapa kami para makhluk khayangan enggan menolong makhluk seperti kalian, tidak ada yang kami dapatkan- hanya kerugian."
"Maafkan kami," pinta Jonathan dengan tulus.
"Maaf tidak akan mengembalikan apapun, Jonathan."
Genggaman tangan Jonathan ke Andrea semakin erat.
"Bagaimana? Masih berani meminta tolong pada kami?" tanya wanita cantik itu.
Jonathan menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan-nya perlahan. "Saya tetap berpendirian sama, akan menjadi manusia."
"Meskipun ada resiko ke depannya?"
"Saya tahu resiko itu," jawab Jonathan.
Dahi Andrea berkerut. Resiko? Resiko apa?
"Bagaimana jika aku menghalangi niat kamu?" tanya wanita cantik itu.
Jonathan tidak bisa menjawab.
"Kalian berdua berhutang budi pada kami para bidadari, tidak mungkin bukan melawan kami yang sudah menolong kalian."
Tangan kiri Andrea yang bebas memegang lengan atas Jonathan. "Mas Jo," bisiknya.
Seolah tersadar dari lamunan, Jonathan menoleh ke belakang. Ia menatap Andrea.
"Apapun keputusan mas, Andrea dukung," kata Andrea.
Jonathan tersenyum. "Terima kasih."
"Setelah bertemu dengan bidadari yang menolong kamu- apa yang akan kamu lakukan?" tanya wanita cantik itu ke Jonathan.
Jonathan berpikir keras. Ritual selanjutnya memang diwajibkan bertemu dengan bidadari yang menolongnya tapi ia tidak tahu kelanjutannya.
"Tidak tahu bukan?" ejek wanita cantik itu. "Tentu saja kalian semua tidak tahu, kamilah yang membuat ritual itu dan kami jugalah yang membuat kalian bisa bekerja menjadi malaikat. Jarang ada yang mau melakukan ritual ini karena besarnya resiko yang dihadapi selain itu- mereka tahu kalau manusia adalah makhluk yang busuk."
"Manusia memang makhluk yang busuk karena penuh nafsu." Aya bangkit dari duduknya dan berdiri menatap lurus wanita cantik itu. "Tapi manusia jugalah yang membuat dunia khayangan ini berimbang."
"Apa-"
"Tanpa manusia kalian juga tidak bisa melakukan apapun, dunia yang diberikan Tuhan pun diserahkan kepada manusia, meskipun banyak yang tidak menyetujuinya," kata Aya.
"Darimana kamu-"
"Sejak kecil kami sudah dididik seperti itu." Tantang Aya,
Wanita cantik itu mengangkat tangan kanannya dan mengeluarkan tenaga dalam untuk mendorong mundur Aya, dengan sigap teman Jonathan menahan Aya dari belakang hingga tidak terdorong keluar.
__ADS_1
"Karena kalianlah, bumi menjadi rusak. Kami kehilangan tempat beristirahat bahkan kalian juga berani merusak alam yang sudah menjadi teman kami!" bentak wanita cantik itu.