
Aya masuk ke dalam rumah om Re dan berdoa dalam hati. Semoga sisa kekuatan yang diberikan Seroja cukup untuk melihat malaikat itu. Kalau dulu ia pasti ketakutan melihat malaikat, sekarang tidak lagi semenjak bertemu dengan Jonathan dan temannya.
"Aya, ngapain kamu mondar mandir?" tanya om Re.
Aya menoleh dan hampir berteriak, om Re berdiri di tengah ruangan kosong yang sudah diisi karpet. "Om!" panggilnya dengan nada pelan dan tidak percaya..
"Lho? Aya bisa lihat om?" om Re menunjuk dirinya sendiri.
Aya menoleh kanan kiri supaya tidak ketahuan, aman. Semua orang sibuk diluar dan di dapur. "Om, lihat malaikat yang mencabut nyawa om nggak?"
"Ngapain kamu malah cari malaikat pencabut nyawa? mau nemenin om?" om Re tidak suka dengan pertanyaan Aya.
Aya menggeleng panik. "Ini bukan waktunya bercanda, om tahu nggak dimana malaikat itu?"
"Kamu ini gimana toh, om bukannya bercanda malah heran. Dimana-mana nggak ada yang mencari malaikat pencabut nyawa."
"Om! jawab aja kenapa sih? penting nih!" rengek Aya.
"Kamu ini malah bentak-bentak, om nggak tahu! dia malah kabur keluyuran entah kemana setelah bilang kasih waktu om dan-" om Re mengangkat kakinya dan menunjukan rantai yang membelit kakinya. "Merantai om."
Aya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Buat apa kamu cari dia? mau mati juga?"
Aya mengabaikan pertanyaan om Re. "Kira-kira kapan kembali?"
Om Re mengangkat kedua bahunya. "Mana om tahu, memang om temannya?"
Aya menghela napas tidak sabar. "A-"
"Aya, ngapain kamu teriak-teriak disitu?" tegur ibunya sambil membawa nampan berisi teh, bantuin gih di dapur."
"Bu, Aya nginep sini ya."
Ibu Aya mengangkat salah satu alisnya. "Ngapain kamu nginep disini? Sudah ada mas sama bapak kamu."
"Ayolah bu, Aya masih pengen sama om Re." Mohon Aya.
"Huuuu bohong! datang aja, pertama kali yang dicari malah malaikat pencabut nyawa bukan aku. Nggak usah, nggak usah!" seru om Re menurunkan jari jempolnya. Tentu saja seruannya tidak didengar siapapun kecuali Aya.
"Nggak papa ya, bu." Mohon Aya.
"Tapi kamu bantuin ibu ya." Ibu Aya memberikan nampan ke Aya. "Kasih ke bapak-bapak di depan."
"Makasih bu." Aya bersorak kesenangan lalu berlari ke depan memberikan nampan teh, om Re mengikuti Aya dari belakang karena penasaran.
"Kenapa kamu mencari malaikat pencabut nyawa?" tanya om Re penasaran.
__ADS_1
Aya diam tidak menjawab, sibuk memberikan gelas ke bapak-bapak lalu masuk ke dalam dan memberikan nampannya ke ibu lalu mengambil nampan berisi teh yang sudah disediakan.
"Malah nggak jawab. Anak tak tahu sopan santun." Geleng om Re.
Aya menghela napas dan balik badan. "Aya tidak akan menjawab selama ada orang, Aya tidak mau disangka orang gila!" setelah itu kembali ke depan.
"Kalau gitu tunggu sepi baru kamu jawab, siapa tahu om bisa bantu." Cemberut om Re.
Aya menghela napas lagi lalu memasang headset di telinganya. "Kalau gini bisa menjawab pertanyaan om," bisiknya.
"Kenapa kamu mencari malaikat mengerikan itu?"
"Aya ada urusan dengannya." Jawab Aya.
"Ya, nduk?" tanya bapak Aya. "Kamu bilang apa nduk?"
Aya menunjuk headsetnya. "Aya telepon sama teman kerja pak."
"Oalah, ya wes." Bapak Aya melanjutkan cerita bersama bapak-bapak lainnya.
"Sekarang giliran Aya, malaikatnya seperti apa?" tanya Aya sambil meletakan gelas teh di atas meja.
"Coba om ingat-ingat-" Om Re membelai dagu. "Om tidak begitu tahu detailnya tapi dia memakai jubah serba hitam, kepalanya ditutup jubah juga dan- dari suaranya seperti suara pria."
"Pria? dia bilang namanya nggak?"
Aya kecewa, mencari Jonathan memang 1:10. Bagaimana kalau yang dicarinya bukan Jonathan ataupun temannya? Aya berusaha mengingat kembali cirri-ciri Jonathan dan temannya.
"Dia bawa tongkat jalan nggak?"
"Nggak, dia malah ngangkat tangannya buat borgol kaki om."
Apa memang bukan Jonathan dan temannya?
"Dia bilang nggak, mau pergi kemana?"
"Dia bilang mau pergi ke suatu tempat."
"Suatu tempat?"
"Oh iya. Tangan! Dia menggaruk tangannya terus-terusan."
"Menggaruk tangan?"
"Iya. Dia nggak bilang om kemana sih tapi dia bilang gini- 'gara-gara Seroja tanganku gatal-gatal!' gitu." Om Re menirukan kalimat malaikat yang ditemuinya.
Seroja!
__ADS_1
Nama pelindung Andrea dan yang membuka mata batinnya. Jangan-jangan itu Jonathan? Hati Aya berdegup keras, jangan-jangan Andrea sudah meninggal? Tidak, tidak. Jelas-jelas Seroja membawa tubuh Andrea ke tempatnya, jadi- tapi kalau Jonathan hidup dan Andrea hidup- ritualnya-
Kepala Aya menjadi pusing. Memang harus bertemu dengan malaikatnya langsung!
"Kalau kamu bertemu, apa yang kamu lakukan?" tanya om Re sambil bersiul melihat janda seksi masuk ke dalam rumah. "Sayang sekali si seksi tidak mendengar."
Aya menatap heran om. "Perasaan semasa hidup om nggak gini deh."
Om Re cengengesan, wajah tuanya seperti kembali muda dan tidak sakit-sakitan. "Jaim Ya, Jaim."
Aya memutar bola matanya. "Ada hal yang ingin Aya pastikan."
"Hoooo rahasia anak muda ya."
"Yang pasti tidak seperti om."
"Iya ya. Sekarang giliran kamu." Om Re mempersilakan Aya.
"Kalau om ketemu itu makhluk suruh temui Aya."
"Lho kok jadi om? kan kamu yang butuh."
"Kalau malaikatnya duduk di atas genteng masa Aya ke sana? lagian Aya juga nggak tahu dia kemana dan dimana sekarang, yang punya urusan kan om sama dia."
Om Re menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Oh iya, ya. Om lupa. Ya udah nanti om kasih tahu."
"Yeee-" Aya bersorak pelan. "Nanti Aya doain om masuk surga deh, Aya kirimin banyak doa buat om!"
"Beneran ya? janji?"
Aya mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk 'V'. "Janji!"
Om Re tertawa senang. "Jadi begini ya rasanya mati itu." om Re melihat orang-orang lalu lalang di rumahnya sambil membawa sesuatu. "Saat hidup tidak ada yang datang menjenguk tapi begitu mati banyak sekali yang berdatangan untuk berdoa mencari pahala."
Dalam hati, Aya membenarkan perkataan om Re. Semasa om kaya, banyak berdatangan hanya sekedar menyapa, begitu bangkrut karena sakit lalu istri dan anak meninggalkannya, tidak ada yang menjenguk ataupun merawat. Yang datang hanya keluarga Aya dan tetangga dekat yang prihatin dengan kondisi om Re.
"Padahal dulu om Re baiiiik banget sama Aya, tiap pulang dari luar kota selalu bawa oleh-oleh." Aya mengenang masa itu. Heran ya mengenang orang meninggal di depannya secara langsung.
"Aya juga masih imut-imut waktu itu, om senang. Hanya saja yah- mungkin om terlalu sibuk hingga istri dan anak-anak meninggalkan om." Om Re menghela napas sedih. "Tidak ada yang datang mengajak bicara, begitu mati- semua hanya mengenang kebaikan atau keburukan om. Memang benar kata orang tua zaman dulu, menunggu mati untuk diingat sementara."
"Om."
"Tapi om tidak menyesal mati, sudah takdir manusia untuk meninggalkan dunia ini dan bersatu dengan bumi." Om Re menatap Aya. "Jangan mengulang kesalahan yang sama dengan om."
"Ya, om." Angguk Aya lalu diam membeku ketika mengenali sosok yang tidak asing lagi.
"Haduh, Seroja itu tidak kira-kira balas dendamnya-" Pria bertudung hitam keluar dari pintu dan menghindari seorang pria muda masuk ke dalam sambil menggaruk tangannya yang gatal. "Awas, ya nanti!"
__ADS_1