KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH EMPAT


__ADS_3

"Melihat apa yang kalian lakukan dari awal, aku jadi teringat dengan film-film sihir." Aya tiba-tiba berkomentar saat mereka kembali melewati jalan yang mereka lalui sedari tadi dalam diam.


"Memang hal ini di luar nalar manusia bukan?" Jonathan tertawa pelan.


"Profesor sekelas Steven Spielberg saja tidak percaya dengan hal ini, aku kalau tidak dibekali ilmu agama mungkin tidak akan percaya. Toh di dunia ini banyak yang memang tidak masuk akal." Aya mengangkat bahunya.


Jonathan mengawasi Andrea dan temannya yang sudah jalan di depan. "Kamu mau aku berikan sesuatu?" tanyanya ke Aya.


"Apa? Jangan yang aneh-aneh ya-"


"Tidak. Aku hanya ingin kamu bisa melindungi diri sendiri."


"Melindungi diri sendiri?" tanya Aya tidak mengerti.


Jonathan menyentuh kening Aya sekilas. "Manusia dilahirkan untuk bisa melindungi diri sendiri dalam keadaan apapun tapi seiring berjalannya waktu, manusia mulai melupakannya dan perlahan kekuatan itu memudar lalu menghilang."


Aya menyentuh keningnya dengan heran.


"Aku berikan tata caranya di kepala kamu. Pelajari baik-baik nanti begitu tiba di rumah."


"Kenapa-"


"Kalau-" Jonathan berpikir sejenak. "Kalau aku ataupun temanku tidak bisa datang tepat waktu, setidaknya kamu bisa datang menolong Andrea."


Aya menghela napas.


"Selain itu, ini juga bisa melindungi kamu dari serangan makhluk gaib."


"Eh? Kenapa aku jadi ikut terlibat?"


"Sejak kamu datang ke khayangan, kamu sudah dianggap saksi."


Mulut Aya membentuk O, tidak menyangka akan menjadi seperti ini pada akhirnya.


"Ssssssstttt." Teman Jonathan yang berada di depan mengangkat tangannya.


Jonathan dan Aya menghentikan langkahnya sementara Andrea merapat ke teman Jonathan.


"Hawa disini berubah," bisik teman Jonathan.


"Tidak stabil tepatnya," sahut Jonathan.


"Aku mulai tidak bisa melihat apapun di sekeliling," kata Andrea.


"Pegang tangan temanku, kamu juga Aya. Pegang tanga-"


"Aaaa!!" Aya memegang punggung tangannya yang kesakitan, seolah dicambuk oleh sesuatu. "Apa itu?!"


"Ada yang berusaha memisahkan kita." Jonathan menarik Aya ke dalam pelukannya.


"Siapa?" Andrea melihat sekeliling dengan frustasi. "Aya, kamu tidak apa-apa?"


"Ya, aku baik-baik saja," sahut Aya.


"Jalan terus! Jonathan, kamu bisa memegang jaketku?" tanya teman Jonathan.


"Ya." Tangan kiri memegang pundak Aya dengan erat sementara tangan kanannya memegang jaket teman Jonathan.


"Aaaaa!!!"


"Andrea?!" seru Jonathan.


"Andrea, kamu nggak papa?" Aya berusaha meraba di depannya tapi nihil. "Andrea!"


"Gawat, Andrea!" teman Jonathan ikutan panik.

__ADS_1


"Kamu melepas Andrea?" tanya Jonathan ke segala arah, benar-benar tidak bisa melihat siapapun disini.


"Tadi dia aku pegang tangannya dan sekarang tiba-tiba sudah tidak ada." Teman Jonathan berusaha mengambil korek di saku celananya. "Kalau tidak salah ada korek buatan manusia yang aku bawa buat jaga-jaga."


"Ada di kantung celana sebelah kiri." Jonathan membantu temannya untuk mengingat.


"Terima kasih." Teman Jonathan merogoh saku celananya, mengeluarkan korek api dan menyalakannya.


"Itu bawahnya kayu kan? Sekecil itu pasti cepat habis." Jonathan menunjuk korek yang dipegang temannya.


"Kamu tidak tahu trik yang sedang populer akhir-akhir ini ya? sebentar. Aku sedang malas menjelaskan, nanti kamu tahu sendiri. Aya, kamu tahu soa-" teman Jonathan mengarahkan api korek ke sebelah Jonathan. Tidak ada siapapun.


Jonathan ikut menoleh ke sebelahnya. Aya sudah tidak ada, sama dengan Andrea.


"Dimana Aya?!"


Jonathan tidak bisa menjawab. Ia sendiri bingung dengan menghilangnya Aya dan Andrea.


"Jonathan!" bentak teman Jonathan.


"Aku sedang berpikir."


"Kamu tidak meninggalkan tanda ke Andrea?" tanya teman Jonathan yang dijawab dengan gelengan. "Kenapa kamu tidak melakukannya? kamu tahukan-"


"Aku tahu! Aku sedang berusaha keras mencari cara-" Jonathan berpikir keras untuk menemukan Andrea.


----------


"Yanda, belikan sepatu baleeettt." Rengek salah satu anak kembar.


"Iya, besok nak." Jawab sang ayah.


Andrea membuka matanya perlahan, mendengar suara yang tidak begitu asing. "Hmmm?"


"Sudah sadar anak muda?"


"Berteriak sekencang mungkin tidak akan membuat mereka dengar, kita di tempat sama tapi berbeda dimensi."


Andrea bangun dari tempat tidur dan melihat sekelilingnya. Ini adalah kamarnya dulu saat ikut dengan ayah kandungnya. "Kenapa-"


"Kenapa kamu ada disini?" tebak nenek-nenek itu.


Andrea mengangguk pelan.


"Itulah yang ingin saya tahu, tiba-tiba saja kamu muncul disini. Kalau saja saya tidak mencium bau kamu, saya tidak akan percaya kalau kamu manusia. Kamu anak laki-laki itukan?" nenek itu menunjuk seorang pria setengah baya memakai sarung sedang mengambil makanan di meja makan. Dari kamar, Andrea bisa melihat dengan jelas sosok itu. Ayah kandungnya.


"Ya."


"Kamu yang waktu itu menempati kamar ini bukan?"


Tatapan Andrea beralih ke nenek itu dengan heran. "Benar."


"Kamu tidak mengenal saya bukan?"


Andrea mengerutkan kening, mencoba berpikir keras. Kalau tidak salah, bibi di rumah pernah cerita kalau bermimpi mengenai seorang nenek yang menempati kamarnya. Nenek itu menegur bibi dan menyebut orang yang menempati kamar adalah monyet.


"Aku ingat- bibi pernah cerita tentang mimpinya, dan menyebut aku monyet! kenapa aku disebut monyet?"


"Memangnya kamu merasa monyet?"


"Tapi aku kan satu-satunya yang tidur di kamar ini," sahut Andrea dengan muka cemberut.


"Ada adik kamu bukan?"


Kepala Andrea menunduk.

__ADS_1


"Kamu tahu kenapa saya bilang seperti itu?"


Andrea menggeleng.


"Karena emosi. Kamu menyalahgunakan tempat ini dan memunculkan emosi, kamu sering sekali marah pada keluarga ini meskipun saya sendiri tahu penyebab emosi kamu."


Andrea mengangkat kepalanya. Intinya tetap dirinya yang salah ya?


"Kalau tidak, saya tidak bisa melindungi tempat ini dari yang di atas." Tongkat nenek itu mengarah ke atas.


Mata Andrea ikut ke atas. "Allah?"


"Bukan!"


Andrea terkesiap.


"Peliharaan bapak kamu!" ujung tongkat mengarah tepat di depan wajah Andrea.


Kedua mata Andrea mengerjap. Bingung dengan perkataan nenek itu, bukankah ayah kandungnya sudah insyaf dan tidak akan menggeluti dunia hitam kembali? Lalu kenapa tiba-tiba ada peliharaan?


Entah bisa membaca pikiran Andrea atau tidak, nenek itu menjawab. "Tidak semudah itu meninggalkan apa yang ingin ditinggalkan."


Andrea terdiam, mendadak ia teringat sesuatu. "Ah! Seharusnya aku bersama mas Jo! Bagaimana ini-"


"Hooo- jadi benar ya kamu menjalani ritual bersama malaikat tak bernama?"


Andrea menoleh ke nenek itu. "Bagaimana-"


"Mungkin itu sebabnya kamu ada disini sekarang."


"Jadi ini bukan ulah nenek?" tanya Andrea tidak percaya.


"Saya tidak akan mampu melakukan hal itu," ujar nenek itu.


Lalu bagaimana dengan Aya? dia terlempar kemana? diakan tidak menjalani ritual. Rasa bersalah muncul di benak Andrea, seandainya ia tidak melibatkan sahabat baiknya sejak awal mungkin saja sahabatnya masih tertawa berkumpul bersama keluarganya.


"Lalu kenapa kamu tidak menjalankan ritualnya sekarang?"


Andrea bingung harus menjawab apa. Mas Jo tidak pernah mengatakan point-point ritual, dia hanya menyuruh dirinya ikut saja, kalau berbahaya tidak boleh terlibat. Bagaimana cara mengetahuinya? Lagipula-


Andrea melirik sekilas nenek yang duduk di pinggir tempat tidurnya dan menatap luar kamar yang terbuka. Bagaimana dirinya bisa percaya perkataan nenek itu 100%? Bisa saja ini adalah jebakan atau memang ini adalah bagian dari ritual?


"Kenapa bingung gitu?"


Andrea mengangkat kepalanya. "Tidak."


"Kamu tidak tahu bukan langkah selanjutnya?"


Andrea tidak menjawab. Ia takut salah menjawab.


"Memang sangat bijak untuk tidak mempercayai jin seperti kami, tapi juga tidak bijak berlama-lama disini bukan? Jika waktu kamu habis. Kamu ataupun tunangan kamu bisa lenyap."


"Lenyap?" tanya Andrea.


"Ohhh kamu tidak tahu bagian itu ya?"


"Tidak ada yang memberitahu, tapi waktu itu wanita itu sempat mengatakan hal yang sama." Muncul keraguan di benak Andrea.


"Lalu tujuan kamu membantu malaikat tak bernama menjadi manusia itu apa? mengubah hidup kamu atau terbius dengan ketampanan seorang malaikat pencabut nyawa?"


Dua-duanya. Keluh Andrea dalam hati.


"Rupanya memang keduanya."


Andrea menghela napas kesal. Ia memutuskan keluar dari kamar dan melihat sekeliling, mungkin bisa mendapat petunjuk seperti waktu itu. "Mereka tidak bisa melihat aku bukan?"

__ADS_1


"Tergantung."


Andrea balik badan.


__ADS_2