KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
ENAM


__ADS_3

Andrea tidur meringkuk di tempat tidur adiknya, Andre.


"Mbak, kalau mau ganggu mending pergi gih." Usir Andre yang merasa terganggu dengan kehadiran kakaknya.


"Kamu sudah bicara dengan papa?" Tanya Andrea.


"Buat apa bicara dengan pria bejat itu?"


Andrea menegur Andre. "Jangan bicara seperti itu di depan mama!"


"Mana mungkin."


Andrea memunggungi Andre. "Ndre, kamu kuliah apa nanti?"


"Memangnya ada uang buat kuliah? Kita saja ngos-ngosan cari uang buat makan."


"Kamu juga benci papa?"


"Tidak usah menanyakan hal yang sudah jelas. Belajar sana!"


Andrea terdiam. "Aku malas belajar. Kitakan tidak punya uang... ah... aku sudah menyerah hidup... aku pasrah... mending aku nikah."


"Nikah untuk masuk lubang yang sama juga sama saja mbak. Bedanya ini jauh lebih sakit."


"Anak kecil sok tahu!"


"Andre tidak mau jadi seperti kakak yang hanya pasrah."


Andrea membalik badannya dan menatap lurus adiknya. "Gimana kalau mbak beneran nikah?"


"Ya bagus. Itukan cita-cita mbak."


"Kamu tidak akan memberi selamat?"


"Bukan hanya selamat tapi juga dukungan daripada melihat mbak yang malu-maluin."


Andrea berdiri dan mengacak rambut adiknya lalu kabur ke kamarnya setelah diteriaki adiknya. "MBAAAAAKKKK..."


Andrea tertawa keras sambil mengunci pintu kamarnya supaya Andre tidak bisa masuk ke kamarnya untuk balas dendam.


"Kamu menggoda adik kamu lagi?" tanya Jonathan di belakang Andrea.


Andrea berusaha mengelus dadanya karena terkejut. Ia menatap garang Jonathan, "jangan selalu mengejutkanku! Jantungku hanya satu!"


"Kalau jantung kamu hanya satu, jangan suka menggoda adik kamu."


"Mas jo menegur aku?" Andrea menunjuk dirinya sendiri tidak percaya.


Jonathan duduk di atas tempat tidur dan bersila. "Jadilah manusia yang baik. Hati-hatilah dalam bertindak, malaikat pencatat amal baik dan buruk selalu mengawasi."


Andrea melipat tangan di depan. "Lalu mau apa kesini?"


"Aku hanya ingin beristirahat."


"Yang syarat kedua bagaimana?"


"Sudah selesai dan berhasil."


"Benarkah?" Andrea mendekati Jonathan. "Bagaimana caranya?"


"Nanti saja aku cerita." Enggan Jonathan. "Aku hanya ingin istirahat sebentar."


"Jangan-jangan kamu apa-apain aku." Andrea memandang curiga Jonathan.


"Kalau aku berbuat aneh-aneh. Aku pasti kena pinalti, ngomong-ngomong kamu merasa ada sesuatu yang aneh selama ini tidak?"


"Ada."


"Apa?"


"Aku bicara dengan malaikat pencabut nyawa dan menjadi tunangannya."


Jonathan menggeleng. "Yang lain?"


Andrea berpikir. "Uhmmm, seperti ada yang mengikuti aku terus."

__ADS_1


"Kalau itu penjaga mu selama ini." Jawab jonathan.


"Nah itu tahu."


Jonathan mengibaskan tangannya. "Yang lainnya maksud aku."


"Tidak ada."


"Yakin?"


Andrea mengangguk mantap. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"


"Tidak!"


"Bagaimana dengan syarat lanjutannya? Ulang tahunku sebentar lagi kan."


Jonathan mengetuk-ngetuk sepatunya. "Itu bisa nanti, jangan sekarang."


"Ok."


Andrea dan Jonathan saling diam.


"Kamu tidak belajar?" Tanya jonathan memecah keheningan.


Andrea menggeleng.


"Kalau kamu tidak belajar kamu tidak bisa ke Jepang."


Andrea duduk di samping Jonathan dan menatapnya. "Apakah kita akan menikah nantinya?"


Jonathan balas menatap Andrea. "Kamu ingin aku menikahi mu?"


Andrea mengangguk. "Kalau mas Jo menikahi ku, hidupku akan terjamin kan?"


Jonathan menatap tidak percaya Andrea. "Seumur hidup mau bergantung denganku?"


"Kenapa enggak?"


"Kamu tidak belajar dari pengalaman hidup mama kamu? Sekarang kamu, mama dan adik kamu aja hidup dari belas kasihan orang lain, meskipun keluarga sendiri sama saja tidak enakkan tidak bisa berbuat apapun... impian kamu terus gimana?"


"Aku tidak masalah kalau kamu punya istri kedua atau kekasih banyak yang terpenting hidup aku terjamin."


"Bukannya boleh ya beristrikan banyak? Mas Jo malaikat kan seharusnya tahu tentang hal ini."


"Justru aku seorang malaikat makanya aku tahu banyak." Jonathan memencet hidung Andrea lagi.


Andrea mengelus hidungnya. "Sakiit." Keluhnya.


"Dengar ya, boleh beristrikan lebih dari satu asalkan adil."


"Nah itu.." Tunjuk Andrea.


Jonathan mencubit jari telunjuk Andrea. "Yang sopan sama yang tua, jangan memotong pembicaraan orang."


Andrea mengelus jari telunjuknya.


"Adil disini bukan hanya mengenai harta tapi perasaan para istrinya. Percuma kalau menikah dengan banyak istri tapi istri-istri sebelumnya merasa tidak adil, bukan dalam harta lho ya. Yang ada namanya menyakiti istrinya."


"Tapi banyak yang kayak gi-"


"Pada zaman dulu, para wanita yang sudah menjanda hidupnya tidak pasti, bayangkan- dulunya mereka bergantung dengan suami mereka jadi tidak punya tempat bergantung karena suaminya tidak ada, terutama mereka memiliki anak yang harus dipenuhi kebutuhannya makanya diijinkan memiliki istri lebih dari satu bagi para pria." Potong Jonathan.


"Tapi sekarang..."


"Dulu dan sekarang berbeda. Sekarang aku tanya kenapa yang diijinkan menikah dengan pria beristri seorang janda yang memiliki anak bukan perempuan single?"


"Karena perempuan atau wanita single masih bisa bekerja sementara janda yang memiliki anak tidak bisa fokus bekerja karena memiliki anak yang harus diurus." Tebak Andrea.


"Pinter." Jonathan mengacungkan kedua jempolnya. "Konsepnya sudah berbeda dengan zaman sekarang. Janda yang sudah bekerja pun mau menjadi istri kedua demi reputasi, bahkan perempuan yang ingin kaya cepat kalau jaman dulu sih para perempuan termasuk janda tidak bisa bekerja sebebas sekarang."


"Jadi, Mas Jo gak akan punya istri lebih dari dua?" Tanya Andrea penasaran, dalam hatinya bersorak kegirangan, siapa tahu kalau mereka berdua beneran nikah pas mas jo-nya jadi manusia, jadi Andrea tidak perlu repot memikirkan tentang uang lagi.


Jonathan menghela napas. "Aku pernah mencabut nyawa seorang wanita yang memiliki suami beristrikan tiga. Wanita itu menangis dan mengeluh tentang suaminya, memang dia mengizinkan suaminya menikah tapi hatinya merasa tidak adil, bukan masalah harta tapi perasaan suaminya yang terbagi." Jonathan menepuk dadanya. "Katanya disini sakit sekali."


Andrea mengerutkan dahinya. "Jadi gak mau lebih dari satu istri nih?"

__ADS_1


"Ya gak maulah! Dosa tahu menyakiti hati seorang wanita apalagi kalau sudah punya anak, kamu ini gak paham-paham."


Andrea cemberut. "Bukannya gak paham, seorang perempuan juga butuh ketegasan."


"Ngomong-ngomong ngapain kita bahas soal pernikahan?" Tanya Jonathan curiga.


"Tiba-tiba saja kepikiran." Andrea memalingkan wajahnya.


"Ada sesuatu Andrea?"


Andrea menjauh. "E- Enggak."


Jonathan tidak percaya dengan alasan Andrea, dalam hati ia mengeluh karena tidak bisa membaca masa lalu Andrea di luar jam kerja. "Yah, kalau gitu lebih baik tidak usah dibahas."


Jonathan menjentikkan jari, mantelnya sudah berganti dengan jubah panjang bertudung hitam.


"Mau bekerja?" Tanya Andrea.


"Iya." Muncul tongkat di tangan kiri Jonathan.


Andrea melihat tongkat jalan sepinggang Jonathan. "Aku penasaran kenapa mas Jo tidak membawa arit panjang malah tongkat jalan seperti bangsawan eropa."


"Ini mode, sudah tidak jaman pakai seperti itu... yang perempuan malah pakai payung."


Andrea mengangkat kepalanya. "Ada malaikat yang membawa payung?"


Jonathan menutup kepalanya dengan tudung. "Itu terserah dia... biasanya aku pun kerja memakai jubah seperti ini. Sudah dulu ya."


Andrea memegang lengan jubah Jonathan. "Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan."


"Apa?"


"Saat papa Andrea menyetujui perjanjian untuk menukar keselamatan dirinya dengan nyawa Andrea dan gagal, kenapa papa Andrea masih hidup sampai sekarang? Seharusnya kan mereka menuntut balasan gagal itu."


Jonathan melepas genggaman Andrea. "Aku sendiri juga tidak tahu. Tapi seharusnya kalau gagal, papamu dikejar... tapi sampai sekarang hidupnya nyaman. Mungkin karena keajaiban?"


Andrea terdiam.


"Kenapa?"


Andrea berdiri, diikuti dengan Jonathan. "Apakah raja itu masih mengejar Andrea?"


"Tidak." Jawab Jonathan tegas. "Karena pelindungmu terlalu kuat."


"Bagaimana kalau pelindungnya perlahan menghilang?" Tanya Andrea khawatir.


Jonathan teringat dengan peringatan pelindung Andrea. Pada saat Andrea memiliki anak perempuan otomatis ia akan berpindah melindungi anak Andrea sehingga Andrea tidak memiliki perlindungan kecuali dirinya bisa bertemu dengan dua pelindung lainnya.


Jonathan tersenyum, "ada aku... aku akan melindungi mu."


Andrea tidak percaya dengan perkataan Jonathan, tidak ada jaminan Jonathan selamanya berada disisinya. "Pertanyaan terakhir."


"Katanya satu saja."


Andrea menggeleng. "Ini yang terakhir untuk hari ini."


Jonathan menghela napas. "Apa?"


"Apakah pelindung Andrea... menghisap roh atau kekuatan Andrea?"


"Memangnya kamu punya kekuatan?"


"Jawab saja!"


"Tidak, ia hanya melindungi mu karena sudah menjadi tugasnya melindungi keturunan majikannya. Pelindungmu berbeda dengan pelindung manusia lainnya."


"Jadi dia tidak menghisap apapun di diri aku?"


"Ya. Ada pertanyaan lain lagi?" Tanya Jonathan.


Andrea menatap mata hijau Jonathan dan mengangguk. "Oleh-oleh ya."


"Roh mau?"


Andrea menggeleng cepat. "Iiiiiiihhh..." Ujarnya ketakutan, "jangan nakutin aku nah!"

__ADS_1


Jonathan tertawa dan menghilang dari hadapan Andrea.


Andrea menghela napas. Sebenarnya masih ada pertanyaan lagi tapi sepertinya Jonathan enggan menjawab. "Padahal aku penasaran dengan syarat kedua."


__ADS_2