
Lima tahun kemudian. Andrea kecil bermain petak umpet bersama teman-temannya di depan rumah. Saat itu tanpa sengaja ia melihat seorang perempuan berdiri memanggilnya. Andrea akan menghampirinya.
"Andrea!"
Andrea kecil menoleh. Seorang pria bertudung hitam melambaikan tangan padanya, Andrea membalasnya.
"Kesini adik kecil."
Andrea kecil menoleh. Perempuan itu masih berusaha mengajaknya. Andrea kecil balik menuju perempuan itu, pria bertudung hitam itu menghalanginya.
"Jangan kesana."
Andrea kecil mendongak. "Tapi tante itu panggil Andrea. Om siapa?"
Pria bertudung itu jongkok di depan Andrea dan memegang kedua pundaknya. "Dia jahat, dia mau culik kamu."
"Culik? Apa itu culik?"
"Tante itu mau bawa Andrea pergi jauuuuuhhh dari mama dan papa Andrea."
Andrea kecil membulatkan matanya. "Andrea gak mau pisah dari mama!"
"Kalau sama papa?"
"Andrea..." Andrea kecil mengerutkan dahinya seolah-olah berpikir keras. "Andrea gak suka papa." Andrea kecil menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Ups."
Pria bertudung itu tersenyum. "Aku tidak akan mengatakannya ke papa Andrea tapi Andrea pulang ya... jangan ikut tante jahat itu."
Andrea kecil menatap wanita di belakang pria bertudung itu dengan takut-takut. "Dia... cantik kok."
Pria bertudung itu mengelus kepala Andrea kecil. "Bagi aku, Andrea jauh lebih cantik."
Andrea kecil menatap pria bertudung itu dan mengangguk. "Andrea harus cantik, karena Andrea seorang putriii..."
"Baiklah, karena Andrea seorang putri... maka sudah menjadi tugas seorang ksatria untuk mengawal pulang Yang Mulia." Pria bertudung itu berdiri dan menggenggam tangan mungil Andrea kecil.
"Tapi tantenya..."
"Biar aja tante itu. Ayo."
Andrea kecil menatap tante bergaun putih dan berambut panjang masih melambaikan tangan ke dirinya. "Kasihan tantenya capek berdiri terus, kesana yuk."
"Andrea, kamu bicara sama siapa?" baby sitter menghampiri Andrea, "ya ampun... mbak cariin dari tadi."
Andrea kecil melihat sekelilingnya, om-om itu sudah tidak ada tapi tantenya masih berdiri di depan rumah. "Mbak, Andrea dipanggil tante itu... yuk kesana." Tunjuk Andrea sambil menarik tangan baby sitternya.
"Gak ada apa-apa Andrea, pulang yuk. Udah maghrib." Baby sitter menarik tangan Andrea.
"Tapi tantenya..." Andrea masih bersikeras menunjuk perempuan itu.
"Nanti dimarahin papa, mama Andrea lho. Yuk." Baby sitter menggendong Andrea kecil untuk menjauh dari tempat itu. Rumah yang ditunjuk Andrea adalah rumah kosong bekas pembunuhan sebulan yang lalu.
"Da, da tante." Andrea kecil melambaikan tangannya.
Mendengar seruan Andrea, baby sitter merinding dan lari menjauh.
"Haduh... sudah maghrib kok baru pulang sih mbak." Tegur mama marah sambil menggendong Andrea.
__ADS_1
"Maaf bu, Andreanya tadi main sama teman-teman... susah diajak pulang." Baby sitter menutup pagar.
"Ma, tadi ada tante yang manggil Andrea. Tapi Andrea ditarik sama mbak sama om." Andrea berkata dengan cemberut.
"Mbak?"
"Itu bu... katanya melihat perempuan di depan rumah kosong belakang rumah, makanya saya tarik Andrea cepat-cepat pulang." Lapor si baby sitter ketakutan.
"Ada, ada aja... paling tetangga samping rumah." Geleng mama, "udah ah, papa udah pulang itu masa nggak salim papa?"
"Nggak mau ah! Andrea nggak suka papa!" Geleng Andrea.
"Andrea, nggak boleh gitu! Jangan bicara gitu di depan papa." Tegur mama.
Andrea mendecak kesal. "Papa sih jahat, sukanya mukul."
"Kalau Andrea nggak nakal pasti nggak dipukul." Mama masuk ke dalam rumah dan melihat suaminya duduk dengan lesu di lantai depan tv.
"Lho, papa kenapa duduk disitu?" mama duduk di samping papa sambil memangku Andrea.
"Aku tadi ditegur sama atasan." Papa menghela napas, "katanya aku kebanyakan tidur di kantor."
Mama menghela napas, entah berapa kali dirinya harus menasehati suaminya yang tidak pernah digubris. "Pa, papa tahukan akhir-akhir ini setiap malam papa keluar sama teman papa, lebih baik kurangi keluarnya... Waktunya dibuat untuk istirahat saja."
Papa mengangkat kepalanya dengan marah, "kamu nggak tahu apa yang aku lakukan di luar, aku itu berusaha mencari cara untuk menghidupi kamu dan anak-anak!"
Andrea memeluk mama dengan erat. "Papa kok bentak mama sih? Mamakan Cuma kasih tahu aja."
Papa mencubit keras kaki kecil Andrea, Andrea menangis kesakitan.
Papa berdiri. "Nanti malam aku mau keluar sama teman aku."
Mama menghela napas, ya Tuhan apa lagi yang dicari malam-malam gini? Apa nggak kapok dulu pulang gatal-gatal sampai merah gitu. "Andrea mandi ya sama mbak, mama mau bantu papa menyiapkan semuanya."
Andrea kecil mengangguk lalu lari. "Mbaaaaakkkk..."
Selesai mandi dan mengerjakan tugas dari sekolahnya, mama Andrea menidurkan Andrea dan adiknya. Entah kenapa Andrea kecil tidak bisa tidur nyenyak, ia terbangun ketika papanya sudah pulang dan bercakap-cakap di depan rumah bersama temannya. Andrea kecil menatap langit-langit kamarnya dan memutuskan mengendap-endap ke depan untuk mengejutkan papanya.
Saat ia membuka sedikit pintu ruang tamu, ia melihat asap berwarna merah membumbul di garasi rumah. Andrea menjadi tertarik, ini kali pertamanya ia melihat asap berwarna merah. Andrea akan keluar rumah tapi ditahan Jonathan.
"Hai!"
Andrea kecil menoleh, "om tadi."
"Kamu mengenaliku?" Jonathan membuka tudung kepalanya dan berjongkok.
Andrea kecil mengangguk. "Dari suara om."
Jonathan tersenyum lalu menepuk pelan kepala Andrea. "Pintar."
Andrea kecil memiringkan kepalanya, "om siapa?"
Jonathan mengangkat jari telunjuk di depan bibirnya. "Aku ksatrianya Andrea."
"Ksatria? Pangeran? Pangerannya Cinderella?" Mata Andrea membesar.
"Iya, tapi aku pangerannya Andrea bukan Cinderella, ngomong-ngomong putri Andrea mau kemana?"
__ADS_1
"Ada asap merah, Andrea pengen main itu." Andrea menunjuk pintu yang terbuka sedikit.
Jonathan meliriknya sekilas lalu tersenyum ke Andrea. "Bukannya Andrea harus bobo ya?"
Andrea mengusap matanya dan merengek. "Andrea nggak bisa bobo."
"Kalau begitu aku bantu bobo ya."
Rengekan Andrea membesar. "Andrea pengen sama papa."
Jonathan mengusap tangannya di kedua mata Andrea. "Pejamkan mata dan bayangkan hal yang menyenangkan, hal yang diinginkan Andrea."
Andrea berhenti merengek, Jonathan menggendong Andrea dan mengembalikannya ke tempat semula. "Kalau Andrea tidak bisa tidur, pikirkan apa yang Andrea inginkan dan sukai." Bisiknya di telinga Andrea.
Andrea kecil mengangguk dan mulai membayangkan apa yang ia inginkan, Jonathan duduk di sisinya sambil memastikan Andrea tidur lelap.
**
Lima tahun kemudian. Andrea kecil sudah berpindah kota bersama adik dan mamanya, karena usaha papa bangkrut selain itu papa juga dipecat dari pekerjaannya, tidak ada uang, tidak bisa makan, tidak bisa sekolah sementara penagih hutang bank terus berdatangan dan mengancam mama Andrea karena itulah Mama Andrea memutuskan pindah ke rumah kakaknya di Malang setelah sang suami tidak bisa diajak bicara baik-baik.
Rumah beserta isinya dijual atas kesepakatan bersama. Pada jaman itu rumah terjual murah, mama Andrea hanya membawa uang satu juta rupiah dan uang tabungan sekolah Andrea semasa di Surabaya sebesar dua ratus ribu, cukup untuk membawa pindah barang-barang yang tersisa.
Andrea kecil hanya bersenandung saat diajak kesana-kemari oleh mamanya sesekali ia melambaikan tangan ke om itu, om itupun membalas lambaiannya dan tersenyum. Meskipun Andrea selalu bermimpi untuk menjauhi om itu, tetap saja ia menyapa om itu.
Lalu badai besar menghantam kerajaan mungil Andrea. Andrea kecil melihat mamanya menangis keras di depan telepon bersama tantenya, adik mama. Sayup-sayup Andrea mendengar percakapan mereka di kamar.
"Benar kak, tadi si Herman telpon mas Mahmud... yang ngangkat perempuan dan mengaku sebagai istrinya." Kata tante. "Mas Mahmud selingkuh kak."
"Astagfirullah."
"Coba kakak pastikan saja."
Selingkuh itu apa?. Andrea bertanya-tanya dalam hati sambil mengintip di sela pintu kamar.
"Gak mungkin... hari Jumat kemarin dia minta dikirimin uang lima ratus ribu, bilangnya gak punya uang disana." Isak mama Andrea.
Mama kenapa menangis?. Andrea menggenggam erat roknya. Kenapa papa membuat mama menangis?
"Andrea."
Andrea menoleh ke belakang, om itu bersandar di tembok dan menatap marah dirinya. "Tidurlah!"
"Kenapa om marah sama Andrea? Kenapa mata om merah? Kenapa Andrea disuruh tidur?" Andrea menghampiri om itu. "Selingkuh itu apa? Kenapa mama menangis? Papa apain mama?"
Jonathan berjongkok dan memeluk Andrea. "Itu hanya salah paham, tidurlah."
"Kalau Andrea tidur apa semuanya sudah selesai? Papa pulang jemput Andreakan? Andrea nggak mau disini, Andrea mau sama papa, sama mama." Isak Andrea.
Jonathan tidak menjawab, ia menggendong Andrea dan menaikannya di tempat tidur perlahan supaya tidak mengganggu Andre.
"Kenapa om tidak menjawab pertanyaan Andrea?" Mata Andrea mulai berkaca-kaca.
"Tidurlah!" Jonathan menutup kedua mata Andrea.
Setelah malam tidak menyenangkan itu, Jonathan mulai mengawasi Andrea. Tidak ada senyuman seperti dulu, hanya wajah murung melihat mamanya sedih. Jonathan tahu Andrea berusaha kuat supaya mamanya tidak menangis lagi.
"Kalau Andrea nangis, mama akan menangis. Jadi Andrea tidak boleh menangis." Andrea mengusap air matanya. Jonathan bisa mendengar gumaman kecil itu.
__ADS_1