KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
AWAL IV


__ADS_3

Andrea selesai menutup semua pintu istana bersama Seruya. Diluar dugaan, jendela dan pintu istana ini seperti otomatis. Bayangkan, di suatu ruangan terdapat banyak jendela, jika ia menutup satu jendela maka jendela lainnya tertutup dan terkunci, begitu juga dengan pintu.


Hal ini membuat pekerjaan Andrea selesai sementara Seruya hanya mengangkat tangannya saja untuk melakukan tugasnya. Setelah itu ia duduk sambil minum teh yang disediakan Seruya di ruangan santai dekat kamarnya. "Terima kasih, teh kamu enak sekali."


Seruya menunduk malu. "Saya mencoba membuat minuman manusia, biasanya kami hanya minum herbal."


Andrea meletakan cangkir teh dan menatap Seruya dari atas-bawah. "Penampilan kamu sederhana sekali."


Seruya melihat penampilannya. "Ini penampilan biasa, katanya kalau saya sudah dewasa dan memiliki tuan- saya akan berpenampilan seperti tuan putri."


"Kenapa kamu memanggil kakak angkat kamu putri?"


"Karena yang memiliki istana ini tuan putri bukan saya."


"Aku tahu, tapi sebagai adik angkatnya kamu bisa memanggilnya kakak atau apalah."


Seruya menggeleng kecil. "Itu dilarang, saya tidak punya kerabat di istana dan saya hidup dari belas kasih tuan putri jadi saya tidak diizinkan memanggilnya tuan putri."


Andrea memajukan badannya dan mengendus badan Seruya. "Bau kamu seperti bau bunga sedap malam."


Seruya bangkit dari tempat duduk dan berjalan mundur. "Ma- maafkan saya, saya-"


Andrea duduk tegak. "Tenanglah, tidak perlu takut-"


Seruya bersujud di kaki Andrea. "Maafkan saya, tolong jangan katakan pada tuan putri."


Andrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak apa-apa Seruya, aku tidak marah kok. Kamu tidak usah seperti ini."


Seruya tetap bergeming. "Maafkan saya, maafkan saya."


Andrea menghela napas dan hendak menyentuh Seruya.


Seruya terkejut dan berjalan mundur. "Ma- maaf-"


Andrea mengerutkan kening. "Seruya, aku tidak akan berbuat hal yang buruk. Duduklah."


Seruya berjalan mundur lalu jatuh terduduk, dia memandang takut Andrea. "Saya tidak akan mengulanginya lagi."


"Seruya-" Andrea melihat keanehan Seruya, ia menoleh belakangnya dan tidak ada apa-apa. "Seruya kamu kenapa?"


Saat melihat Andrea hendak berdiri, Seruya berteriak. "Tolong jangan mendekat! jangan sakiti saya!"


"Seruya, tidak akan ada yang menyakitimu."


"Tidak, jangan sakiti saya, saya tidak akan mengulanginya." Seruya menggeleng ketakutan, menyeret mundur badannya. "Tolong jangan mendekat."


"Seruya-" Andrea mulai ketakutan dengan perilaku aneh Seruya.


"Saya tidak akan mengulangi perbuatan saya, tolong jangan sakiti saya."


"Seruya, tidak akan ada yang menyakitimu." Andrea mencoba tersenyum.


Seruya menggeleng ketakutan, punggungnya merasakan tembok dingin yang terbuat dari emas. "Saya tidak akan mengulanginya."


"Apa yang kamu lakukan Seruya?" tanya Andrea, mencoba mengalihkan perhatian Seruya.


"Saya tidak akan mengulanginya."


Andrea berdiri, dan memeriksa ruangan di sekitar. "Lihat Seruya, tidak apa-apa disekitar kita. Tidak perlu minta maaf, nanti kalau Seroja datang-"


"JANGAN PANGGIL DIA! AMPUNI SAYA!" Seruya menekuk lututnya dan menutup kedua telinga dengan tangannya. "Maafkan saya, saya tidak akan mengulanginya."


Andrea merasa ada yang tidak beres dengan Seruya. "Seruya, apa yang terjadi saat kita terpisah tadi?"

__ADS_1


"Saya tidak akan mengulanginya, ampuni saya." Seruya mengulang perkataannya dengan ketakutan, tidak mendengar pertanyaan Andrea.


Andrea berjalan mundur menjauhi Seruya, matanya mengawasi sekitar ruangan dengan waspada. "Seruya!"


Seruya mengangkat kepala, kedua mata berubah warna menjadi merah.


Andrea terkejut, instingnya merasakan bahaya, ia cepat-cepat masuk ke dalam kamar setelah itu mengunci pintu kamar. Merasa tidak cukup, dia mendorong meja samping tempat tidurnya lalu kursi ke pintu kamarnya.


Andrea terduduk di lantai kamar dan menekuk ke dua lututnya ke depan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"


------------


"Aya, kalau ada apa-apa teriak ke kami!" seru teman Jonathan ke dalam lubang sambil berlutut, tidak ada sahutan. "Aya! Kamu baik-baik saja?!"


Seroja yang berdiri di samping teman Jonathan, memandang cemas ke dalam lubang. "Ada sesuatu pada Aya?"


Teman Jonathan ikutan panik sambil berteriak. "Aya, jangan bercanda!"


"Berisik!" sahut Aya di dalam lubang, teman Jonathan dan Seroja bernapas lega. "Ada lubang lagi disini tepat di arah Timur lebih tepatnya sih ini semacam gua."


Teman Jonathan mengangkat kepalanya ke Seroja. "Gempa yang aku rasakan dari barat."


"Saya melihat meteor jatuh dari barat," timpal Seroja.


"Bukan leak kan?" tanya teman Jonathan dengan hati-hati. Hampir saja menambahkan kalau itu satu kaum dengan Seroja.


Seroja menatap tajam Jonathan. "Tingkatan saya jauh lebih tinggi dari leak! Jangan samakan saya dengan leak! Saya tahu apa yang ada dipikiran kamu!"


Teman Jonathan cengengesan. "Jadi bukan ya?"


"Bukanlah! saya bisa membedakan antara meteor dan leak."


"Woi! malah cerita-cerita! gimana nih? Aku lanjut ya!" seru Aya dari dalam lubang.


"Terus kita diamkan? kalian berdua bisa turun ke bawah?" tanya Aya. "Lubangnya memang cukup dalam bagi manusia, untung saja Seroja meminjamkan selendang supaya aku bisa turun."


"Kami tidak bisa masuk ke sana!" jawab Seroja. "Masalahnya ada pelindung di dalamnya."


"Kalian tadi bilang tidak bisa mendekati lubang, sekarang malah teriak-teriak di luar lubang! aku nggak percaya! bilang saja kalian takut!" teriak Aya.


"Ta-" teman Jonathan melotot seram. "Aku apa? takut? sama lubang ini? Hahahaha- konyol kamu, bagaimana bisa aku yang seorang malaikat takut."


"Jangan menghina saya ya! kedudukan saya paling tinggi diantara lainnya, jangan meremehkan saya!" Seroja ikut-ikutan emosi.


Tidak ada sahutan.


"Aya?" panggil teman Jonathan.


Tidak ada sahutan.


"Aya, jangan bercanda!"


Di dalam lubang Aya melihat sekelilingnya dengan obor gaib yang diberikan Seroja, obor ini tidak berasap dan tidak mati bahkan tidak ada udara. Aya bisa merasakan tidak ada udara di dalam sini, kalau manusia biasa yang masuk pasti akan mati sesak.


Untung saja teman Jonathan mengikatkan syal di lehernya dengan erat meski terlihat mencekik di lehernya yang ditutup jilbab ternyata ini berguna juga untuk udara lembab dan sesak ini.


Aya melihat gua di depannya, ia menimbang masuk, tidak masuk, masuk. "Duh, mana yang diatas pada tidak berani turun, adanya bertengkar dan emosi." Gumamnya.


Aya mengarahkan obor gaibnya ke depan gua, Ia masih bisa mendengar seruan teman Jonathan yang memanggil dirinya. "Masa bodo ah!" dia masuk ke dalam gua dengan santai.


"Tidak ada jawaban, jangan-jangan dia dimakan?" tanya teman Jonathan dengan wajah pucat pasi. "Haduh, kalau atasan tahu hal ini aku bisa dihukum."


Seroja menatap tajam teman Jonathan. "Sayakan sudah bilang, jangan melibatkan manusia! kamu tahu- lawan kita itu tidak main-main, kalau sampai sesepuh saya mengetahui hal ini, saya sendiri juga bisa celaka."

__ADS_1


Tangan teman Jonathan hendak masuk ke dalam lubang lalu menariknya kembali saat tangannya seperti disetrum sesuatu. "Seperti ada pelindung di dalamnya."


"Saya tadi sudah bilang kan!"


"Iya, kamu tadi sudah bilang semuanya tapi tidak ada solusi, sekarang bagaimana? Kita berdua tidak bisa meninggalkan Aya begitu saja."


Seroja mengangkat kedua bahunya dengan anggun.


"Seroja! jangan bercanda!"


Seroja jalan menjauhi lubang. "Saya harus kembali ke istana, kasihan Andrea sendirian di dalam istana."


"Woi, woi!" teman Jonathan memeluk lutut Seroja yang ditutupi jarik kebaya. "Jangan tinggalkan aku sendirian! kamu tidak kasihan apa sama teman Andrea?"


Seroja berusaha melepaskan tangan malaikat di bawahnya. "Lepaskan!"


"Lagipula kamu kan bilang kalau Andrea sampai tahu, bisa-bisa ia marah. Tolong Seroja." Rengek teman Jonathan.


"Kamu kira saya peduli? kamu yang membawa dia dan kamu juga yang menyetujui dia turun ke dalam lubang."


"Ayolah, tolongin malaikat yang kesulitan ini- kalau atasan tahu terutama malaikat Izrail, aku bisa dihukum." Teman Jonathan mengeratkan pegangannya.


"Tidak ada urusannya dengan saya!" teriak Seroja sambil berusaha melepas pegangan teman Jonathan.


"Tuan putri!"


Teman Jonathan dan Seroja menoleh, Seruni berdiri tidak jauh dari tempat mereka.


"Kenapa anda sendirian? Dia malaikat pencabut nyawa kan?" Seruni menghampiri Seroja.


Teman Jonathan semakin mengeratkan pelukannya. "Siapa dia?"


"Bawahan ku. Kenapa kamu kesini?"


"Saya panik mendengar anda sendirian disini sementara para dayang tidak ada," kata Seruni.


"Para dayang kan di istana." Seroja mengerutkan kening.


Seruni terkejut. "Lho, bukannya anda memerintah para dayang di istana untuk keluar mengawasi tempat raja jin itu?"


"Iya saya memerintahkannya, tapi hanya dua dayang bukan seluruh dayang di istana," ujar Seroja.


Teman Jonathan berdiri. "Kamu mendengarnya darimana?" tanyanya pada Seruni.


"Seruya," jawab polos Seruni.


"Dia kembali?" tanya Seroja terkejut mendengar nama yang ia kenal.


"Kamu mengenalnya?" tanya teman Jonathan pada Seroja.


Seroja mengangguk. "Dia adik angkat saya, dia juga menghilang bersama ibunya. Ibunya berusaha menghancurkan istana saya dan berhasil digagalkan. Untuk apa dia kembali?"


"Bukannya selama ini anda menyembunyikannya?" raut wajah Seruni berubah pucat. "Karena selama ini anda meninggalkan istana, saya dan beberapa dayang lainnya pernah menemukan Seruya, dan katanya dia disembunyikan oleh anda- makanya kami-"


"BERANINYA KAMU MEMASUKAN PENYUSUP DI ISTANA SAYA!" bentak Seroja. "Kamu tinggalkan Andrea bersamanya?"


Seruni mengangguk panik. "Ma- maafkan saya."


Teman Jonathan mengangkat kedua tangannya. "Kalau berhubungan dengan Andrea lebih baik kalian cepat-cepat ke sana sementara aku yang menangani Aya."


Seroja memandang garang teman Jonathan sekilas lalu jalan menghilang bersama Seruni.


Teman Jonathan menghela napas dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sekarang aku harus mencari cara untuk turun ke bawah."

__ADS_1


"Dor!"


__ADS_2