
Irul terkejut. Yang tadinya sedang duduk di atas atap genteng rumahnya sekarang berpindah tempat ke rumah tak dikenal. "Ini dimana?"
Jonathan meletakan jari telunjuk di depan bibirnya lalu menunjuk seorang anak dan ibunya sedang duduk di ruang tengah.
"Khansa mendapat nilai 90 di Bahasa Inggris bunda." Khansa memamerkan hasil ujian ke bundanya.
"Nah gini dong baru anak bunda." Bangga Ina.
Jonathan menunjuk perempuan berjilbab yang sedang duduk dan memegang handphone. "Kamu tahu, Andrea pernah menunjukan hasil ujiannya dan apa yang dikatakannya? 'kamu pasti mencontek!' What the hell, padahal yang ditunjukannya hasil Ujian sketsa design baju! Nyontek darimana? gak punya otak!"
Irul menatap Jonathan yang dipenuhi dengan emosi.
"Yang, sudah telepon orangnya? bisa dicicil?" tanya seorang pria tua besar yang memegang gelas besar berisi jus.
"Sudah. Katanya bisa, tinggal pengajuan, besok orangnya datang." Jawab perempuan berjilbab itu.
"Kamu tahu. Andrea meminta uang untuk biaya sekolah SMA dan kuliahnya tapi hasilnya nihil. Orang itu-" Jonathan menunjuk pria bersarung. "Tapi orang itu punya uang untuk membeli mobil tambahan!"
Irul melihat yang ditunjuk Jonathan.
"Bunda! Nanti Khansa mau SMA internasional, nerusi mandarin." Khansa duduk di samping bundanya.
"Harus itu! Wajib! Khansa harus perkuat bahasa mandarinnya." Tegas Ina.
Jonathan tersenyum miris. "Kamu tahu, Andrea suka bahasa Jepang dan Mandarin. Ketika dia belajar bicara bahasa itu- si perempuan jilbab bernama Ina itu mencemooh Andrea di depan klien dan mengatakan 'kau itu ngapain suka china, china sih? bapak kau saja benci sama orang china.' apa hubungannya coba mempelajari bahasanya dengan hubungan persahabatan ayah dan orang China!"
Irul menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Anu- sebenarnya ini dimana ya?"
Jonathan duduk di meja. "Bali."
"Apa? Ba- ba-"
"Mama Andrea, Andrea dan adiknya hanya makan sederhana bahkan bisa saja susah makan tapi ini? Menu di atas meja makan komplit." Mata Jonathan berkaca-kaca. "Saya benci manusia, saya sendiri heran kenapa ingin kembali menjadi manusia."
"Apa? Manusia?" Irul pusing dengan perkataan Jonathan. "Haduh, saya jadi bingung."
"Tidak perlu dipikirkan."
Irul melihat wajah bahagia orang tua dan keempat anaknya. "Mereka kelihatan kaya raya. Lihat, handphonenya saja bagus. Ah, gak usah lihat handphone, makanannya saja ini bisa dibilang mewah. Ayam goreng, ikan, sop sayur, ini sih komplit!" Irul memandang iri makanan di atas meja.
"Apa yang akan saya katakan pada Andrea mengenai SMS papanya?" Gumam Jonathan pada diri sendiri.
"Memangnya siapa Andrea? Roh juga seperti saya?"
Jonathan menatap Irul. "Dia manusia. Jiwa-raganya lengkap."
"Terus kenapa kita berkunjung kesini? Memangnya disini ada yang meninggal?"
"Bukan! tapi saya mencatat semuanya dan memastikan kedua pasangan selingkuhan ini masuk neraka."
"Memang apa yang mereka lakukan?"
"Dosa mereka jauh lebih berat dari pemabuk dan pencuri seperti kamu. Kamu sih di neraka paling dicambuk di lantai panas atau tangan kamu dipotong, ditumbuhkan lalu dipotong lagi."
"HENTIKAN!" Irul menutup kedua telinganya dengan tangan. "Jangan menakut-nakuti saya!"
Jonathan menghela napas dan meminum kopinya yang kedua. "Mereka berdua berzina, selingkuh, memiliki anak di luar nikah bahkan menyakiti seorang ibu dan kedua anaknya."
Irul membuka sedikit tutupan telinganya. "Memang di neraka nanti mereka dihukum apa?"
Jonathan mencoba mengingat siksaan mengerikan. "Ha- entahlah- aku bahkan tidak mau memikirkannya, yang pasti siksaan mereka jauh lebih berat."
Irul mengelus dadanya lega. "Setidaknya ada yang jauh lebih berat dari saya."
"Dasar manusia!" Cibir Jonathan. Memang sifat dasar manusia untuk bersenang-senang di atas penderitaan manusia dan susah di bawah kebahagiaan manusia.
"Ngomong-ngomong sampai kapan kita disini?" Tanya Irul.
"Sampai besok pagi. Aku tidak bisa menemui Andrea sekarang, aku harus memberi dia waktu sendirian."
Irul menatap tidak mengerti Jonathan.
Jonathan mengibaskan tangannya. "Sudahlah, untuk orang yang otaknya penuh dengan minuman keras tidak akan paham sampai kapanpun!"
"Khansa sudah sholat?" Tanya Ina.
"Sudah bunda."
__ADS_1
"Mereka rajin beribadah kelihatannya." Komentar Irul.
"Semoga saja amal ibadahya benar-benar diterima." Jonathan menjawab dengan ketus. "Tunggu!"
Irul menoleh. "Apa? Ada apa?"
"Kalau ibadah kedua pasangan selingkuh ini jatuh ke mama Andrea, Andrea dan Andre. Mungkin?" Jonathan berpikir keras.
"Ibadah itu berubah bentuk menjadi perlindungan mama Andrea terhadap hal-hal jahat begitu juga Andrea dan Andre. Lalu- kenapa-" Jonathan menatap ayah kandung Andrea. "Kenapa kamu hidup sampai sekarang? Amal baikmu bahkan tidak ada sama sekali begitu juga dengan selingkuhan kamu-"
"Malaikat pencabut nyawa?" Tanya Irul.
Jonathan berdiri berhadapan dengan ayah kandung Andrea dan menelitinya dengan seksama. "Orang ini bisa merasakan keberadaan kita tapi tidak bisa melihat kita berdua. Itu karena dia memiliki ilmu."
"Ilmu?"
"Ilmu kekebalan tubuh. Tapi berangsur menghilang perlahan, peliharaannya juga banyak yang pergi." Jonathan mengangguk mengerti. "Dia tidak bisa mati dibunuh jin, iblis ataupun setan tapi mati karena Tuhan."
Irul menggaruk kepalanya tidak mengerti. "Ya ampun, saya benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan malaikat pencabut nyawa satu ini."
Jonathan menghela napas kesal. "Ada dua kematian manusia. Mati karena takdir Allah atau mati karena dibunuh Jin, jiwanya pun akan berpindah tempat di tempat berbeda. Jiwa yang dibunuh Jin akan menjadi budak sampai hari kebangkitan. Bersyukurlah kamu yang mati karena takdir Tuhan!"
Irul terkekeh malu. Dalam hatinya ikut bersyukur. Gak lucu kan, semasa hidup kelakuannya jelek mati pun jadi budak jin. Hiiiii, mendingan kena siksa api neraka.
Jonathan menatap lagi pria di hadapan nya.
----
"Biasanya kalau manggil yang gituan sih mandi kembang 7 rupa, bakar kemenyan atau gak jaga lilin."
"Kamu kira aku pemuja setan!?" Seru Andrea kesal di dalam kelas. "Ngapain juga sih manggil-manggil malaikat pencabut nyawa, biar saja juga dia kerja."
"Tapi sudah hampir seminggu kamar kamu diamin dia sampe pinjam anjing Chihuahua."
Andrea mengaduk jus jeruknya. "Biar tuh orang gak datang!"
"Terus syarat sisanya? Ingat... baru dua syarat lho." Aya mengangkat jari telunjuk dan tengahnya di udara membentuk 'peace'. "Masa kamu mau mundur sih?"
"Syarat satunya memang udah sih tapi yang satunya aku gak tahu apa berhasil. Tuh malaikat gak pernah cerita!"
"Males! Gak mood!" Elak Andrea.
"Emang nolong orang harus sesuai mood ya?" Tanya Aya.
Andrea menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Argh! Masa bodoh ah! Gak tau!"
"Kamu jangan bicara seperti itu. Gimana kalau si malaikat itu ada disini?"
"Bodoh amat! Aku bakal cuekin dia selamanya!" Seruan Andrea bergema di dalam kelas kepada Aya.
"Oh. Begitu ya..."
"Aaaaaa!!!" Andrea terkejut. Begitu menoleh wajah Jonathan tepat di depannya.
"Andrea..." Aya khawatir melihat temannya yang sudah mengelus dada dan menunduk. "Kamu kenapa?"
Karena Andrea duduk di bangku paling depan, Jonathan berjongkok di depan meja Andrea. Kedua tangan dan dagunya bersandar diatas meja. "Jadi kamu memang sengaja menghindar? Kenapa? Karena nangis di depanku atau karena aku melihat kamu menangis?"
Kepala Andrea tetap menunduk tapi matanya menatap Jonathan. "Ngapain kesini?"
"Syarat ketiga."
"Bisa nanti?"
Aya memandang sekeliling ruangan kelas yang kosong karena teman-teman sekelas pada pergi ke kantin. "Andrea... kamu bicara sama siapa?"
"Malaikat pencabut nyawa!" Jawab Andrea singkat.
"Hah? Dimana?" Tanya Aya menggeret kursinya ke sebelah kursi Andrea.
Jonathan menatap heran Aya. "Dia tidak takut bertemu malaikat seperti aku?"
"Aya ngefans sama kamu." Jawab Andrea.
"Wow!" Jonathan tertawa keras. "Baru kali ini ada yang ngefans dengan malaikat pencabut nyawa."
Aya berdiri. "Hummm... sepertinya aku mengganggu. Mending aku balik ke belakang saja, biar kalian bisa bicara bebas, meskipun aku gak tahu apa yang kalian bicarakan." Aya menepuk pundak Andrea, "istirahatnya tinggal sepuluh menit ya."
__ADS_1
Andrea mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir Aya, Jonathan melihat Aya dari tempatnya.
"Ckckck... coba lihat... ada yang lagi kasmaran." Andrea memergoki Jonathan masih mengawasi Aya meskipun Aya sudah duduk di bangku belakangnya.
"Sebagai malaikat pencabut nyawa, dikagumi manusia merupakan hal yang... fantastis?" Jonathan mencoba mencari kalimat yang pas. "Atau... mengagumkan?"
Kepala Andrea bersandar di tangannya yang dilipat di atas meja. "Aku ingat... mas Jo dulu pernah panggil aku terus diusir mama."
Jonathan tertawa begitu mengingatnya. "Waktu itu aku hanya iseng, di dekat kamukan ada seorang pria yang jadi korban perampokan."
"Ah... tetangga belakang rumah." Andrea menatap mata Jonathan. "Terus kenapa mama bisa melihat mas Jo?"
Jonathan membalas tatapan Andrea, ia sangat menikmati moment ini. "Tidak tahu, keajaiban mungkin?"
Andrea mengangguk. "Lalu bagaimana perasaan mas Jo saat mencabut nyawa orang? Tidak sedih?"
"Sebenarnya aku tidak tahu perasaan itu karena dari kecil aku sudah terbiasa diperintah oleh penguasa besar. Waktu itu emosiku belum tumbuh sampai saat aku melihat pasangan suami istri yang membawa bayi." Jonathan menunjuk dadanya sendiri. "Disini rasanya ada sesuatu yang berubah."
"Setelah itu aku tahu kalau semua yang aku jalani ini tidak benar sampai aku memutuskan kabur dan berhenti di sebuah air terjun."
"Air terjun?" Tanya Andrea.
"Dulu aku selalu mendengar kisah ada bidadari turun untuk mandi dan itu memang benar. Di tanggal tertentu bidadari itu turun dan aku meminta pertolongan. Kali pertamanya aku hidup selama 200 tahun, aku menangis."
Andrea tidak bisa membayangkan seorang tuyul menangis di air terjun, di depan bidadari untuk meminta pertolongan.
Jonathan menyipitkan matanya. "Kamu ingin tertawakan? Tertawa saja!"
Andrea mati-matian menahan tawanya, "aku akan menahannya."
"Tertawa saja. Aku tahu!" Jonathan berdecak. "Anak kecil gundul duduk di air terjun sedang menangis memang lucu apalagi kalau itu tuyul."
"Anak kecil manusia memang lucu tapi ini tuyul... pfft."
"Mau lanjut gak?" Tanya Jonathan kesal.
"Lanjut, lanjut."
"Saat itulah para bidadari menolongku dan membawaku ke tempat para malaikat."
"Kenapa bukan bidadari itu yang menolong? Kenapa harus dibawa ke malaikat?"
"Karena bidadari itu perempuan dan mereka tidak paham bagaimana menolong seorang anak laki-laki yang masih kecil."
"Terus malaikat itu laki-laki?"
"Malaikat itu bukan laki-laki ataupun perempuan."
"Kalau malaikat pencabut nyawa?"
"Awalnya itu tugas para malaikat tapi perlahan berubah menjadi pekerjaan anak-anak yang dulunya diculik dan sudah terlalu lama hidup di dunia lain, supaya mereka memiliki kesempatah hidup di dunia ini."
Salah satu alis Andrea terangkat. "Semacam... memberi pekerjaan kepada pengangguran?"
Jonathan mengangguk. "Mungkin."
Andrea melihat ke belakang bangkunya, Aya asyik memainkan ponselnya. "Jadi... gimana dengan syarat lanjutannya?" Bisik Andrea supaya tidak di dengar Aya.
"Sebenarnya aku ingin lanjut sekarang tapi melihat kamu seperti itu dan aku pikir ulang, sebaiknya jangan sekarang..."
"Kenapa?" Tanya Andrea.
"Istirahat saja." Jonathan menepuk kepala Andrea.
"Di daftar itu ada papa gak?" Andrea berharap.
Jonathan menggeleng. "Untungnya tidak."
Andrea menghela napas kecewa.
"Berharap banget sih papa kamu meninggal."
Jawaban Andrea bersamaan dengan bel tanda masuk.
"Sepertinya kamu mau masuk kelas. Aku pergi dulu ya." Tanpa menunggu jawaban Andrea, Jonathan menghilang dari hadapannya.
__ADS_1