
Setelah Andrea menyentuh tangan Jonathan dalam sekejap mereka berdua sudah berpindah ke suatu ruangan. Andrea melihat sekeliling ruangan yang berantakan dengan kertas dan computer.
"Ini dimana?"
"Ruangan kantor papa kamu." Tunjuk Jonathan. "Ruang tamu dijadikan kantor."
Andrea melihat papanya memakai kaos kumal dan sarung sambil memegang gelas berisikan air dan buah-buahan masuk ke dalam kantor. "Dia bisa melihat kita?"
"Tidak, ayo kita cari." Jonathan jalan keluar kantor menuju lorong sempit berisi lemari baju yang diatasnya ada koper. "Keris itu ada di dalam koper besar bewarna ungu."
Andrea mendongak, "Memangnya mas udah lihat?"
"Belum, tapi aku yakin ada di sana."
"Kalau seyakin itu, mas bisa dong ambil sendiri. Gak usah sama Andrea."
"Tidak bisa. Hanya yang sedarah saja yang bisa menemukan dan mengambilnya."
"Menemukan-" Andrea merenung sejenak, "Jangan-jangan ada banyak di dalam koper?"
Jonathan menatap koper dan mengangguk. "Begitulah. Kami para malaikat tidak boleh menyentuh hal semacam itu."
"Gimana cara ngambil-"
"YANDAAA!!!" Seru Khansa sambil lari menembus Andrea. "Yanda, bayar uang sekolah Khansa." Seru Khansa di samping papa Andrea, sontak Andrea menoleh.
"Berapa sayang?"
"Tiga juta!"
"Iya, besok biar dibayar bunda."
Andrea menggenggam erat roknya. Padahal waktu itu Andrea minta spp tapi tidak ada tanggapan malahan yang ada disebut pengemis.
"Andrea." Jonathan menepuk bahu Andrea.
"Rumah bude yang kami tempati sekarang akan dijual." Andrea menatap sendu sekeliling ruangan, "Disaat kami tidak pasti akan tinggal dimana, dia hidup nyaman dengan keluarga barunya."
Jonathan mengangkat tangan di bahu Andrea. "Tuhan sudah merencanakan yang terbaik untukmu Andrea. Mungkin saja dengan ini kamu jadi bisa belajar mandiri tanpa bergantung dengan papa kamu."
Andrea menghela napas dan tersenyum, "Ayo kita cari keris itu!"
Jonathan menggenggam kedua tangan Andrea. "Ayo."
Setelah itu Jonathan mengarahkan tangan kanan Andrea ke arah koper berwarna ungu. "Coba kamu rasakan, apakah ada sesuatu yang berada di telapak tangan kamu."
Andrea menutup mata untuk merasakannya, berkali-kali Andrea membuka dan menutup telapak tangannya. "Kok gatal ya?"
"Gatal?" Jonathan mengerutkan dahi, "Bukan panas?"
"Gatal kok. Pengen aku garuk-garuk jadinya, boleh?" tanya Andrea sambil membuka matanya.
"Aku gak tahu efeknya tapi lebih baik jangan digaruk." Jonathan tetap mengarahkan tangan Andrea. "Bagian mana yang bikin tangan kamu gatal?"
"Bawah koper. Tepat di atas roda dekat pintu lemari itu." Tunjuk Andrea. "Apakah di sana kerisnya?"
"Aku tidak tahu kalau kita tidak membukanya." Jonathan melirik Andrea yang menatap tajam dirinya. "Apa?"
"Apakah semua malaikat pencabut nyawa tidak tahu apapun?"
"Maksud kamu?"
"Apakah malaikat pencabut nyawa tidak punya penglihatan super?" tanya Andrea.
"Bisa, tapi tidak untuk ini. Aku tidak terlalu suka hal-hal berbau klenik." Jonathan menunjuk koper dengan dagunya, "Mau coba mengambilnya?"
"Bagaimana caranya?"
Jonathan menarik Andrea menjauhi lemari dan menjentikkan jari, 6 koper berjatuhan ke bawah. Semua isinya berhamburan. "Cepat kamu cari!"
Selingkuhan papa Andrea keluar dari kamar dengan dua anak kembarnya, Khansa, papa Andrea dan Ahmad keluar dari ruang kantor.
"Kalian disini saja. Biar yanda yang mengurus!" Seru selingkuhan itu, menghalangi anak-anaknya untuk tidak mendekat.
Saat papa Andrea melangkah maju, dia terjatuh.
"Yanda gak papa?!" Khansa yang masih berdiri di tempatnya menjerit ketakutan.
Jonathan berusaha mengulur waktu untuk Andrea, "Cepatlah!"
Andrea berseru. "Bentar!"
__ADS_1
Andrea menyingkirkan beberapa keris untuk mencari keris yang membuat tangannya gatal. "Yang mana sih- kalau diburu-buru gini- aduh!"
Papa Andrea berdiri, tanpa sengaja Jonathan menyentuh lengan atas papa Andrea dan muncul memori masa lalu.
Aku gagal menangkap anak kamu!
Lalu bagaimana?
Biarkan anak kamu menyentuh keris itu. Saat ia menyentuhnya, maka ia akan mati.
Sekarang?
Nanti ada saatnya, biarkan saja anak kamu hidup sekarang.
Jonathan terkejut dan lari untuk menghalangi Andrea. "Andrea! Jangan sentuh kerisnya!"
Andrea tersenyum, "Yang inikan?"
Jonathan melihat keris yang dipegang Andrea. Tidak salah lagi, keris itu! "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya setelah Andrea cepat-cepat memasukan keris ke saku dada jas Jonathan.
"Iya gak papa," Andrea menatap heran Jonathan, "Kenapa panik?"
Jonathan melihat ada yang bergerak ke arah tangga, Jonathan mengikutinya sambil menarik Andrea. "Ikut aku!"
"Kenapa sih?" Tanya Andrea setelah sampai di dapur, bawah tangga.
Jonathan melihat seekor kucing kecil berwarna hitam menatap dirinya. "Kucing hitam."
Andrea menoleh dan terkejut, ia langsung mengenali kucing itu. "Hunter!"
"Hunter?" Tanya Jonathan.
"Anak kucing lumpuh yang sempat aku rawat dulu. Papa pernah marah karena aku merawat anak kucing lumpuh! Saat itu pas aku pulang sekolah katanya sudah dikubur. Hunter, kamu Hunter kan?"
Jonathan menarik Andrea yang akan menaiki tangga kayu. "Jangan keatas, kita belum tahu kalau itu Hunter!"
Kucing kecil itu turun ke tangga dan menatap Andrea, Andre menggendongnya. "Hunter!"
"Jiwa seekor kucing kecil?" Gumam Jonathan. "Kamu pelindung Andrea?"
Kucing kecil itu mengeong dan loncat dari dekapan Andrea setelah itu lari menghilang.
Jonathan menahan badan Andrea. "Nanti kamu akan bertemu dengan dia."
"Kenapa kamu bisa yakin?" Isak Andrea.
Jonathan melihat ke lorong. Anak-anak dan selingkuhan papa Andrea sedang memasukan kembali beberapa baju ke dalam koper sementara papa Andrea memasukan keris-kerisnya. "Kerisnya dimana?"
Andrea menunjuk dada Jonathan. "Di saku dada mas."
Jonathan melihat sekeliling dan memastikan sesuatu, tidak ada tanda-tanda munculnya para makhluk yang akan menyerang Andrea. "Tangan kamu tidak apa?" Jonathan mengangkat telapak tangan Andrea.
Andrea mengangguk. "Tadi sebenarnya gatal sih pas aku masukin keris di saku mas masih aja gatal tapi begitu Hunter loncat dan aku pegang Hunter udah gak gatal lagi."
Jonathan menghembuskan napas lega, "ayo pulang."
Andrea menatap papanya untuk terakhir kali. "Ya."
Jonathan dan Andrea kembali ke kamar Andrea.
"Jdi setelah itu gimana?" tanya Andrea setelah kembali ke kamarnya.
Jonathan duduk di kursi belajar Andrea. "Tidurlah, aku akan bicara dengan pelindungmu."
"Apa?"
"Kamu mendengar perkataan ku Andrea."
"Tapi, aku ingin tahu-"
"Nanti aku ceritakan-" Potong Jonathan.
"Tapi mas gak cerita, syarat kedua saja enggak cerita detailnya!" potong Andrea.
Jonathan memegang kedua bahu Andrea. "Nanti, tidak sekarang. Tidurlah. Aku ingin menemui pelindungmu, aku tidak bisa bertemu kalau kamu tidak tidur."
Andrea bergumam pada diri sendirinya, "Kenapa harus pas aku tidur?"
Jonathan mendorong Andrea ke tempat tidur dengan kasar.
"Kau-" Andrea hendak melempar bantal lalu terpana pada Jonathan ketika menyadari bajunya sudah berganti dengan baju tidur. "Kapan..."
__ADS_1
Jonathan mendorong Andrea dan menyelimutinya. "Selamat tidur."
"Cu.ra.ng." Keluh Andrea sambil memunggungi Jonathan.
Jonathan menunggu Andrea hingga tertidur dan menyentuh tangannya, Andrea menghalau tangan Jonathan.
"Gak usah pegang-pegang!"
Jonathan tersenyum dan menutup kedua mata Andrea dengan tangannya. "Kalau tidak dipegang, aku tidak bisa melindungi mu."
Andrea menyingkirkan tangan Jonathan di matanya, "Aku bisa tidur sendiri!"
Jonathan menghela napas dan memegang erat tangan kiri Andrea. "Kalau kamu tidak tidur aku cium nih."
Andrea melotot dan balik. "Mas ngancam aku?"
"Tidur!"
Andrea memunggungi Jonathan kembali. "Ya ya ya."
Tak lama Jonathan mendengar Andrea sudah mendengkur, Jonathan mengeratkan pegangannya di tangan Andrea seiring dengan munculnya pelindung Andrea dengan alunan musik khas jawa. "Ada apa?"
Jonathan memberikan keris semalam ke pelindung Andrea. Seperti biasa, Jonathan memberikan pelindung supaya Andrea tidak mendengar percakapan mereka berdua ketika tidur. "Tahu keris ini?"
"Panggil saya Seroja."
"Seroja?"
"Itu nama yang diberikan untuk saya." Seroja mengamati baik-baik keris yang diberikan Jonathan. "Jadi ini buruan kalian malam ini."
"Kau tahu tentang keris ini?"
"Keris ini hanya keris biasa. Hanya saja sering dimanfaatkan jin untuk menjebak manusia." Seroja mengembalikan keris itu ke Jonathan. "Jadi keris ini yang membuat nyawa Andrea dalam bahaya?"
"Tapi waktu itu aku melihat adegan masa lalu mengenai perjanjian itu kalau Andrea akan mati menyentuh keris ini. Tapi kenapa-" Jonathan menatap lantai. Ia benar-benar bingung dengan semua ini.
"Kamu sudah bertemu dengan Hunter?"
"Jadi benar Hunter itu pelindung Andrea?" Jonathan mengangkat kepalanya.
"Ya, benar." Seroja mengangguk, "Dia hanya kucing hitam kecil." Seroja menunjuk keris yang dipegang Jonathan, "Mau kamu apakan keris itu?"
"Sebenarnya ini harus dimusnahkan tapi entah kenapa perasaanku tidak enak."
"Musnah kan saja atau mau saya yang melakukan?" Seroja mengangkat tangan kanannya.
Jonathan memasukan keris itu kembali ke dalam saku jasnya. "Nanti akan aku musnahkan, setelah aku memastikan sesuatu."
"Tidak ada yang perlu dipastikan, dari dulu saya memang membenci pria yang hanya memanfaatkan perempuan." Ucap Seroja dengan nada penuh kebencian. "Pria itu bahkan tega menukar nyawa anak dengan keselamatannya sendiri."
"Manusia memang seperti itu."
"Kamu sendiri memangnya bukan manusia?" Hardik Seroja. "Kamu memang malaikat pencabut nyawa tapi itu hanya tugas untuk manusia yang diculik jin sejak dalam rahim!"
Jonathan terdiam, dia tidak berani menjawab ataupun melawan perkataan Seroja.
"Mhhhmm." Andrea balik badan dan masih tidur pulas.
"Hanya itu saja yang ingin kamu tanyakan pada saya?"
"Tidak ada sesuatu di dalamnya?"
Seroja terdiam dan menatap tidak percaya Jonathan. "Kamu malaikat pencabut nyawa, masalah itu bisa kamu cari sendiri bukan?"
"Jika aku mencari tahu sendiri, aku takut terjadi sesuatu dengan Andrea."
"Apa kaitannya Andrea dengan keingintahuan mu itu?" Seroja duduk dengan anggun di kursi belajar Andrea. "Berikan saya alasan yang bisa saya terima untuk membantu kamu."
Jonathan melirik Andrea sekilas. "Jika keris itu menyerang aku, aku tidak bisa konsentrasi melindungi Andrea."
"Saya bisa melindungi Andrea, alasanmu tidak bisa saya terima!"
Jonathan mengacak rambutnya dengan satu tangan, "apa aku harus cerita padamu?"
"Oh ya, karena kamu meminta tolong pada saya." Seroja mengangguk
Jonathan menghela napas, "aku tidak bisa merasakahnya."
Seroja mengangkat salah satu alisnya, "Hanya itu saja?"
Jonathan mengangguk kecil.
__ADS_1