
Seroja dan lainnya masuk ke dalam ruangan sambil ditatap ratusan makhluk tidak berbentuk. Ada yang bentuknya familiar seperti di film-film, ada juga yang berukuran kecil seperti tuyul dan lainnya.
Semua makhluk itu bermata merah dan menatap Andrea cs seperti calon santapan mereka.
Aya hampir mual ketika melihat wujud menjijikan mereka semua, pantas saja kenapa orang-orang yang bisa 'melihat' selalu menasehati orang awam supaya tidak coba-coba penasaran dengan dunia ini, salah satu contoh adalah penampilan yang menjijikan.
Raja jin itu duduk di tengah, menatap mereka dengan mata merah dan nada mencemooh. "Berani sekali kalian datang ke kerajaan aku, datang dengan sendirinya."
Seroja mengangkat dagunya dengan angkuh. "Ternyata begini wujud asli sang raja, berani sekali mengancam keturunan raja."
Raja itu tertawa. "Keturunan raja di dunia manusia tidak berpengaruh pada kaum kami, mana santapanku?"
"Mati saja kamu!" teriak Seruni. "Kamu tidak pantas mendapatkan manusia dasar raja jelek!"
"Berani sekali kamu bicara seperti itu!" Hardik raja itu.
Andrea menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas. Sayangnya si raja yang bertubuh besar itu, seluruh tubuhnya ditutupi rambut. "Kamu genderuwo?" tanyanya tidak percaya.
Semua orang menoleh ke Andrea.
"Diakan memang genderuwo." Sahut J.
Andrea menggeleng. "Sepertinya aku mengenali suara ini, ini mirip dengan suara di depan gerbang tadi, seperti si penjaga itu-"
Seroja berusaha mengingatnya. "Benar, sepertinya saya juga ingat waktu itu."
"Serang mereka!" Perintah si raja jin yang anak buahnya sudah bersiap.
Seroja, Seruni, Jonathan dan temannya sontak berdiri memunggungi dan mengelilingi Aya serta Andrea. Mewaspadai para makhluk jelek yang sudah mengelilingi mereka semua.
"Benar-benar menjijikan, yang begini ingin kembali ke surga? penampilan sama hati busuk begini," komentar Seruni tanpa takut.
Teman Jonathan memutar mata karena keberanian Seruni menghina mereka. Bidadari memang selalu mengutamakan penampilan.
__ADS_1
Aya menggoyang-goyangkan tangan Andrea begitu melihat temannya masih berdiri diam menatap raja jin itu. "Andrea, jangan bengong!" serunya dengan panik.
Andrea memiringkan kepalanya lalu tersenyum. "Kamu yang waktu itukan-"
Para makhluk di dalam ruangan mulai menyerang, Seroja membuat perlindungan untuk Andrea dan Aya sebelum balas menyerang mereka.
Ledakan besar dimana-mana, darah muncrat di sekeliling perlindungan berbentuk kubah. Aya memejamkan kedua matanya dengan mulut komat kamit, berbagai macan doa dia keluarkan begitu saja untuk segera menyelesaikan pertarungan itu. Mendengar saja udah ngeri apalagi melihatnya.
Andrea tetap menatap mata merah si raja jin yang melakukan hal sama. "Sewaktu aku masih kecil aku terbangun di malam hari, aku mendengar suara ribut. Karena penasaran aku pergi ke garasi dan melihat bapak melakukan sesuatu bersama seorang pria tua yang tidak aku kenal. Pria itu melakukan sesuatu hingga di salah satu pot berwarna hitam atau cokelat mengeluarkan asap berwarna merah atau pink. Asap itu mengeluarkan suara, itu kamu kan?"
Raja jin menyeringai. "Ingatan kamu ternyata bagus juga."
"Setiap malam jumat, kamu kan yang diberi makan oleh bapak dan mama?" tanya Andrea tanpa memberi jeda ke raja jin.
Raja jin tidak menjawab.
"Tapi, bukankah dia yang mengancam ayahmu dan meminta tumbal?" tanya Aya tidak mengerti. "Dia seorang raja, bagaimana bisa raja menjadi peliharaan manusia?"
"Tentu saja bisa, kalau raja itu tidak sabar. Dia tahu mengenai Seroja jadi dia juga tahu kalau tidak mudah anak buah yang melakukannya, jadi dia turun sendiri." Andrea akhirnya mulai paham.
Andrea mengangguk puas. "Sepertinya perkataan aku benar, kamu tidak sabar."
"BUNUH ANAK-ANAK MANUSIA ITU!" tunjuk si raja jin itu ke Andrea.
"Dengan kata lain, untuk membunuhnya- harus dengan tanganku sendiri, bukan begitu om J?" tanya Andrea ke J, tatapannya tetap lurus ke raja jin itu. Dia tidak takut sama sekali dengan makhluk rendah ini.
"Huh!" J memalingkan wajahnya. "Tidak usah bertanya kalau sudah tahu kelemahan si raja jin."
Andrea mengalihkan pandangannya ke Jonathan yang sedang bertarung dengan para jin lainnya. "MAS JO! DIMANA KERISNYA?!"
"JANGAN SAMPAI ANAK ITU MENDAPATKAN KERISNYA!" teriak si raja.
Andrea yang melihat salah satu makhluk berhasil membuat luka Jonathan dan menancapkan pedang ke pundak kirinya dari depan lalu melepasnya denan kasar, sontak nekat lari keluar dari kubah untuk mendekati Jonathan.
__ADS_1
"ANDREA!" teriak Aya yang berusaha menggapai Andrea tapi tidak berani keluar dari kubah perlindungan Seroja.
Seroja dan Seruni sontak menoleh begitu mendengar teriakan Andrea.
Andrea berdoa dalam hati dengan bacaan yang hanya diingatnya, duuuh kalau begini saja dirinya jadi menyesal karena tidak pernah mengingat bacaan doa.
Para makhluk itu mulai menyerang Andrea.
"Andrea!" teriak Jonathan yang khawatir dengan keadaan Andrea hingga tanpa sadar dirinya ditusuk punggungnya oleh salah satu makhluk jin berwajah rusak.
"Mas Jo!" teriak Andrea yang lari menghampiri Jonathan dengan susah payah.
"Andrea! jangan nekat!" seru teman Jonathan yang mencoba memperingati Andrea sekaligus menghalau para musuh yang hendak menyerangnya.
Andrea tidak mendengarkan peringatan teman Jonathan, dia terus berlari menghampiri Jonathan lalu mengambil pedang di tangan Jonathan dan mengarahkannya ke para jin yang hendak menyerang mereka. Setidaknya Andrea pernah melihat gerakan menyerang menggunakan pedang termasuk kuda-kudanya di anime.
Teman Jonathan bersiul nyaring sambil terus menyerang para jin itu.
Aya yang awalnya menutup mata lalu membuka matanya perlahan, melihat Andrea ikut menyerang para jin sambil melindungi Jonathan yang terluka parah. Pedang masih menancap di punggungnya, menembus hingga ke depan.
"Apa manusia seperti itu?"
Aya celingukan mencari sumber suara lalu menoleh ke bawah kakinya. Rupanya J sedang duduk di lantai sambil memegang celana panjangnya dengan erat.
"Hanya bermodalkan cinta, dia jadi nekat menyerang para jin rendahan itu untuk melindungi kekasihnya. Padahal dia tahu kalau si kekasih akan bereinkarnasi dan tidak akan bersama selamanya."
"Jangan meremehkan cinta anak perempuan!" seru Aya yang tidak terima dengan ucapan serampang J.
J mendongak untuk melihat Aya.
"Andrea sudah kesusahan gara-gara ulah ayah kandungnya, sekarang dia jatuh cinta dengan seorang pria- meski itu hanya mimpi sesaat, setidaknya itu mimpi indah daripada selamanya dia bermimpi buruk." Aya menghapus air mata yang akan turun dengan punggung tangan, selama ini dia sudah melihat bagaimana perjuangan Andrea melewati masa kelamnya dan tiba-tiba ada seseorang yang menghinanya.
"Heh! manusia memang sederhana." J merenung lalu berdiri dan loncat ke pundak Aya. "Kamu mau membantu teman kamu?"
__ADS_1
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Aya yang tidak mengerti dengan perubahan tiba-tiba J.