KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH TIGA


__ADS_3

Andrea maju dan mengabaikan tangan Jonathan yang hendak menahannya. "Kami meminta maaf soal hal itu, tapi percayalah- tidak ada manusia yang jahat."


Wanita cantik itu menoleh ke Andrea.


"Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa kami cegah begitu juga dengan kalian para bidadari." Andrea menunjuk dirinya sendiri. "Salah satunya aku, yang menjadi korban keserakahan sesama manusia, tentunya kalian para bidadari tahu sejarah masa lalu aku yang menjadi tumbal ayah kandung sendiri."


Raut wajah wanita cantik itu berubah sendu.


"Tapi aku tidak ingin membalas semua perlakuan ayah kandungku meskipun sedih juga, beliau tega melakukan hal itu- makanya aku-" Andrea menoleh ke belakang, "Memutuskan membantu Jonathan menjadi manusia. Karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan dan dimanfaatkan."


Tatapan Andrea beralih ke teman Jonathan. "Begitulah perasaan mantan tumbal dulu bukan? beberapa ada yang ingin kembali menjadi manusia bukan karena tidak tahu terima kasih tapi karena mereka ingin menghentikan masa lalu menyakitkan mereka."


"Para malaikat tak bernama tidak pernah mengingat masa mereka menjadi manusia," kata wanita cantik itu.


"Tapi mereka mengingat bagaimana perlakuan makhluk jahat yang menculik mereka, kehilangan keluarga tiba-tiba," sahut Andrea.


Wanita cantik itu menoleh ke Jonathan. "Apa itu tujuan kamu menjadi manusia?"


Jonathan berpikir sejenak. "Dulu- saya memang tidak ingat masa lalu dan ingin kembali menjadi manusia meski ragu. Tapi beberapa tahun lalu sejak bertemu Andrea akhirnya saya bisa yakin."


"Cinta," bisik Aya ke dirinya sendiri.


Beberapa tahun lalu, setelah bertemu dan menolong Andrea.


Cinta itu kadang bisa membahagiakan dan juga bisa menyakitkan. Cinta juga bisa membuat manusia bisa melakukan apapun, cinta itu bukan hanya terhadap manusia tapi juga harta dan nyawanya sendiri.


Jonathan memegang dadanya.


"Jantung kamu kosong?"


Jonathan menoleh ke belakang. Temannya berdiri sambil mendecak kesal.


"Kamu serius melakukan ritual itu?"


"Kenapa?"


"Kamu tahukan bagaimana resikonya?"


"Aku tidak bisa membiarkan anak kecil dalam bahaya."


"Anak kecil?"


"Ya."


"Astaga! Kamu yakin akan melibatkan anak kecil?"

__ADS_1


"Tidak sengaja."


"Seharusnya kamu diamkan saja."


Jonathan tidak menjawab.


Teman Jonathan mendengus kasar lalu melirik sebentar tangan Jonathan yang diletakan di dadanya. "Kapan kamu akan meneruskan semuanya?"


"Kalau semuanya siap."


"Ada batas waktunya bukan?"


Jonathan menghela napas. "Pergilah, ini waktunya kamu bekerja bukan?"


"Aku akan pergi, tapi kamu harus berjanji padaku." Teman Jonathan maju selangkah, sekarang mereka saling bertatapan. "Berjanjilah kamu tidak akan menyerah dan pergi begitu saja."


Jonathan mengangguk lalu dalam kedipan mata, temannya sudah pergi menghilang.


Jonathan menutup kedua matanya, dia tidak bisa membiarkan seorang anak kehilangan nyawa karena keegoisan ayahnya. Pertukaran nyawa untuk hidup dengan nyawa putrinya sungguh konyol sekali bagi Jonathan, ada beberapa orang di luar sana yang menginginkan anak, tapi pria itu malah menyia-nyiakan anugerah yang diberikan Tuhan.


Jika memang nanti dirinya akan menghilang dan ritual itu gagal dalam kemungkinan terburuk, setidaknya ia bisa menolong anak itu hidup.


Pikiran Jonathan kembali ke sekarang, ia semakin memantapkan dirinya untuk melindungi Andrea. Ia tidak bisa menyerah sekarang. "Jika-"


Semua orang menoleh ke Jonathan.


Wanita cantik itu tersenyum lalu melempar sebuah selendang ke Jonathan.


Jonathan dengan sigap menangkapnya dan melihatnya dengan heran.


"Itu jawaban syarat ke empat," jawab wanita cantik itu.


"Eh?" Andrea dan Aya terkejut dengan jawaban tiba-tiba wanita cantik itu.


"Sebenarnya ini salah satu ujian untuk kamu, Jonathan," kata wanita cantik itu. "Tidak gampang kembali menjadi manusia terutama kamu Andrea."


Jonathan memberikan selendang ke Andrea. "Sebenarnya ini untuk apa?"


"Suatu saat itu akan sangat berguna untuk ritual akhir," jawab wanita cantik itu. "Sampai jumpa," sambungnya sambil menjentikkan jari.


Tempat berpijak Jonathan, Andrea, teman Jonathan dan Aya berubah. Sekarang mereka sudah berpindah tempat di depan gerbang khayangan.


Aya terduduk lemas karena pusing.


"Ay!" seru Andrea.

__ADS_1


Aya mengangkat tangannya. "Aku benar-benar belum terbiasa sama hal ini."


"Mereka sudah mengusir kita keluar setelah memberikan selendang?" tanya teman Jonathan tidak percaya. "Pada akhirnya juga kita tidak tahu nama bidadari yang menolong kamu."


"Dia memberikan selendangnya," kata Jonathan.


"Selendang? buat apa?" tanya teman Jonathan yang tidak percaya.


Jonathan mengangkat kedua bahunya.


"Kamu dikasih selendang?" tanya Aya yang masing memijat keningnya.


"Jonathan yang menangkapnya lalu dikasih ke aku lho?"


Andrea berputar-putar ke sekeliling mencari keberadaan selendang. "Dimana ya?"


"Selendang itu mungkin akan muncul kalau kita membutuhkannya," kata Jonathan.


"Benarkah?" tanya Andrea sambil memiringkan kepalanya.


"Jadi, sudah selesai nih?" tanya Aya.


"Belum, kita masih harus keluar melewati tadi. Jubah kamu?" tanya teman Jonathan ke Aya.


"Argh! Ketinggalan di tempat tadi." Aya jadi teringat dengan jubah yang ia letakkan di kursi. "Habisnya tadi disuruh lepas sih."


Teman Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak bisa melindungi tiga orang."


"Memang kenapa? Tadi kita lewat baik-baik saja kan? Memang ada bisikan-bisikan tapi tidak sampai mengganggu kita tadi kan?" tanya Andrea.


"Kalian akan mengerti sendiri kalau sudah ditangkap para makhluk rendahan itu." Teman Jonathan menatap kesal Andrea.


Aya dan Andrea bergidik ngeri, mereka tidak bisa membayangkan menjadi tangkapan para makhluk tidak jelas.


"Biar aku melindungi Aya, kamu lindungi Andrea." Jonathan mengambil keputusan.


Andrea mengangkat kepalanya dan menatap Jonathan dengan tatapan penuh tanya.


Teman Jonathan membungkuk dan menepuk bahu Andrea. "Di luar sana memang banyak mengincar Aya, tapi begitu keluar dari khayangan dan mendapat restu dari para bidadari meski dengan cara aneh mereka jadi beralih mengincar kamu, Andrea. Sementara Jonathan yang sekarang kekuatannya melemah tidak bisa maksimal melindungi kamu."


Andrea berdiri dan menatap ragu tunangannya. "Benarkah itu?"


Jonathan menjawab dengan anggukan singkat.


Andrea menghela napas. "Baiklah, ayo jalan."

__ADS_1


Sementara dari kejauhan Seroja mengamati mereka berempat dengan was-was.


__ADS_2