
Teman Jonathan dan Seruni terkejut dengan apa yang mereka lihat, ternyata yang masuk ke dalam kamar Andrea bukan makhluk gaib lain tapi itu adalah Jonathan.
"Jonathan masih hidup?" teman Jonathan bertanya pada dirinya sendiri, tidak percaya dengan CCTV gaib buatannya. Berkali-kali memastikan tidak ada kesalahan atau ada yang berusaha ikut campur.
"Pantas saja perlindungan tidak mempan." Seruni mengerutkan kening dengan heran.
"Syukurlah, kalau memang Jonathan masih hidup." Teman Jonathan mengerutkan kening ketika Jonathan memegang perutnya dan berdiri di antara tumpukan boneka koleksi Andrea. Mau apa dia di depan boneka? Jangan-jangan-
Jonathan mengambil boneka berbentuk penguin.
"Mau apa dia mengambil boneka?" tanya Seruni tidak mengerti.
"Pelindung buatan." Teman Jonathan menatap takjub boneka penguin di tangannya.
Seruni menoleh ke Jonathan. "Pelindung buatan?"
"Saat kami sedang terluka, kami harus istirahat dan itu saat terlengah kami sehingga kami membuat pelindung buatan dengan menggunakan jiwa manusia yang tersesat. Itu berarti saat ini Jonathan sedang terluka parah." Teman Jonathan menghilangkan tongkatnya, film yang diputar di langit kamar Andrea lenyap.
Seruni mengerutkan kening, melihat teman Jonathan merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphone.
"Kamu telepon siapa?" tanya Seruni yang melihat Jonathan memencet gambar telepon di sebuah nomor.
Teman Jonathan mengangkat jari telunjuknya di depan mulut. "Ssshhh-"
"Hallo."
Jonathan me-loud speaker handphonenya. "Aya."
"Kalian sudah menemukan kerisnya?" tanya Aya antusias.
Teman Jonathan melirik sekilas Seruni lalu kembali ke handphone. "Kami ada di rumah Andrea sekarang."
"Lho, urusan kalian belum selesai?"
"Tidak, tidak. Kami buntu, satu-satunya petunjuk kami mengarah ke kamar Andrea. Dan coba apa yang kami temukan?"
"Apa?"
"Jonathan masih hidup."
"Oh-"
Teman Jonathan menaikan kedua alisnya. "Kok kamu tidak terkejut?"
__ADS_1
"Aku disini!" kali ini Jonathan yang menjawab.
Seruni terkejut dan membuka mulutnya lebar-lebar hingga membentuk O sementara teman Jonathan meluapkan kegembiraannya tanpa suara.
"Bagaimana bisa-" Seruni tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Bagaimana bisa kamu bersama Aya?" tanya teman Jonathan. "Jangan-jangan yang di dalam goa itu kamu? jadi benar kamu terluka dan membuat pelindung buatan dari boneka penguin?"
"Kamu mengintip masa lalu ya?" ada jeda sebentar saat Jonathan bertanya.
"Aku dan Seruni mengira ada sesuatu di kamar Andrea jadi kami menyelidikinya, lagipula kami tidak punya petunjuk sama sekali mengenai keris itu." Jawab teman Jonathan.
"Siapa Seruni?" tanya Jonathan ke Aya yang bisa didengar teman Jonathan dan Seruni.
"Saya adalah dayang Yang Mulia Seroja." Seruni mendekatkan mulutnya di handphone teman Jonathan.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya teman Jonathan yang mencemaskan kondisi temannya.
"Sudah jauh lebih baik, sebentar lagi aku dan Aya akan menyusul kalian berdua ke sana- jangan kemana-mana." Jawab Jonathan.
"Kami tunggu." Teman Jonathan memutus sambungan telepon. "Sebaiknya kita bersama Jonathan mencari keris itu, kamu kabarin Seroja."
Seruni mengangguk lalu menulis sesuatu di tangan kanannya. Dia harus segera melaporkan hal ini secepatnya ke majikannya.
"Kalau aku bersikeras tidak mau bagaimana?" tanya Aya yang masih keras kepala, biar bagaimanapun ia tidak bisa diam saja melihat nyawa sahabatnya dalam bahaya.
"Dengar-"
"Jika Andrea berada di posisi aku, tentu dia akan melakukan hal sama. Begitu juga dengan kamu bukan? Kamu pasti akan melakukan apapun untuk menolong sahabat kamu."
"Ini bukan masalah sepele."
"Justru karena ini bukan masalah sepele aku bersikeras ikut, aku tidak bisa diam mendengar kabar begitu saja."
Jonathan menatap tajam Aya, dalam hatinya benar-benar berharap jika dirinya menatap tajam sedingin es, maka Aya akan berubah pikiran. Tapi bukan sorot mata ketakutan yang dilihatnya melainkan sorot mata berani.
Jonathan menghela napas dan berpikir sejenak lalu mengalah. "Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Kamu harus menuruti semua perkataan aku. Lari ya lari, sembunyi ya sembunyi. Ini semua demi keselamatan kamu." Jonathan mengingatkan Aya.
"Hanya aku saja? Bagaimana dengan Andrea?" tanya Aya.
__ADS_1
"Apa kamu lupa kalau saat ini aku hanya bisa melindungi satu orang saja yaitu tunangan aku?" tanya Jonathan sekaligus menegaskan hal ini ke Aya.
Aya berpikir sejenak, terlihat ragu memutuskan sesuatu. "Janji ya. Kamu akan melindungi Andrea, jangan seperti waktu itu. Pergi begitu saja, paham sih dengan keputusan kamu tapi tetap saja jangan membuat sahabatku sedih lagi."
Jonathan menghela napas dan mengangguk pelan.
"Deal." Aya mengangkat tangan kanannya untuk berjabat tangan sementara tangan kirinya memegang erat boneka penguin milik Andrea, berusaha menutupi tangannya yang gemetar ketakutan.
Jonathan menyambut jabat tangan Aya dan memindahkan mereka ke kamar Andrea dan dalam sekejap mereka berdua sudah berpindah tempat di kamar Andrea.
Teman Jonathan dan Seruni sudah menunggu mereka dengan raut wajah penasaran. Tidak sabar dengan cerita Jonathan.
Jonathan melepas tangan Aya dan memeluk sahabatnya. "Bagaimana keadaan kamu?"
Teman Jonathan membalas pelukan temannya dan menepuk punggungnya. "Seharusnya aku bertanya, berhari-hari kami mengira kamu sudah tidak ada."
"Maaf, aku kira bisa menyelesaikan ini semua sendirian tanpa melibatkan kalian." Jonathan benar-benar menyesalkan telah melibatkan orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan ritual yang dilakukannya. Hal yang sangat egois.
"Tidak apa, aku sudah senang melihat kamu selamat." Teman Jonathan melepas pelukannya. "Jika ini terulang, aku tidak akan menolong kamu lagi."
"Maaf memotong acara kalian, tapi kita sudah tidak punya waktu lagi." Seruni menatap muak kelakuan dua malaikat pencabut nyawa dihadapannya.
Jonathan menyipitkan kedua matanya. "Dan kamu- Seruni ya?"
Seruni memutar kedua bola matanya. "Apakah kamu ada membawa keris yang dipermasalahkan itu?"
Jonathan menggeleng cepat. "Keris itu menghilang saat aku sudah sadar."
"Dan kapan kamu sadar? kamu meninggalkan Andrea sendirian kan waktu itu?" Aya sangat marah ketika Seroja menceritakan hal itu, herannya ia baru mengingatnya sekarang.
Jonathan menatap satu persatu orang-orang yang menuntut jawaban darinya. "Pertama, aku memang bersalah karena sudah meninggalkan Andrea, itu karena-"
"Karena apa?" tuntut teman Jonathan.
Jonathan menutup matanya sekilas lalu menatap lurus sahabatnya. "Aku melihat dukun yang mengambil jiwaku."
Teman Jonathan mengernyit. "Itu sudah ratusan tahun lalu, tidak mungkin orang itu hidup, apalagi dia hanya manusia biasa."
"Aku tahu, aku tahu. Katakan saja aku gila, tapi aku benar-benar melihat orang itu dan- dan aku mengejarnya-" Jonathan menundukkan kepalanya.
"Lalu meninggalkan Andrea begitu saja." Aya menggeleng prihatin. Dia tidak percaya, Jonathan bisa melakukan hal serendah itu.
Jonathan memejamkan matanya, mengingat saat dirinya terjun ke jurang.
__ADS_1