
"Jadi kalau manusia berbuat kejahatan atau kesalahan, itu salah jin?" tanya salah satu bidadari kecil.
"Bisa dibilang seperti itu, karena merekalah yang berusaha mempengaruhi manusia dan menjerumuskannya," jawab salah satu bidadari dewasa.
"Bukannya itu namanya melempar batu sembunyi tangan? itu istilah di dunia manusia kan?" tanya salah satu bidadari kecil. "Enak sekali melakukan kejahatan tapi ujung-ujungnya menyalahkan kaum mereka."
"Anak kecil jaman sekarang kritisnya minta ampun." Bisik salah satu bidadari dewasa ke temannya sementara yang dibisiki hanya bisa tertawa kecil.
"Mau tanya, kalau begitu manusia yang terjerumus dunia hitam bisa dimaafkan?" tanya salah satu bidadari kecil yang mengangkat tangannya.
"Tergantung dari kesalahan manusia itu tapi Tuhan paling murka kalau ada yang berani menduakannya, kalian berani?"
Para bidadari kecil menggeleng ngeri.
"Tuhan adalah pencipta kita, kenapa kita harus melawannya?"
"Benar, sesuatu yang sudah diberikan pasti juga akan diambil."
Dan mereka asyik berdiskusi membahas perilaku manusia yang tidak ada habisnya.
___
Andrea menangis di hadapan Jonathan yang sudah duduk dengan wajah pucat. Sekarang mereka sudah berada di gudang rumah di Surabaya.
Mereka bertujuh berhasil keluar dengan selamat sebelum portal menghilang dan kerajaan itu lenyap begitu saja.
Jaka sudah memastikan dengan benar mengenai isinya. "Kerajaan hancur bersama dengan rajanya, ini hanya salah satu kerajaan saja, belum yang lainnya."
Seroja ikut memastikan supaya Andrea aman di masa depan, dia tidak mau ada sisa dari sekumpulan buruk rupa itu. Setelah memastikan mereka semua sudah lenyap, dia menghela napas lega.
"Ndrea." Aya memegang dadanya, rasanya sakit melihat sahabatnya sedih seperti itu tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
Seroja menghampiri Jaka. "Jaka-"
"Jangan sekarang, nanti aku akan cerita." Sahut Jaka tanpa menoleh lebih tepatnya dia tidak berani menoleh. Sudah berapa tahun dirinya melanggar janji?
Seroja menggeleng. "Kamu pembohong, bagaimana saya bisa percaya?"
Jaka tersenyum lalu menoleh ke Seroja. "Kali ini aku janji."
Seroja ikut tersenyum, tidak peduli Jaka berbohong lagi atau tidak. Melihat wujudnya sekarang masih berdiri tegap, dia tidak tega mengomelinya lagi.
__ADS_1
Seruni menghela napas, melihat atasannya bisa mendapatkan tujuannya hanya saja- sangat disayangkan sekali kalau majikan atasannya harus berpisah dengan cara seperti ini jika atasannya memilih kembali.
"Kalau kita berjodoh, kita akan bertemu kembali." Jonathan mencium dahi Andrea dan memegang kedua pipinya.
Andrea yang menangis, mengangguk pelan. Seumur hidup tidak pernah diperlakukan seperti ini oleh siapapun, sekalinya ada yang bisa malah akan menghilang di masa depan. "Ya."
"Jangan menangis." Jonathan menghapus air mata Andrea. "Cantiknya bisa hilang lho."
Andrea kembali mengangguk sambil mencoba tersenyum.
Jonathan tersenyum sedih. "Aku tidak tahu apakah aku akan menjadi manusia , reinkarnasi atau menghilang- yang pasti hiduplah dengan tenang dan jangan mengharapkanku."
Andrea mengangguk dan terisak, tidak berani menatap mata Jonathan.
Jonathan mencium dahi Andrea hingga menghilang perlahan-lahan, pedang yang menusuk tubuhnya terjatuh di atas lantai yang terbuat dari kayu.
Jaka mengulurkan tangannya dan membakar pedang itu.
Aya memeluk Andrea yang menangis. "Ndrea, tidak apa. Masih ada aku kok, jangan menangis ya- tolong jangan menangis, aku kan jadi ikut menangis."
"Waktunya kalian kembali, Seroja. Antar mereka berdua." Perintah J.
Seroja mengangguk anggun.
Andrea menggeleng sedih dan menghapus air mata dengan punggung tangan. "Maafkan aku."
Teman Jonathan melangkah mundur hingga berdiri sejajar dengan Jaka.
"Perlu sapu tangan?" tanya Jaka dengan usil.
Teman Jonathan melirik kesal lalu memalingkan wajahnya, mengedipkan mata supaya tidak menangis. Sial!
Andrea berdiri lalu baik badan menatap Jaka dan teman Jonathan. "Terima kasih banyak sudah membantu kami."
Jaka tersenyum. "Lanjutkan hidup kamu dengan tenang, sekarang tidak ada yang berani mengganggu lagi."
Andrea mengangguk lalu menoleh ke teman Jonathan. "Terima kasih."
Teman Jonathan menghela napas lalu mengangguk. "Lupakan kejahatan papa kamu, hiduplah dengan bahagia, suatu hari akan ada pengganti Jo. Jangan pernah membenci Tuhan, semua akan indah pada waktunya."
Andrea mengangguk pelan. Rasa sakit kepada ayah kandungnya masih membekas tapi seiring berjalannya waktu, mungkin dirinya bisa menerima belajar ikhlas. Tidak semua keinginannya akan selalu dikabulkan, Tuhan sudah memiliki rencana sendiri untuk dirinya dan Andrea memahami hal itu.
__ADS_1
Aya menyipitkan matanya di hadapan teman Jonathan. "Terima kasih banyak meski aku agak terpaksa sih mengatakannya."
Teman Jonathan mengeplak kepala Aya. "Masih berani dengan malaikat pencabut nyawa sepertinya kamu harus dihukum."
Aya meringis kesakitan lalu tersenyum, malaikat pencabut nyawa sudah tidak menakutkan lagi. "Aku pasti akan merindukan wajah tampan kamu."
"Aku tidak." Jawab teman Jonathan lalu tertawa melihat reaksi Aya yang cemberut.
"Sebentar lagi pagi, sebaiknya kalian berdua kembali." Kata Seroja.
Andrea dan Aya menjawab bersamaan. "Iyaaa."
Seruni menyerahkan boneka doraemon Andrea. "Ini."
Andrea menatap bonekanya lalu tersenyum ke Seruni. "Terima kasih sudah menjaganya."
Seruni tersenyum malu lalu memegang tangan Aya dan Andrea sementara Seroja menyentuh pundak Andrea dan Aya. "Kita pulang!"
Jaka dan teman Jonathan melambaikan tangannya sampai para perempuan kembali ke rumahnya.
"Akhirnya selesai juga." Gumam teman Jonathan sambil meregangkan badannya. "Aku harus minta cuti ke atasan untuk istirahat setelah membuat laporan mengenai Jonathan."
"Belum selesai."
Teman Jonathan menoleh.
"Sudah cukup lama aku menghilang tanpa kabar, sebaiknya kamu membantu aku mencari alasan."
"Apa? enak saja!" seru teman Jonathan.
"Ayolah, nanti aku traktir. Kamu tidak kasihan dengan seniormu ini?" tanya Jaka sambil merangkul leher teman Jonathan.
"Aku tidak suka dihukum," jawab teman Jonathan.
"Hukumannya ringan kok." Jaka menjentikkan jarinya.
Mereka berdua saling argument sambil berjalan menuju kantor. Aslinya Jaka ngeri juga harus melihat rekan kerja dan para tetua tapi lebih mengerikan kalau harus berhadapan dengan Seroja, dimana-mana perempuan selalu menang.
Begitu kembali di kamar, Andrea menangis sesenggukan di dalam pelukan Aya sementara Seruni kembali ke istana dan Seroja menjaga di kamar Andrea dengan memasang pelindung sekaligus peredam suara.
"Aku tahu, sulit mencari pria lain yang tampan dan penyayang seperti dia. Tapi kamu harus bisa menjalani hidup dengan tenang, Ndrea." Peluk Aya yang ikutan menangis, dia sendiri juga kehilangan sosok teman Jonathan.
__ADS_1
Andrea mengangguk kecil. "Ya, aku tahu tapi tetap saja tidak ada yang bisa menggantikan sosok mas Jo."
Aya berpendapat sama. Tidak ada lagi petualangan menegangkan, tidak ada lagi cuci mata melihat pria tampan meskipun pekerjaannya mengerikan. Mulai hari ini mereka berdua harus bisa menerima realita yang sesungguhnya.