KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Jonathan menatap marah Andrea, Aya dan temannya. "Kalian bertiga lama sekali."


"Maaf, maaf. Kami sempat ada halangan tadi." Teman Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Halangan?" tanya Jonathan ke Andrea.


"Aku tadi melihat anak kecil yang dimasukan botol oleh dukun." Andrea mulai cerita. "Aku ingin menyelamatkan anak itu."


"Dukun mana?" Jonathan mengerutkan kening.


"Dukun yang buta sebelah itu," jawab teman Jonathan.


"Kamu kenal dia?" tanya Andrea tidak percaya.


"Kaum kami tidak mungkin tidak kenal dukun." Teman Jonathan melipat tangan di depan dada. "Lagipula orang itu juga sangat bengis, dia akan melakukan segala cara untuk kliennya termasuk membunuh makanya dia termasuk dalam daftar kuning, aku tidak mau bersentuhan dengan manusia ber daftar kuning."


"Daftar kuning?" tanya Andrea ke Jonathan.


"Daftar merah untuk dosa paling berat sementara daftar kuning untuk dosa menyekutukan Tuhan dan menyalahgunakan makhluk lain," jawab Jonathan. "Sementara daftar hitam itu, daftar yang tidak perlu ditimbang dosanya karena sudah dipastikan masuk ke dalam neraka, biasanya yang masuk daftar hitam ini sudah masuk ke daftar merah dan kuning."


Andrea dan Aya bergidik ngeri.


"Seperti sepak bola saja." Bisik Aya ke Andrea.


Andrea mengangguk setuju.


"Biarkan saja dukun itu, sekarang kita harus melakukan syarat selanjutnya." Jonathan memijat keningnya. Waktu mereka tidak banyak.


"Tidak mau!" geleng Andrea, "pokoknya kita selamatkan dulu anak kecil itu."


"Aku juga, aku juga. Selama ada kalian berdua, aku juga mau!" Aya mengangkat kedua tangannya.


"Andrea, tadi kan sudah kubilang kalau itu dukun masuk dalam daftar kuning, lagipula itu bukan adikmu, adikmu itu meninggal murni karena keguguran," bujuk teman Jonathan.


"Tadi katanya kamu setuju." Andrea berdecak.


"Itu karena aku tidak tahu dukunnya siapa, begitu melihat si dukun itu di bawah kaki kita, aku jadi sedikit berubah pikiran." Teman Jonathan mengangkat kedua bahunya. "Bisa saja si dukun itu berhubungan dengan musuh kamu, Andrea."


"Aku tidak peduli, kalian berdua lebih kuat dari dukun dan antek-anteknya bukan?" tantang Andrea. "Kita selamatkan anak itu dulu, tidak peduli dia bukan adikku atau bukan manusia, yang terpenting aku tidak bisa diam saja melihat anak itu dalam masalah. Bisa saja dia juga salah satu anak dari janin yang diculik."


"Bukan Andrea, itu mah anak jin biasa yang berwujud adik kamu."


Andrea menatap Jonathan untuk memohon. "Please."


Jonathan menghela napas, tidak bisa ditatap seperti itu oleh Andrea. "Maaf. Aku tidak bisa."


Kedua bahu Andrea menurun dengan lesu. "Kenapa-"


"Karena itu bukan kapasitas kami sekarang, kami tidak boleh ikut campur dengan hal yang bukan menjadi urusan kami." Jonathan menjawab dengan tegas.


Aya mengusap punggung Andrea dengan lembut. "Apa yang dikatakan mereka benar, sangat beresiko sekali ke kerumunan sana, kita sudah lihat bukan antek-anteknya sangat mengerikan?"


Andrea mengangguk pelan.


"Ditambah lagi kekuatan temanku ini tidak sekuat dulu, jadi double resikonya." Teman Jonathan menepuk pundak Jonathan.


Jonathan menatap tajam temannya yang nyengir ke arahnya lalu melepas tangan temannya. "Waktu kita tidak cukup."


"Memangnya mau apa kita kesini?"


"Nanti kamu akan tahu." Jonathan balik badan dan jalan mendahului.


"Sebaiknya kalian berdua jalan duluan, biar aku yang mengawasi dari belakang. Sangat berbahaya seorang manusia tidak dijaga di tengah hutan seperti ini." Teman Jonathan mempersilahkan Andrea dan Aya jalan mendahuluinya.

__ADS_1


Andrea dan Aya semula terlihat ragu, lalu saling bergandengan tangan dan memantapkan diri jalan menyusul Jonathan.


"Jalan lurus, jangan tergoda, takut dan abaikan suara apapun itu." Saran teman Jonathan.


Andrea mengeratkan genggaman tangannya sementara Aya berdoa di dalam hati.


"Sebaiknya juga jangan berdoa, itu bisa mengundang makhluk, karena ada aku dan Jonathan yang meskipun lemah tapi kami masih bisa diandalkan." Teman Jonathan tertawa geli.


Aya menatap sengit teman Jonathan di belakangnya.


Andrea hampir tertawa melihat perilaku jahil teman Jonathan. Laki-laki memang gitu ya kalau bertemu dengan anak perempuan.


Tidak sampai 10 menit, Jonathan menghentikan langkahnya tiba-tiba hingga membuat Andrea dan Aya menabrak punggungnya.


"Kita sudah tiba." Kata Jonathan sambil menatap lurus pemandangan di depannya.


Aya dan Andre mengintip ke depan.


Pemandangan di depan Jonathan sudah bukan lagi gelap melainkan sebuah bukit batu menumpuk besar yang dikelilingi jurang. "Apa itu?"


"Tempat yang akan kita kunjungi." Jawab teman Jonathan di belakang Andrea dan Aya.


"Tapi bagaimana caranya menyebrang ke sana?" tanya Aya yang melihat jurang begitu dalam di depan kaki Jonathan, mau tidak mau ia memegang erat lengan baju Jonathan.


Teman Jonathan menarik mundur badan Aya. "Tidak mungkinkan Jonathan membawamu ke sana."


"Ap-" Sebelum Aya menyelesaikan kalimatnya, dia sudah digendong ala putri oleh teman Jonathan.


Jonathan menoleh ke Andrea dan tersenyum. "Sendiri atau gendong?"


Andrea memutar bola matanya. "Aku bisa jalan sendiri, tapi pegangin aku ya."


Jonathan kembali tersenyum, dia memang merindukan wajah cantik Andrea yang sekarang mungkin agak pudar karena gurat-gurat lelah di wajahnya. Jonathan menggenggam erat tangan Andrea. "Jangan lepas."


Aya yang sedari tadi digendong teman Jonathan hanya bisa merangkul erat leher malaikat itu. Tidak mau melihat ke bawah.


Teman Jonathan, Jonathan dan Andrea melangkah maju. Mereka bertiga jalan kaki dengan melayang di atas jurang.


Andrea tidak berani melihat ke bawah, dia melihat lurus ke depan.


"Takut?" bisik Jonathan di telinga Andrea.


Andrea menggeleng.


Jonathan melepas pegangan tangannya dengan cepat lalu merangkul pundak Andrea. "Begini lebih baik."


Andrea yang ngeri sekilas karena kelakuan Jonathan, menatap tajam tunangannya itu. "Kamu gila?!"


Jonathan hanya menunjukan senyum tampannya, senyum memabukan bagi Andrea. Tidak akan percaya tuyul bisa berubah menjadi pria setampan ini.


"Mau sampai kapan kalian pegang-pegangan begitu?" teriak teman Jonathan.


Jonathan dan Andrea menoleh ke depan, rupanya karena mereka keasyikan sendiri jadi tidak sadar sudah berdiri di daratan.


Aya turun dari gendongan teman Jonathan dan berjongkok. "Ya ampun, aku kira mau mati, nggak nyangka bisa seperti ini."


Teman Jonathan membuka jubahnya dan melemparnya ke punggung Aya. "Pakai itu!" perintahnya.


Aya mengambil jubah di punggungnya dan berdiri. "Untuk apa?"


"Untuk melindungi kamu, kamu kan manusia." Jawab teman Jonathan.


"Tapi Andrea juga manusia kan? Kenapa tidak dipakaikan jubah?" tanya Aya yang tidak terima.

__ADS_1


"Karena Andrea adalah tunangan Jonathan, mereka berdua sudah bertukar sumpah. Tidak akan ada yang berani menyentuhnya. Lain hal dengan kamu, para iblis sangat suka dengan manusia, mereka suka menjadikan manusia sebagai budaknya sampai kamu tidak bisa dipakai kembali dan dilempar ke neraka," kata teman Jonathan.


Tanpa sadar Andrea lebih mendekat ke Jonathan.


Aya yang mendengar cerita teman Jonathan, dengan cepat memakai jubah itu. "Sebenarnya kita ini dimana sih?"


"Alam gaib. Yang kita lewati tadi adalah gerbang, tempat ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang manusia," jawab Jonathan.


Aya yang sudah memakai jubah teman Jonathan mencium aromanya. "Ya ampuuun wangi banget, kamu laundry ya?"


"Sepertinya teman kamu ini tidak takut ya." Teman Jonathan menggeleng miris begitu melihat reaksi Aya.


"Apa yang mau kita cari kesini?" tanya Andrea.


"Syarat ke empat." Jonathan menjawab dengan mantap. "Bertemu dengan para bidadari."


"Bukannya bidadari itu nggak ada? Kalaupun ada, tidak mungkinkan ada di bumi ini atau di dunia lain, setau aku dunia lain itu ya tempatnya para jin, iblis atau setan bukannya bidadari. Bidadari kan adanya di khayangan, khayangan kan di atas." Cerocos Aya tanpa henti begitu memasuki bukit batu yang berlubang besar.


"Bisa nggak kamu diam saja?" rupanya teman Jonathan sudah mulai sebal dengan celoteh Aya.


"Memangnya kenapa dengan mulut aku? Sah-sah ajakan." Aya balik badan menantang teman Jonathan.


Jonathan dan Andrea ikut balik badan melihat Aya dan teman Jonathan saling beradu pandang.


"Sudahlah kalian berdua." Jonathan melepas genggaman tangannya untuk melerai Aya dan temannya.


"Ay." Andrea memegang kedua pundak Aya.


"Menyebalkan sekali." Gerutu Aya.


Teman Jonathan melotot ke Jonathan, menunjuk Aya dan memasang tampang 'Lihat kan'.


Jonathan menggeleng.


"Nanti kita tahu sendiri Ay, jangan mengucapkan satu hal yang menyinggung." Bisik Andrea di telinga Aya.


Aya mengangguk setuju.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan, kali ini Aya bersama Andrea sementara Jonathan memandu di depan dan temannya jalan paling belakang untuk melindungi Aya dan Andrea. Mereka berempat jalan beriringan tanpa suara.


Hingga beberapa saat kemudian, Aya dan Andrea mengedipkan matanya karena silaunya cahaya di depan sampai mereka berdua berpelukan untuk menutup mata.


Teman Jonathan menghela napas dan memegang bahu Aya dan Andrea di masing-masing sisi untuk memandu mereka berdua jalan. "Jangan diam saja, ayo."


Aya dan Andrea sama-sama mendorong kepala mereka ke dada teman Jonathan. Teman Jonathan yang hampir jatuh ke belakang, dengan cepat bisa menguasai dirinya dari serangan mendadak.


Jonathan yang menoleh sekilas ke belakang, melanjutkan jalannya.


Samar-samar Aya dan Andrea mendengar bisikan-bisikan lembut.


"Kamu dengar nggak, Ndrea?" tanya Aya sambil berbisik dan tetap menutup matanya.


Andrea mengangguk pelan.


"Apa yang kalian inginkan kesini?"


Aya dan Andrea menjadi tegang. Pertanyaan itu tidak keluar dari Jonathan dan temannya.


"Saya ingin bertemu dengan para bidadari." Jonathan menjawab dengan lugas.


"Dengan membawa manusia?"


"Salah satunya adalah tunangan saya."

__ADS_1


__ADS_2