KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
DUA PULUH ENAM


__ADS_3

"Bukan! Bukan dia! Tapi aku!" teriak Aya untuk melindungi Andrea.


"Aya!" bentak Andrea. Ia tidak percaya dengan kenekatan Aya.


"Aku yakin kalau perempuan ini adalah tunangan itu tapi..." makhluk berkepala tengkorak itu menatap Aya. "Kalau kamu ingin bernasib sama dengan temanmu ini, tentu kami tidak akan keberatan."


"Dua jantung yang sangat segar memang sangat menyenangkan." Celetuk salah satu temannya di belakang.


"Tiga jantung kalau ditambah manusia satu ini." Sahut makhluk berkepala tengkorak itu yang menunjuk Aya dengan dagunya.


"Tiga jantung?" tanya Andrea tidak mengerti.


"Lho? Kamu tidak tahu?" tanya makhluk berkepala tengkorak yang memutuskan berjongkok di hadapan Andrea. "Kamu tidak pernah diceritakan ya? Kasihan juga hahahaha... baiklah, aku akan berbaik hati cerita sebagai ganti kebaikan hati nyawa kamu."


"Tunangan malaikat tak bernama memiliki dua jantung, salah satunya untuk melindungi jantung asli."


"Aku tidak mengerti." Geleng Andrea. Saat ini ia tidak bisa mencerna informasi apapun.


"Itu kenapa ritual yang kalian jalankan sangat ringkih. Disisi lain kekuatan tunangan kamu akan berkurang sementara kondisi kamu... juga akan melemah. Tinggal di akhir pilih salah satu, dia atau kamu yang akan hidup."


"HENTIKAN!" bentak Aya. "Kalian para jin memang makhluk pembohong!"


Makhluk berkepala tengkorak itu menampar wajah Aya dengan keras. "Bukankah manusia diajarkan untuk bersikap sopan?" sindirnya.


"Aya..." Andrea menatap khawatir Aya.


Aya menatap penuh amarah makluk menjijikan di hadapannya. "Kamu tidak akan bisa membohongi kami semua!"


"Terserah saja. Yang pasti aku sudah cerita ke kalian..." makhluk itu berdiri dan memandang rendah Andrea dan Aya. "Lebih baik mati di tangan raja kami daripada menyerahkan nyawa untuk pengorbanan malaikatmu itu."


Andrea mendongak dengan cepat, tanpa terasa air mata mengalir di pipinya. Jadi inikah tujuan akhir ritual itu?


Aya yang menyadari Andrea menangis mulai panik. "Andrea! Jangan percaya perkataan mereka! Mereka itu jin yang suka berbohong!""


Andrea menatap Aya dengan sedih. "Entah kenapa aku merasa ia tidak berbohong."


"Jin itu memang tidak berbohong." Teman Jonathan jalan dengan santai melewati para kerumunan makhluk gaib yang otomatis menyingkir. "Kenyataannya memang begitu adanya."


Andrea menatap Jonathan yang berdiri di belakang temannya. "Kenapa kamu tidak pernah mengatakannya dari awal? Kenapa hanya janji manis saja yang diucapkan? Ini tidak sesuai dengan perjanjian awal bukan?"


Kedua tangan Jonathan mengepal, lidahnya merasa kelu untuk mengucapkan sesuatu.


"BAGAIMANA KALIAN BISA KESINI!?!" bentak makhluk berkepala hewan.


"Jangan menjadi makhluk bodoh, tinggal di dunia ini ternyata membuat IQ kalian rendah ya." Sindir teman Jonathan. "Tentu saja kami bisa menemukan jejak kalian dengan mudah."


Jonathan memijat keningnya.Omong kosong apalagi yang dikatakan temannya ini? Padahal tadi mereka berdua panickarena Andrea dan Aya tiba-tiba menghilang    


"Aku berikan kesempatan pada kalian semua... pergi dari sini atau kami hancurkan tempat ini sekaligus kalian. Tentu saja." Ancam teman Jonathan.


Sontak kawanan makhluk gaib itu pergi. Mereka tidak mau berhadapan langsung dengan malaikat pencabut nyawa yang sedang marah.


"Katakan kalau yang mereka katakana itu bohong." Tuntut Aya.


Teman Jonathan dan Jonathan saling menatap lalu menghela napas.

__ADS_1


Teman Jonathan berjongkok di hadapan Aya. "Jantung Jonathan dimasukan ke dalam jantung Andrea, itu berarti Andrea memiliki dua jantung." Teman Jonathan mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk 'V'. "Ada dua pilihan saat melakukan ritual ke enam, salah satu harus mati supaya jantung itu kembali."


"Aku tidak mengerti!" Geleng Andrea.


"Tahu penyebab kaum kami melakukan ritual pada tunangan kami saat kecil?"


Andrea dan Aya saling melirik ketakutan.


"Supaya tunangan kami terbiasa dengan jantung kami, jika kamu mati maka Jonathan bisa mengambil jantungnya kembali." Teman Jonathan melirik Jonathan. "Benar bukan, sahabat baikku?"


Jonathan mengalihkan pandangan.


"A...apa maksudnya?" tanya Andrea tidak mengerti. "Mas Jo, dia bicara apa?"


 


Jonathan menatap Andrea yang duduk dalam keadaan terikat. "Kamu sudah tahu dari dulukan..."


"Tahu apa?"


"Supaya aku bisa menjadi manusia, aku juga membutuhkan nyawa kamu."


"Apa?" Andrea terkejut dengan perkataan Jonathan.


"Tunggu dulu! Andrea itu tunangan kamu bagaimana bisa kamu..."


"Tunangan hanya untuk menandai bahwa ia adalah milik seorang malaikat pencabut nyawa." Potong Jonathan ke Aya. "Maafkan aku."


"Curang!" Seru Aya. "Kamu menukar keegoisan kamu dengan nyawa Andrea?! Sementara kamu tahu kalau Andrea itu mencintai kamu!?"


"Kalian hanya memanfaatkan kondisi Andrea!" Seru Aya, air matanya mengalir. Ia tidak terima temannya harus menukar nyawa. "Jangan berikan nyawa kamu ke dia... please..."


Andrea ikut menangis melihat temannya menangisi dirinya. "Aya..."


"Aku gak mau kamu mati di depanku Andrea, jangan pernah mati hanya demi seseorang." Seru Aya.


Jonathan mengalihkan pandangan.


"Tega sekali kalian mempermainkan perasaan manusia terutama manusia seperti Andrea." Seru Aya.


Teman Jonathan berjongkok di depan Aya, "kamu tahu nggak seharusnya Andrea sudah mati sejak dulu?"


"Tahu! Memangnya kenapa? Itu berkat pelindungnya!" balas Aya.


"Bukan hanya pelindungnya tapi berkat Jonathan, teman aku. Pelindungnya saat itu sedang tidak bersama dirinya. Dan kamu tahu nggak kenapa Jonathan bisa berada di dekat ayah kandung Andrea?"


"Karena..." Aya tidak tahu harus menjawab apa.


"Karena yang ada di tangan kanannya adalah nama ayah kandung Andrea., tapi nama itu berganti menjadi Andrea versi janin... berkat campur tangan Jonathan, nama itu sudah tidak ada lagi padahal malaikat seperti kami tidak boleh ikut campur dengan kehidupan manusia terutama takdir manusia."


Air mata Andrea mulai menetes. Ia tahu kemungkinan besar akan berakhir seperti ini, ia tahu ayah kandungnya lebih memikirkan diri sendiri daripada darah dagingnya.


"Karena itulah kenapa Andrea ditandai sebagai tunangan Jonathan... supaya kelak ia bisa mencabut nyawa Andrea sendiri." Teman Jonathan menghela napas. "Kejam memang, ujung-ujungnya Andrea tetap akan matikan."


Kepala Aya bersandar di bahu Andrea.

__ADS_1


"Berhubung Jonathan ingin menjadi manusia... maka ini satu-satunya kesempatan. Kalian mengerti?"


"Sudahlah! Tidak usah dibahas." Jonathan menepuk bahu temannya. "Kita pergi dari sini."


"Tapi kalau kamu yang pergi, kamu yang akan musnah. Kita butuh nyawa Andrea." Teman Jonathan berdiri, "nyawa dia masih bisa dikirim ke atas tapi nyawa kamu? Hilang!"


Andrea mengangkat kepalanya, "benarkah itu?"


Teman Jonathan menunduk dan menatap Andrea, "benar... semua pilihannya sangat kejam, kamu yang mati atau Jonathan yang mati? Itu sebabnya kenapa kami tidak pernah melakukan ritual menjadi manusia atau ikut campur dengan nyawa manusia."


Andrea menelan ludahnya, "benarkah itu mas Jo?" Itu berarti dia tidak akan bertemu dengan Jonathan kembali?


Jonathan memunggungi Andrea. "Aku akan mengirimmu kembali ke rumah, kita tidak akan bertemu lagi. Lebih baik kita tidak meneruskan ritual ini."


Andrea menggigit bibir bawahnya, ia berusaha tidak berteriak. Kenapa dunia ini tidak adil? Ia harus dibuang oleh orang yang sangat ia cintai? Pertama ayah kandungnya lalu pria yang dicintainya.


Aya mengangkat kepalanya, ia merasakan getaran di bahu sahabatnya. "Ndrea..."


"Kalau memang aku harus mati, lebih baik aku mati." Isak Andrea.


"Andrea! Kamu bicara apa?" Bentak Aya.


Teman Jonathan menarik Aya menjauh dari Andrea.


"Apa yang kamu lakukan? Aku belum selesai dengan Andrea! Dia tidak boleh meninggal!" Bentak Aya pada teman Jonathan di belakangnya.


Jonathan berdiri di depan Andrea yang terikat. "Kamu tidak boleh meninggal."


"Dan kamu tidak boleh meninggal."


"Ini kesalahanku."


Andrea menggeleng. "Ini bukan kesalahan, kalau saja usiaku tidak diperpanjang mungkin saja aku tidak bisa menikmati hidup bersama mama dan Andre."


"Andrea."


Andrea susah payah berdiri dalam keadaan tangan terikat di belakang dan bagian atas tubuhnya, Jonathan mengepalkan tangannya berusaha menahan diri untuk menolong Andrea. "Jika memang takdirku mati maka aku akan mati."


Jonathan berusaha menahan emosinya. "Biar aku yang menanggung semua ini, hiduplah dengan layak bersama mama dan adik kamu."


Andrea tersenyum, ia perlahan jalan mundur... jalan menuju jurang. Tadi ia sempat melihat jurang ini saat para makhluk itu lari terbirit-birit. "Kalau kamu yang menanggung semua ini... kamu akan menghilang, lalu bagaimana kita akan bertemu lagi disana?"


"Masih ada pria lain yang lebih menyayangimu."


Andrea menggeleng. "Tidak ada artinya kalau itu bukan kamu... tidak, hanya kamu yang mau menerima perempuan seperti aku."


"Hmmmmppphh." Aya melotot ngeri melihat Andrea berjalan mundur ke jurang, ia berusaha teriak tapi mulutnya ditutup.


"Hanya kamu yang mau menerima perempuan hina seperti aku." Andrea berkata dengan sedih lalu menjatuhkan diri ke jurang.


"ANDREA!!!!!" Jonathan ikut meloncat turun.


"Jonathan!" Teman Jonathan melempar Aya ke sembarang arah lalu berusaha menyelamatkan temannya tapi sia-sia, ia tidak bisa menangkapnya. Terlambat!


Aya hanya diam pasrah, ia masih shock melihat temannya bunuh diri di depan mata sementara dirinya tidak berdaya menyelamatkan. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Padahal tadi mereka baik-baik saja.

__ADS_1


_____________________


__ADS_2