
Andrea menelusuri beberapa tempat yang pernah dia datangi bersama Jonathan, memotret semua tempat. Entah kenapa, Andrea merasakan rindu memandangi semuanya di malam hari daripada siang hari seperti ini.
Andrea tersenyum ketika melihat sepasang kekasih bersama seorang anak kecil di tempat ini, tempat pemandian para bidadari, tempat Jonathan meminta tolong. Tanpa terasa air mata Andrea menetes.
"Kamu bohong, kamu bilang akan selalu bersamaku, kamu bilang kamu tidak akan meninggalkanku dan kamu bilang akan membiayai sekolah fashion aku. Tapi sampai sekarang kamu tidak muncul." Gumam Andrea dengan suara pelan. "Bukankah malaikat dilarang berbohong? menyebalkan!"
Andrea mengusap air matanya dan melempar sebuah batu di bawah air terjun. "Kalau memang benar ada keajaiban, aku ingin memukul kepalanya meskipun itu untuk terakhir kali." Setelah berdoa, Andrea meninggalkan kawasan wisata itu dan naik ke dalam mobil.
Sudah delapan tahun berlalu, dia sudah lulus sekolah design dan memutuskan merintis karier sebagai designer dari bawah. Melupakan ayah yang sudah membuangnya entah gimana kabarnya sekarang dan berusaha melupakan apa yang terjadi antara dirinya dan Jonathan.
Setelah Jonathan menghilang, dia meninggalkan tiga batang emas. Jika dirupiahkan masing-masingnya senilai ratusan juta. Awalnya Andrea, mama dan Andre terlalu takut memakainya tapi begitu membaca surat di bawah batang emas itu, Andrea tanpa sungkan memakainya. Batang emas itu dicairkan bersama dengan surat-suratnya lalu digunakan untuk membeli rumah sederhana, biaya sekolah Andrea dan Andre sekaligus bisnis catering mamanya.
Setahun bisnis mama berkembang pesat, dia disekolahkan ke Perancis tempat impiannya oleh mama. Dan sekarang Andrea sudah menjadi designer.
"Bu Andrea. Ada yang ingin bertemu dengan ibu." Asisten Andrea mendatangi mobilnya di parkir toko dengan tergopoh-gopoh.
"Siapa?"
"Penting bu, orang kaya mau menikah." Bisik asisten Andrea
Andrea mengambil tas dan sketsanya lalu masuk ke dalam ruko bersama asistennya. Ia melihat seorang perempuan anggun tersenyum pada dirinya.
"Andrea?"
"Iya, saya."
"Saya Stevie, saya melihat rancangan gaun pesta anda sangat indah sekali."
"Gaun.."
"Yang cocktail, sepupu saya memakainya, itu salah satu gaun favoritnya."
Andrea mengangguk mengerti. "Syukurlah kalau sepupu anda menyukainya."
"Saya juga menyukainya."
"Oh, maaf... agak berantakan tokonya, kami baru buka disini jadi..."
"Langsung saja. Saya ingin anda merancang sebuah gaun pengantin."
"Gaun pengantin?"
Stevie mengangguk dan menyentuh kaca besar berisi gaun pernikahan. "Ini indah sekali, anda yang membuatnya?"
Andrea melihat gaun di dalam kaca. Gaun itu adalah gaun kali pertama yang ia buat, gaun favorit Jonathan, sayang sekali sampai sekarang ia tidak pernah memakainya. Gaun berkerah pendek, lengan panjang, dan rok lebar sampai mata kaki. Payet-payet hanya di sekitar rok sementara atasannya dibiarkan polos. "Ini gaun favorit saya."
"Favorit anda?"
"Ini gaun kali pertama saya buat."
"Sudah pernah dipakai orang?"
"Belum ada."
"Kalau begitu saya ingin memakai ini."
Andrea menoleh, "ya?"
"Gaun ini sederhana tapi kelihatan mewah, saya menyukainya. Boleh saya memakainya? Tapi kalau kamu punya sketsa lain..."
Andrea menggeleng. Percuma saja ia mempertahankan gaun ini, sampai kapanpun tidak akan bisa ia pakai. Toh ini khusus untuk diperlihatkan ke seorang pria yang lama hilang. "Silahkan, kita ukur ya. Biar saya perbaiki ukuran gaunnya."
"Boleh."
Asisten Andrea yang sedari tadi berdiri di belakang mereka berdua segera mengukurnya. Andrea hampir menangis ketika gaun itu akan menjadi milik orang lain.
"Sepertinya ukuran bu Stevie tidak jauh beda dengan bos saya." Ujar asisten Andrea.
"Oh ya?" Stevie memutar badannya dan membandingkannya di kaca sambil sesekali melihat tubuh Andrea. "Memang iya sih kalau dilihat."
Andrea tersenyum.
___
Andreaaaaaa..." Aya memeluk Andrea. "udah hampir empat tahun kita tidak bertemu."
Andrea membalas pelukan, "iyaaa... kangennyaaa..."
"Udah menikah?"
"Belum. Kamu pasti sudahkan."
"Gimana sih, awal semester kamu di Perancis, aku menikah. Aku ngambek sama kamu... gak datang,"
Andrea meringis, "maaf deh... habis tiket pulangnya mahal banget."
"Iya sih." Aya menghela napas, "tapi syukurlah kamu baik-baik aja sekarang. Aku seneng kamu tidak seperti dulu lagi."
"Maksudnya aku seperti dulu?"
"Yah... dulu kamu shock banget kehilangan malaikat kamu itu."
"Aku mencoba yang terbaik, dia yang mengajarkan aku segalanya. Aku pikir waktu itu yang ditukarkan adalah nyawaku tapi ternyata waktu berhargaku bersama dia."
"Mungkin mereka menilai waktu kebersamaan kalian berdua jauh lebih berharga daripada nyawa kamu."
___
"Andrea mengerutkan dahinya melihat mama dan adiknya tersenyum penuh misteri ke dirinya dari kejauhan. Jangan-jangan klien yang dimaksud mama itu disini?
"Mama... disini klien mama?" Andrea menghampiri mamanya.
__ADS_1
"Tadinya mama nggak percaya itu kamu, tapi ternyata bener. Adik kamu bantu mama nyupirin ini. Klien kamu itu pengantinnya?"
"Iya ma, ya ampun... tahu gitu kita barengan." Andrea merasa bersalah karena terlalu sibuk.
"kamu bantu mama saja, udah senang mama."
Andrea tertawa. "Iya deh hehehehe..."
"Kamu sudah lihat pengantinnya?"
"Yang perempuan sudah tapi yang laki belum, habisnya... yang laki sombong sekali gak mau datang ke toko mungil Andrea."
"Yah namanya orang kaya." Mama Andrea memandang kagum gaun selutut Andrea, "kamu cantik sekali hari ini... sekalian carikan mantu buat mama."
"Mama iiih..." Erang Andrea. "Gak lucu!"
"Mama serius, gak ngelucu."
"Mbak kesini naik apa?" Andre memotong kue di tangannya. "Mbak yang nyetir mobil ya."
"Ye... aku kesini naik mobil."
"Capek." Keluh Andre.
"Salahnya sendiri setuju." Andrea menjulurkan lidah untuk menggoda adiknya.
"Tapi..." mama Andrea melihat pengantin perempuan memasuki ballroom, "gaun itu bukannya gaun kesayangan kamu? Itu selalu kamu pajang di toko kamukan?"
Andrea mengikuti arah pandang mama, "iya ma, biar saja... Andrea berusaha melakukan yang terbaik untuk klien Andrea."
"Termasuk memberikan gaun pengantin mbak?" tanya Andre yang sedikit tahu sejarah gaun itu dari Aya – minus cerita soal malaikat pencabut nyawa.
Andrea memukul kepala Andre. "Diem kamu, gak usah ikut campur!"
"Mama!" Erang Andre.
Mama Andrea mengelus punggung Andrea, "mama tidak tahu seberharga apa gaun pengantin buatan kamu itu, tapi... kamu bisa membuat ulang gaun pengantin yang baru untuk kehidupan baru kamu ke depannya, mama doakan yang terbaik buat kamu."
"Amin." Ujar Andrea dan Andre bersamaan.
Setelah itu mereka bertiga melihat senang kedua pengantin berdansa di tengah ruangan dengan lagu mellow.
CKREK.
Andrea menoleh, kilatan flash mengejutkannya.
"Boleh saya foto anda?"
Percuma Andrea menjawab, pria itu tetap memotret dirinya tanpa ijin. Matanya berusaha menghindar dari kilatan flash kamera fotografer itu.
"Hei! Ngapain kamu ganggu tamu?"
Kepala fotografer itu dipukul. "Aku hanya ingin memotret perempuan cantik."
Mama dan Andre menoleh.
Andrea menepuk-nepuk matanya perlahan untuk menghilangkan sakit karena efek flash kamera itu.
"Maaf, ya... anda tidak apa-apa?"
Andrea menoleh. "Saya tidak apa-ap..."
"Saya Dino dan ini teman saya Jonathan, maaf anak tidak tahu aturan ini... ia baru kembali dari Amerika. Makanya agak bengal." Ujar Dino sambil menunduk malu.
"Apa hubungannya Amerika dengan adat?" Keluh Jonathan, "memangnya tidak boleh foto perempuan cantik?"
"Kalau kamu foto diem-diem gak masalah, tapi ini.." bisik Dino sambil membelakangi Andrea.
Jonathan menyingkirkan Dino dan tersenyum. "Namaku Jonathan, kamu..."
Andrea gelagapan, ia melihat laki-laki yang tidak pernah dilupakan sampai sekarang. "A... a..."
"Andrea!" Jawab Andre cepat, "maaf ya, dia ini kagok sama orang bule."
Jonathan memiringkan kepalanya. "Hmmm... tapi aku bisa bahasa Indonesia lho, kakek moyangku pernah tinggal disini makanya aku belajar dari SD di Amerika."
"Sd... di Amerika?" entah kenapa Andrea merasa kecewa. Wajah dan suara bahkan namanya mirip tapi...
"Iya... sd kan namanya kalau di Indonesia?" Jonathan bertanya pada Dino.
"Iya! Haduh maafkan teman saya ya, dia ini agak sengklek memang." Dino membuat gerakan memutar di samping kepalanya.
"Hei!" Seru Jonathan tidak terima.
Jadi, bukan mas Jo ya?. Raut wajah Andrea berubah murung.
Jonathan yang menyadari perubahan mood Andrea langsung mendekatinya dan memberikan sapu tangan ke Andrea. "Are you okay?"
Andrea menolak sapu tangan itu dan menggeleng. "Yeah, I'ts okay."
Jonathan semakin panic melihat air mata Andrea mulai menetes. "Ah... ah... sepertinya tidak... well..."
Mama mengelus punggung Andrea dengan panic, "kamu kenapa Ndrea?"
"Andrea tidak apa-apa ma." Isak Andrea.
Jonathan menoleh kanan-kiri, ia berusaha mencari sesuatu. Dino yang melihat itu jadi bertanya, "kamu ngapain Jo?'
"Bentar. Aku jadi teringat sesuatu." Jonathan meninggalkan mereka dan menghampiri pengantin wanita.
"Ngapain itu anak?" Dino menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Andrea berusaha menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan mamanya, ia tidak mau merusak make upnya. Tiba-tiba muncul satu tangkai besar bunga sedap malam di hadapannya, Andrea melotot ngeri.
"Heh! Gila lo! Anak orang dikasih bunga sedap malam? Seharusnya mawar!" Dino berkacak pinggang melihat kelakuan sengklek temannya.
Jonathan menggaruk kepalanya, "ini... cerita turun temurun dari keluarga aku, kami keturunan Inggris yang pernah tinggal di Indonesia. Salah satu kakek moyang kami jatuh cinta dengan seorang wanita Indonesia dan dia selalu memberikan wanita itu bunga sedap malam kalau menangis."
"Ya Gusti, kakek moyang kamu juga lebih gila. Kamu tahu nggak bunga sedap malam itu biasanya buat di makam kalau nggak itu..."
"Buat di tempat nikah. Iyakan?" Jonathan tersenyum ke Andrea yang melotot.
"Tuhkan!" Dino menyenggol lengan Jonathan. "Dia aja melotot saking kagetnya dikasih bunga sedap malam."
Mama menggoyang-goyang badan Andrea, "Ndrea! Ndrea!"
"Mas Joooo..." Pekik Andrea sambil memeluk pinggang Jonathan.
Jonathan sontak mengangkat kedua tangannya di udara. "Ah..."
"Mas Jooo... kemana aja kamu selama ini..." Isak Andrea di dada Jonathan.
"Ma, mbak Andrea sudah mulai gila ma." Bisik Andre.
Mama Andrea berusaha melepas kedua tangan Andrea, "kamu bukannya bantuin mama malah bikin malu gini! Lepasin!"
Jonathan, Jonathan Andrea sudah kembali meskipun sudah tidak mengingat dirinya lagi bahkan hanya berupa cucunya saja.
"Mas Jo... jangan tinggalin Andrea lagi." Andrea mengangkat kepalanya, ingus Andrea menempel ke baju Jonathan.
Dino bergidik ngeri lalu ngacir. Jonathan kena karmanya, mau ngecengin cewek cantik malah dapet cewek gila.
Jonathan menggaruk kepalanya tidak mengerti lalu membersihkan hidung Andrea dengan sapu tangannya. "Aku nggak tahu kamu bicara apa, memangnya kamu sakit hati sama semua orang yang bernama Jonathan ya?"
Andrea menggeleng lalu melepas pelukannya, ia menunjuk sedap malam di tangan Jonathan. "Dulu mas Jo pernah kasih sedap malam ke aku pas nangis, dia minta maaf karena gak tahu bunga mawar petiknya dimana."
"Petik, beli do..." Mama menutup mulut Andre dan menyeretnya pergi.
Jonathan menaikan salah satu alisnya, "kapan ya? Di Amerika nggak ada sedap malam soalnya."
"Memang di Inggris juga nggak ada?"
"Kakek buyutku hijrah ke Amerika, makanya kami sekarang tinggal di Amerika."
Andrea menunduk, itu sebabnya kenapa Hero tidak bisa menemukan keberadaan Jonathan di Inggris. Bukan keluarganya hilang tapi hijrah ke Negara lain. "Oh, begitu."
"Kenapa kamu sedih lagi?" Jonathan menaikan dagu Andrea. "Perempuan cantik tidak boleh menangis, kalau menangis jadi jelek lho."
Andrea mengalihkan pandangan. "Biarin jelek."
Jonathan tertawa, "dengar, baru kali ini aku berkenalan dengan perempuan seperti kamu."
"Terserah aku." Andrea berkata dengan nada cemburu. "Aneh ya?"
"Nggak aneh kok, aku malahan semakin tertarik." Jonathan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Kita kenalan sekali lagi ya... namaku, Jonathan Henry II."
Andrea melongo.
"Kata keluargaku... wajahku sangat mirip dengan leluhurku yang pernah di Indonesia, itu sebabnya kenapa aku diberi nama seperti itu... Jonathan Henry yang kedua." Ujar Jonathan cengengesan.
Andrea tersenyum. "Apakah ini reinkarnasi?"
"Apa?"
Andrea menggeleng cepat. "Tidak. Namaku Andrea."
Jonathan menaikan salah satu alisnya. "Just Andrea?"
Andrea berbisik di telinga Jonathan.
"Really?"
Andrea mengangguk pelan.
Jonathan tersenyum. "Hmm... kalau begitu kamu mau nunggu aku? Aku lagi part time di tempat Dino."
Andrea mengangguk.
"Beneran ya."
"Iya."
Setelah itu Jonathan lari menghampiri Dino. Mama Andrea yang melihat Jonathan sudah pergi, menghampiri Andrea.
"Kamu kenal sama bule itu?"
"Enggak ma."
"Lho. Tadi kamu peluk-peluk kesetanan gitu."
Andrea berusaha menahan tawanya. "Oh, Andrea kira itu pujaan Andrea abis mirip banget ma."
"Sampe meluk-meluk gitu, sebagai perempuan seharusnya kamu tuh jaga martabat bukannya main peluk laki-laki tak dikenal." Mama memukul lengan Andrea.
Andrea mengusap tangannya. "Ya maaf ma, Andreakan insyaf."
"Insyaf malah pilih-pilih. Udah, kamu sekarang nggak ada kerjaankan, bantu mama urus makanan ini. Kasihan adik kamu sendirian."
"Siap." Jawab Andrea sambil hormat ala militer, sekali lagi ia menoleh ke Jonathan yang sedang memotret kedua pasangan pengantin itu.
Seperti nasehat mama, hidup itu mengalir bagaikan air. Kadang kita harus melupakan masa lalu, melupakan orang yang sudah menyakiti kita dan melupakan orang yang sudah meninggalkan kita. Sebagai gantinya mungkin saja akan ada yang lebih baik di depan kita kalau kita berusaha lebih keras.
Andrea tersenyum sedih. Meskipun Andrea harus kehilangan sosok Jonathan lama dan bertemu Jonathan baru... mungkin inilah yang terbaik.
__ADS_1
Andrea menatap langit-langitatap gedung yang terbuka. Terima kasih Tuhan
___