
"Ke rumah Andrea?!" seru Aya pelan.
"Iya, aku harus kerja dulu lalu harus memastikan apakah sepupunya yang sudah menikah memiliki anak perempuan."
"Oh begitu-"
"Kamu aman disana kan? Tidak ada yang menyerang kamu?"
Aya melirik Jonathan yang sudah tidur pulas. "Ya, setidaknya aman. Kamu dimana sekarang?"
"Aku ada di rumah targetku."
"Kamu akan mencabut nyawa?"
"Itu memang tugasku."
Karena sudah terbiasa bertemu dengan Jonathan dan temannya, Aya jadi lupa siapa sebenarnya mereka. "Setelah itu kamu akan ke rumah Andrea? kalau sudah ketemu kalian akan mencari lubang itu?"
"Seharusnya aku memprioritaskan dirimu Aya tapi masalahnya Seruni dan Seroja mencari keris itu."
"Keris?"
"Keris yang sempat dibawa Jonathan, keris itu juga menjadi incaran antek-antek sang raja. Kita harus cepat-cepat menghancurkannya."
Aya melirik Jonathan sekali lagi, jubah hitamnya tergeletak di kakinya sementara kemeja terbuka lebar menonjolkan dada bidangnya. 'Apa aku tanya Jonathan saja mengenai hal ini? Tapi Jonathan pasti memiliki pertimbangan sendiri untuk mempertahankan keris ini.' Katanya dalam hati.
"Aya? Kamu masih hidup?"
"Ya, ya."
Teman Jonathan terdiam lalu berkata, "maaf, sudah melibatkan kamu."
"Tak apa, lagipula aku yang menginginkan ini."
"Setelah selesai, kami akan segera menjemputmu."
"Tidak perlu terburu-buru, sebaiknya kalian mencari keris itu lebih utama."
"Tapi, bagaimana dengan kamu? kami tidak bisa meninggalkanmu lama disana."
"Itu urusan nanti, lagipula Seroja sudah memberikanku selendang dan obor gaibnya, kita tidak bisa membiarkan keris itu lama diluar. Aku akan membantu kalian sebisaku."
"Kamu terjebak disana Aya, tidak ada jaminan kamu tetap selamat." Teman Jonathan masih bersikeras ingin menolong Aya.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan jangan terlalu sering meneleponku, aku tidak mau baterai handphoneku habis." Aya melihat baterai handphonenya, beruntung dia sudah mengisi penuh baterainya.
"Jaga dirimu, kalau ada apa-apa segera menghubungiku."
"Terima kasih." Aya menutup teleponnya dan melirik Jonathan. "Kamu dengarkan apa yang aku bicarakan dengan teman kamu?"
Jonathan membuka matanya perlahan. "Suara kamu keras sekali, aku jadi tidak bisa tidur."
"Di atas, semuanya sedang mencari keris itu. Masih kamu pegang?"
Jonathan menggeleng pelan. "Kalau masih ada di aku, sudah aku hancurkan dari kemarin. Sayangnya menghilang bersamaan dengan saat aku loncat."
Aya menghela napas. "Kenapa kamu simpan padahal benda itu berbahaya."
"Yang berbahaya bukan bendanya melainkan isinya."
"Eh?"
"Isinya sangat berbahaya, jika raja itu bisa memiliki isinya maka lawan kita bukan lawan biasa lagi, melawannya saja sudah membuat kita kabur seperti sekarang apalagi jika raja itu memilikinya."
"Bukankah mereka tidak bisa menyentuh malaikat seperti kalian?"
"Mereka tidak akan bisa menyentuh kaum kami." Jonathan bangkit dari tidurnya perlahan. "Tapi jika mereka sudah menginginkan sesuatu entah berapa yang dikorbankan tetap saja mereka menginginkannya."
__ADS_1
"Mereka menginginkan apa?"
"Jika mereka bisa meminum darah kami maka mereka bisa memiliki kekuatan sementara jika memakan jantung kami maka mereka bisa pergi ke surga dan khayangan." Jonathan tertawa hambar. "Itu hanya mitos di kalangan mereka untuk bersenang-senang, entah siapa yang membuatnya tapi sampai sekarangpun mereka tidak berhasil menyerang kaum kami kecuali-"
"Kecuali?"
"Kecuali saat kami melakukan ritual."
Aya terkejut. "Maksud kamu ritual menjadi manusia?"
"Ya, saat menjalani ritual itulah perlahan kekuatan kami menurun dan pertahanan kami sudah mulai berkurang dan saat itu pula mereka bisa menyerang kami." Jonathan menatap Aya, "Itu sebabnya jarang ada yang mau melakukan ritual itu."
"Berarti bukan hanya resiko menukar jantung saja?" Aya menatap Jonathan tidak percaya. "Dari awal memang sudah menjadi resiko malaikat seperti kalian?"
"Ya." Angguk Jonathan.
"Tapi kenapa- kalau sudah tahu dari awal, kenapa kamu masih melakukan ritual itu?"
Mata Jonathan menerawang ke langit goa. "Mungkin karena itu keegoisanku sendiri."
Kepala Aya bersandar di kedua lututnya, "dan kamu juga melibatkan sahabat terbaikku."
Jonathan menoleh. "Maaf."
"Tidak akan aku maafkan."
Jonathan menaikan kedua alisnya.
"Tidak akan aku maafkan jika kamu meninggalkan Andrea lagi."
Jonathan tersenyum. "Selama aku masih hidup, aku tidak akan meninggalkannya."
Aya menghapus air matanya. "Lalu sekarang bagaimana? masa kita di dalam goa terus?"
"Ini satu-satunya tempat aman sekarang, selama lukaku belum sembuh-" Jonathan menunjuk luka di dadanya. "Aku tidak berani keluar, lagipula sangat beresiko keluar tempat yang tidak kita ketahui."
"Aku tahu, makanya kita sebaiknya disini dulu."
Aya mendengar suara keras detak jantung di Jonathan, ia menoleh ke dada Jonathan. "Kamu- kamu mengambil jantung kamu?"
Jonathan tertawa hambar. "Kalau dipikir kembali aku ini pengecut."
"Tapi kenapa-"
"Entahlah, mungkin aku terlalu pengecut untuk melakukan langkah selanjutnya."
"Andrea akan terluka."
"Lebih baik membiarkan dirinya terluka daripada mati di depanku."
"Tapi bagaimana Andrea selamat-"
"Entahlah," Jonathan menguap. "Biarkan aku istirahat, tolong jangan berisik jika kamu ingin keluar secepatnya dari sini."
Aya menatap marah Jonathan. Sejak kapan Jonathan bisa mengambil jantungnya dan kenapa Andrea masih tetap hidup lalu kenapa Jonathan terluka seperti ini?
_________________
Seroja membuka matanya perlahan, melihat Andrea duduk bersandar di bawah batu sambil memeluk kedua lutut, kepalanya bersandar diantara lutut.
Seroja menatap langit. "Ah, sudah hampir pagi rupanya."
Andrea terbangun mendengar suara Seroja. "Seroja."
"Maaf, membangunkan."
"Tidak, aku hanya kelelahan saja mencari lagipula- aku sendiri tidak bisa jauh-jauh dari kamu." Andrea mengucek kedua matanya. "Sudah pagi?"
__ADS_1
"Mengkhawatirkan ibu kamu?"
"Aku tidak bisa pergi terlalu lama." Angguk Andrea.
"Tenang saja, ini tidak akan lama- banyak yang membantu."
Andrea berdiri meregangkan badannya, "Seruni?"
"Teman Jonathan juga."
"Ini mengingatkanku, kenapa kalian memanggilnya teman Jonathan?"
"Karena dia tidak bernama."
"Ah iya, aku lupa hal itu."
"Apakah kamu sudah menemukan keris itu?"
"Belum."
Seroja menghela napas. "Dimana keris itu? masa dibawa Jonathan? tapi Jonathan-"
"Keris itu tidak mungkin jatuh terlalu jauh dari sini, kalaupun tidak ada disini masa dibawa Jonathan? Apakah kamu bisa memastikannya?"
"Saya hanya bisa memastikan anda sudah memiliki satu jantung yang berarti Jonathan sudah tidak ada di dunia ini, kecuali dia membatalkan syarat itu dan menarik kembali jantungnya."
"Siapa?"
"Jonathan."
Andrea tertawa. "Kapan Jonathan menarik jantungnya kembali?"
"Saya sendiri tidak tahu, selama ini kami semua sudah berasumsi Jonathan menghilang karena sekarang anda memiliki satu jantung dan kita mengabaikan kemungkinan jantung itu sudah ditarik kembali."
"Tapi kalau benar itu ditarik berarti aku akan dikejar raja sialan itu?"
"Mereka tidak bisa mengejar anda, selama saya berada disisi anda."
"Tapi syaratnya-"
"Syarat tidak akan merugikan anda, yang rugi justru si Jonathan."
Andrea menyentuh dada tempat letak jantungnya. Berdetak. "Tidak ada jantungnya lagi?" gumam Andrea pelan.
"Bersabarlah."
Andrea memunggungi Seroja. "Ayo kita cari keris itu."
"Anda tidak menyerah?"
"Aku tidak bisa menyerah, aku juga punya alasan untuk menghancurkan keris laknat itu."
Seroja berdiri. "Kita hanya menghancurkan isinya, bukan kerisnya."
"Kenapa tidak dua-duanya saja?"
"Yang paling utama menghancurkan isinya, jika anda ingin menghancurkan benda itu- saya tidak mempermasalahkannya, dengan sukarela saya akan membantu anda."
Andrea tertawa berusaha menutupi rasa gugupnya. "Terima kasih."
Seroja tahu bagaimana perasaan Andrea sekarang, sudah dari bayi ia menjaga dan mengenal baik Andrea. "Andrea coba kamu ingat kembali kejadian sebelum jatuh, kalau memang itu dibawa Jonathan kita harus mencari tubuhnya atau-"
"Atau apa?"
"Tidak." Seroja menggeleng pelan. "Sebaiknya kita memang mencari, tolong diingat kembali."
Andrea berusaha mengingatnya. "Pelan-pelan ya- otakku lemah kalau disuruh mengingat."
__ADS_1
Seroja tersenyum. "Saya tahu."