KEKASIH GRIM REAPER

KEKASIH GRIM REAPER
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

"Yang disini sudah beres," kata teman Jonathan.


Seruni dan Jonathan semakin kuat meremas jantung.


"Sekarang kalian berdua tidak memiliki pelindung, dimana raja itu sekarang?" tanya Seroja.


"Aku tidak... tahu..." Jawab Mahmud dengan napas tersengal.


Tiba-tiba Andrea teringat sesuatu. "Surabaya."


Aya menoleh ke Andrea. "Surabaya?"


Andrea lari kecil dan berlutut di hadapan Mahmud. "Kita punya rumah di Surabaya, waktu itu ada tetangga di lantai tiga bicara ke mama kalau rumah yang lama kita tinggal kosong mendadak ramai setiap tengah malam, apakah kamu membawa mereka semua ke sana, termasuk sang raja?"


Seroja memiringkan kepalanya. "Masuk akal juga, lagipula di sanalah awal mulanya juga bukan."


Jonathan mengangguk setuju.


"Ba- bagaimana kita kesana?" tanya Aya ke Andrea. 'Tidak mungkin kita masuk tanpa ijin ke rumah orang, waktu itu kamu kan pernah bilang kalau rumah di Surabaya sudah dijual."


"Ya, memang benar sudah dijual. Tapi mereka tidak mungkin menyentuh bagian atap kan." Andrea menunjuk ke atas dengan santai. "Disentuh pun, mereka tidak akan bisa mengusir si raja. Benarkan?"


Mahmud mengalihkan pandangannya dari Andrea.


"Jadi memang benar ya." Seringai Jonathan. "Baiklah, sebelum kita pergi dan menghilangkan ingatan kalian semua, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu?"


"Setuju," seringai Seruni.


Mahmud dan Ina menjerit kesakitan sementara dua pegawai yang melihat itu semua sudah pingsan ditidurkan Seroja terlebih dahulu.


____


Satu jam kemudian.


"Rasanya puas sekali membuat mereka seperti itu." Seruni berkacak pinggang sambil terkekeh puas melihat kedua orang itu sudah pingsan.


"Seroja."


"Ya," Seroja menoleh ke Andrea.


"Pelindung ini, sampai kapan ada?" tanya Andrea sambil menunjuk ke atas.


Seroja mendongak. "Besok pagi." Lalu menatap Andrea sambil tersenyum. "Nona tidak ingin ada yang mengetahui soal inikan, kalau mereka tergeletak begini dan ketahuan orang, bisa ribut di sekeliling kemah."


Andrea menghela napas lega.


Teman Jonathan berjongkok di samping Mahmud yang pingsan. "Manusia selalu bersikap egois, hanya mementingkan diri sendiri. Giliran diberi hukuman malah berteriak memohon ampun."


Jonathan menatap Mahmud dengan tatapan merendahkan, "sebenarnya manusia tahu kalau itu perbuatan salah hanya saja mereka enggan mengakuinya, toh kejahatan lebih nikmat daripada kebaikan."


Teman Jonathan terkekeh geli. "Seperti nasib kita sekarang."


Andrea menarik baju Jonathan.


Jonathan menoleh ke belakang.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Andrea.


Jonathan menjadi gemas melihatnya, ia mencubit kedua pipi Andrea dengan gemas. "Tentu saja."

__ADS_1


Seroja berdehem. "Ayo membuat lingkaran."


Seruni memegang tangan Seroja dan Aya, Aya memegang tangan Andrea, Andrea memegang tangan Jonathan, Jonathan memegang tangan temannya lalu teman Jonathan melirik tangan Seroja dengan takut.


"Bagaimana kalau aku berangkat sendiri saja?" tanya teman Jonathan sambil menatap ngeri tangan Seroja.


Seroja memegang tangan teman Jonathan dengan kasar dan menggenggamnya dengan erat supaya teman Jonathan tidak bisa meronta. "Kita berangkat."


Tak lama mereka berenam berpindah tempat


 -------


"KALIAN TERLAMBAT!"


Seroja, Seruni, Aya, Andrea, Jonathan dan temannya sontak terkejut melihat sebuah boneka doraemon berdiri di atas pagar setinggi bahu orang dewasa sambil berkacak pinggang.


"J." Sapa Aya.


J menoleh ke Aya. "Tidak usah sok akrab, lebih baik kita masuk ke dalam untuk menyelesaikan semuanya."


"Sepertinya aku mengenali doraemon ini deh." Andrea menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Tentu saja, diakan boneka di kamar kamu." Sahut Aya.


"Kok- itukan boneka kesayanganku-" erang Andrea.


J menunjuk Andrea. "Wahai anak muda, apakah kamu ingin ditolong atau tetap merengek soal wujud fana ini?"


Teman Jonathan mengambil boneka doraemon itu. "Wujud apaan, kamu hanya boneka saja."


Seroja mengerutkan dahinya, rasanya ia mengenal suara itu, tapi dimana?


"J, jangan berteriak. Bisa membangunkan tetangga nanti." Aya meletakan jari telunjuknya di depan mulut.


"Tenang saja, kalian memasuki dimensi lain. Jadi manusia tidak bisa melihat kita, apalagi dukun. Karena portal ini tidak dibuat oleh jin." Jawab J.


Andrea melihat sekelilingnya. Ia jadi merindukan tempat ini, berdiri di depan pagar rumah lalu bermain dengan teman-temannya.


"Andrea." Jonathan memegang bahu Andrea.


Andrea tersenyum lalu memeluk Jonathan. "Hm?"


"Jangan melamun, kita berada di dimensi lain." Ucap Jonathan.


Andrea mengangguk pelan.


Aya Menatap iri kemesraan Andrea dan Jonathan.


Teman Jonathan yang menangkap sorot mata Aya, langsung menggodanya dan berbisik di telinga Aya. "Kenapa? iri ya?" godanya.


Aya mendorong kasar teman Jonathan dan berdiri disamping Seruni.


Teman Jonathan terkekeh geli melihat reaksi Aya.


"Kamu ini suka sama manusia itu ya." Komentar J yang berada di pelukan teman Jonathan.


Teman Jonathan berhenti terkekeh dan menoleh ke J. "Menggoda bukan berarti suka."


"Manusia itu pada dasarnya sama... suka menggoda perempuan tapi sebenarnya suka, lain halnya kalau menggoda main-main. Aku sudah hidup lebih lama dari kalian, jadi tidak bisa semudah itu dibohongi." Kata J.

__ADS_1


Teman Jonathan hendak membalas tapi dipotong Seroja.


"Kita masuk seperti biasa?" tanya Seroja sambil mengangkat tangannya.


"Jangan terlalu kasar membukanya, kalau ada kerusakan parah bisa berefek ke dimensi manusia." Saran J.


Tanpa peringatan, pagar besi rumah terdorong ke belakang, seolah ada angin besar yang mendorongnya.


"Memang kalau bicara dengan pelindung, sangat susah." Komentar J sambil menghela napas dengan dramatis.


Seroja masuk duluan diikuti Seruni dan Aya lalu teman Jonathan, Jonathan dan Andrea.


"Dimana letaknya?" tanya Seroja.


"Dulu kalau tidak salah, bapak meletakan sesajen di gudang atas." Sahut Andrea.


Seroja membuka pintu rumah yang tidak terkunci. "Apakah ..."


"Aku yang membukanya, aku sudah berusaha menyusup dan berhati-hati... tidak akan berefek ke dimensi manusia, kamunya saja yang hobi merusak." Keluh J.


"Tidak bisakah boneka ini tidak mengeluh?" teman Jonathan menjadi gerah mendengarnya.


"Dia informan terpercaya, dan dia juga yang membantu aku." Sahut Jonathan, "jadi bersikap baiklah padanya."


Teman Jonathan menghela napas kesal.


"Kalau tidak mau membawanya, biar aku saja yang bawa." Andrea mengulurkan tangannya.


Teman Jonathan memberikan boneka itu ke Andrea. "Nih, telingaku gatal mendengar ocehannya."


Andrea memeluk erat doraemon dan J. "Hallo, salam kenal ya."


J menikmati pelukan Andrea. "Hmmm-"


Jonathan menaikan salah satu alisnya dengan heran.


Seroja membuka pintu dengan diikuti yang lain.


Aya menatap sekeliling rumah begitu memasuki bagian dalamnya bersama Seruni. "Rumahnya mungil tapi kelihatan sesak."


Andrea juga melihat sekelilingnya. "Kalau dulu aku melihatnya terlihat luas karena masih kecil."


Jonathan memegang bahu Andrea dengan erat dan mengawasi sekelilingnya. "Seruni, jaga Aya."


Seruni menggenggam tangan Aya.


Aya menatap Seruni dengan heran. "Ada apa?"


"Pergerakan udaranya berubah." Seruni menjawab dengan singkat.


Setelah masuk ke ruang tengah, Seroja membuka pintu di sudut ruangan. Pintu yang mengarahkan ke dapur lalu belok ke kiri yang dimana ada kamar mandi di sebelah kiri ruangan dan di sebelah kanan terdapat tangga menuju gudang dan kamar pembantu.


Seroja menaiki tangga yang terbuat dari kayu dengan hati-hati.


Seruni dan Aya mengekor dari belakang.


Teman Jonathan mempersilahkan Jonathan dan Andrea maju lebih dulu. "Aku akan menjaga dari belakang." Jawabnya saat mendapat tatapan bertanya-tanya Jonathan dan Andrea.


Jonathan dan Andrea akhirnya mendahului teman Jonathan.

__ADS_1


Sementara teman Jonathan memastikan situasi aman lalu menaiki tangga.


__ADS_2