
Setelah semuanya berkumpul di atas dengan kondisi ruangan yang begitu sempit. Aya merasakan sesak di dadanya, begitu juga dengan Andrea.
"Udara disini memang tidak cocok untuk manusia." Jonathan memberikan jasnya ke Andrea. "Pakai ini, kamu akan terlindungi."
Andrea segera memakainya.
Sementara Aya menatap teman Jonathan.
Teman Jonathan yang menyadari itu menunjuk dirinya sendiri. "Apa? aku?"
Aya mengulurkan tangannya. "Berikan mantel kamu!" perintahnya.
"Enak saja, kamu kan ada selendang dari Seroja." Teman Jonathan mendekap erat mantelnya.
"Kalau aku sampai mati disini... aku akan mengadu pada atasanmu kalau kamu yang membunuhku, aku rasa para malaikat pencatat amal baik dan buruk setuju dengan ini. Mereka akan menjadi saksinya." Ancam Aya.
Teman Jonathan menghela napas lalu melepas mantel dan memberikannya ke Aya dengan hati dongkol dan sangat terpaksa. "Nih!"
Aya cepat-cepat memakainya.
Seroja menggeleng pelan lalu membuka pintu gudang yang ukurannya hanya sepinggang orang dewasa.
Mereka semua yang akan masuk, terpaksa membungkuk.
"Bapak kamu memang ajib, pintu masuk aja dibuat sempit gini." Keluh Teman Jonathan yang menutup pintu dari belakang.
Aya terbatuk-batuk saking banyaknya debu di dalam ruangan, Seruni otomatis memukul pelan punggungnya.
"Sepertinya tempat ini juga sudah lama tidak dipakai." Andrea mengedarkan pandangan ke ruangan yang gelap. "tidak ada senter atau lainnya? Gelap banget."
J meniup sesuatu ke udara lalu muncul percikan cahaya kecil seperti kunang-kunang di udara. "Ini gunanya menetralisir ruangan sekaligus memberikan cahaya."
Aya menatap kagum. "Wuaahhhh."
Andrea tidak menyangka bisa melihat kunang-kunang sedekat ini, biasanya dia hanya melihat dari anime atau film-film.
"SIAPA YANG BERANI MASUK KE DALAM WILAYAH KAMI?"
Bentak seseorang yang menggetarkan ruangan.
Aya sontak memeluk lengan Seruni sementara Andrea memiringkan kepalanya, ia merasa mengenali suara ini.
"Ada apa Andrea?" tanya Jonathan yang melihat Andrea celingukan.
__ADS_1
"Sepertinya aku kenal suara ini." Sahut Andrea. "Tapi entah dimana, kenapa ya?"
"Saya juga mengenalinya." Timpal Seroja. "Mungkin waktu itu saya sedang menjaga anda."
"SIAPA KALIAN?!" Bentaknya.
"Dimana raja kalian?!" teriak Jonathan sambil berusaha melindungi Andrea.
"Buat apa kalian mencari raja kami?"
"Bukankah raja kalian menginginkan darah makhluk seperti kami?" tanya teman Jonathan yang ikut memanas-manasi.
"Darah-" Makhluk itu muncul di hadapan Seroja, wujudnya tegap seperti manusia tapi berbulu dimana-mana, giginya menyeringai tajam dengan bola mata berwarna hitam. "Bau darah-"
"Jangan-jangan kamu genderuwo?" tanya Andrea.
Makhluk itu menatap Andrea dengan mata merahnya lalu menyeringai. "Jadi, kamu si tumbal gagal."
Andrea meringkuk di bawah ketek Jonathan.
Jonathan melindungi Karina dengan memeluknya. "Sekali lagi aku tanya, dimana raja kamu?"
Makhluk itu mengalihkan pandangannya ke Jonathan. "Malaikat bernama, terkenal sekali- hahahaha- sayang sekali kami tidak bisa mengambil nyawa kamu waktu itu."
"Berarti penculikan Andrea dan Aya itu memang ulah kalian, kalian jugalah yang mengejar aku-" desis Jonathan dengan geram. Makhluk jelek ini berani sekali mengejarnya saat terluka.
Aya menutup telinganya dengan kedua tangan karena seramnya suara tawa itu, bulu kuduknya merinding.
"Kami hanya ingin mengambil alih hak kami." Jawab makhluk itu.
"Hak?" cemooh teman Jonathan. "Makhluk rendah yang sudah dibuang dari surga meminta hak? kenapa tidak kalian pinta ke pencipta kalian?"
"Karena kamilah lebih hebat dari dia." Makhluk itu menunjuk dirinya sendiri. "Manusia yang kalian banggakan saja jatuh bertekuk lutut di hadapan kami, contohnya saja ayah kandung perempuan si tumbal gagal itu." Sambungnya sambil tetap menertawakan mereka.
"Dalam perjanjian kalian hanya menggoda manusia bukan menyakiti apalagi membunuh manusia," ujar Seroja.
"Oh, rupanya ada mantan bidadari disini." Tukas makhluk itu yang menoleh ke Seroja. "Jika kamu mau menjadi istri ke 159 raja kami, tentu hidup kamu akan lebih baik."
Seroja mengangkat dagunya dengan angkuh. "Makhluk rendah seperti kalian tidak akan pernah bisa menghina makhluk seperti kami, akan saya pastikan kalian semua akan hancur."
Makhluk itu tertawa lagi lalu menatap Seroja dengan tatapan mengejek. "Menarik, sangat menarik, memang cocok menjadi istri raja kami."
J turun dari pelukan karina dan naik ke bahu teman Jonathan. Teman Jonathan yang awalnya merasa gerah akhirnya luluh. "Hai kau makhluk hina dan rendah! dosa kamu sudah terlalu banyak, kalian sudah terlalu ikut campur dalam kehidupan manusia sampai turut menghilangkan nyawa. Sudah tugas kami, malaikat pencabut nyawa untuk membersihkan kalian sebelum ada korban lainnya."
__ADS_1
"Tidak mungkin kalian akan bisa," ejek makhluk itu. "Kalian membunuh kami, masih ada di luar sana yang melakukan hal sama dan kalian semua tidak akan bisa membasmi semuanya."
"Kalau begitu jangan salahkan kami melakukan hal ini." J mengeluarkan sesuatu dari kantong ajaib doraemon dengan susah payah.
"Mau aku bantu?" tawar teman Jonathan dengan prihatin. "Tangan bulat begitu pasti susah."
J dengan harga dirinya yang tinggi menolak mentah-mentah bantuan dari teman Jonathan. "Tidak, terima kasih." Lalu berhasil mengeluarkan sesuatu dari kantongnya.
Teman Jonathan menaikan kedua alisnya dengan heran. "Itu seperti-"
"Kamu mencuri tempat bedak aku?!" seru Andrea yang tidak percaya dengan penglihatannya.
"Berisik sekali sih, anak ini." J menghela napas dengan dramatis. "Mau ditolong gak?"
Andrea terdiam, Jonathan menepuk-nepuk lengan atas Andrea untuk lebih bersabar.
J membuka tempat bedak yang berbentuk bundar. "Kamu pasti tahu debu apa ini."
Makhluk itu melotot marah.
J dengan tampang senyum doraemonnya yang tadinya mengancam makhluk itu jadi terkesan lucu di mata Aya, Seruni dan Andrea.
J sempat menatap heran mereka bertiga sekilas lalu kembali mengancam makhluk itu. "Ini adalah tanah dari tanah suci, dimana tempat orang-orang berdoa. Kalian takut dengan tempat yang penuh doakan? Apalagi tanah."
Makhluk itu melangkah mundur untuk menyelamatkan diri, J meniup tanah itu ke arah si makhluk.
Makhluk itu tiba-tiba terbakar dan melolong kepanasan.
Kejadiannya yang begitu cepat dan mendadak itu membuat mereka berenam terpana.
"Ini yang tahu cara ini bukan sembarang orang, hanya makhluk khayangan yang mengetahuinya." Seroja menoleh ke J. "Siapa sebenarnya kamu?"
J memasukan kembali bedak ajaibnya itu ke dalam kantong doraemonnya. "Anggap saja aku doraemon."
Aya tidak tahan menahan tawa, ia tertawa keras begitu juga dengan Andrea dan teman Jonathan
Jonathan, Seruni dan Seroja terkejut.
"Astaga, ya ampun." Aya mengusap sudut matanya untuk menghapus air mata sementara Andrea memegang perutnya.
Jonathan menepuk-nepuk punggung Andrea dengan pelan.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud-." Andrea berusaha meredam suara tawanya.
__ADS_1
"Silahkan saja tertawa, memang kalian lebih suka melihat orang lain menderita."
Siiiing