
Pagi ini udara terasa sejuk, Iwan tampak pucat pasi menatap ke arah depan. Begitu banyak pepohonan di depan rumah, tapi hari ini Iwan tidak merasakan kesejukan dan keindahan. Hatinya menangis pilu, Iwan tidak bisa berbuat apa-apa.
Iwan merasa tidak berguna sebagai bapak, anaknya harus menderita. Elisa, gadis pintar apakah harus putus sekolah. Itulah yang ada dibenak Iwan sekarang. Iwan sudah tidak bekerja lagi karena penyakit paru-paru yang dia derita.
"Pak kenapa bapak termenung disini?" Siska menghampiri Iwan dan duduk di sampingnya.
Iwan hanya menatap sayu ke arah Putri sulungnya itu. Iwan kembali menatap ke deoan dengan tatapan kosong.
"Pak, apakah bapak sedih karena Elisa tidak bisa bersekolah?" tanya Siska lirih, dia pun merasa sedih memikirkan adiknya.
"Iya Nak, kasian adikmu. Bagaimana nasib dia apakah selamanya dia akan berjualan kue keliling. Huk...huk...huk!" Ujar Iwan sambil terus batuk.
Siska menatap wajah bapaknya, Terlihat raut kesedihan di wajah bapaknya. Siska beranjak dari tempat duduknya berlalu dari hadapan Iwan.
"Pak." Siska mengahampiri Iwan kembali.
"Iya nak." Iwan menatap anaknya. Tampak heran Siska membawa sesuatu.
"Siska punya tabungan pak, rencana Siska mau belikan mesin jahit jika terkumpul banyak. Tapi, Elisa lebih membutuhkan pak." Siska menyerahkan tabungannya pada Iwan.
"Nak, simpanlah bapak akan coba ke Juragan lagi. Semoga Juragan bisa meminjamkan uangnya lagi."
"Jangan pak, untuk kali ini berhenti hutang dulu. Hutang di juragan sudah sangat banyak pak. Siska takut rumah kita sebagai gantinya." Siska tampak lesu dan kali ini dia tidak setuju jika harus berhutang lagi. Siska takut tidak bisa membayar dan rumah menjadi gantinya.
"Siska ikhlas pak, Elisa harus sekolah. Siska akan kerja, dan membantu menyekolahkan Elisa." Ucap Siska sedih lalu memegang pundak bapaknya.
"Sungguh mulia hatimu nak, demi adikmu. kamu rela membuang keinginanmu." Iwan menatap bangga pada Siska.
"Pak, Elisa adikku. Apapun akan ku berikan untuk dia, bahkan nyawa sekalipun pak." Ucap Siska tersenyum matanya berkaca-kaca menahan sedih.
"Huussss ga boleh bicara seperti itu, kalian harus tumbuh sukses kelak." Iwan tampak bangga pada Siska.
"Aamiin!" Siska tersenyum lega.
"Pak, jangan bilang sama ibu ya!" Siska menatap sayu, dia merasa takut jika apa yang dia lakukan diketahui ibunya.
__ADS_1
"Iya nak ibumu jangan sampai tau." Jawab Iwan lirih.
Siska pun pamit untuk pergi mengambil pakaian tetangga yang akan dicuci. Sedangkan Elisa masih berjualan kue keliling.
"Bu dari mana baru pulang?" tanya Iwan bingung.
Nia tampak kelelahan membawa belanjaan.
"Dari pasar pak." Ujar Nia sambil berlalu dengan wajah cemberutnya.
Hati Iwan terasa tenang, ingin cepat-cepat memberitahukan kepada Elisa. Jika Elisa bisa bersekolah. Tidak sabar rasanya dia melihat wajah bahagia anaknya itu.
"Assalamualaikum," tiba-tiba Elisa pulang membuat Iwan senang.
Elisa melangkah dengan penuh riang. Dia sudah melupakan keinginannya untuk bersekolah. Dia hanya ingin berbakti kepada orang tuanya.
"Wah anak bapak sudah pulang." Wajah Iwan berseri-seri.
"Ehhh iya pak!" Elisa menghampiri bapaknya dan mencium tangannya.
"Ya pak." Elisa duduk di samping Iwan.
"Besok kamu jadi mendaftar sekolah."
"Apa pak?" Elisa menatap tak percaya dengan ucapan bapaknya. Elisa berpikir dari mana bapaknya mendapatkan uang.
"Bapak dapat uang dari mana, apakah hutang lagi di Juragan?" Elisa tampak murung, kali ini dia tidak setuju jika bapaknya harus meminjam uang di juragan itu.
"Sudahlah masalah itu jangan dipikirkan, itu urusan bapak." Iwan memegang pundak Elisa.
"Tapi kamu tidak bisa sekolah di SMK, karena biaya mahal." Iwan menatap lesu anaknya.
"Ga papa pak di SMA saja itu sudah membuat Elisa senang." Elisa memeluk bapaknya, hati Elisa seketika berubah menjadi bahagia. Beberapa hari ini dia terlihat murung dan kali ini dia sudah lega karena bisa melanjutkan sekolah dan meraih cita-citanya.
"Besok sama kakak kamu ya!" ucap Iwan tersenyum.
__ADS_1
"Iya pak Elisa istirahat dulu ya pak." Elisa berlalu dengan hati sangat gembira.
Tiba-tiba muncul Nia dengan wajah marah. Nia mengetahui jika Elisa bisa melanjutkan sekolah. Nia berharap Elisa berhenti sekolah dan membantu dia berjualan dan menikah agar beban hidupnya berkurang.
"Bapak sudah ibu bilang, sudahlah Elisa tidak harus sekolah buang-buang uang!" Nia berkacak pinggang dihadapan Iwan. Iwan tidak memperdulikan istrinya lalu beranjak menuju ke belakang rumah.
"Huhhhhhhhhhh nyusahin aja itu anak." Nia membanting pintu dan ngomel-ngomel sendiri karena ucapannya tidak dihiraukan oleh suaminya.
Keesokan harinya, Siska dan Elisa pergi mendaftar di sekolah SMA yang ada di kampungnya. Mereka menaiki sepeda bapaknya, perasaan Elisa sangat gembira, dia memeluk erat kakaknya dari belakang.
Elisa diterima di sekolah itu, karena penerimaannya tidak dites terlebih dahulu. Siska tampak bahagia melihat adiknya bahagia.
Dalam hati Siska tak henti-hentinya mengucap syukur, sudah diberi adik secantik dan sebaik Elisa. Siska memeluk adiknya Erat.
"Terimakasih kakak terbaikku." Elisa memeluk Siska, Elisa sangat beruntung memiliki seorang kakak yang begitu menyayanginya tulus.
"Hhhhmmmm adikku kalau ada maunya, Hehehehe...!" Siska mengelus kepala Elisa dengan penuh kasih sayang. Elisa semakin erat memeluk kakaknya manja.
Mereka pun kembali ke rumahnya dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Kakak adik itu bercanda sambil mengendarai sepeda yang sudah usang. Sepanjang jalan mereka sambil ngobrol dan bercanda. Tak terasa mereka tiba di rumah, Iwan sudah tak sabar menunggu mereka dan ingin tahu apakah Elisa diterima di sekolah SMA.
"Bagaimana nak, apa adikmu diterima?" tanya Iwan saat Siska masuk ke dalam rumah, Elisa ada di belakangnya.
"Alhamdulillah pak, Elisa diterima sekolah di sana." Jawab Siska senang lalu duduk di samping bapaknya, Elisa pun duduk di samping kakaknya.
"Alhamdulillah, belajar yang rajin nak. Semoga kelak cita-cita kamu tercapai. Semoga nasib kalian baik tidak seperti bapak." Ucap Iwan terharu.
Nia tiba-tiba muncul dengan wajah masamnya. Dia kesal karena suaminya tidak mendengarkan ucapannya.
"Sukses, mimpi bapak. Mau sekolah tinggi pun kalau perempuan ya nasibnya di dapur. Nggak perlu sekolah buang-buang biaya. Makan aja susah!" gerutu Nia kesal lalu menyalakan tv yang terlihat usang.
Siska yang mendengarnya pun merasakan sakit. Mengapa masih saja ibunya membenci Elisa yang selalu patuh padanya.
"Elisa ayo makan." Ucap Siska beranjak dari kursi dan diikuti Elisa. Siska tidak ingin Elisa mendengar celoteh ibunya yang akan membuat mentalnya lemah.
Iwan pun lebih memilih meninggalkan Nia yang masih marah. Iwan berjalan ke teras dan duduk di teras untuk menenangkan diri dari sikap istrinya.
__ADS_1