Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 57


__ADS_3

Sudah 3 hari Farhan dikampungnya. Dia belum mulai tugas di RS. Dia masih ada waktu untuk istirahat karena ada kesempatan istirahat selama 1 minggu baru mulai masuk kerja di tempat kerja yang baru. Farhan di tugaskan di RS yang ada di kota kelahirannya.


"Nak, mau ke mana sarapan dulu?" Ucap mamanya ketika melihat Farhan sudah terlihat rapi dan bersiap pergi.


"Farhan sarapan di luar aja ma." Ucap Farhan lalu meneguk susu yang ada di meja.


"Ma, Farhan mau jalan-jalan dulu mumpung libur. Ya mau ketemu teman-teman yang sudah lama tidak ke temu ma."


"Iya hati-hati." Ucap mamanya sambil menyiapkan makanan di meja makan.


Farhan dengan semangat ke luar rumah dia menyalakan mobilnya. Pertama yang ingin dia tuju hanya Elisa bukan yang lain. Sudah 5 tahun mereka terpisah dan ini saatnya Farhan menemui Elisa dan meminta maaf padanya karena selama 4 tahun Farhan tidak ada kabar.


Farhan menyusuri jalan kota, hatinya deg degan. Entah apa dan bagaimana ekspresi Elisa pertama kali ketika melihatnya. Senang, marah atau sedih pikiran Farhan berkecamuk menjadi satu. Rindu sudah sekian lama tidak bertemu, dia datang untuk dirinya. Untuk wanita yang sangat dia cintai.


Farhan bingung di mana alamat Elisa, dia tidak tau di mana alamat Elisa. Farhan berhenti di sebuah toko. Farhan turun dari mobilnya dan bertanya kepada karyawan toko siapa tau mengenal Elisa.


"Permisi" Ucap Farhan sopan pada pemilik karyawan toko.


"Iya ada yang bisa saya bantu?" Jawab karyawan toko seorang wanita muda dengan ramah.


Farhan melihatkan foto Elisa, yang di ambil dari berita-berita di media sosial.


"Oh iya aku tau, itu Elisa desainer terkenal itu. Tapi, maaf kalau alamatnya nggak tau. Cuman tau dari tv aja." Ucap karyawan itu tersenyum.


"Oh iya terimakasih." Farhan lalu meninggalkan toko itu dan masuk ke mobil lagi melanjutkan mencari alamat Elisa.


Farhan pun tetap semangat mencari alamat Elisa. Dan berhenti bertanya kepada orang yang Farhan temui.


Farhan berhenti di sebuah rumah makan, karena perutnya terasa lapar. Dia memilih untuk sarapan dulu dan melanjutkan mencari alamat Elisa.


Farhan memesan makanan, pikirannya belum tenang dan tidak sabar ingin cepat bertemu dengan Elisa.


Pelayan membawakan hidangan di meja Farhan.


"Mbak, maaf. Apa mbak mengenal wanita ini?" Farhan memperlihatkan foto Elisa pada pelayan.


"Ooo, ini bu Elisa desainer terkenal itu." Ucap pelayan dan melihat foto Elisa.


"Jadi mbak kenal sama Elisa?" Ucap Farhan tidak sabar.


"Kalau kenal tidak pak, iya bu Elisa sering makan di sini. Dan suka pesan makanan di sini pak."


"Kalau begitu, apa mbak tau alamatnya?" Ucap Farhan ingin tahu.


"Iya pak, sebentar saya lihat dulu daftar pelanggan yang suka pesan makanan pada kami." Ucap pelayan ramah lalu masuk mencari alamat Elisa di daftar buku pemesan.


Farhan tidak sabar menunggu pelayan memberitahukan alamat Elisa. Farhan tidak mencicipi makanannya dia lebih fokus dan tidak sabar ingin segera tahu alamat Elisa.


Terlihat pelayan menghampiri Farhan dan memberikan selembar kertas kecil.

__ADS_1


"Mbak terimaksih banyak ya atas bantuannya. Ini tips buat mbak." Farhan memberikan 1 lembar uang merah.


"Pak, nggak usah." Pelayan menolak pemberian Farhan tapi Farhan meninggalkan pelayan dan tersenyum lalu membayar makanannya di kasir tanpa memakannya sedikitpun.


Dengan semangat Farhan mencari alamat Elisa, ke sana ke mari Farhan mencari. Tak lama kemudian Farhan melihat rumah yang begitu megah lebih besar di banding dengan rumahnya. Farhan berhenti dan masih di dalam mobil melihat rumah yang begitu besar dan megah.


"Benarkah ini rumah Elisa, jangan-jangan mbak itu salah lagi?" Farhan terdiam melihat rumah dan mencocokkan alamat yang tertera di kertas.


"Tapi, sama dengan alamatnya." Farhan tampak bingung.


Farhan turun lalu memencet tombol pagar, satpam membuka pagar.


"Ya pak, ada yang bisa saya bantu?" Ucap satpam ramah.


"Saya mau bertemu bu Elisa, apa benar ini rumah bu Elisa desainer itu?" Ucap Farhan ragu-ragu.


"Oh iya pak, ibu kebetulan ada di rumah. Silahkan masuk saja."


"Terimakasih pak." Ucap Farhan lalu masuk ke dalam mobil dan masuk ke halaman rumah Elisa.


Farhan turun dari mobil, Farhan benar-benar kagum dan terkejut dengan kesuksesan Elisa. Mata Farhan ke sana ke mari melihat rumah Elisa. Terpakir mobil mewah milik Elisa.


"Ya Allah, 5 tahun ternyata begitu cepat dia meraih kesuksesan." Bisik Farhan bangga.


Deg degan kaki Farhan melangkah mendekati pintu rumah Elisa. Farhan memencet tombol pintu. Tangannya gemetar, rasanya seperti mimpi dia sudah berdiri di depan rumah Elisa.


Ting tong 3x


"Wa'alaikumsalam pak. Mau bertemu ibu?"


"Iya bi." Ucap Farhan tersenyum tapi wajahnya tegang.


"Siapa bi?" Ucap Elisa dari dalam, Elisa sedang membawa bunga hias untuk meletakkannya di meja.


"Ada tamu bu."


Elisa menghampiri bibi ketika dekat betapa terkejutnya Elisa. Senyuman Farhan membuat jantung Elisa berdetak sangat kencang. Tangannya gemetar melihat siapa yang ada didepannya dan Elisa tidak menyangka Farhan datang menemuinya.


Praakkkkkk


Vas bunga kecil yang ada di tangan Elisa terjatuh.


"Bu tidak apa-apa?" Ucap bibi khawatir.


"Tidak bi, oya bi bibi masak dulu ya." Ucap Elisa masih terkejut dengan kedatangan Farhan.


Bibi meninggalkan mereka di dapur, bibi ingin membereskan pecahan vas bunga. Tapi, Elisa melarang. Elisa memungut pecahan vas bunga.


"Elisa, apa kamu lupa sama aku?" Suara Farhan mengagetkan Elisa yang sibuk memungut pecahan vas.

__ADS_1


"Kak, kak Farhan?" Ucap Elisa gelagapan.


"Iya Elisa, aku Farhan. Kenapa kamu membiarkan aku berdiri di sini." Ucap Farhan di dekat Elisa dan ikut memungut pecahan vas.


Deg jantung Elisa berhenti berdetak, tak terasa air matanya menetes. Elisa menatap Farhan lalu Elisa menghapus air matanya.


"Elisa kenapa kamu nangis?" Farhan menatap Elisa.


"Nggak ka, nggak tau ada yang masuk di mata." Ucap Elisa berbohong.


"Oya, maaf kak silahkan duduk." Elisa menuju sofa, Farhan duduk di depan Elisa.


"Elisa, Alhamdulillah sekarang kamu sukses. Aku nggak nyangka kamu sudah sesukses seperti sekarang ini." Farhan menatap bangga.


"Iya kak, Alhamdulillah. Bagaimana apa kak Farhan sudah jadi dokter sekarang?" Ucap Elisa menutupi ketegangannya.


"Alhamdulillah sudah Elisa, dan sesuai janjiku aku akan datang menemuimu." Ucap Farhan tersenyum.


Deg hati Elisa terasa perih, bagaimana jika Farhan tau dia pernah menikah. Dia akan menyangka dia telah menghianatinya.


"Elisa, hp aku dulu hilang jadi kontak Tini hilang. Maaf ya." Ucap Farhan merasa bersalah.


"Iya kak nggak apa-apa." Ucap Elisa lembut.


"Vino, cup cup cup jangan rewel sayang." Tiba-tiba Rita keluar dan menggendong Vino.


"Kenapa Vino Rit?" Elisa menghampiri Rita lalu menggendong Vino.


"Hehehe, bangun langsung nangis bu."


"Cup cup sayang, pasti gini kalau mau di tinggal tante kuliah. Rewel aja, kalau ikut tante nanti tante nggak dapat cowok." Ucap Elisa menggoda Rita. Rita tertawa geli mendengar Elisa menggodanya.


Farhan bingung dengan apa yang dia lihat.


"Elisa itu siapa?" Ucap Farhan sayu.


"Kak, ini anak aku" Elisa bingung menjawabnya pasti akan melukai hati Farhan.


"Anak, jadi aku terlambat Elisa." Wajah Farhan tampak sedih.


"Alhamdulillah kamu sudah bahagia, kehidupan kamu sekarang sudah lengkap. Maaf ya nak om tidak tau, jadi om tidak beli mainan." Ucap Farhan tersenyum walau sebenarnya hatinya sangat perih.


Elisa tersenyum, dia tau dari sorot mata Farhan ada kesedihan dan kekecewaan.


"Elisa, aku pamit salam buat suami kamu. Nak, om pamit ya." Farhan tersenyum lalu meninggalkan rumah Elisa. Di dalam mobil, air mata Farhan menetes dia laki-laki tapi dia bisa menangis ketika hatinya patah.


"Bu, dia siapa?" Rita tampak bingung.


"Panjang ceritanya Rita, tapi aku tidak menyangka dia masih setia." Elisa duduk lesu memangku Vino.

__ADS_1


Rita penasaran apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia harus kuliah. Lalu pamit pada Elisa dan mencium Vino yang masih rewel.


** Jangan lupa like dan komen. Vote juga ya, dukung author supaya semangat berkarya. Terimakasih.


__ADS_2