
Farhan kembali ke rumah, pikirannya terpecah. Memikirkan pernikahan dengan Putri dan cintanya pada Elisa, jika Farhan membatalkan pernikahannya dengan Putri orang tuanya akan malu. Farhan terlihat lesu turun dari mobil, dia melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan.
"Nak sudah pulang?" Ucap Santy saat sedang santai di ruang TV.
"Iya ma." Jawab Farhan lesu langsung masuk ke kamar.
Mita yang asyik nonton TV melihat gerak gerik kakaknya. Mita melihat ada kebingungan di wajah kakaknya, apa kakaknya sudah mengambil keputusan. Mita berniat memberi tahu tentang Elisa pada kakaknya.
Santy ke taman belakang untuk menyiram bunga, Mita menuju ke kamar kakaknya. Mita ingin memberitahukan status Elisa pada Farhan.
Clek
Mita membuka pintu kamar Farhan, Farhan yang sedang duduk termenung ke dua tangannya memegang kepalanya terkejut karena pintu di buka.
"Heh, dasar anak kecil masuk nggak pakai permisi. Kalau kakak sedang tidak pakai apa-apa gimana?" Ucap Farhan kesal matanya membelalak menatap ke arah Mita.
"Hehehehe, itu salah kakak sendiri ya di kunci lah kalau nggak mau di buka." Ucap Mita tertawa geli.
"Hhmm, mau apa mau minta uang jajan?" Ucap Farhan menatap Mita.
"Ehhh, enak aja uang jajan aku masih cukup." Ucap Mita cemberut.
"Aku cari kakak tu mau kasih tau kabar gembira." Ucap Mita kegirangan.
"Kabar gembira apa?" Farhan mengernyitkan dahi.
"Sssssstttttttt, jangan keras-keras kakak nanti nyonya besar dengar." Ucap Mita cekikikan sambil menempelkan jarinya di bibir.
"Resek ya kamu, mama kamu bilang nyonya besar."
"Ya habis apapun permintaan mama selalu saja mau dituruti terutama kakak harus Nikah sama model palsu tu." Ucap Mita kesal lalu duduk di samping kakaknya.
"Huss nggak boleh gitu, walau bagaimana pun mama adalah orang tua kita. Mama memaksa bukan tidak ada, maksud orang tua kita ingin melihat anaknya bahagia." Ucap Farhan tersenyum sambil mengacak-acak rambut adiknya.
"Kak, tau nggak?" Ucap Mita menatap Farhan yang duduk di sampingnya.
"Nggak tau apa?" Ucap Farhan mengerdipkan matanya menggoda adiknya.
"Emmm, kak Elisa janda lo."
"Terus, lagian kamu anak kecil kepo amat sama kehidupan orang. Emang Elisa itu siapa coba?" Farhan pura-pura tak mengerti.
"Ya Elisa cinta mati kakak." Jawab Mita kesal.
"Hahahaha, dasar kepo anak kecil mau aja tau urusan orang dewasa kamu." Ucap Farhan geli sambil mengacak-acak rambut adiknya.
"Hihhh kakak, aku kepo karena kakak. Untung punya adik jiwa keponya tinggi jadi tau kan orang yang dicintai kakaknya tu masih cinta banget sama kakaknya." Ucap Mita pura-pura cemberut.
"Mmmm, ya ya makasih ya dek. Tapi, kakak 2 minggu lagi nikah dek persiapan sudah 95 persen dek." Ucap Farhan lesu.
"Mmm, iya sih kak. Kakak mikir kerugian ya?" Mita menatap bingung.
"Kerugian nggak itu, harta bisa di cari. Cuman bagaimana dengan mama papa mereka akan malu kalau pernikahan ini sampai batal."
"Mmmm iya sih." Ucap Mita lesu.
__ADS_1
"Kamu tenang ya dek, kakak yang akan nentuin gimana nasib kakak. Makasih ya udah mikirin kakak kamu." Andrian merangkul pundak Mita lalu mengelus rambutnya.
"Mita pengen lihat kakak bahagia, Mita tahu kebahagiaan kakak hanya bersama kak Elisa. Jadi, kakak harus mikir apa yang baik buat kalian, ingat cepat sebelum terlambat. Penyesalan datang selalu terlambat." Ucap Mita lalu beranjak meninggalkan kamar kakaknya.
Farhan memikirkan ucapan adiknya, Farhan tidak ingin menyesali apapun keputusannya. Jika dia memilih melanjutkan pernikahan dia harus benar-benar menerima Putri agar bisa hidup bahagia. Tapi, jika lebih memilih Elisa dia harus bisa membatalkan pernikahan dengan baik-baik.
Farhan bersiap mandi, selesai mandi Farhan bersiap untuk shalat maghrib berjamaah bersama keluarganya di rumah. Adzan maghrib terdengar mereka pun melaksanakan shalat maghrib. Papa Farhan sebagai imamnya. Selesai shalat mereka berkumpul di ruang keluarga, bibi menyiapkan makan malam.
"Bagaimana persiapan pernikahan kamu nak?" Ucap Ahmad lalu meneguk kopi.
"Lancar pa." Jawab Farhan dengan wajah datar.
"Undangan juga sudah disebar semua ya?"
"Iya pa." Ucap Farhan lalu meneguk teh hangatnya.
"Baguslah nak, semoga pernikahannya lancar." Ucap Santy di samping suaminya.
Farhan beranjak dari duduknya, dia seperti pusing mendengar tentang pernikahannya. Farhan menuju ke kamarnya. Farhan mengganti pakaiannya, Farhan ingin pergi menemui seseorang. Farhan keluar dari kamar sudah tampak rapi.
"Mau kemana Farhan?" Ucap Santy ketika melihat Farhan tampak rapi.
"Mau ngopi di luar sama teman ma." Ucap Farhan lalu bergegas keluar rumah.
"Hmmm, diajak makan malam di rumah susah banget pa." Ucap Santy menggelengkan kepala.
"Ya sudahlah ma namanya anak muda." Ahmad meletakkan majalah bisnis di meja lalu beranjak ke meja makan. Santy memanggil Mita dikamarnya untuk makan malam.
Farhan menaiki mobilnya, sepanjang jalan Farhan tampak bingung memikirkan keputusannya. Farhan tidak mau salah mengambil keputusan. Farhan menyusuri jalan gelap yang tersorot lampu kota, Farhan benar-benar bingung mau kemana tujuannya malam ini.
Farhan memencet bel pagar, satpam dari dalam membukakan pagar. Farhan yang ke luar dari mobil menghampiri satpam.
"Pak apa saya bisa bertemu ibu?" Ucap Farhan ragu-ragu.
"Maaf bapak siapa, apa ada janji sama ibu?" Ucap satpam sopan.
"Saya Dokter Farhan."
"Oh iya mari silahkan parkirkan mobilnya di sana." Ucap satpam menunjukkan parkir yang ada di rumah majikannya.
Farhan pun memarkirkan mobil, dengan ragu-ragu Farhan turun dari mobilnya dan berjalan menuju pintu rumah yang sangat megah.
Ragu-ragu Farhan memencet tombol pintu. Berulangkali Farhan memencet tombol pintu, tapi tidak ada yang mendengar.
"Ting tong 5x
Clek
Terbuka dari dalam bibi membukakan pintu dan tersenyum ramah pada Farhan.
"Pernah kenal, bapak yang pernah ke sini?" Ucap bibi ramah.
"Iya bi." Jawab Farhan lembut dan tersenyum.
"Maaf kami habis shalat pak, mari silahkan masuk."
__ADS_1
"Iya bi terimakasih." Farhan lalu mengikuti bibi menuju ruang tamu.
"Siapa bi?" Tanya Elisa dari dalam masih menggunakan mukena.
"Ini pak . . . ." Jawab bibi bingung.
"Loh Dokter Farhan?" Elisa terkejut tamunya adalah Farhan, tapi Elisa berusaha menutupi ketegangannya dan duduk di depan Farhan.
"Iya Elisa, maaf bertamu malam-malam Vino mana sudah tidak sakit lagi kan?"
"Alhamdulillah Vino sehat Dokter, tapi ya belum mau ditinggal ibunya." Ucap Elisa tersenyum.
"Iya seorang ibu harus memprioritaskan anaknya dari pada pekerjaannya Elisa. Semoga Vino selalu sehat dan kamu juga bisa beraktivitas seperti biasa."
"Aamiin. Semoga Dokter."
"Elisa, mana ayahnya Vino aku mau kenal?" Ucap Farhan pura-pura tidak tau.
"Mmmm itu di." Ucap Elisa gelagapan.
"Elisa kenapa sih kamu harus bohong, kamu sudah pisahkan sama ayahnya Vino?" Ucap Farhan menatap Elisa.
"Iya maaf." Ucap Elisa lirih dan tampak lesu.
"Elisa, aku sudah tau semua cerita tentang kamu bagaimana penderitaan kamu. Bagaimana perjuangan hidup kamu, sungguh kamu wanita hebat wanita luar biasa Elisa."
"Ya itu udah jalan hidup aku Dok." Ucap Elisa tersenyum getir.
"Kok manggil Dok, bukannya dari dulu manggilnya kak Farhan?" Farhan menggoda Elisa.
"Mmm itu cerita dulu, Dokter kan mau nikah jadi nggak boleh lah manggil dengan sebutan itu."
"Iya aku mau nikah, masak kalau udah nikah kamu mau manggil suami kamu dengan sebutan Dok?" Ucap Farhan tersenyum.
Elisa membelalak mendengar ucapan Farhan. Jantungnya berdetak tak beraturan apa maksud perkataan Farhan padanya.
"Elisa, apa kamu masih mencintai aku?" Ucap Farhan menatap sayu.
"Cinta?" Jawab Elisa gelagapan.
"Hmm." Jawab Farhan mengangguk.
"Bukannya kak Farhan mau nikah, kok bahas soal kita. Ini cerita udah lama kak, kakak sudah mau bahagia kan sama Putri. Sudahlah kak lupain cerita kita." Ucap Elisa bingung.
"Elisa aku tidak pernah mencintai Putri, aku hanya mencintai kamu. Aku akan batalkan pernikahan aku dengan Putri." Ucap Farhan mantap.
"Apa, nggak bisa gitu. Aku nggak mau ngerusak hubungan orang, apa itu namanya pelakor. Aku nggak mau, lagian aku ini janda Kak Farhan." Ucap Elisa supaya Farhan mengerti.
"Kalau janda emang kenapa, aku mencintai kamu. Aku tidak pernah mencintai Putri udah soal pernikahan itu urusan aku, yang penting aku sudah mengatakan bagaimana perasaan aku ke kamu. Kamu istirahat ya." Ucap Farhan tersenyum lalu beranjak dari sofa.
"Assalamualaikum" Ucap Farhan lalu berlalu dari hadapan Elisa.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Elisa dengan perasaan yang masih bingung dengan ucapan Farhan yang memintanya untuk kembali. Elisa tidak ingin menghancurkan hubungan orang lain. Elisa tidak mau bahagia di atas penderitaan orang lain. Elisa masuk ke dalam kamar baring di dekat Vino, sambil mengelus lembut pipi Vino Elisa memikirkan ucapan Farhan yang membuatnya bingung.
"Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan vote. Terimakasih.
__ADS_1