Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.35


__ADS_3

"Bapak, Elisa dimana?" Nia teriak-teriak panik.


"Pergi." Jawab Iwan singkat.


"Pergi gimana, bapak jangan macam-macam ya. Besok pernikahan dia, bagaimana bisa pergi?" Nia tampak mondar-mandir.


"Bagaimana kalau Juragan sampai tau, habislah kita." Nia tampak sangat marah dengan suaminya.


"Ya kita hadapin, kita tidak boleh nyerah gitu saja." Ucap Iwan tenang.


"Enak saja bapak ngomong, Juragan akan mengusir kita. Kita mau jadi gelandangan?" Nia duduk didepan suaminya menatap tajam.


"Lebih baik bapak jadi gelandangan, matipun bapak rela." Iwan tampak cuek.


"Hey itu mau bapak, tapi aku tidak mau ya hidup miskin terus." Jawab Nia lantang.


"Bu sadar Elisa anak kita, ibu rela anak kita menderita menikah dengan orang yang lebih pantas menjadi bapaknya?" Iwan menatap sayu.


"Dia bukan anakku, tapi anak mantan kamu itu. Bahkan kamu sudah menikah dengan ibu, bapak masih menjalin hubungan dengan dia." Mata Nia tampak merah.


"Istigfar bu, jangan seudzon terus. Marni memang mantan bapak, tapi setelah kita nikah aku dan Marni gak ada hubungan apa-apa, kami berteman bersaudara suaminyapun juga." Iwan bingung meyakinkan istrinya.


"Hah sudahlah, dari dulu ibu sudah tidak setuju bapak membawa pulang anak wanita itu." Nia meninggalkan suaminya pergi kedapur.


Perasaan Nia benar-benar kacau, satu demi satu tetangga mulai berdatangan untuk membantu. Hanya beberapa tetangga saja.


"Kasian ya bu, Elisa harus nikah sama aki-aki." Ucap tetangga.


"Iya orang tuanya gak punya hati." Bisik-bisik tetangga lain.


"Begitu kalau harta yang dipikirin, anak jadi taruhan." Ujar tetangga lagi.

__ADS_1


"Mentang-mentang bukan anak kandung." Jawab tetangga lain.


"Kalau aku jadi Elisa kabur, biar aja mereka hidup susah. Kasian kamu Elisa, pasti masih nangis dikamar." Ucap tetangga sedih.


"Husttt, nanti kedengaran yang punya rumah." Ucap tetangga mengingatkan.


"Elisa, ayo ibu antar kamu pulang!" Maya menatap sedih Elisa.


Elisa terdiam dan menatap sedih bu Maya air matanya mengalir.


"Tenang nak, kamu jangan takut mintalah pertolongan pada Allah."


Elisa mengangguk lalu memeluk erat Maya.


"Hiks hiks hiks air mata Elisa membanjiri pipinya.


"Ayo!" Maya menggandeng Elisa menuju mobil.


Sampailah dirumah Elisa, hati Elisa bimbang mau masuk kerumah atau ikut bu Maya lagi.


"Ayo, ibu antar." Maya turun dari mobilnya.


Elisa hanya diam dan berjalan disamping Maya tanpa melepas pegangan tangannya.


"Assalamualaikum!" Maya mengucapkan salam.


Iwan terkejut dan berlari kepintu.


"Bu, kenapa ibu membawa Elisa kembali. Tolong bantu kami bu, selamatkan Elisa." Iwan tampak memohon.


"Tenang pak, mintalah pertolongan pada Allah. Kabur kemanapun Elisa, Juragan akan terus mencarinya." Maya tersenyum.

__ADS_1


"Hey Elisa, kamu kabur?" Nia melotot kearah Elisa.


"Terimakasih bu Guru sudah membawa pulang Elisa." Nia pura-pura ramah.


Maya hanya terdiam mendengar kata-kata Nia. Hatinyapun jengkel kenapa ada ibu sejahat itu meski hanya ibu angkat.


"Ayo kembali dikamarmu, nanti dilihat tetangga!" Nia mengajak Elisa kekamar.


"Untung tetangga dibelakang tidak melihat. Bisik Nia lirih.


"Eh anak tak tau diri, berani ya kamu kabur." Nia menarik rambut Elisa.


"Aduh!" Elisa meringis menangis, bukan karena rambutnya ditarik tapi hatinya yang perih.


"Hiks hiks!" Elisa sesenggukan.


"Diam, nanti semua tetangga tau!" Hardik Nia pelan.


"Pak Iwan tenang saja, yakin pada Allah. Pasti Allah akan menyelamatkan anak sebaik Elisa." Maya memberi semangat Iwan.


"Bagaimana bisa tenang bu, besok pernikahannya." Iwan menatap Maya tak mengerti.


"Serahkan pada Allah, berdoalah untuk anak bapak."Maya tersenyum tapi wajahnya sangat sedih.


"Jika Elisa kabur, justru hidupnya tidak akan tenang. Karena setiap geraknya ketakutan kalau Juragan tau dan pasti akan menangkap Elisa." Ucap Maya.


"Baiklah bu, saya mengerti semoga Allah melindungi anak saya bu." Jawab Iwan lirih.


"Baiklah pak, saya pamit. InsyaAllah besok saya kesini lagi." Ucap Maya lalu meninggalkan rumah Iwan.


"Huh syukur dia kembali, kalau tidak pasti akan terjadi keributan besok." Nia tampak senang.

__ADS_1


Iwan menatap penuh emosi keistrinya, bingung kapan istrinya akan sadar dan menerima Elisa menjadi anaknya.


~ Jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like, dan komennya. Jika berkenan vote ya. Terimakasih🙏


__ADS_2