Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.33


__ADS_3

"Elisa!" Farhan terbangun memanggil nama Elisa karena mimpi buruk tentang Elisa.


Jantung Farhan berdetak sangat kencang, nafasnya tak beraturan. Entah mengapa perasaannya tidak enak.


Farhan bergegas menuju kekamar mandi untuk mencuci muka. Setelah mencuci muka, Farhan duduk disofa dan meminum air putih.


"Hmm,masih jam 3." Farhan menatap jam dinding.


"Ada apa denganku, kenapa aku begitu gelisah." Andrian tampak bingung dengan perasaannya.


"Apakah kamu baik-baik saja Elisa, maafin aku tidak pernah ngasih kabar kekamu karena hp ku hilang, kontak Tini pun aku sudah tidak tau." Ucap Farhan lirih.


Farhan mengambil foto Elisa didompet, dan menatap foto Elisa.


"Elisa, sampai sekarang perasaanku masih sama untukmu. Tidak ada yang lain selain dirimu." Farhan menatap sedih foto Elisa.


"Demi sebuah cita-cita dan masa depan, aku harus rela jauh darimu." Farhan kembali merebahkan tubuhnya diranjang.


"Suatu saat nanti, aku akan datang dan membahagiakanmu Elisa." Farhan menatap langit-langit kamar.


"Ya Allah, mohon petunjukmu ya Rabb. Apakah takdirku harus menikah dengan pria tua itu. Bisik Elisa dalam doa." Airmatanya mengalir begitu deras.


"Hiks hiks hiks, apakah aku tidak layak bahagia ya Rabb, apakah aku tidak berhak menolak? Ya Allah Ampuni hambamu yang tidak pandai bersyukur." Elisa benar-benar putus asa.


"Bagaimana jika aku menolak kami akan tinggal dimana, bapak sakit. Aku tidak tega melihatnya." Elisa mengadukan kesedihannya dishalat sepertiga malam.


Dada Elisa terasa sesak, penderitaannya dari kecil tak kunjung sirna. Perlakuan ibunya yang kasar, perjuangan hidupnya yang berat. Dan kini masa depannya harus hancur.

__ADS_1


Dia ingin seperti anak yang lain disayang ibu, didengar keluh kesahnya. Dan diberi hak untuk menjalani hidupnya.


"Juragan, kenapa ada manusia seserakah dia." Gerutu Elisa sambil melipat mukena.


"Apakah masih kurang istri sebanyak itu, apakah semua orang kaya seperti itu. Bisa membeli apapun dengan uang, termasuk dirinya. Hiks hiks!" Elisa menangis menutup mukanya.


"Kak Farhan, kenapa kamu tidak pernah kabari aku lagi. Apakah kamu sudah berubah?" Elisa tiba-tiba teringat Farhan.


"Benda ini masih aku simpan, apakah dulu itu hanya janji palsu." Air mata Elisa terus mengalir.


"Kak Farhan, aku hanya ingin semoga kamu selalu dalam lindungannya. Dan tetap seperti kak Farhan yang dulu aku kenal."


Tak terasa adzan shubuh berkumandang, Elisa shalat shubuh. Setelah shalat subuh seperti biasa Elisa membersihkan rumah.


"Elisa, kamu harus perawatan supaya Juragan kagum melihat kecantikanmu saat pengantin nanti." Ucap Nia sambil membuat kopi.


Degggg


"Jangan bikin malu ibu bapakmu, kamu harus tampil cantik. Jadi istrinya orang kaya, penampilan jangan gitu-gitu aja!" Nia melirik Elisa.


Elisa hanya diam menahan perih karena ucapan ibunya.


Iwan tampak duduk diruang tamu, tampak raut kesedihan. Dan seperti kurang tidur, terlihat dari matanya.


"Pak, kita akan jadi orang kaya, rumah mewah, Kebun luas, barang-barang mewah, bulanan lancar. Kita tinggal duduk aja hahaha." Ucap Nia kegirangan.


Prakkkkk

__ADS_1


"Bu!" Iwan memukul meja.


"Berhenti menjadikan anakmu sebagai barang yang bisa kamu ganti dengan kemewahan." Ucap Iwan emosi.


"Kalau bapak gak suka terserah bapak, tapi awas bapak menghalangi pernikahan Elisa. Ibu minta cerai paham!" Nia dengan emosi meninggalkan Iwan.


Iwan duduk lemas tak berdaya, bagaimana dia bisa menyelamatkan Elisa. Sedangkan bekerjapun dia tak mampu.


Elisa menatap bapaknya dengan hati perih, perjuangan seorang ayah yang tak akan pernah Elisa lupakan. Bapak terbaik yang Elisa miliki sungguh perih melihat bapaknya sedih seperti itu.


"Pak mungkin ini takdir Elisa. Biar Elisa jalani saja pak." Elisa menghampiri bapaknya.


"Jangan bilang ini takdir nak, ini hanya kelakuan orang tua yang serakah itu. Yang hatinya sudah dikuasai iblis." Iwan menatap sayu Elisa.


"Hiks hiks hiks" Elisa memeluk bapaknya.


"Pak, kenapa ibu membenci Elisa pak?" Ucap Elisa tersedu.


Degggg


Nafas Iwan seakan berhenti berdetak.


"Dia bukan ibu kandungmu nak, dia membencimu karena Marni ibumu adalah mantan bapak dulu. Jadi ibumu sangat membenci anak mantan bapak." Ucap Iwan dalam hati.


Iwan membelai rambut anaknya, hatinyapun terasa sakit. Melihat anaknya yang baik dan cerdas harus menderita.


~ Jangan lupa tinggalkan jejak, like vote dan komennya ya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2