Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 77


__ADS_3

Pernikahan Elisa tinggal dua hari lagi, waktu begitu cepat berjalan. Farhan meski sibuk mempersiapkan pernikahannya, dia masih sibuk bertugas di rumah sakit. Farhan akan libur di hari H.


Di rumah orang tua Elisa sudah rame dengan tetangga yang sibuk membantu persiapan pernikahan untuk menjamu tamu undangan. Wedding organizer pun sudah sibuk mendekor pelaminan yang bernuansa putih.


Siska dan Beni bersama kedua anaknya pun sudah datang dari Medan. Mereka sudah berkumpul bersama keluarga. Elisa menanggung semua perjalanan keluarga kecil kakaknya. Karena Beni kakak iparnya hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan. Dengan gaji yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari.


Kedua anak Siska terlihat asyik bermain dengan Vino di lantai. Mainan Vino berserakan di lantai, mereka terlihat sudah sangat akrab.


"Alhamdulillah sayang, kakak bahagia sekali. Adek kakak sekarang sudah sukses menjadi desainer terkenal. Rumahnya mewah, besar punya mobil mewah. Kakak seperti sedang bermimpi dek." Ucap Siska terharu dia duduk di samping Elisa. Sementara Beni tengah ngobrol di teras bersama bapak dan tetangga.


"Iya Alhamdulillah nak, adik kamu sekarang dikenal di mana-mana. Ibu sama bapak saja dibangunin rumah. Ini rumah bisa bagus karena adik kamu!" puji Nia dengan membawa jus untuk mereka.


Siska terharu mendengar ucapannya, begitu banyak perubahan selama dia pergi dari rumah ikut dengan suaminya. Bahkan ibunya yang sangat membenci Elisa kini berubah menyayanginya. Elisa pun tidak pernah membenci ibunya meski mendapat perlakuan tidak adil.


Siska menatap bangga pada sosok adiknya itu. Saat kecil berjuang untuk keluarganya tanpa malu sedikit pun. Kini ketika dewasa dia memetik hasilnya, meski Siska tau perjuangannya tidak mudah.


Siska selalu tau kabar buruk tentang adiknya tentang rencana dia akan dinikahi juragan dan akhirnya menikah dengan anak juragan. Namun, Siska tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya melalui sambungan telepon Siska memberi semangat untuk adiknya.


"Kak, kakak sama kak Beni pindah di sini aja. Biar kita dekat kak." Ucap Elisa sedih bercampur bahagia.


"Dek, kalau kita sudah berkeluarga lebih nyaman itu tinggal berpisah dari orang tua. Karena kalau ada masalah hanya kita berdua yang tau." Jawab Siska lembut.


"Iya nggak harus tinggal sama ibu bapak kak, tapi setidaknya tidak jauh. Elisa suka sedih kak kalau lagi kangen, tapi gak bisa ketemu."


Siska tersenyum menatap adiknya yang terlihat sedih. "Iya kakak nabung dulu sayang biar bisa beli rumah di sini."

__ADS_1


"Aamiin." Jawab Elisa tersenyum.


Elisa dan Siska melihat ke arah anak-anak mereka yang tengah asyik bermain. Elisa dan Siska tersenyum bahagia melihat kedekatan saudara sepupu yang tidak pernah bertemu sejak lahir karena jarak sangat jauh.


"Lihat anak-anak kak, mereka bahagia sekali. Kakak-kakaknya bisa jagain adiknya. Kalau mereka dekat mereka bisa bermain bersama. Kalau Elisa sibuk, Vino bisa sama kakak." Ucap Elisa terharu.


"Kamu mah curang, mau nitipin anak ke kakak." Ucap Siska menggoda.


"Hehehehe, harus dong emang tugas kakak gitu. Jagain ponakan." Elisa balik menggoda.


"Iya benar dek, kakak pun ingin dekat dengan kalian. Kakak suka sedih saat ingat kalian. Semoga kita bisa terus kayak gini ya dek."


"Aamiin kak." Ucap Elisa tersenyum.


Mereka pun ngobrol di ruang tengah sambil mengawasi anak mereka yang bermain di lantai. Tetangga masih sibuk di dapur mempersiapkan sesuatu yang akan dihidangkan saat acara nanti. Nia pun sibuk bersama tetangga, Nia sangat bahagia menyambut hari bahagia anaknya itu.


Semenjak menikah dengan Bagas, Laras memutuskan untuk berhenti dari dunia modeling dan menekuni bisnis di bidang kecantikan. Sedangkan Bagas seorang Ceo yang cukup sukses di bidang property.


"Nak kamu di mana, apa kamu juga merindukan mama?" batin Laras perih.


"Apa kamu sudah menikah dan mama memiliki cucu. Jika kamu merindukan mama dan papa kenapa kamu tidak mencari kami nak?" bulir air mata Laras mengalir di pipinya. Setiap hari Laras hanya memikirkan anaknya, Laras sudah sangat merindukannya.


Entah mengapa setiap hari perasaan Laras semakin rindu ingin bertemu dengan anaknya. Anak yang dari bayi dia titipkan pada ARTnya. Kini dia menyesal dan ingin menebus kesalahannya. Laras memiliki segalanya, kemewahan apapun Laras bisa mendapatkannya. Namun, kehidupannya terasa hampa dan tidak merasakan kebahagiaan.


Laras menarik napas panjang, tatapan matanya tertuju pada sebuah majalah baru yang kemarin baru Laras beli. Majalah fashion, Laras meraih majalah itu dan membuka majalah yang belum dia buka setelah dia membelinya.

__ADS_1


Banyak model gaun yang sangat indah rancangan desainer terkenal. Dulu saat Laras menekuni dunia modeling setiap ada rancangan terbaru, Laras selalu tak ingin ketinggalan untuk memesannya. Tapi, kini dia sudah tidak seperti dulu lagi yang hanya memikirkan kebahagiaannya. Dia hanya ingin bertemu dengan anak semata wayangnya yang lama terpisah.


Tatapan matanya kosong meski dia membuka lembar demi lembar majalah fashion. Tapi seketika dia melihat seorang wanita muda berhijab dan majalah itu memberitakannya. Seorang desainer muda yang sangat sukses akan melangsungkan pernikahannya. Laras menatap seakan mengenal dia, Laras menatap terus wajah desainer itu.


"Cantik sekali, masih muda sungguh membanggakan. Beruntung kedua orang tuamu memilikimu nak!" batin Laras tersenyum getir, matanya terlihat sendu.


"Andai kamu ada di pangkuan mama, mungkin kamu juga seperti dia nak. Kamu akan sukses, kamu bisa seperti wanita ini." Seketika dada Laras terasa sesak, lagi-lagi dia mengingat bagaimana nasib anaknya. Ada kekhawatiran anaknya tidak mendapat kehidupan yang layak. Karena, Laras menyadari telah menitipkan anaknya pada ARTnya yang hidupnya pas-pasan.


Bagas yang baru pulang dari kerja yang tidak melihat Laras menyambutnya. Bagas masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan istrinya. Bagas melihat Laras tengah termenung, di tangannya ada sebuah majalah. Bagas tersenyum menghampirinya, dan duduk di sampingnya.


"Sayang...!" ucap bagas liris sambil meletakkan tasnya di sampingnya.


"Ehh, pa maaf mama nggak lihat papa datang!" jawab Laras gelagapan lalu mencium tangan suaminya. Bagas mencium lembut kening istrinya.


Bagas tersenyum, "Apa yang sedang mama pikirkan, papa perhatikan mama termenung?"


Laras menarik napas panjang dan menghembuskan secara pelan. "Pa, lihat ini!"


"Iya siapa dia ma?" tanya Bagas bingung melihat foto Elisa pada majalah.


"Dia desainer muda yang sukses pa, sekarang para artis banyak yang membuat gaun kepada dia. Andai anak kita bersama kita pasti dia juga sukses seperti wanita ini." Ucap Laras terlihat bulir air matanya menetes, dia sudah tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Ma, kesuksesan anak adalah campur tangan dari doa kedua orang tuanya. Dengan siapapun anak kita tinggal, InsyaAllah dia akan menjadi anak yang sukses. Percaya sama papa." Ucap Bagas lembut sambil memegang jemari tangan istrinya. Laras menyenderkan kepalanya di bahu Bagas.


"Semoga pa, pa kapan-kapan kita ke butik wanita ini ya. Untuk aniversary pernikahan kita mama ingin pesan gaun pada gadis ini." Ucap Laras manja.

__ADS_1


"Iya sayang, ya udah papa mandi dulu. Mama jangan sedih terus nanti mama sakit." Bagas mengecup kepala Laras lembut. Laras tersenyum, Bagas suaminya yang dulu pria egois kini berubah menjadi sosok suami yang penyayang.


Bagas beranjak dari sofa menuju kamarnya dan bersiap mandi. Sedangkan Laras menyimpan majalah lalu membawa tas suaminya ke kamar.


__ADS_2