Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.30


__ADS_3

1 tahun kemudian


Elisa kini sudah lulus SMA, terpaksa dia harus mengubur dalam cita-citanya. Cita-cita bagi Elisa hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan pernah menjadi kenyataan.


Sore ini udara terasa mendung seperti akan turun hujan, semilir angin menyapa Iwan yang sedang duduk menikmati secangkir kopi diteras depan.


"Elisa!" Panggil Iwan pada Elisa yang sedang bersiap memasak.


"Iya pak!" Elisa mendekati bapaknya.


"Duduklah nak!" Raut kesedihan terlihat jelas diwajah Iwan.


"Nak maafin bapak, kamu tidak bisa kuliah." Ujar Iwan lirih.


"Tidak apa pak, Elisa akan cari kerja yang lebih baik lagi." Jawab Elisa tegar.


"Gimana selama ini kamu kerja pada Juragan, apakah baik-baik saja." Iwan menatap anaknya.


"Iya pak.


"Apakah Juragan dan istri-istrinya memperlakukanmu dengan baik?" Ujar Iwan sedih.


"Iya pak mereka sangat baik." Jawab Elisa tersenyum.


"Syukurlah nak" Iwan sudah mulai tenang.


"Tapi tetap saja, hutang di Juragan belum bisa terlunasi. Jadi bapak tidak bisa hutang lagi untuk membiayai kamu kuliah." Wajah Iwan tampak sangat sedih.


"Tidak apa-apa pak, Elisa ngerti keadaan bapak. Elisa hanya ingin bapak sehat. Itu saja sudah cukup pak." Jawab Elisa menahan perih.


"Ya sudah nak teruskan memasaknya." Ujar Iwan tersenyum.


Elisa berlalu dari hadapan bapaknya. Tak terasa bulir air mata Iwan menetes. Elisapun didapur meneteskan air mata.


Dirumah Juragan

__ADS_1


Hari ini Juragan mengumpulkan keempat istrinya, dirumah istri pertama. Ada hal penting yang akan disampaikan.


"Kenapa abang manggil kita ya, ada masalah apa?" Ujar Lia istri kedua.


"Entahlah dek mungkin hanya supaya kita silaturahmi." Jawab Susi istri pertama dengan membawa teh dan roti.


"Mbak, biasanya abang ngumpulin kita kalau lagi ada acara atau momen lebaran. Ini sepertinya ada masalah, jangan-jangan abang mau nikah lagi?" Ucap Fatma Istri ketiga dengan nada jutek.


"Huss ga boleh ngomong gitu, abang dulu sudah janji ga akan nambah istri lagi." Susi menenangkan mereka.


Sedangkan Diana Istri keempat hanya diam dengan menggendong bayinya. Diana adalah istri yang paling banyak diam dan lebih dekat dengan istri pertama.


"Dek tidurin bayi kamu." Ucap Susi pada Diana.


"Iya mb!" Diana lalu menidurkan Bayinya didepan TV.


"Wah istri-istri cantikku sudah ngumpul rupanya." Juragan datang dengan wajah sumringah.


"Abang ada apa kenapa manggil kita disini." Ucap Istri kedua dengan ketus.


"Sabar, sebentar juga aku jelasin." Jawab Juragan tersenyum.


"Tapi apa?" Jawab istri ketiga ketus.


"Aku mau nambah istri lagi." Juragan tersenyum.


"Apa?" Jawab istri pertama dan keempat serentak.


Istri kedua dan ketiga tidak merasa terkejut, bagi mereka berdua Juragan mau nikah lagi itu terserah. Asal dia dibanjiri dengan kemewahan.


"Kenapa sayang?"Juragan menatap kedua istrinya bergantian.


"Abang sudah janji tidak nambah istri lagi khan." Ucap Susi dengan tegas.


"Terserah abang aja, yang penting jangan lupain kita." Ucap istri kedua.

__ADS_1


"Hahahaha pastilah sayang." Jawab Juragan sombong.


"Abang, dengan siapa menikah lagi?" Diana penasaran.


"Elisa!" Jawab Juragan lantang.


"Apa?" Susi dan Diana tampak terkejut.


"Abang dia masih kecil, jangan hancurkan masa depannya." Susi tampak sedih.


"Bang, cukup aku yang jadi korban bayar hutang jangan ada korban lagi, taubatlah abang." Diana berusaha menasehati Juragan.


"Sudahlah tidak ada yang bisa nolak, dulu Diana juga tidak mencintaiku. Sekarang sudah punya anak dua, dan bahagia." Juragan menatap tajam Diana.


"Iya aku tau, tapi tidak semudah yang abang bayangkan. Gimana menderitanya aku dulu." Jawab Diana membela diri.


"Elisa masih muda, biarkan dia meraih masa depannya." Susi tampak lesu.


"Masa depan apa, orang tuanya tidak bisa membiayai dia kuliah. Aku akan membahagiakan dia seperti putri." Juragan senyum sinis.


"Bang aku tidak masalah abang menikah lagi, yang penting jangan lupain kita." Ujar istri kedua.


Juragan hanya tersenyum mendengarnya.


Kemudian istri kedua dan ketiga pergi meninggalkan mereka. Juraganpun pergi meninggalkan susi dan Diana yang masih syok.


"Mbak, kasian Elisa dia anak yang pintar, baik. Kasian jika masa depannya harus hancur." Ucap Diana sedih.


"Entahlah dek, kita tidak bisa berkata apa-apa. Jika uang yang sudah berkata." Jawab susi lirih.


"Kita doakan saja, semoga pernikahan ini batal." Ujar Susi memegang pundak Diana lalu pergi.


Diana tersenyum, lalu menggendong bayinya dan kembali kerumahnya.


~ Jangan lupa like

__ADS_1


Komen


Dan vote ya. Terimakasih🙏


__ADS_2