Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.37


__ADS_3

1 Bulan kemudian


Hari-hari Nia diliputi kemarahan. Karena dalam pikiran dia gagal menjadi orang kaya. Nia semakin membenci Elisa. Elisa merasa tidak betah tinggal dirumah.


"Pengen rasanya mandiri, kos dan cari kerja sendiri. Kalau tetap dirumah bagaimana aku bisa berkembang." Bisik Elisa sambil cuci piring.


Tok tok


Tiba-tiba Elisa dikejutkan dengan ketukan pintu. Elisa berlari dan membukakan pintu.


"Assalamualaikum, Elisa. Sapa seorang laki-laki yang tidak asing lagi bagi Elisa.


"Eh kak Faisal, silahkan masuk kak. Kakak kapan datang?" Elisa tampak heran.


"Kemarin Elisa. Dan baru sekarang bisa kesini." Jawab Faisal ramah.


"Kamu baik-baik saja Elisa?"


"Iya kak, Alhamdulillah." Elisa tersenyum.


"Bapak ada?" Tanya Faisal.


"Ada dibelakang, Elisa panggilin dulu ya." Elisa lalu pergi kebelakang.


Tak lama Iwan sudah datang menemui Faisal.


"Eh nak Faisal, kapan datang?" Ucap Iwan sopan.

__ADS_1


"Kemarin pak." Jawab Faisal ramah.


"Nak, terimakasih ya sudah menyelamatkan anak bapak." Iwan menatap sayu.


"Iya pak sudah tugas kita saling menolong." Faisal tersenyum.


Elisa membawa secangkir teh dan menghidangkannya kepada Faisal.


"Terimakasih Elisa."


Elisa tersenyum lalu duduk didekat bapaknya.


"Begini pak kedatangan saya, saya hanya ingin menyampaikan kepada bapak kalau saya punya BTN yang ga ditempati. Kalau Elisa berkenan dan diizinkan Elisa bisa menempati dan merawat rumah saya itu." Ucap Faisal lembut.


Iwan menatap Elisa penuh pertanyaan.


"Elisa terserah bapak, kalau bapak mengizinkan Elisa juga ingin mandiri pak." Ucap Elisa dengan wajah ceria.


"Tapi nak bapak takut." Wajah Iwan tiba-tiba murung.


"Tenang pak, saya sudah pindah kerja disini. Jadi Elisa aman, gak akan lagi diganggu oleh bapak saya." Faisal tersenyum.


"Alhamdulillah nak, bapak senang mendengarnya. Bapak juga setuju kalau Elisa tinggal sendiri. Supaya dia bisa cari kerja sesuai keinginannya dan bisa mandiri." Ucap Iwan senang.


Nia yang berada didapur tampak kesal mendengar pembicaraan mereka.


"Sekali lagi terimakasih telah menghibahkan rumah ini dan membayar hutang-hutang kami nak." Iwan tampak sangat sedih.

__ADS_1


"Iya pak, maafin juga kelakuan bapak saya." Faisal merasa bersalah.


"Semoga kebaikanmu dibalas oleh Allah kak Faisal." Bisik Elisa dalam hati.


"Kalau begitu saya pamit pak." Faisal menjabat tangan Iwan dan Elisa lalu pergi dengan perasaan senang.


"Eh eh sudah sombong ya sekarang, mau tinggal sendiri." Nia tiba-tiba muncul dengan wajah suram.


"Ya ga apa-apa bu, anak kita sudah dewasa ga apa-apa dia belajar mandiri." Jawab Iwan lantang.


"Bela saja terus anak kamu ini, anak yang tak tau balas budi. Mau kabur dari rumah supaya bisa bebas." Ujar Nia ketus.


"Ibu...! Bentak Iwan.


"Sudah pak, nanti sakit bapak kambuh lagi." Elisa menenangkan bapaknya.


"Terimakasih sudah mengizinkan Elisa tinggal sendiri pak, pasti Elisa akan sering-sering kesini." Elisa gelendotan dilengan bapaknya.


"Iya nak, bapak ingin kamu bisa mandiri. Kalau dirumah terus, hidupmu gak akan pernah berubah." Iwan merasa sedih.


"Yang penting jaga diri, jangan tinggalin shalat." Ucap Iwan.


"Iya pak, InsyaAllah."


Elisapun pergi kekamar dengan perasaan bahagia, bisa bebas dari rumah yang membelenggu mimpi-mimpinya. Kenangan pahit yang selalu menghantuinya ada dirumah ini.


"Kak Siska, semoga Elisa bisa sukses. Bahagiain kalian semua." Janji Elisa dalam hati.

__ADS_1


Tak henti-hentinya Elisa mengucap rasa syukur.


~ Jangan lupa tinggalkan jejak, like dan komennya. Jika berkenan kasih vote ya. Terimakasih🙏


__ADS_2