Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.41


__ADS_3

Udara pagi yang sejuk, matahari tampak masih bersembunyi dari pandangannya. Elisa sudah berada didepan rumah, menyiram bunga-bunga yang tampak subur. Semilir angin menyapanya. Elisa tampak merasa bahagia dengan kehidupan yang dia jalani.


"Hmmm,apa itu?" Elisa mengambil kotak sedang bewarna pink dibawah bunga ashoka.


"Sepertinya pagi ini ada yang sengaja menaruh disini, terlihat tempatnya masih bagus?" Elisa bingung siapa yang menaruhnya.


Ketika membalikkan kotak itu ada sebuah tulisan kecil.


Goresan pena:


"Teruntuk Elisa".


Elisapun terkejut, apa ini. Dengan rasa dag dig dug takut ada yang ngerjain, Elisapun membuka kotak pink itu.


"Hmm baju dan jilbab." Ujar Elisa terkejut.


Ada selembar kertas didalam kotak itu.


"Elisa, kamu pakai nanti malam ya. Kita akan merayakan ulang tahunmu." Bunyi tulisan itu.


"Kak Faisal, kakak yang sudah memberikan ini untukku." Elisa terdiam, merasa tidak enak karena selama ini sudah merepotkan.


Elisa lalu masuk kedalam rumah, menyimpan baju pemberian Faisal dikamar. Lalu dia mandi dan bersiap-siap kerja.


"Hay Elisa, ceria kali muka kamu." Sapa Leni teman kerja Elisa.


"Hehehehehe iya" Elisa tertawa lalu bersiap untuk menjahit.


Leni adalah teman kerja Elisa yang begitu baik padanya. Suka duka selalu dia lalui bersama. Elisa seperti mempunyai keluarga baru saat bersama Leni.


"Eh Elisa, yang suka jemput kamu itu cowok kamu?" Tanya Leni sambil sibuk menjahit.


"Kak Faisal maksud kamu?" Jawab Elisa serius.


"Iya dia siapa lagi."

__ADS_1


"Emmmm. bukan, dia sudah aku anggap seperti kakak sendiri Len." Ucap Elisa tenang.


"Hmmm gitu, tapi sepertinya dia suka sama kamu." Ujar Leni tersenyum.


Elisa tiba-tiba berhenti menjahit, apa iya Faisal menyukainya. Jika ia bagaimana bisa, dia hanya menganggap Faisal seperti kakak sendiri. Tapi Elisa lalu menepis semua prasangkanya. Elisa yakin Faisal menganggap dia hanya sebatas adik, dan tulus membantunya.


"Ehhhh say, malah bengong." Leni melempar kain kecil ke Elisa.


Elisa menoleh kearah Leni dan cemberut karena ulah sahabatnya itu. Lenipun tertawa melihat tingkah Elisa.


Hari sudah sore, Elisapun kembali kerumah. Faisal sengaja tidak menjemputnya. Karena dia ingin menyiapkan surprise untuk ulang tahun Elisa.


Hari mulai gelap, Setelah shalat maghrib. Elisa bersiap dan memakai baju gamis mewah pemberian Faisal. Dia menatap wajahnya dicermin, selama hidupnya tidak pernah memakai baju semahal itu. Dia merasa wajahnya agak berbeda.


Tok tok


Elisa terkejut dengan ketukan pintu. Dia lalu pergi kedepan untuk membuka pintu.


"Eh kak Faisal." Ujar Elisa tersenyum


"Kak berangkat sekarang?" Ujar Elisa menyadarkan lamunan Faisal.


"Iya Elisa, ayok." Faisal tampak gugup.


Disepanjang jalan mereka tampak membisu, Elisa justru berhayal sedang ingin merayakan ultah bersama Farhan. Dan dia berdandan secantik itu hanya untuk Farhan.


"Elisa sudah sampai." Ucap Faisal lalu turun dari mobil.


Elisa berjalan mengikuti disamping Faisal. Mereka duduk ditempat yang sudah disiapkan. Dia sengaja memilih tempat duduk ditaman yang lampu tidak terang. Dimeja sudah tersedia kue ultah. Dan lilin menyala mengelilingi tempat duduk mereka.


"Kak Faisal, apa ini. Apa tidak berlebihan?" Elisa terkejut mendapat surprise seperti itu.


"Duduklah bidadari." Ujar Faisal tersenyum


Deggg..serrrrr

__ADS_1


Jantung Elisa seakan berhenti berdetak


Bidadari kenapa dia menyebut dirinya bidadari. Itu yang ada dibenak Elisa saat ini.


"Selamat ulang tahun bidadari cantik." Faisal menyalakan lilin yang ada diatas kue.


Elisa masih tak percaya apa yang ada dihadapannya. Lalu Faisal memberi kode Elisa untuk meniup lilin. Sebelumnya berdoa dan meniupnya.


"Elisa, sudah dua tahun kita kenal. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Sebelumnya aku minta maaf." Ucap Faisal tatapannya sayu.


"Minta maaf, kak Faisal tidak ada salah. Elisa yang banyak merepotkan kakak." Elisa menatap Faisal merasa tak enak.


"Elisa, aku mencintaimu." Ujar Faisal lirih.


Degggggggg...


Jantung Elisa berdetak sangat kencang.


"Cinta, apa ini kenapa jadi begini?" Elisa terdiam menatap Faisal.


"Maaf Elisa, aku sudah lancang. Tapi bagaimana lagi, aku ingin kamu menjadi istriku." Faisal tampak merasa bersalah.


Elisa bingung, Faisal terlalu baik untuk ditolak. Bagaimana dengan hatinya pasti hancur. Apalagi dia tau Faisal tidak pernah menjalin hubungan sama siapapun semenjak bersamanya.


"Bagaimana Elisa?" Faisal menatap penuh harap.


Elisa mengangguk, entah mengapa dia mengangguk.


"Terimakasih Elisa, aku akan secepatnya melamarmu." Faisal tampak sangat bahagia.


Merekapun kembali kerumah. Faisal tak menyangka jika perasaan Elisa sama dengannya.


"Ya Allah, jika dia ditakdirkan untukku aku terima ya Rabb." Elisa duduk dipojok kamar meyenderkan tubuhnya didinding air mata membasahi pipinya.


~ Like, vote dan komennya ya. Supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2