
"Ibu, ibu kenapa?" Rita khawatir dan menghampiri Elisa.
"Perutku sakit Rit, sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Elisa menahan sakit.
"Ayo bu saya antar kerumah sakit." Ucap Fitri takut lalu menelfon taksi.
Tidak butuh waktu lama taksi datang, Rita memapah Elisa masuk kedalam taksi.
Sampailah mereka diRS langsung masuk keruang bersalin. Sudah 2 jam, tapi Elisa belum melahirkan juga.
Rita tampak ketakutan, dia sudah berusaha nelfon tapi tidak diangkat juga sama Faisal.
Dregggggggggg 10x
Dreggggggggg, Rita mondar mandir didepan ruang bersalin sambil menghubungi Faisal tapi dirijek.
"Bagaimana ini, kata dokter mau di sesar. Tapi suami bu Elisa tidak muncul juga." Rita panik, wajahnya berubah pucat.
"Maaf anda siapanya pasien?" Suara dokter mengagetkan Rita.
"Oh iya dok, saya karyawannya." Jawab Rita gugup.
"Tanda tangani ini segera, pasien harus melahirkan sesar. Karena anak dalam kandungannya sungsang. Jadi tidak memungkinkan jika melahirkan normal sesuai permintaan pasien." Dokter menyodorkan selembar kertas.
Rita gemetar menandatangani, dia ketakutan takut tindakannya salah.
Elisa didalam berjuang hidup dan mati, sedangkan Faisal suaminya tidak perduli justru asyik dengan pacarnya.
__ADS_1
Rita diluar tampak tidak tenang, mulutnya selalu komat kamit memanjatkan doa. Tidak terlalu lama terdengar tangisan bayi, seketika Rita merasa lega. Entah beberapa jam dia tidak bisa bernafas lega.
"Alhmadulillah bu, bayinya laki-laki." Dokter memperlihatkan Bayinya pada Elisa yang sudah sadar.
"Makasih dok." Tak terasa bulir air mata Elisa keluar, air mata bahagia ketika melihat bayinya sehat. Derita Elisa seakan hilang semua.
"Alhamdulillah bu." Rita menghampiri Elisa dan melihat bayinya.
"Iya Rit makasih ya. Bagaimana bapak apa sudah tau?" Elisa.menatap sayu.
"I...itu bu, bapak akan segera kesini." Ucap Rita berbohong.
3 hari kemudian Elisa diperbolehkan pulang. Dia tidak mendapati suaminya dirumah.
"Kemana dia?" Elisa bingung suaminya tidak menyambut bahkan 3 hari tidak datang keRS.
Hari mulai sore, Elisa berharap suaminya akan pulang dia tidak sabar melihatkan bayinya yang belum diadzani ayahnya.
Krekkkkkk
Terdengar suara pintu terbuka, Elisa yang duduk diruang tengah terkejut dan senang ketika melihat yang datang suaminya.
"Ayah, ayah datang." Elisa menghampiri Faisal lalu memperlihatkan bayinya.
Faisal terkejut karena Elisa sudah melahirkan.
"Dek, ini bayi kita?" Faisal menatap tak percaya.
__ADS_1
Elisa tersenyum dan mengangguk. Faisal menghampiri lalu sadar jika dia belum mengadzani anaknya. Diapun mengadzani anaknya.
"Maaf ya dek, aku tidak nemenin kamu melahirkan." Faisal mengecup kening Elisa dan terlihat raut wajah bersalah.
Rita yang sedang menjahit menatap kearah Faisal penuh kebencian.
"Dasar laki-laki tukang selingkuh. Istri berjuang mempertaruhkan nyawa, dia entah kemana atau mungkin sama pacarnya." Umpat Rita dalam hati.
Beberapa hari kemudian, Elisa dan Faisal memberi nama bayinya Vino Adi Pratama.
Hari-hari Elisa sangat berwarna, semenjak kelahiran bayi pertamanya. Bahkan suaminya selalu cepat pulang karena ingin bertemu anaknya. Elisa tidak tau ada hal besar yang disembunyikan Faisal kenapa dihari kelahiran anaknya dia tidak mendampingi Elisa, Faisal berusaha menutup rapat-rapat. Yang awalnya ingin memberi tahu Elisa. Tapi berubah ketika melihat bayi imutnya.
"Bapak sama ibu sudah tau?" Faisal menatap Elisa yang sedang menyusui Vino.
"Iya bapak sama ibu sudah tau. Tapi bapak kurang sehat, nanti kesini setelah bapak sehat." Ucap Elisa sambil serius menyusui anaknya.
"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu ya. Vino ayah kerja dulu ya chayang." Vino mencium kening anaknya. Lalu mencium kening Elisa.
Elisa bahagia sekali melihat perubahan Faisal dan berharap suaminya akan kembali seperti dulu waktu belum menikah dan bisa hidup bahagia selamanya.
Rita yang sudah datang dang sedang mempersiapkan jahitan, tetap saja masih menaruh benci kepada suami bosnya itu. Bahkan tidak rela bosnya dibohongi dan diselingkuhi. Tapi melihat kebahagiaan Elisa, Rita tidak sanggup mengungkap kebusukan Faisal kepada Elisa.
"Rita, kenapa bengong?" Elisa tertawa ketika melihat Rita bengong.
"Eh ibu, ini bu. Bingung mau menjahit yang mana dulu." Rita mencari alasan.
Elisa menggelengkan kepala melihat tingkah karyawan yang sangat setia, dan sudah menganggapnya adik.
__ADS_1
~ Jangan lupa, like dan komennya. Vote juga ya, agar penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏