Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab.14


__ADS_3

Elisa tidak habis pikir kenapa ibunya setega itu, apa salahku. Segala pertanyaan muncul dalam benak Elisa. "Mengapa ibu tak menyukaiku dari aku masih kecil, mengapa ibu sangat membenciku." Air mata Elisa turun deras membasahi pipinya.


Malam ini Elisa hanya didalam kamar, menangis mengingat kejadian siang tadi. Segala pertanyaan muncul, kenapa perlakuan ibunya sangat berbeda ketika memperlakukan dia dan kakaknya.


"Juragan itu, kenapa sudah setua itu. Memiliki hati yang sangat jahat. Laki-laki yang sudah berulangkali menikah, mengapa masih menginginkanku. Aku yang pantas untuk menjadi anaknya. Ya Allah mengapa ini terjadi pada diriku." Bisik Elisa dalam hati.


"Elisa Elisa, kenapa kamu dari tadi tidak keluar kamar nak?"


Elisa terkejut dengan suara bapaknya.


"Elisa, tidak lapar pak Elisa banyak tugas, Elisa kerja tugas." Elisa menahan tangis yang sangat perih dalam hatinya dan berbohong pada bapaknya.


Iwan tampak heran, tidak seperti ini sebelumnya. Dia pasti selalu ikut makan malam bersama lalu mengerjakan tugas sekolahnya.


Iwan duduk termenung dikursi. Apakah Elisa tau siapa dia. "Tidak aku belum siap jika harus berpisah dengan Elisa." Tak terasa bulir air mata menetes di pipi kering Iwan.


Nia hanya cuek dan tidak memperdulikan suaminya. Dalam hatinya sangat senang karena tidak harus membayar hutang diJuragan. Dan hidupnya akan enak, tanpa susah-susah bekerja. Nia tersenyum penuh kelicikan.


Elisa keluar mengambil air wudhu, Iwan menoleh kearah Elisa. Elisa pura-pura tak melihat bapaknya. Iwan membiarkan anaknya berlalu dari hadapannya.


"Ya Allah, Ampuni dosa ibu bapakku. Sayangi mereka ya Allah."


"Ya Allah, jika aku pernah menyakiti ibu. Ampuni Aku ya Rabb. Aku bingung Ya Allah mengapa ibu membenciku. Apa salah Elisa ....!" Tangisan Elisa pecah ketika dia berdoa selepas shalat Isya.


Setelah shalat Elisapun merebahkan badannya. Perasaan gelisah berkecamuk dalam hatinya. Pikirannya benar-benar sangat kacau. Andai Allah tak melindungiku tadi, entah apa yang akan terjadi. Elisa mengingat kejadian tadi dirumah Juragan.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks" Elisa menangis dan berusaha menahan suaranya agar bapaknya tak mendengar.


Krekkkkkkkk


Elisa terkejut ketika pintu kamar terbuka, dia melihat kakaknya datang. Siska tersenyum melihat Adiknya sudah tidur.


"Adikku, tumben sudah tidur. Biasa kalau kakaknya datang selalu aja jahil. Tidur atau pura-pura tidur ya." Siska menghampiri Elisa dan melihat apakah adiknya itu tidur atau lagi jahil.


Elisa pura-pura sudah terlelap padahal ingin sekali dia mencurahkan semua kepada kakaknya." Tapi dia takut pada ibunya.


"Adik sampai kapanpun kakak akan menyayangimu, kakak akan berjuang demi kamu." Siska mencium kepala Elisa.


Elisa menahan perih, kakak sangat menyayangiku, mengapa ibu sangat membenciku.


Adzan shubuh terdengar dimasjid, Elisa dan Siska bangun untuk melaksanakan shalat. Tak sengaja, Siska melihat mata adiknya yang tampak sembab.


Elisa hanya menggelengkan kepalanya. Lalu berlalu dari hadapan Siska, dan berwudhu.


Siska masih penasaran, tidak pernah mata adiknya sembab seperti itu. Elisa jarang menangis, bahkan seumur hidupnya Elisa tak pernah sampai matanya sembab. Seperti ada masalah besar.


Mereka shalat berdua. Saat berdoa, Siska mendengar isak tangis Elisa.


"Hiks hiks hiks"


Siska menoleh kearah Elisa, dan memegang pundak adiknya.

__ADS_1


"Dek kamu kenapa, cerita sama kakak."


Elisa tak kuasa menahan tangisannya lalu memeluk kakaknya.


"Kak aku ini siapa?"Elisa semakin erat memeluk Siska.


"Dek kenapa berkata seperti itu, jelas-jelas kamu adikku." Siska merasa sangat sedih.


"Kakak dan bapak menyayangiku, mengapa ibu tidak kak?" Tangis Elisa semakin menjadi tapi berusaha menahan suaranya.


"Ibu tidak membencimu, itu hanya ungkapan kasih sayang padamu. Agar kamu bisa menjadi anak yang mandiri."


"Andai kamu tau kak, apa yang sebenarnya terjadi padaku. Ibu menjualku pada Juragan, hatimu pasti sakit kak." Elisa diam membisu dipelukan kakaknya.


"Sudah adik cantikku, hapus air matamu. Kita harus bantu ibu sebelum ibu marah pada kita." Siska mencium kening Elisa lalu pergi dari hadapannya.


Elisa menghapus air mata, mencuci mukanya lalu memakai bedak agar tak kelihatan jika dia habis menangis.


Seperti biasa mereka sibuk membantu orang tuanya dirumah, sebelum beraktifitas masing-masing.


Setelah sarapan, Elisa menuju kesekolah dengan menaiki sepeda. Sedangkan Siska pergi kerja dengan naik angkutan umum. Mereka berpamitan kepada kedua orang tuanya.


~ Jangan lupa tinggalkan jejak like


Dan komennya ya.

__ADS_1


Jika berkenan kasih vote ya. Terimakasih🙏


__ADS_2