
Hari pertama Elisa kerja dikonveksi, perasaannya sangat bahagia sekali. Dia berfikir inilah awal dari perubahan hidupnya. Jam 7 Elisa sudah berangkat dengan naik angkutan umum. Jarak hanya 3 km dari tempat tinggalnya.
Faisalpun akan berangkat kerja yang kebetulan satu arah dengan tempat kerja Elisa.
"Hmmm, pintu sudah terkunci dari luar. Apakah Elisa sudah berangkat?" Faisal memeriksa kunci pintu rumah.
Faisal terlambat mengajak Elisa berangkat kerja sama-sama.
"Hmm sepagi ini kamu berangkat Elisa. Ini baru jam 7." Faisal tersenyum kagum.
Elisa tiba ditempat kerja sebelum teman-temannya datang. Selang 30 menit kemudian, teman-temannya mulai berdatangan.
"Pagi bu, sapa para karyawan ketika bosnya datang dan masuk keruangan.
"Pagi, oya Elisa kamu bagian melipat pakaian yang sudah selesai dijahit. Setiap satu minggu, 2 kali kamu kursus menjahit." Fina menjelaskan tugas Elisa.
"Baik bu." Jawab Elisa senang.
Elisa senang sekali bekerja diperusahaan konveksi ini, dia juga diberi kesempatan untuk belajar menjahit. Alasannya karena yang membawa adalah sahabat dari bosnya.
"Alhamdulillah, dengan belajar menjahit. Aku bisa belajar dan mengembangkan bakatku, siapa tau aku bisa mendesain dan menjahit sendiri." Ucap Elisa dalam hati sambil memulai pekerjaannya.
Dirumah Iwan tampak memikirkan bagaimana nasib Elisa tanpa dirinya, mau menghubungi Elisa. Mereka sama-sama tidak mempunyai hp.
"Nak, doa bapak semoga kamu selalu dalam lindungan Allah. Semoga nak Faisal selalu menjagamu." Iwan terdiam sedih mengingat putrinya.
"Bapak tidak rela jika kamu kembali keorang tuamu, tapi suatu saat kamu juga harus tau siapa dirimu. Ketika kamu akan menikah kelak, harus bapak kandungmu sebagai wali." Tak terasa bulir air mata Iwan menetes.
"Pak, telfon anak kesayanganmu itu. Kalau sudah kerja jangan lupa ngirim uang, dia harus bisa balas budi." Ujar Nia ketus.
"Bu, dipikiran ibu kok cuma uang saja, apa gak ada yang lain?" Iwan tampak kesal.
__ADS_1
"Ya hidup butuh uang pak, kita dapat uang dari mana untuk makan? Bapak saja tidak kerja." Nia menatap tajam suaminya.
Sambil menjahit baju suaminya yang robek. Nia sesekali melihat tajam kearah suaminya.
"Mau nelfon tanya keadaan dia saja gak bisa."Iwan tampak sedih.
"Ya kalau dia anak yang baik, sampai sana nelfon orang tuanya. Bisa pinjam itu hp cowok pahlawannya itu." Ucap Nia ketus.
"Ya tunggu saja." Jawab Iwan lirih malas ribut dengan istrinya.
Tak terasa waktupun sudah siang, waktunya untuk makan siang.
Faisal tampak menunggu diluar, Elisa yang habis shalat dimasjid yang ada dilingkungan perusahaan melihat Faisal lalu keluar.
"Kak Faisal ada disini?"Elisa tampak heran.
"Iya, Elisa temani aku makan siang ya." Faisal tersenyum.
lisa mengangguk, Faisal tersenyum senang. Lalu mereka mencari warung yang dekat dengan mengendarai mobil.
Tibalah diwarung ayam lalapan. Mereka memesan makanan dan minuman.
"Elisa, kamu sudah kabari bapak kamu?" Tanya Faisal sambil menyantap makanannya.
"Belum kak, bingung bapak gak punya hp. Elisa juga gak punya." Jawab Elisa murung.
Faisal menatap kearah Elisa, merasa kasian kepada Elisa.
"Ya sudah doakan untuk bapak ibu kamu semoga sehat."
"Iya kak." Elisa tersenyum, saat makan agak idak berselera karena mengingat bapaknya.
__ADS_1
Setelah makan Faisal mengantar Elisa ketempat kerja.
"Elisa, kalau pulang tunggu aku. Kita pulang sama-sama!" Faisal tersenyum lalu melajukan mobilnya.
Seharian Elisa bekerja, Elisa sudah mulai kenal dan akrab dengan pekerja lain.
Akhirnya pekerjaan selesai, Faisal sudah menunggu diluar.
"Hy Elisa, ayo." Senyum ramah menyapa.
Elisa tersenyum lalu masuk kedalam mobil.
"Lohkak lewat dari rumah, emang mau kemana?" Tanya Elisa heran.
"Udah, nanti kamu juga tau." Jawab Faisal santai.
Faisal berhenti disebuah konter hp. Lalu memilih-milih hp pengeluaran terbaru. Setelah menanyakan harganya. Lalu mereka pulang.
Sesampainya dirumah Faisal memberikan hp baru kepada Elisa.
"Elisa, ini kamu pakai untuk hubungi orang tuamu."
"Loh kak, maaf Elisa gak bisa. Apalagi ini mahal kak." Elisa menolak dengan halus.
Faisal mengerti sifat Elisa, bagaimanapun dia memaksa. Elisa akan terus menolak.
"Gini anggap saja ini hutang, dicicil kalau kamu gajian." Faisal tersenyum mencari alasan.
"Baiklah kak". Elisapun menerima, karena dia juga sangat membutuhkan hp.
~ Jangan lupa like, vote dan komennya. Terimakasih🙏
__ADS_1