
"Elisa Elisa!" Suara teriakan Nia mengagetkan Elisa yang sedang merapikan kamarnya.
"Iya bu!" Elisa berlari dan menemui ibunya.
"Heh jangan mentang-mentang ini hari minggu kamu bisa enak-enakan libur. Itu cucian numpuk, kamu cuci." Hardik Nia.
Elisapun pergi mengambil pakaian kotor dan segera mencucinya.
"Bu, kenapa sih harus teriak-teriak didengar tetangga gak baik." Iwan muncul dari belakang.
"Kalau gak diteriaki mana ngerti dia, ga tau ibunya sibuk didapur malah nyantai dikamar." Nia tampak emosi.
Elisa hanya terdiam mendengar omelan ibunya, hatinya terasa sakit. Tapi dia tau jika menjawab kata-kata ibunya dosa.
"Bu bapak mau kekebun!" Ujar Iwan sambil mengambil sabit.
"Kekebun terus tapi gak da hasilnya." Gerutu Nia sambil menaruh panci dengan kasar.
Iwan tidak memperdulikan omelan istrinya, yang selalu menyalahkan dia. Dalam keadaan sakit seperti ini masih disalahkan.
Elisa sedih menatap bapaknya dari dalam kamar mandi. Tak terasa bulir air mata menetes.
"Elisa, cari suami yang kaya. Supaya hidup bapak ibumu ini bisa enak." Hardik Nia sambil membuat kue.
Elia hanya terdiam dan terus mencuci baju.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar.
"Buka pintu Elisa." Perintah Nia.
Elisa membuka pintu, dan merasa terkejut karena yang datang adalah laki-laki yang sangat dia benci.
"Silahkan masuk Juragan." Elisa mempersilahkan dengan sopan.
"Wah, bahagia rasanya dibukakan pintu oleh bidadari cantik ini." Juragan tersenyum menggoda Elisa.
Elisa memalingkan mukanya dan meninggalkan Juragan. Juragan masuk dan duduk dengan sombongnya.
__ADS_1
Nia melihat kedatangan Juragan, dan menyambutnya bak seperti raja.
"Juragan maaf, ada apa?" Tanya Nia merasa takut.
"Saya kesini hanya ingin mengingatkan kamu. Hutang kamu kapan dibayar?" Tatapan Juragan sangat tajam.
"Juragan sampai saat ini suami saya belum ada uang." Jawab Nia ketakutan.
Prakkkkkkkk.
"Tidak punya uang katamu!" Ujar Juragan sambil memukul meja.
Nia gemetaran, wajahnya tertunduk. Elisa yang mendengar dari dalampun semakin membenci laki-laki tua itu.
"Huh laki-laki kaya itu sombong sekali, bagaimana jika Allah marah dan mengambil semua hartanya." Bisik Elisa dalam hati.
"Panggil anak gadismu kesini!" Perintah Juragan dengan lantang.
"Elisa, kemari!Perintah Nia dengan keras.
Degggggggg deggggg jantung Elisa berdetak sangat kencang.
"Elisa!" Panggil Nia lagi.
"Hmmmm sangat cantik." Puji Juragan sambil memegang dagunya.
Juragan tetap duduk ditempatnya, dan memandangi Elisa. Juragan senyum-senyum sendiri. Sedangkan Nia merasa lega.
Elisa merasa risih karena dipandangi oleh laki-laki tua itu.
"Mau apa sih laki-laki tua ini?" Elisa terdiam gemetaran.
"Nia kamu mau hutang kamu lunas semua?" Tanya Juragan sombong.
"Iya tuan." Jawab Nia senang.
"Anakmu! hahaha..." Ujar Juragan tertawa keras.
Elisa semakin ketakutan, mau apa laki-laki tua itu darinya.
__ADS_1
Juragan berdiri lalu mendekati Elisa.
"Eh gadis cantik, kamu tambah cantik jika gemetar begitu." Juragan memegang rambut Elisa.
Elisa menangkis tangan Juragan dan sedikit menghindar.
"Hahaha berani ya kamu menolak sombong kamu!" Hardik Juragan ditelinga Elisa.
"Mau tidak mau, kamu akan menjadi milikku, mengerti!" Ujar Juragan mengancam.
Elisa ketakutan tapi berusaha tenang.
" Besok dia harus bekerja dirumahku, setiap sepulang sekolah. Gajinya untuk membayar hutang-hutangmu." Ujar Juragan senang.
"Kerja dirumah laki-laki tak tau diri ini." Bisik Elisa dalam hati.
"BaikJuragan." Elisa pasti kerja dirumah Juragan, dan akan bekerja dengan baik." Ucap Nia senang.
"Hahahaha bagus!" Juragan tertawa sombong .
"Aku tunggu besok, awas kalau kamu tidak datang." Hardik Juragan.
"Dan kamu Nia, jika anakmu tidak datang rumah kamu ini aku sita." Ancam Juragan.
"Baik Juragan!" Ujar Nia yakin.
Juragan lalu pergi dari rumah Nia dengan perasaan senang.
Elisa duduk dikursi dan merasa sangat syok. Nia tersenyum sinis.
"Hey Elisa kamu besok sepulang sekolah langsung kerumah Juragan. Jangan pernah bilang sama bapak kamu, Awas!" Ancam Nia lalu meninggalkan Elisa yang masih ketakutan.
"Bagaimana ini, aku harus ketemu dengan laki-laki itu setiap hari." Bisik Elisa gemetaran.
"Bagaimana jika dia tidak sopan lagi!" Air mata Elisa menetes.
"Kak Siska, Elisa takut." Elisa terdiam mengingat kakaknya.
Sepanjang malam, Elisa takut memejamkan mata. Takut waktu berjalan cepat. Takut menghadapi hari esok, bertemu dengan laki-laki yang pernah ingin melecehkannya.
__ADS_1
Tapi dia mengingat hutang-hutang orang tuanya Elisapun semakin tidak tega. Dan dengan berat hati akan menuruti kemauan ibunya. Untuk bekerja sebagai asisten rumah tangga.
~ Jangan lupa ya like, vote dan komennya. Terimakasih🙏