
Hari berganti hari, Elisa pun tumbuh menjadi gadis yang cantik dan sabar. Iwan sangat menyayangi anak angkatnya itu. Iwan tidak membedakan, dia menyayangi semua anak-anaknya.
"Huk...huk...huk!" Iwan sudah satu bulan batuk dan selalu sakit-sakitan.
"Bapak sekarang bapak ga usah kerja. Biar Elisa yang pergi cari uang pak." Ucap Elisa sedih sambil memijit punggung bapaknya.
"Kamu masih kecil nak, kasian kamu tiap hari jualan kue keliling." Iwan tampak pucat, tubuhnya semakin kurus. Guratan-guratan di wajahnya nampak sangat jelas.
"Bapak, kalau sakit-sakitan terus bagaimana kita mau makan, biaya sekolah anak-anak mahal, bisa stres ibu kalau terus-terus begini!" Nia ngomel-ngomel sambil membawakan kopi suaminya.
"Sabar bu bapak kan lagi sakit." Iwan menatap lesu.
"Sabar-sabar sampai kapan. Hutang di juragan sudah numpuk. Kemarin juragan datang menagih." Ucap Nia kesal dengan wajah masam.
Elisa hanya terdiam dan terus memijit punggung bapaknya. Elisa bingung tidak bisa berbuat banyak untuk membantu bapaknya.
"Siska juga akan kerja bu, Siska mau mencuci pakaian tetangga." Siska muncul dari dapur dan menghampiri mereka.
"Apa, jadi tukang cuci ngak ngak mau ditaruh di mana muka ibu." Nia tidak setuju dengan niat Siska untuk bekerja sebagai buruh cuci.
Elisa tampak heran, kenapa ibunya sangat menyayangi kakaknya. Beda perlakuan kepadanya. Apa yang sebenarnya terjadi, Elisa terdiam sambil terus memijit.
Keputusan Siska pun sudah bulat, dia mulai bekerja dengan mencuci pakaian tetangganya. Dan Elisa bertugas berjualan keliling.
Hari ini adalah hari minggu, Elisa bisa satu hari menjual kue. Dia akan pergi pagi dan kembali lagi siang hari untuk melanjutkan berjualan. Ibunya bertugas membuat kue di rumah.
Panas terik tak Elisa hiraukan, dia berjuang untuk keluarganya. Saat lampu merah, Elisa menuju ke sebuah mobil mewah warna hitam.
"Permisi...," Elisa berusaha menyapa orang yang ada di dalam mobil.
__ADS_1
Kaca mobil pun terbuka, senyum ramah dan wajah cantik menyapanya. Seorang pria tampan duduk mengemudikan mobil.
"Ibu, bapak ini mau beli kue Elisa?" Elisa menyodorkan kuenya dengan tersenyum ramah.
"Iya nak, bungkuskan 20 rb ya." Jawab wanita itu dengan senyum ramah mengembang di bibir ranumnya.
Elisa menyerahkan kue kepada wanita cantik itu. Mata mereka bertatapan, entah ada perasaaan aneh dari keduanya. Perasaan sudah lama mengenalnya.
"Ini nak, kembaliannya kamu ambil ya!" Dia menyerahkan uang 50 rb kepada Elisa.
Elisa menerima dengan rasa terimakasih dan mencium tangan wanita cantik itu.
Lampu merah pun telah usai. Akhirnya mobil melaju meninggalkan Elisa. Elisa menatap ke arah mobil mewah itu. Entah perasaan apa yang Elisa rasakan. Elisa merasa mengenal wanita dan laki-laki yang ada di mobil itu.
Laras menoleh ke belakang, tapi dia sudah tidak melihat Elisa. Laras merebahkan kepalanya di kursi mobil. Dia tampak sedih. Bagas menatap istrinya heran.
"Pa anak kita, mungkin sudah sebesar itu sekarang." Laras menatap sedih suaminya, matanya terlihat berkaca-kaca.
"Ma maafin papa ya, seandainya papa dulu tanggung jawab. Semua tidak akan terjadi." Ucap Bagas sedih mengingat masa lalu mereka.
"Sudahlah pa yang lalu biarlah berlalu, kita cari anak kita ya pa. Semoga dia selalu dalam lindungan Allah." Balas Laras tersenyum berusaha ikhlas dan melupakan perlakuan buruk yang pernah suaminya lakukan dulu. Itu cara Laras untuk berdamai dengan kehidupan dan ingin menjalani hidup tenang.
Bagas menghapus bulir-bulir air mata dipipi laras. Laras menyenderkan kepalanya di bahu Bagas, Bagas mengelus kepala istrinya dengan lembut. Bagas melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
Elisa berjalan dengan penuh tanda tanya tentang perasaannya. Dia merasa dekat dengan wanita dan laki-laki itu. Ingin sekali dia bertemu dan memeluk mereka. Elisa bingung dengan perasaannya. Elisa seakan sangat mengenal mereka dan berusaha mengingat di mana dia pernah bertemu dengan pasangan itu.
Sesampai di rumah dia terus terbayang dengan mereka berdua. Elisa duduk di samping bapaknya dan menceritakan kejadian tadi.
Iwan menatap Elisa, dia takut jika suatu saat Elisa diambil oleh orang tua kandungnya. Iwan tidak bisa membayangkan jika harus berpisah dengan Elisa.
__ADS_1
"Nak, kamu anak baik. Jadi wajar kalau orang lain berbuat baik padamu." Iwan mengelus kepala Elisa, hati Iwan pun bertanya-tanya siapa pasangan itu.
"Hehehe iya pak, Mereka baik sekali. cantik dan gagah, kaya lagi!" Elisa tersenyum polos menceritakan mereka.
"Pak, Elisa mau jadi orang kaya. Supaya bisa membahagiakan bapak dan semuanya." Elisa merebahkan kepalanya di punggung Iwan dengan manja.
Iwan mengelus-elus kepala anaknya. Tak terasa bulir-bulir air mata menetes dipipinya. Meski Elisa hanya anak angkat, Elisa sudah menjadi separuh dari jiwanya. Iwan sangat menyayangi Elisa melebih anak kandungnya.
"Belajarlah yang rajin nak, agar tak seperti bapak. Kamu harus sukses, bapak selalu mendoakanmu." Ucap Iwan mengelus rambut anaknya dengan penuh kasih sayang.
"Iya pak, Elisa harus sukses!" Elisa tersenyum penuh keyakinan.
Iwan tersenyum, hatinya terasa perih membayangkan jika Elisa harus kembali kepada orang tua kandungnya. Iwan merasakan tidak rela jika haru berpisah dengan Elisa. Iwan sangat menyayangi Elisa, Iwan tidak bisa berpisah dengan anaknya itu.
Dari pintu dapur, Siska menatap bahagia. Siska mengetahui rahasia tentang Elisa, dia berusaha menyembunyikan dari adiknya itu. Siska sangat menyayangi Elisa melebihi apapun.
Siska terdiam memikirkan jika suatu saat adiknya harus kembali pada kedua orang tua kandungnya. Mungkin hati Siska akan merasa hancur. Bagi Siska, adiknya adalah segala-galanya bagi hidupnya. Elisa adalah adik yang selalu membuatnya tersenyum dan saat mereka sedih mereka bisa saling menguatkan.
Siska kembali ke dapur untuk membersihkan rumah. Elisa datang menghampirinya dan membantu kakaknya membersihka piring. Terlihat wajah bahagia Elisa, Siska bahagia melihatnya.
"Dek, udah kamu istirahat aja. Kamu capek dari keliling apalagi cuacanya panas." Ucap Siska sembari memberikan segelas air minum untuk adiknya. Elisa duduk di dipan yang terbuat dari bambu sambik meneguk air putih.
Siska menghampiri adiknya dengan membawa sepotong kue sisa dari jualannya yang masih ada di rumah. Elisa memakan kue yang diberikan kakaknya. Siska menatap dengan senyum bahagia ketika dengan lahap Elisa memakan kuenya.
"Bagaimana jualan hari ini dek?"
"Laris kak, Elisa juga dikasih kue sama nggak tau siapa. Cantik, baik banget kak. Suaminya juga gagah kayak artis loh kak." Ucap Elisa terlihat bahagia menceritakan pasangan yang baru dia kenal.
"Alhamdulillah ya dek, semoga rezekynya mereka lancar ya." Ucap Siska tersenyum, entah mengapa dalam hatinya terbesit bagaimana jika itu orang tua kandung Elisa. Tiba-tiba hati Siska terasa sakit membayangkannya.
__ADS_1