Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps. 72


__ADS_3

Sepanjang jalan Elisa tampak merasa canggung dan merasakan dag dig dug. Sebentar lagi dia akan menemui kedua orang tuanya untuk mengatakan hal serius menyangkut masa depannya.


Sampailah mereka di rumah Elisa, Elisa semakin berdebar-debar saat melihat bapaknya di depan rumah tengah merapikan taman. Rumah Elisa sewaktu kecil sudah berubah, Elisa sudah membangun rumah kedua orang tuanya. Rumah mereka cukup besar meskipun tak semewah rumah yang Elisa tempati bersama Vino.


"Itu bapak kamu Elisa?" ucap Farhan turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Elisa. Elisa tersenyum sambil menggendong Vino dan dengan ragu turun dari mobil.


Iwan yang melihat ada mobil yang berhenti di depan rumahnya seketika menatap ke arah mereka. Iwan tersenyum ketika melihat anak dan cucunya datang.


"Nak, ternyata cucu kakek yang datang." Ucap Iwan menghampiri Elisa dengan wajah yang ceria, pria paruh baya itu tersenyum bahagia ketika bertemu dengan cucunya.


"Siapa ini nak? ayo masuk ke rumah." Ucap Iwan penasaran, Farhan tersenyum mengulurkan tangannya.


"Farhan pak."


"Oh nak Farhan, ayo masuk nak!" ucap Iwan ramah lalu mereka masuk ke dalam rumah.


"Ehh, cucu nenek datang." Ucap Nia meletakkan baju yang sementara dia jahit lalu menghampiri Elisa dan mengambil Vino.


"Siapa mas ganteng ini nak?" tanya Nia tersenyum lalu duduk di samping suaminya, Vino tampak tenang duduk di pangkuan neneknya.


"Saya Farhan bu." Ucap Farhan lembut.


"Iya ini dokter Farhan teman Elisa bu." Balas Elisa bingung.


"Oh gitu, nak kamu buatin minum buat dokter. Ibu masih mau gendong cucu, nenek kangen sama cucu gemes ini." Ucap Nia tersenyum sembari menciumi Vino.


Elisa pun beranjak ke dapur dan membuat teh hangat, sembari menyiapkan cemilan untuk dihidangkan. Iwan dan Nia ngobrol dengan Farhan. Nia sudah menerka-nerka jika Elisa dan Farhan ada hubungan spesial.


"Sudah berapa lama kalian kenal nak?" tanya Nia ingin tau.


"Sudah lama bu, dari kita SMA." Jawab Farhan lembut.


"Dari SMA, berarti sudah lama ya nak. Kok ibu baru lihat nak Farhan?"

__ADS_1


"Iya bu, Farhan tidak pernah main ke sini." Jawab Farhan lembut, Farhan ingat betul bagaimana perlakuan Nia pada Elisa. Farhan bingung sekarang Nia sudah berubah dan menyayangi Elisa.


Elisa datang membawa teh hangat dan cemilan. Elisa menghidangkannya dengan jantung dag dig dug mengira Farhan sudah mengatakan tujuannya datang ke rumah orang tuanya.


"Elisa duduklah!" ucap Farhan lembut, Elisa pun duduk dan menunduk bingung.


"Bapak, ibu kedatangan kami ke sini. Kami ingin meminta restu pada bapak dan ibu!" ucap Farhan hati-hati.


"Restu, apa kalian menjalin hubungan?" tanya Iwan seketika merasa bahagia.


"Iya pak." Jawab Farhan lembut, Elisa hanya diam dan menunduk.


"Alhamdulillah nak, akhirnya kamu bertemu dengan pria yang tepat. Sebagai orang tua kami hanya bisa merestui, sudah waktunya kamu bahagia nak." Ucap Iwan berkaca-kaca.


"Benar apa kata bapak kamu nak, kamu berhak bahagia. Vino pun butuh sosok seorang ayah. Ibu bahagia kamu sudah menemukan calon seorang suami dan calon ayah buat Vino." Ucap Nia terharu, Elisa tersenyum lega ternyata orang tuanya mengharapkan dia segera menikah.


"Kapan rencana orang tua nak Farhan ke sini?" Iwan menatap lembut.


"Kapan bapak dan ibu siap, kami ikut apa kata bapak dan ibu."


"Iya pak, nanti Farhan kabari waktunya." Ucap Farhan tersenyum lega.


"Nak, kamu adalah calon suami Elisa. Jadi, kamu harus tau tentang calon istri kamu." Ucap Iwan hati-hati lalu menarik napas panjang. Nia menatap suaminya apakah suaminya akan mengatakan siapa Elisa.


"Pak apa perlu bapak mengatakan pada nak Farhan?" tanya Nia bingung. Farhan pun semakin dibuat penasaran.


"Iya bu, bapak harus menjelaskan pada kak Farhan siapa Elisa." Ucap Elisa berkaca-kaca, meski sebenarnya Elisa sudah melupakan niatnya ingin bertemu kedua orang tua kandungnya. Karena Elisa sudah sangat bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka.


"Begini nak, Elisa sebenarnya (Iwan seakan berat mengatakannya. Dia terdiam sejenak lalu kembali mengatakan pada Farhan). Elisa bukan anak kandung kami."


Farhan terkejut dan terdiam, bayangan masa lalu terbayang dibenaknya dan mengingat bagaimana Elisa menderita dan diperlakukan kasar oleh ibunya. Sekarang Farhan tau alasannya mengapa ibunya memperlakukannya buruk. Sekarang saat Elisa berhasil dan sukses, ibunya berubah menyayanginya.


Farhan tersenyum tapi dia pun masih bingung dengan perubahan Nia. "Jadi Elisa bukan anak kandung bapak ibu, kalau boleh saya tau orang tua kandung Elisa di mana pak?"

__ADS_1


"Kami tidak tau nak mereka di mana, bapak dan calon istri kamu sudah mencari mereka ke Jogja ternyata ibu Elisa sudah meninggal dan bapaknya sudah pindah." Ucap Iwan matanya tampak berkaca-kaca.


Farhan menghela napas panjang lalu menghembuskannya secara halus. Ternyata wanita yang sangat dia cintai hidupnya sangat menyedihkan. Dari bayi harus berpisah dengan orang tua kandung, diasuh oleh orang tua angkat. Tidak pernah merasakan kebahagiaan, kini dia sukses karena usahanya sendiri. Ibu angkatnya menjadi berubah menyayanginya.


Elisa hanya terdiam ketika mengingat orang tua kandungnya dia pun ingin menemuinya. Tapi, disisi lain dia pun sudah sangat beruntung memiliki ibu dan bapak angkat yang menyayanginya terutama bapaknya yang tidak pernah membedakannya.


"Saya janji pak kalau kami sudah menikah kami akan mencari bapak kandung Elisa, walau bagaimana pun Elisa harus bertemu dengan bapak kandungnya sebelum terlambat." Ucap Farhan terlihat sedih. Elisa tersenyum bangga pada sosok Farhan yang sangat mencintainya tulus.


"Iya nak bapak senang sekali mendengarnya, bapak sudah tua nak. Bapak bisa lega saat Elisa sudah mempunyai pendamping, bisa menemaninya. Hidup anak bapak ini sangat sulit, bahagiakan anak bapak dan cucu bapak!"


"InsyaAllah pak, Farhan akan membahagiakan mereka." Ucap Farhan tersenyum, Elisa tersenyum mendengarnya.


"Tadi ibu masak ikan nila nak, sayur kangkung kesukaan Elisa. Ayo kalian makan, biar Vino ibu yang jaga." Ucap Nia beranjak lalu menuju dapur, Elisa mengikuti ibunya.


Elisa menyiapkan piring di meja makan, kebetulan bapaknya pun belum makan. Nia memasak untuk makan malam dan tidak mengetahui jika anak dan cucunya akan datang.


"Ayo nak bapak sudah lapar!" ajak Iwan lalu beranjak dari duduknya, Farhan tersenyum lalu mengikuti calon mertuanya.


Elisa tampak melayani bapak dan calon suaminya. Mengambilkan nasi dipiring mereka. Mereka pun menikmati makanan, Farhan tampak lahap dan tidak merasa canggung.


Selesai makan mereka pun pamit karena hari sudah mulai gelap. Mereka memutuskan untuk shalat maghrib di masjid.


"Pak kami pamit nanti keburu malam," ucap Farhan mengulurkan tangannya.


"Iya nak salam sama bapak ibunya ya." Balas Iwan memeluk Farhan.


"Nak, kamu nggak bermalam di sini?" tanya Nia sembari memberikan Vino pada ibunya.


"Tidak bu, mungkin kalau orang tua kak Farhan ke sini Elisa baru bermalam bu."


"Ya sudah kalian hati-hati ya nak. Cucu nenek, cium dulu." Nia menciumi cucunya.


Elisa dan Farhan pun meninggalkan rumah kedua orang tua Elisa. Farhan mengantarkan Elisa pulang ke rumahnya. Mereka singgah di masjid terlebih dahulu untuk melaksanakan shalat maghrib.

__ADS_1


🌿Jangan lupa like, komen dan vote. Makasih🙏


__ADS_2