
Hari demi hari, Elisa menjadi gadis yang sangat cantik. Disekolahnya dia menjadi idola, jadi tak heran jika banyak teman-temannya yang merasa iri. Meremehkan dan merendahkan status sosial Elisa. Tapi Elisa menanggapi teman-temannya dengan sabar.
"Eh liat cewek sok cantik itu." Putri salah satu ketua genk disekolahnya menunjuk kearah Elisa.
Putri mempunyai genk beranggotakan 4 anak mereka anak-anak orang kaya. Sifatnya sombong dan tidak mau kalah dari teman-temannya. Nama genknya, genk syantik.
"Hey mau kemana kamu." Gertak Putri pada Elisa.
"Mau kesana!" Elisa tampak cuek.
Putri menarik baju Elisa dari samping
"Hey, cewek sombong, kamu tidak sopan ya sama kakak kelasmu." Hardik Putri.
Elisa berhenti dan menatap Putri.
"Jangan menatap, tunduk." Putri menunjukkan telunjuknya dimuka Elisa.
"Jangan berani-berani kamu dekati Farhan, mengerti...!"
Elisa menatap Putri lalu tersenyun dan berlalu.
"Hey cewek kampung, Jangan sok kamu!" Putri tampak marah karena Elisa tidak memperdulikannya.
"Sudahlah Putri, cewek kayak gitu bukan saingan kamu." Lala menenangkan sahabatnya itu.
"Hih, awas saja."
Elisa melangkah kedalam kelas dia tampak murung. "Apa salahku, kenapa dirumah, disekolah, dimanapun berada tetap ada yang tidak menyukai keberadaannya." Elisa duduk dengan wajah sedih.
"Elisa, kenapa kamu?" Tini memegang pundak Elisa.
"Tidak Tin, hanya lagi kurang fit aja." Elisa berusaha mencari alasan.
"Eh, tadi ka Farhan nyariin kamu lho."
"Oh!" Elisa tampak malas mendengar.
"Hm tidak seperti biasanya, kenapa ya?" Gumam Tini dalam hati.
__ADS_1
Elisa mengagumi kepribadian Farhan, walaupun Farhan anak orang kaya, tapi dia sangat baik dan tidak sombong.
Farhan adalah ketua osis dan dia jago main basket. Perawakannya tinggi, putih dan tampan. Tak sedikit siswi-siswi menyukainya.
"Eh sekarang ada perlombaan basket antar sekolah. Kamu harus liat dan dukung idola kamu. Ayok...!" Tini menarik tangan Elisa.
"Aku malas Tin." Elisa tak bergeming sedikitpun.
"Elisa, Farhan nyari-nyari kamu. Please jangan buat dia memikirkanmu." Tini berlutut dihadapan Elisa.
Elisa menatap Tini.
"Eh, kenapa juga gara-gara aku tidak melihat dia main. Trus dia kalah, apa hubungannya coba?"
"Ah kamu polos banget sih say, dia menyukaimu." Tini tersenyum dan mencubit pipi Elisa.
"Suka?" Elisa tak mengerti
"Iya dia suka sama kamu." Tini tampak senang.
" Hah, sudahlah lupakan tentang cinta atau apapun. Aku tidak sebanding dengan dia." Elisa berlalu dari hadapan Tini.
Farhan...Farhan...Farhan..
pasti menang...go..go..go...
Teriakan bersorak-sorak melihat pertandingan basket. Tak ketinggalan genk syantik ikut heboh menyaksikan Farhan bertanding.
Farhan tidak fokus main, dia menoleh kanan kiri. Yang dia cari tak nampak, dia tampak lesu.
"Huh, bisa kalah nanti Farhan dan teamnya." Bisik Tini dalam hati.
Tini lalu pergi mencari seseorang yang bisa membuat semangat Farhan.
"Dimana dia"
"Oh..itu dia." Tini melihat Elisa sedang membaca buku dibawah pohon. Tanpa basa basi Tini menarik tangan Elisa.
"Ih apa-apaan ini, lepasin." Elisa meronta ingin melepas tangannya.
__ADS_1
Tini tidak memperdulikan Elisa.
"Tini, stop jangan paksa aku. Aku akan membencimu selamanya." Ancam Elisa, padahal dalam hatinya tertawa.
Tinipun berhenti dan melepaskan tangan sahabatnya itu.
"Oke oke aku mengalah, mau kamu apa?" Elisa menatap tajam sahabatnya.
"Please dukung Farhan kasih suport, dia bisa kalah."
Elisa memalingkan wajahnya.
"Pleasekalau kalah, sekolah kita juga akan kalah. Please demi nama baik sekolah kita." Tini terus memohon.
"Oke demi sekolah kita."
Tinipun merasa senang, dan merangkul Elisa.
Farhan menoleh kearah mereka berdua, hatinya sangat senang. Raut wajah yang murung berubah menjadi ceria.
"Ayo kak Farhan pasti menang" Tini teriak dipinggir lapangan.
Farhan menatap mereka dengan tersenyum. Benar saja Farhan semakin semangat mainnya.
Dari kejauhan Putri memandang mereka berdua dengan penuh kemarahan.
"Awas kamu Elisa, sudah berani kamu melawan saya!" Putri tampak pergi dari lapangan dan diikuti genknya.
Pertandinganpun telah selesai. Kemenangan diraih tim Farhan. Farhan menghampiri mereka berdua.
"Elisa, terimakasih!" Farhan menatap Elisa dengan lembut.
"Sama-sama kak. Elisa lalu pergi dari hadapan Farhan.
Farhan menatap kagum gadis pujaannya itu, dia tampak damai jika berada didepan Elisa.
"Elisa, jika aku sukses nanti. Aku akan mempersuntingmu." Farhan berdiri mematung sambil senyum-senyum sendiri.
~Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, dan komennya. Jika berkenan kasih vote ya. Supaya penulis semakin semangat berkarya. Terimaksih🙏
__ADS_1