
Hari ini Elisa berencana pulang kerumah untuk membicarakan niatnya untuk menikah dengan Faisal. Pagi sekali Faisal menjemput Elisa. Hati Faisal sangat bahagia, ternyata gadis yang dia cintai sama mencintai dirinya.
Suara mobil terdengar berhenti di depan rumah Elisa, Elisa merasa gelisah. Bingung dengan perasaannya. Dia tau keputusannya sangat menyakiti hatinya. Tapi dia tidak bisa melupakan semua kebaikan Faisal. Faisal juga sangat baik padanya.
"Elisa, kamu sudah siap?" Tanya Faisal saat Elisa keluar dari rumah.
"Iya kak" Jawab Elisa dengan memaksakan tersenyum.
Merekapun berangkat, dimobil Elisa tampak membisu. Tidak seperti biasanya dia yang sering bercanda, sekarang hanya diam. Faisal melirik kearah Elisa, Faisal menganggap ini hal wajar dia harus melepas masa lajangnya jadi ada perasaan bimbang.
Elisa tertidur dimobil, Elisa menyenderkan kepalanya di jendela.
"Sungguh aku laki-laki paling beruntung, mendapatkan pendamping sepertimu Elisa." Faisal menoleh kearah Elisa sambil tersenyum.
Elisa tampak nyenyak tidur, tidak memperdulikan jika Faisal senyum-senyum sendiri menatap pujaan hatinya itu.
Tibalah dirumah orang tua Elisa, setelah 2 jam perjalanan. Faisal membangunkan pelan Elisa.
"Elisa, bangun sayang" Faisal menggoyangkan bahu Elisa pelan.
Elisa terbangun, dia mengucek-ucek matanya.
"Emmm sudah sampai kak?" Elisa menatap wajah Faisal tersenyum kepada Faisal yang dekat dengan wajahnya.
Faisal mengangguk dan tersenyum manis kepadanya. Elisa memalingkan mukanya dan membuka pintu mobil.
Faisal dan Elisa berjalan beriringan, Elisa bingung apakah dia yakin ini keputusan yang benar.
Tok tok tok
Berulangkali Elisa mengetuk pintu. Terdengar langkah kaki dari dalam.
Krekkkkkkk
"Elisa!" Iwan terkejut saat membuka pintu, anaknya sudah 3 bulan lamanya tidak pulang karena kesibukan hanya mengirim uang.
"Bapak!" Elisa memeluk Iwan.
__ADS_1
"Nak Faisal, mari masuk." Ucap Iwan sopan.
Merekapun duduk diruang tamu, Elisa masuk kedapur untuk membuat teh.
"Kamu pulang Elisa." Ujar Nia dengan jutek.
"Iya bu." Elisa mencium tangan ibunya.
"Ohh sama nak Faisal." Ujar Nia berlagak sopan.
Faisal berdiri lalu mencium tangan Nia. Elisa keluar membawa teh hangat untuk mereka. Lalu duduk disamping Faisal.
"Pak bu, begini kedatangan saya kesini ingin menyampaikan niat saya untuk menikahi Elisa." Ucap Faisal dengan sopan.
Iwan menatap kearah Elisa, Elisa tersenyum menutupi kegalauannya.
"Baiklah nak, bapak senang mendengarnya. Kita orang tua hanya merestui." Ucap Iwan senang.
Iwan senang karena anaknya mendapatkan pendamping hidup yang baik, mapan dan terhormat bisa mengangkat derajat Elisa. Nia tak kalah senang karena Elisa mendapatkan orang kaya. Yang kapan saja bisa menjadi mesin atmnya.
Tak lama kemudian Faisal pamit, sedangkan Elisa tinggal untuk beberapa hari. Untuk menyiapkan lamaran.
"Pak ada apa?" Elisa memegang pundak bapaknya.
Iwan terkejut dan menatap sayu Elisa.
"Nak ayo kedalam, bapak mau bicara!" Ucap Iwan tanpa melihat wajah Elisa.
Merekapun duduk diruang tamu, ibunya juga ikut duduk. Nia tau mungkin suaminya akan memberi tahu siapa Elisa sebenarnya. Nia tampak tak setuju, jika Elisa tau dia anak angkat pasti Elisa akan meninggalkan mereka. Dan tidak ada uang mengalir lagi.
"Nak maafin bapak." Tatapan Iwan sangat sedih.
"Maaf, untuk apa pak?" Elisa menatap tak mengerti.
"Kamu!" Iwan berniat mengurungkan kata-katanya.
"Iya katakan pak." Elisa semakin penasaran.
__ADS_1
Iwan berdiri dan menghampiri Elisa.
"Kamu, sudah dewasa kamu mau menikah. Wali kamu adalah orang tua kamu. Jadi bapak!" Suara Iwan terasa berat.
"Iya wali Elisa bapak, kenapa bapak sedih." Elisa menatap sedih Iwan.
"Kamu bukan anak kandung bapak Elisa! Hiks hiks" Iwan menangis.
Degggggggggg
Jantung Elisa terasa mau copot. Tulang-tulangnya seakan remuk.
"Tidak pak, Elisa anak bapak sama ibu. Bapak berkata apa, apa bapak tidak mau mengakui Elisa anak kalian!" Elisa berdiri menatap tajam mereka, emosi wajahnya penuh kemarahan.
"Elisa, itu kenyataannya nak. Dari bayi kamu bapak asuh nak. Bapak harus jujur sekarang, karena jika menikah wali kamu adalah orang tua kandung kamu." Air mata Iwan mengalir deras.
Nia yang tidak pernah menyayangi Elisa, hatinya tersentuh dan baru kali ini diapun merasakan sedih.
"Elisa, yang bapak kamu katakan benar nak!" Nia mendekati Elisa memegang pundaknya.
"Ibu jadi ibu tidak pernah sayang sama Elisa, karena Elisa bukan anak ibu dan bapak?" Elisa memeluk Nia erat menangis sesenggukan.
Deggggggggg
Baru kali ini Nia sadar, Elisa sangat menyayanginya. Selama ini dia sudah jahat kepada anak angkatnya.
"Maafkan ibu nak." Nia membelai kepala Elisa.
"Jadi siapa orang tua kandung Elisa pak." Elisa melepas pelukannya dan duduk lemas.
"Marni teman bapak, tapi dia diJogja." Ujar Iwan mendekati Elisa.
"Baiklah pak, kita akan kesana. Elisa ada tabungan." Ucap Elisa berusaha tegar.
"Nak ini yang bapak takutkan, kamu akan ninggalin bapak dan ibu. Hiks hikkkksss." Iwan menangis berdiri menatap Elisa.
"Tidak pak, kalian adalah orang tua Elisa. Elisa tidak akan meninggalkan bapak ibu." Elisa memeluk Iwan. Nia mendekati mereka dan memegang pundak Nia dan Iwan.
__ADS_1
Setelah mengungkap rahasia besar itu, mereka hanya merenung. Merasakan kesedihan yang teramat sangat. Sepanjang malam Elisa susah memejamkan mata. Dibenaknya kenapa orang tuanya menyerahkan dia kepada orang angkatnya.
~ Like, vote dan komennya ya. Supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih🙏