Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab 9


__ADS_3

Sebentar lagi kelulusan, Elisa sudah tidak sabar lagi melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. SMA dia akan bersekolah di sekolah kejuruan menggambil jurusan Desain.


"Elisa!" Nanda mencolek bahu Elisa.


"Hmm napa?" jawab Elisa sembari tersenyum.


"Ngomong-ngomong, btw kamu lanjut ke mana?" tanya Nanda dengan senyum sumringahnya.


"Rencana ke SMK jurusan Desain." Elisa tampak semangat.


"Kamu tegar ke mana?"


"Kalau aku ke SMA." Tegar tampak bahagia.


"Kamu ke mana Nanda?"


"Aku, ke SMA juga." Jawab Nanda semangat.


"Jadi kita satu sekolah dong tegar." Nanda menatap tegar senang.


"Hehehe bosan aku Nanda. Wkwkwkw." Goda tegar pada sahabatnya itu.


"Ihhhh aku pun bosan sama kamu." Dalam hati Nanda merasa jengkel, walaupun masih SMP Nanda ternyata menyukai tegar.


"Sudah sudah kalian berdua ini kayak kucing sama tikus saja." Elisa mencubit lengan mereka berdua.


"Seharusnya kalian bersyukur masih bisa satu sekolah, aku berpisah sama kalian." Elisa tiba-tiba sedih.


Nanda memeluk sahabatnya. Nanda pun sedih mereka harus berpisah, susah senang mereka sudah lalui bersama sebagai sahabat terbaik.


"Elisa, kamu sahabat terbaikku sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi sahabat. Raih cita-cita, kita akan berkumpul saat kita sukses. Aamiin." Ucap Nanda sok dewasa.


"Hahahha, sok dewasa lah kamu Nanda." Ledek tegar dan tertawa ngakak.


"Ihhhhhhh awas kamu tegar!" Nanda mengejar Tegar yang berlari.


Elisa tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


Seketika Perasaan Elisa pun sedih, ketika dia mengingat keadaan orang tuanya. Bagaimana dia bisa melanjutkan sekolah sedangkan ayahnya sakit-sakitan. Dia yang selama ini mencari uang bersama kakaknya. Apakah dia putus sekolah saja. Tiba-tiba dia berfikir untuk berhenti sekolah.


Waktu pengumuman kelulusan telah tiba, Elisa sangat gembira dengan hasil kelulusannya. Dia mendapat juara 1, tapi Elisa pun masih sedih, karena mungkin tidak akan bisa melanjutkan sekolah.


Mereka bertiga berjalan bersama, bernyanyi gembira. Tapi Elisa hanya terdiam, Tegar menatap kearah Elisa.


"Bunga mawar, bunga kamboja


Hey Elisa kenapa kamu termenung saja?" Tegar menggoda Elisa.


"Ihhhhhh payah pantun kamu itu. Wkwkwkwkw...!" Nanda mengejek tegar.


Elisa hanya tersenyum kecut melihat tingkah kedua sahabatnya itu. Elisa memikirkan bagaimana kelanjutan sekolahnya nanti.


"Jangan sedihlah kita tak kan pernah berpisah untuk selamanya sahabatku yang cantik!" Ujar tegar sambil mencubit lengan Elisa.


"Aduhhhhhh!" Elisa tampak meringis.


"Hahahhaahahaha...." mereka pun tertawa.


Mereka pun kembali ke rumah masing-masing. Seharunya Elisa bahagia karena lulus dengan nilai memuaskan dan mendapat nomor satu. Namun, dia justru sedih karena tidak mungkin dia bisa melanjutkan sekolah lagi. Mengingat kondisi orang tuanya yang serba kekurangan dan bapaknya pun sering sakit-sakitan.


"Waalaikumussalam, bagaimana kamu lulus nak.?" Iwan menatap Elisa penuh harap.


"Iya pak, Elisa dapat peringkat satu." Elisa tersenyum lesu menyerahkan ijazahnya.


"Alhamdulillah, tapi kenapa wajah kamu murung begitu?" tanya Iwan heran melihat anaknya justru murung walaupun dapat peringkat 1.


"Elisa, tidak akan sekolah lagi kan pak?" tanya Elisa dengan tatapan sendu.


Iwan tampak diam, dia berfikir bagaimana bisa membiayai sekolah Elisa. Iwan menatap sedih anaknya. Lagi-lagi Iwan harus memutar otak memikirkan cara agar anaknya bisa sekolah.


"Elisa, istirahatlah nak. Besok kita bicarakan lagi!" ucap Iwan mengalihkan pembicaraan, Iwan tidak ingin melihat Elisa sedih. Iwan hanya ingin memikirkan sendiri bagaimana Elisa bisa melanjutkan sekolah.


"Iya pak." Elisa pun berlalu dengan wajah sangat sedih. Elisa mengganti pakaiannya, setelah mengganti pakaian Elisa makan siang dengan lauk seadanya. Setelah makan siang dia membantu ibunya di dapur, Nia tampak cuek dan tidak menanyakan tentang kelulusannya.


Keesokan harinya, Nia meminta Elisa mengantar pesanan kue ke rumah istri pertama juragan. Semalam istri Juragan sudah memesan kue pada Nia.

__ADS_1


Elisa pun berjalan menuju ke rumah istri pertama juragan dengan membawa baskom. kue. Elisa berjalan dengan membawa baskom berisi kue yang dia letakkan di atas kepalanya. Meskipun sudah remaja dan sebentar lagi duduk di bangku SMA, Elisa tidak pernah malu harus berjualan kue keliling. Bagi Elisa tidak ada kata malu jika perkerjaan yang dia lakukan halal dan membantu orang tuanya.


Meski hinaan sering ia dengar dari teman-temannya. Elisa tetap semangat menjajakan kuenya, Elisa mempunyai cita-cita suatu saat dia bisa sukses dan membanggakan kedua orang tuanya.


Tibalah Elisa di rumah istri pertama juragan. Eliaa berulangkali memnecet tombol pintu rumah yang terlihat cukup besar. Juragan yang di kenal kaya di desanya memiliki tiga istri. Semua istrinya mendapatkan kemewahan darinya.


"Assalamualaikum," berulangkali Elisa mengucapkan salam. Tetapi, tidak ada suara dari dalam, karena istri juragan masih sibuk di dapur dengan dibantu pembantunya. Karena, hari ini ada arisan di rumahnya. Arisan sekaligus mengaji bersama ibu-ibu majelis taklim.


"Assalamualaikum," Elisa mengulangi salamnya.


Juragan keluar dan membuka pintu. Matanya terbelalak menatap tajam ke arah Elisa, terkejut ada wanita cantik di depan matanya. Wanita muda yang begitu cantik natural tanpa make up, membuat darah juragan terasa berdesir.


"Assalamualaikum juragan." Ucap Elisa polos dan lembut.


"Ehhh, Waalaikumsalam." Jawab Juragan gelagapan karena dia sudah terpana dengan kecantikan gadis muda di depannya yang pantas dianggap anak.


"Ini kue, pesanan ibu." Elisa menyerahkan panci berisi kue pada Juragan.


"Ohh kamu anaknya Iwan, cantik kamu ya." Juragan tersenyum genit dan mencolek dagu Elisa.


"Ehhhhhhh...!" Secara refleks Elisa menangkis tangan juragan.


"Maaf." Juragan tersenyum sinis, tapi terlihat senyuman nakal menggoda Elisa.


"Siapa pak?" Istri juragan tiba-tiba muncul dari dapur.


"Ini anaknya Iwan ngantar kue." Jawab Juragan seakan tak terjadi apa-apa sambil menatap Elisa dengan senyuman menggoda. Elisa tampak risih dan acuh.


Dalam hati Juragan, dia harus memiliki gadis secantik dia. Otak jahatnya pun bereaksi, Iwan memiliki hutang sangat banyak, jadi dia bisa memberikan anaknya sebagai gantinya.


"Hahahha...!" Juragan tertawa dalam hatinya, otak liarnya sudah memikirkan bagaiman gadis yang masih ranum itu bisa menjadi pendamping hidupnya menjadi istri ke empat dan tentunya istri yang akan menjadi istri yang paling dia sayang.


Elisa pun buru-buru pamit pada istri pertama juragan. Jantung Elisa berdetak sangat kencang, gelisah dan kesal dengan perlakuan laki-laki tua yang pantas menjadi bapaknya. Justru laki-laki tua melecehkannya dengan menatapnya dari bawah sampai ujung kepalanya dengan tatapan nafsu.


Sepanjang perjalanan pulang Elisa menggerutu dengan kelakuan Juragan. Coba bapaknya tidak kerja di sana, mungkin dia sudah memaki-maki orang tua yang tidak punya sopan santun itu.


Dalam kemarahannya, tiba-tiba dia mengingat ada kebaikan Juragan hingga dia bisa bersekolah. Walaupun dengan cara berhutang, tapi tetap saja dia merasa terimakasih. Seketika dia melupakan perlakuan juragan yang tidak sopan itu.

__ADS_1


Elisa menganggap mungkin juragan sedang khilaf memperlakukannya tidak pantas. Elisa pun pulang dan berusaha melupakan kejadian di rumah juragan.


__ADS_2