
Sepanjang perjalanan Laras tampak sedih, dia diam menyesali perbuatannya. Andai dia tidak pernah berbuat hal terlarang dengan Bagas, hidupnya tidak akan seperti ini. Harus berpisah dengan anak kandungnya. Bulir-bulir air mata menetes di pipinya. Tatapannya kosong, Bagas melirik Istrinya dan terdiam.
"Ma sudahlah, jangan dipikir terus nanti mama sakit." Bagas menghampiri Laras yang sedang duduk termenung di taman belakang.
Laras terdiam tanpa menghiraukan perkataan suaminya. Tatapannya kosong, matanya sembab karena sudah beberapa hari menangis. Membayangkan bagaimana nasib anaknya.
"Ma kita akan cari anak kita. Papa janji, papa akan bawa anak kita kembali." Bagas menghampiri Laras sambil mengelus kepala Laras.
"Hiks...hiks...hiks." Laras menangis sesenggukan di dada Bagas.
Bagas duduk di depan Laras, mengangkat wajah laras dan menghapus bulir-bulir air mata Laras.
"Tatap mata papa ma, Papa janji papa tidak akan biarkan mama sedih. Anak kita pasti kembali."
"Hiks...hik...hikkkkks...!" Tangisan Laras semakin keras, dia memeluk suaminya erat. Air mata Laras membasahi dada suaminya.
"Maafkan mama pa, Mama khilaf." Ujar Laras terbata-bata menyesali perbuatannya dulu yang menyerahkan anak mereka pada orang lain.
"Ini bukan salah mama, papa yang ninggalin mama. Papa yang salah ma!" ucap Bagas menenangkan istrinya. Tak terasa bulir bening menetes di pelupuk matanya. Bagas sudah tidak bisa membendung kesedihannya lagi.
Laras menghapus air mata bagas, lalu memeluk erat suaminya. Laras berusaha untuk meredakan tangisnya.
"Pa dulu........." Laras menceritakan kejadian dulu.
Flas back
"Marni, kamu sudah lama kerja sama aku. kamu bisa bantu aku?" ucap Laras lirih di hadapan ARTnya. Bayi Laras ada di pangkuannya dan tengah tertidur.
"Iya bu, ada apa?" jawab Marni menatap bingung. Baru kali ini majikannya meminta bantuan padanya.
__ADS_1
"Marni, kamu tau ini anak tidak punya bapak?" Laras tampak sangat terpukul dan berat mengatakannya pada Marni.
"Iya bu, bu Laras sabar ya." Marni menatap bayi mungil di pangkuan Laras. Marni pun merasakan sedih dengan kondisi majikannya itu yang harus berjuang menanggung aib dan membesarkan anaknya sendiri. Ayah dari bayi itu tidak mau bertanggung jawab karena alasannya belum siap untuk menikah.
"Aku seorang model, aku sangat mencintai profesiku. Aku tidak mau karirku hancur!" ucap Laras air matanya mengalir deras di pipinya.
"Dia juga tidak mau bertanggung jawab." Ujar Laras penuh kemarahan, matanya terlihat bengkak karena menangis.
Marni menatap Laras, Marni tidak tega melihat majikannya itu menderita. Marni pun merasa sedih melihat majikannya harus membesarkan bayinya seorang diri.
"Jadi apa yang bisa saya bantu bu?" tanya Marni lirih.
"Tolong kamu jaga anakku, rawat dia aku akan memberikan sejumlah uang untukmu. Asuh dia anggap dia sebagai anak kamu. Jangan pernah ceritakan pada anakku kelak tentang diriku." Laras menyerahkan bayi itu kepada Marni. Air matanya terus membanjiri pipinya.
"Ibu mau ke mana?"
"Aku mau ke luar Negeri, meniti karir di sana. Dan melupakan masa lalu yang sudah menghancurkanku." Laras tak kuasa menahan tangis. Dia menangis sesenggukan di depan Marni dan bayinya yang sudah ada di pangkuan Marni.
"Bu terimakasih atas semuanya, InsyaAllah saya akan merawat anak ibu dengan baik."
"Terimakasih Marni, berikan kalung ini untuk anakku. Agar kasih sayangku selalu ada untuknya." Laras mencium Elisa, air matanya membasahi pipinya.
"Aku harus pergi ke bandara sekarang, jaga anakku Marni sayangi dia!" Tangisan Laras semakin keras.
Laraspun berlalu dari hadapan Marni. Marni hanya bisa menatap Laras. Marni tak kuasa meneteskan air mata dan berjanji akan merawat Elisa dengan penuh kasih sayang.
5 Tahun Kemudian
5 Tahun Laras di luar Negri, dia bermaksud kembali . Dia ingat anaknya tapi dia mencari Marni sudah tidak mendapati Marni di rumah yang dia belikan. Laras putus asa, dan bertemu dengan Bagas lalu mereka berniat menikah.
__ADS_1
"Ma sudahlah kita akan mencari anak kita. Kita pasti bisa menemukan Marni." Bagas menenangkan istrinya.
"Apakah anak kita baik-baik saja. Apakah hidupnya layak selama ini pa?"
"InsyaAllah ma." Bagas menatap dengan senyuman dan berusaha tegar.
"Bagaimana jika anak kita menderita, bagaimana jika Marni ingkar?" Laras tampak khawatir, dia menyesali perbuatannya yang telah memberikan anaknya pada orang lain.
"Ma...mama jangan berfikir yang belum pasti entar mama sakit."
"Ini dosa kita masa lalu pa, sudah berapa lama kita nikah. Kita tidak dikaruniai anak, karena dulu kita membuang anak kita." Ucap Laras perih.
Bagas hanya terdiam, dia pun sangat menyesali perbuatanya. Andai waktu bisa diputar kembali. Bagas terdiam penuh kesedihan.
"Mama janji, jika mama bertemu dengan anak kita jika hidupnya layak. Mama akan memberikan hadiah besar buat siapapun yang merawatnya. Mama akan rawat anak kita dengan kasih sayang, seberapapun mereka minta akan aku berikan asal anak kita kembali kepada kita."
"Kita akan cari sama-sama anak kita ma, percayalah pasti kita akan bertemu dengan anak kita." Bagas merengkuh kepala istrinya dan membelainya lembut.
Bagas memeluk istrinya, Laras menangis sesenggukan dipelukan suaminya. Dalam hati bagas berjanji akan membawa anaknya kembali. Dan menebus semua kesalahan masa lalu.
Mendengar cerita istrinya tentang anaknya yang diserahkan pada ARTnya. Bagas berpikir bagaimana kehidupan anaknya yang susah. Sedangkan dia selama ini hidup mewah. Bagas menyesal dan penyesalannya itu sudah terlambat. Bagas berpikir bagaimana menderitanya anaknya dengan ART yanh hidupnya pas-pasan atau bahkan kekurangan.
Bagas seorang pengusaha, hidup di rumah mewah dengan fasilitas wah. Sedangkan anaknya tinggal bersama seorang ART meski sudah mendapat rumah dari istrinya. Bagas tidak yakin jika anaknya hidup layak. Apalagi saat dia mencari rumah Marni, Marni sudah menjualnya.
"Ma, ayo kita makan. Bibi sudah menyiapkan makanan untuk kita." Ucap Bagas lembut pada istrinya yang menangis di pelukannya.
Laras mengagguk lalu beranjak dan berjalan menunu meja makan. Bagas di sampingnya merangkul bahu istrinya. Saat di meja makan, Laras terlihat termenung. Bagas mengambilkan nasi dan lauk di piring Laras.
"Ma...ayo makan, ingat kesehatan mama. Kalau mama sakit bagaimana kita mencari anak kita." Ucap Bagas lembut, matanya pun berkaca-kaca.
__ADS_1
Laras menatap nasi di depannya. Lalu mulai memakannya meskipun tak selera. Tapi, dia harus sehat agar bisa terus mencari anaknya. Dia ingin menebus kesalahannya ketika bertemu dengan anaknya dia akan membahagiakannya. Menebus semua waktu yang sudah terlewatkan.
Laras berharap suatu saat nanti bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan anak tunggalnya itu. Laras berjanji semua yang dimilikinya akan dia berikan pada anaknya saat dia kembali nanti.