
Setelah pertunangan Putri dan Farhan, Putri antusias mempersiapkan pernikahannya. Sedangkan Farhan lebih memilih fokus kerja di RS sebagai dokter baru. Farhan menyerahkan semua masalah acara pernikahannya pada mamanya.
"Nak, tadi Putri hubungi mama katanya hari ini mau fitting baju di desainer langganannya katanya." Ucap Santy saat mereka sedang sarapan.
"Farhan sibuk ma." Ucap Farhan lesu sambil menikmati sarapannya.
"Kan bisa izin dulu, ini penting nak." Ucap Santy berharap.
"Ma, kakak kan baru saja satu minggu kerja di RS izin ya malu lah ma, nggak profesional itu namanya." Ucap Mita sebal sambil melahap makanannya.
"Kamu ini ngerti apa, ini kan hari penting mereka." Ucap Santy kesal.
"Hehhh, kok pada ribut. Makan itu nggak boleh sambil ngobrol, ya benar kata Mita biar serahin aja urusan baju ke Putri." Ucap Ahmad menyudahi makan.
"Ya." Ucap Santy kesal.
"Pa, ma Mita berangkat kuliah dulu ya." Mita mencium tangan mama papanya.
"Iya hati-hati sayang, jangan ngebut bawa mobilnya jangan keluyuran juga." Santy menasehati Mita.
"Ya.." Ucap Mita berlalu dari hadapan mereka.
Farhan pun menyudahi sarapannya dan bersiap ke Rs. Begitu pun dengan Ahmad bersiap berangkat kerja, hanya tinggal Santy bersama pembantunya di rumah.
Farhan dengan semangat melaksanakan tugasnya sebagai dokter umum di RS. Farhan di kenal sosok pria yang baik, sopan dan cerdas walaupun masih baru Farhan sudah bisa membaur dengan yang lain.
"Selamat pagi" Ucap Farhan menyapa staf dan perawat yang berpapasan dengan dia.
"Selamat pagi dok." Jawab mereka ramah.
"Ganteng, bikin jantung dag dig dug." Bisik Lala seorang perawat pada temannya.
"Hahaha, iya La tapi dengar-dengar mau nikah. Calonnya katanya cantik banget kayak model tajir pula, kita mah apa atuh." Riri mencubit lengan Lala.
"Hhhhm, iya dengar sih tapi kan sebelum janur kuning melengkung bebas." Ucap Lala lirih sambil berjalan ke ruang pasien.
"Hussss, bisa di labrak entar loe dikatain pelakor mau?"
"Hehehehehehe, jadi pelakor untuk cowok seganteng Farhan mah aku rela." Ucap Lala kesemsem.
"Kamu ini, udah ah yang pasti-pasti aja yang masih sendiri jomblo tu banyak. Liat tu Bima ngejar-ngejar kamu kan." Ucap Riri geli.
"Hehhhh, Bima si kaca mata bulat itu hadeh ogah." Ucap Lala tertawa.
Begitulah Farhan menjadi idola baru di RS tempat iya bekerja. Banyak para wanita dokter muda yang mengagumi ketampanan dan kebaikan Farhan. Tak sedikit perawat yang mencari-cari perhatian ketika di samping Farhan saat menangani pasien.
Dregggggg dreggggggg
__ADS_1
Hp Farhan berdering, Farhan tampak masih santai duduk di ruang kerjanya karena belum waktunya menangani pasien. Dengan malas Farhan meraih hpnya.
"Ya" Jawab Farhan malas.
"Sayang, kamu sibuk nggak bisa kan kita sekarang fitting baju?" Ucap Putri manja.
"Sibuk."
"Ayolah sayang, please ini kan momen kita kita harus tampil perfect kan. Kamu bisa kan minta izin dulu, yuk aku jemput di RS ya?"
"Aku itu dokter, nggak boleh seenaknya izin-izin bisa gawat sama pasien aku yang kritis. Ngerti!" Ucap Farhan dengan nada ketus.
Putri terkejut dengan ucapan Farhan yang terdengar ketus. Putri sebal mendengarnya, tapi dia berusaha menerima perlakuan Farhan padanya. Putri sudah bahagia sudah mendapatkan Farhan dan Farhan akan menjadi miliknya selamanya.
"Ya sudah sayang, aku ke sana sama mama Santy aja." Ucap Putri lalu memutuskan panggilan telepon.
Dengan perasaan kecewa Putri pun menuju ke rumah calon mertuanya setelah berpamitan pada ke dua orang tuanya. Tak lama kemudian sampailah Putri di rumah Farhan. Bibi menyambut Putri dengan sopan.
"Non Putri silahkan masuk."
"Iya bibi, mama Santy ada?" Ucap Putri lalu masuk ke dalam rumah.
"Iya ada non."
Santy ke luar dari kamarnya, terlihat Santy habis mandi. Putri senang melihat mama mertuanya ternyata di rumah, dan Putri berharap mama mertuanya mau menemaninya fitting baju pengantin.
"Baru ma, eemmmm Putri mau ngajak mama fitting baju." Ucap Putri manja dan sudah memanggil Santy dengan sebutan mama.
"Oh gitu ya udah mama temani deh, calon suami kamu itu ya maklum lah sibuk." Ucap Santy tersenyum lalu berlalu dari hadapan Putri untuk siap-siap. Putri menunggu di ruang tamu.
Santy keluar dari kamar sudah tampak rapi dan bersiap menemani calon menantunya untuk fitting baju pengantin.
"Ayo sayang." Ucap Santy berseri-seri.
"Iya ma ayo." Putri tampak bahagia.
Mereka pun menuju butik tempat Putri memesan untuk dibuatkan gaun pengantin. Putri bahagia akhirnya tinggal selangkah lagi dia akan menjadi nyonya Farhan. Sampailah mereka di butik langganan Putri.
"Selamat datang mbak" Ucap karyawan butik dengan ramah.
"Hhhmmm ada sis Mila?"
"Ada diruangannya, sebentar ya saya panghil tunggu dulu ya mbak." Ucap Karyawan butik lalu berlalu dari hadapan mereka.
"Nak, ada lo katanya butik yang desainernya terkenal artis-artis gitu yang berlangganan ma dia kenapa nggak di sana aja nak." Ucap Santy penasaran.
"Sama aja ma, di sini juga bagus kok. Keluarga kita dari dulu di sini terus." Ucap Putri tersenyum.
__ADS_1
"Ya tapi kan ini momen spesial kalian, nggak ada salahnya cari yang wah gitu biar cetar." Ucap Santy bahahia.
"Hehehehe, ini juga akan cetar mama." Putri merangkul pundak calon mama mertuanya.
"Hmm malas aja harus bikin baju pengantin sama Elisa, bisa besar kepala dia nanti." Bisik Putri sebal.
"Ehhh, mbak Putri udah lama nunggunya ya?" Ucap Mila menghampiri mereka.
"Hehehehe, baru aja sis."
"Mmm, mana calon prianya?"
"Nggak bisa datang mbak dia sibuk biasa kan dokter, mama yang wakili." Jawab Putri bangga.
"Hehehehehe, ya ya sama aja ya mama mertua yang nemenin kan tau selera anaknya." Ucap Mila menggoda.
"Iya benar, yang nggak buat anak." Ucap Santy senang.
Mereka pun melihat baju pengantin, Putri memesan 3 gaun pengantin. Untuk akad nikah dan resepsi, selebihnya mereka memakai baju adat yang disiapkan perias pengantin.
"Cantik banget mbak, hmmm beruntung lah yang dapat mbak Putri ini."
"Hehehe, sis Mila bisa aja." Jawab Putri tersenyum bahagia.
"Iya benar sis, beruntung kita dapat mantu kayak Putri." Ucap Santy memuji.
"Hehehehehe, ikut senang lihatnya bu."
Setelah dirasa cukup fitting baju, mereka pun kembali ke rumah. Putri mengajak calon mertuanya makan di restauran setelah itu mereka kembali ke rumah. Putri mengantar calon mertuanya.
"Ma makasih ya, Putri langsung balik ya." Ucap Putri ketika mengantar Santy sampai di pintu.
"Ya sayang, hati-hati ya." Ucap Santy lalu mencium Putri.
Putri pun berlalu dari rumah Farhan. Putri bangga pada dirinya bisa menjadi pendamping Farhan yang banyak dikagumi oleh wanita semenjak Farhan duduk di bangku sekolah. Putri merasa pengorbanannya mendapatkan cinta Farhan tidak sia-sia.
Putri bahagia karena mendapatkan Farhan, di sisi lain Farhan masih belum move on dari Elisa. Bayang-bayang Elisa selalu menghantui pelupuk matanya, ada rasa benci, marah, kecewa. Tapi, Farhan pun tidak bisa menghilangkan rasa cinta yang teramat besar untuk Elisa.
Farhan kembali kerumahnya setelah satu hari menangani pasien di RS. Wajah Farhan tampak lesu, bukan karena kelelahan bekerja. Tapi, karena capek melupakan seseorang yang sangat Farhan cintai.
"Nak sudah pulang, bagaimana kerjaan hari ini?" Ucap Santy ketika melihat Farhan masuk ke rumah.
"Hhhm menyenangkan." Ucap Farhan lirih lalu masuk ke dalam kamar.
"Kenapa sih, sekarang banyak banget perubahan sama dia." Bisik Santy bingung menatap ke arah Farhan yang masuk ke dalam kamar.
Farhan menjatuhkan tubuhnya di ranjang menatap langit-langit kamar kedua tangannya memegang kepalanya. Hatinya terasa perih tapi dia berusaha melawannya, dia harus bangkit dan melupakan Elisa yang menurut dia sudah tidak bisa menjadi miliknya.
__ADS_1
**Jangan lupa like, komen dan vote. Terimakasih.