Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Eps.43


__ADS_3

1 minggu kemudian


Elisa dan Iwan hari ini akan pergi ke Jogja bersama bapaknya. Elisa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan orang tua kandungnya. Sedangkan Iwan merasa sedih karena Elisa akan meninggalkan mereka saat sudah menemukan orang tua kandungnya.


"Ayo nak!" Ucap Iwan saat Elisa keluar dari kamar.


Elisa mengangguk wajahnya sangat sedih ketika melihat raut wajah Iwan tampak murung.


"Ibu Elisa pamit." Elisa mencium tangan ibunya, Nia mengelus kepala Elisa dan tersenyum.


"Ayok Elisa, nanti ketinggalan pesawat." Faisal mengingatkan lalu memasukkan koper kemobil.


"Elisa, tidak apa-apa khan kamu sama bapak yang pergi? Abang banyak kerjaan." Ucap Faisal sambil nyetir mobil.


Elisa menoleh dan tersenyum pada calon suaminya. Faisal sudah membelikan tiket pesawat pulang pergi dan membiayai semua perjalanannya.


Sesampai dibandara, Elisa perasaannya campur aduk. Bahagia dan sedih, bahagia karena ingin bertemu dengan orang yang melahirkannya. Sedih ternyata selama ini dia hanya anak angkat seorang bapak yang begitu tulus menyayanginya.


"Elisa, hati-hati jaga bapak ya." Ucap Faisal tersenyum.


"Iya bang." Elisa mencium tangan Faisal.


"Sabar ya nak, Elisa hanya sementara disana." Iwan menepuk pundak Faisal.


Elisa dan bapaknya pun sudah berada didalam pesawat. Elisa termenung didekat bapaknya. Kepalanya dia rebahkan dipundak Iwan. Iwan tatapannya kosong, sangat sedih. Tapi dia harus melakukannya, karena Elisa sudah dewasa.


Beberapa jam kemudian mereka tiba diJogja. Kota yang sangat rame, mereka memanggil taksi.


Taksi mengantar mereka ketempat tujuan. Kedesa dimana Marni tinggal.


"Pak sudah sampai." Ucap sopir taksi


"Baik pak, terimakasih." Iwan memberikan ongkos mobil yang lumayan banyak.


Elisa melihat alamat rumah yang tertera dibuku kecil. Elisa terkejut, yang dia lihat rumah yang sangat usang. Rumput-rumput liar mulai menutupinya. Daun-daun kering berserakan diluar.

__ADS_1


"Pak kenapa begini, benarkah ini rumah ibu dan bapak Elisa?" Elisa tampak lemas. Ternyata mereka lebih menderita dari pada kehidupannya. Air matanya menetes, dan mulai sadar orang tuanya memberikan keorang lain karena faktor ekonomi.


Iwan tau kehidupan Marni mungkin mereka memang sangat kekurangan. Tetapi Iwan merasa rumah itu sudah lama tak berpenghuni.


"Marni, Marni." Iwan memanggil-manggil dari luar.


Tidak ada jawaban, mereka berduapun duduk didepan rumah. Diantara daun-daun dan debu yang beterbangan.


"Assalamualaikum!" Suara laki-laki tetangga Marni mengagetkan mereka.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka serentak.


"Bapak cari Marni, saya pak Rt." Ucap laki-laki mengulurkan tangannya.


"Iya pak, kenapa rumah ini seperti tidak ada penghuni?" Ucap Iwan bingung.


"Iya pak mereka sudah pindah. Bapak siapanya Marni?" Ucap pak RT.


"Saya temannya pak." Ucap Iwan.


Merekapun pergi kesebuah tempat. Tempat yang sunyi banyak pepohonan.


"Loh kenapa kesini pak?" Iwan menatap sekeliling begitu banyak batu nisan.


"Ini tempat Marni pak." Pak Rt menunjukkan sebuah kuburan yang telah usang.


"Maksudnya?" Elisa tampak lemas.


Iwan merangkul Elisa, Iwan tau jika yang dimaksud oleh pak Rt. Bahwa Marni sudah meninggal.


"Nak, ibumu sudah meninggal sekitar 12 tahun yang lalu." Ucap pak Rt hati-hati.


Degggggggg


Jantung Elisa berhenti berdetak. Tubuhnya lemas dia terjatuh dimakam Marni.

__ADS_1


"Ibu tidak, ibu belum meninggal." Air mata Elisa tumpah. Dia memeluk gundukan tanah dan menangis tersedu-sedu.


Iwan tak kuasa menahan tangis. Dia memegang pundak Elisa memberi kekuatan.


"Nak, ikhlaskan ibumu nak." Ujar Iwan menahan tangis.


"Bapak kenapa ibu meninggalkan Elisa, Elisa belum tau wajah ibu pak?" Elisa terus memeluk gundukan tanah.


"Nak ikhlaskan ibumu, Ini sudah takdir." Iwan mengelus pundak Elisa.


Elisa jatuh tersungkur ditanah, Elisa pingsan. Iwan sangat panik.


"Elisa, nak bangun nak." Iwan menggoyangkan wajah Elisa.


"Pak kita bawa Elisa kerumah saya." Ujar Pak Rt memapah Elisa.


Mereka naik mobil pak Rt. Elisa mulai sadar, lalu memeluk Iwan. Menangis didekapannya, Iwan mengelus kepala Elisa. Air matanya tumpah, kenapa Marni meninggal secepat itu. Elisa sebentar lagi akan menikah.


"Pak dimana suami Marni bapaknya Elisa?" Ucap Iwan menatap sayu.


"DiPalembang dia sudah mempunyai keluarga baru." Ucap pak Rt sedih.


"Tehnya pak nak!" Bu Rt menghidangkan teh dan roti. Bu Rt menghampiri Elisa dan menguatkan.


"Sebentar lagi anak saya menikah pak, dia butuh wali bapak kandungnya." Ucap Iwan sedih.


"Bagaimana ya pak, suami Marni saya tidak tahu nomor hpnya. Jika belum bertemu, wali boleh di wakilkan wali hakim." Ucap pak Rt menjelaskan.


"Nanti kalau suami Marni nelfon akan saya sampaikan pak." Ujar bu Rt sambil mengelus kepala Elisa.


"Menginaplah disini pak, sampai Elisa tenang." Ujar Pak Rt ramah.


"Iya pak saya berterimakasih sekali atas kebaikan bapak ibu." Jawab Iwan menahan sedih.


Elisa sudah mulai tenang, mungkin ini semua sudah takdir. Dari pada ibunya masih hidup tapi menahan sakit. Ibunya sudah tenang tidak sakit lagi. Elisa sudah mengikhlaskan, hanya dia berharap suatu saat bisa bertemu bapak kandungnya.

__ADS_1


~ Jangan lupa, like dan komennya. Jika berkenan vote ya. Terimakasih🙏


__ADS_2