
Tok tok tok
Iwan dikejutkan dengan ketukan pintu. Lalu Iwan bergegas membukakan pintu.
"Juragan!" Iwan tampak terkejut.
Juragan tampak tersenyum seramah mungkin.
"Maaf Juragan, ada apa? Tidak seperti biasanya datang kemari bersama istri-istri Juragan." Ujar Iwan heran.
"Ya ada maksud tertentu." Jawab Juragan tersenyum.
"Mana istrimu." Mata Juragan kesana kemari.
Iwan memanggil Nia, lalu Nia keluar dan menyambut mereka dengan membawa minuman hangat.
"Begini, kedatangan saya ingin melamar putri kamu Elisa." Ujar Juragan pede.
Iwan tampak terkejut. Dan bingung mau mengatakan apa.
"Maksud Juragan melamar anak saya untuk anak Juragan yang arsitek itu?" Ujar Iwan sopan.
"Hahahahaha aku melamar anak kamu untuk diriku sendiri."
Degggg
Jantung Iwan serasa berhenti berdetak, rasanya tubuhnya remuk bagai disambar petir.
"Ma maaf Juragan, apa tidak salah?" Iwan tampak gemetar.
"Kenapa, apa yang salah. Hutangmu terlalu banyak, aku akan menyelamatkanmu bahkan membahagiakan anakmu." Ujar Juragan sinis.
"Tapi Juragan, Elisa masih kecil." Iwan tampak menahan air matanya.
"Aku sudah bawakan seserahan mewah, mas bahkan barang-barang mewah. Kamu dan istrimu bisa hidup enak dan layak." Ujar Juragan lantang.
__ADS_1
Nia hanya diam, dalam hatinya sangat senang sekali dan tertawa bahagia.
"Maaf Juragan saya tidak bisa kebahagiaan anak saya tidak bisa ditukar dengan barang mewah sekalipun." Iwan berdiri.
"Heh jangan sombong kamu, jika kamu menolak. Rumah ini akan aku sita, mengerti!"
"Ini kunci rumah aku berikan padamu, jika kamu menerima lamaranku." Juragan memperlihatkan kunci sebuah rumah.
"Iya Juragan saya mau!" Nia tampak senang.
"Ibu!" Iwan menatap istrinya.
"Pak turutikemauan Juragan, kita mau tinggal dimana? Kalau tinggal dijalan lebih baik bapak ceraikan ibu." Nia mengancam.
Elisa yang mendengar hatinya terasa teriris, sakit. Tapi jika tak menuruti bagaimana dengan kedua orang tuanya. Bahkan bapaknya sudah tidak kuat bekerja.
"Saya menerima Juragan." Elisa muncul dari dalam.
Istri pertama dan keempat merasa terkejut dengan pernyataan Elisa.
"Ya Allah, kenapa ada lagi korban seperti aku." Bisik Diana sedih.
"Hmmm, dasar anak kecil mata duitan, dengar kemewahan mau saja diajak nikah aki-aki." Bisik istri kedua.
"Anak jaman sekarang buta karena uang, hilang harga dirinya." Gerutu istri ketiga.
Dengan wajah menahan sedih, Elisa duduk disamping bapaknya.
"Tapi ada syaratnya Juragan." Elisa berusaha tenang.
"Apa syaratnya Elisa, aku akn turuti semua kemauanmu." Juragan tersenyum.
"Aku ingin rumah mewah untuk ibu bapak, kebun, dan setiap bulan beri mereka nafkah yang bisa membuat mereka hidup layak." Ujar Elisa tenang.
"Baiklah itu syarat kecil bagiku, asal kamu menerima jadi istriku."
__ADS_1
"Satu lagi Juragan." Elisa menunduk.
"Iya katakan." Juragan tak sabar mendengarnya.
"Aku ingin pernikahanku sederhana saja hanya orang tuaku dan keluarga Juragan." Elisa berusaha menahan air matanya jatuh.
"Baiklah." Juragan sangat bahagia. Lalu mereka kembali kerumahnya.
"Hiks hiks!" Air mata Elisa tumpak sangat deras.
Iwan mendekati Elisa lalu memelukny.
"Kenapa kamu terima nak, bapak tidak bisa mengampuni diri bapak." Iwan tak kuasa menahan tangis.
"Hiks hiks!" Elisa sesenggukan dipelukan Iwan.
"Elisa sudah janji akan membahagiakan bapak sama ibu, mungkin dengan menikah dengan Juragan hidup bapak dan ibu akan bahagia." Ujar Elisa sedih.
"Tidak dengan cara itu nak, kamu masih muda kamu harus mengejar mimpi-mimpimu." Iwan membelai rambut Elisa.
"Mimpi pak, Elisa hanya bisa bermimpi tapi tidak akan pernah menjadi kenyataan." Elisa melepas pelukannya.
"Pak Elisa tidak akan bermimpi lagi, Elisa hanya ingin melihat bapak tersenyum." Elisa menghapus air mata Iwan.
Nia tampak diam tidak menghiraukan anak dan bapak yang merasakan kesedihan.
"Elisa, aku tidak bisa menjaga amanah Marni yang menitipkan kamu padaku." Iwan terdiam menatap Elisa.
"Pak Elisa mau shalat dulu."
Elisa mengambil air wudhu lalu shalat Ashar. Elisa menumpahkan kesedihannya didalam doa. Menyerahkan semuanya pada Allah, dan Elisa merasa ini adalah takdir yang memang harus dijalani.
Sabar dan ikhlas ketika ditimpa suatu ujian, ini adalah ujian semoga dirinya kuat menjalani hidup.
~ Jangan lupa tinggalkan jejak like, dan komen. Jika berkenan kasih vote ya. Supaya penulis semangat berkarya. Terimakasih
__ADS_1