Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab.17


__ADS_3

Farhan memikirkan Elisa, mengapa dia sangat murung tadi disekolah. Dan tampak sangat sedih. Ada masalah apa ya sebenarnya. Farhan tidak pernah melihat Elisa seperti itu.


Farhan merebahkan diri ditempat tidur, lelah sepulang sekolah. Perasaannya tidak tenang seribu pertanyaan muncul dibenaknya.


"Senyummu Elisa membuat diriku sejuk menatapmu." Farhan senyum-senyum sendiri mengingat pertama kali dulu dia bertemu.


"Hi hi hi lucu, pertama kali bertemu kamu tak sengaja menabrakku." Farhan tampak senyum-senyum mengagumi sosok Elisa.


"Hari ini aku melihatmu sedih, murung, hatikupun sakit Elisa." Andai kamu bisa mencurahkan semua rasa sakitmu.


"Hmm ada apa, mengapa gadis seceria kamu seperti menyimpan masalah yang besar." Farhan tampak sedih memikirkan Elisa.


Farhan menatap foto Elisa, sewaktu ospek dulu.


"Xixixi lucu kamu Elisa, cantik Pertama kali aku melihatmu. Ada getar dalam hati. Hihihi...!" Farhan menatap bahagia foto Elisa dan tertawa sendiri.


"Jika kamu menjadi milikku, aku tak kan membiarkanmu sedih." Bisik Farhan dalam hati.


Elisa seperti biasa dia sepulang sekolah berjualan kue. Lelah, letih tak dia hiraukan. Yang ada dipikirannya adalah membantu ibunya, dan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya agar bisa membayar hutang di Juragan.


"Kue kue kue, kuenya bu manis!" Elisa keliling sambil promosi kuenya.


Sesekali Elisa menyeka keringatnya.


"Hm panas sekali." Bisik Elisa lirih.


Elisa keliling dari satu tempat ketempat lain, dari perumahan lalu ketempat rame. Tanpa lelah Elisa menjajakan kuenya.


"Dek kuenya." Ada ibu-ibu yang membeli.


Elisa tersenyum, dan melayani pembeli.

__ADS_1


"Panas, lo dek. kamu ga capek tiap hari jualan, kulit kamu bisa hitam lo." Kata ibu-ibu iba melihat Elisa.


"Hehehehe ibu Elisa sudah biasa. Hitam ga papa bu, khan tetap manis." Ujar Elisa bercanda.


"Hehehe kamu, ini yang bikin ibu senang beli kuenya nak Elisa. Suka bercanda sih." Ujar ibu sambil tertawa.


Elisapun melanjutkan keliling untuk mencari pembeli. Tanpa merasa lelah sedikitpun, Elisa berjalan dengan membawa kue diatas kepalanya. Rasa malu tak ada lagi, bagi Elisa yang penting dia melakukan pekerjaan halal.


"Hey putri itu seperti anak kampung itu?" Ujar salah satu Genk syantik.


"Hah anak kampung sapa?" Putri tampak bingung.


"Elisa putri!" Lala memegang bahu Putri.


Sretttttttt


Putri menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba.


"Putriiiiiiii!" 3 temannya berteriak bersamaan.


"Dia jualan kue keliling say!" Ujar Anti


"Hahhaha cewek kampung itu, jualan kue keliling." Putri dan teman-temannya tertawa lebar.


Tapi Dini salah satu dari genk mereka merasa kasihan.


"Ya ga papa khan, jual kue halal khan." Kata dini membela.


"Hehhhh kenapa kamu jadi membela dia sih?" Hardik Putri.


Dini hanya terdiam tidak menanggapi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Waawwww bisa jadi berita hebat disekolah nanti. Wkwkwkwkwk...!" Mereka bertiga tertawa penuh kemenangan.


"Say mendekat kearah Elisa." Lala menyuruh putri.


"Oke oke tutup kacanya. Xixixixi..." Ujar Putri sambil tertawa.


Putri sengaja memberhentikan mobilnya didekat Elisa. Elisa pun menyangka jika akan ada yang membeli kuenya.


"Permisi, mau beli kue?" Elisa mengetuk pelan kaca mobil.


Kaca mobilpun terbuka. "Hahahaha.....Jualan kue ya?" Ejek mereka.


Elisa terkejut ternyata yang didalam mobil adalah teman sekolahnya yang sangat membenci dia.


Elisapun berlalu dari hadapan mereka. Tapi Putri mengejar Elisa, lalu menarik Elisa. Hampir saja Elisa jatuh, tapi berusaha menahan agar kuenya tak jatuh.


"Hey cewek kampung, saya ingatkan jangan dekat-dekat Farhan. Mengerti!" Ujar putri penuh kemarahan.


"Maaf, yang dekati Kak Farhan bukan saya. Tapi kak Farhan yang dekati saya." Jawab Elisa sambil tersenyum. Bukan bermaksud Elisa sombong, hanya malas meladeni mereka.


"Sudah berani ya kamu, belagu. Penjual kue saja sombong, kamu ga lefel sama aku. Paham!"


"Saya memang penjual kue, tapi saya kerja halal. Dan saya lebih baik dari kamu yang hanya bisanya minta sama orang tua." Elisa menjawab dengan tenang lalu pergi dari hadapan Putri.


"Hih awas kamu Elisa." Putri tampak merasa terhina.


Dini yang didalam mobil tersenyum, bangga dengan Elisa yang berani menjawab sahabatnya itu.


"Sudahlah say, besok kita pikirkan bagaimana cara mempermalukan dia." Lala menghibur Putri.


Merekapun kembali kerumahnya, Putri sangat Emosi dengan Elisa karena sudah berani padanya.

__ADS_1


Sedangkan Elisa, tetap berjualan tanpa memikirkan apa yang dia alami. Bagi Elisa, hal seperti itu tak harus dipikirkan. Dalam benaknya dia hanya ingin bebas dari cengkraman laki-laki tua itu.


~ Jangan lupa like, vote dan komennya ya. Terimakasih🙏


__ADS_2