Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab.22


__ADS_3

Hari ini Farhan sudah sangat rapi, Farhan berniat untuk Mengikuti Elisa, bagaimana dia sepulang sekolah harus berjualan kue keliling.


"Kue kue," Elisaberjalan menyusuri jalan yang sepi, panas terik sudah terbiasa baginya.


Satu tempat besar berisi kue berada diatas kepalanya, gadis ayu itu sedikitpun tak merasa malu. Pindah kesatu tempat ketempat lain. Dari jalan yang sepi diperumahan ke jalan yang rame padat akan kendaraan.


Andrian mengendarai mobil mewahnya, matanya kesana kemari mencari keberadaan Elisa.


"Sudah satu jam aku keliling tapi aku tak melihatmu Elisa." Gumam Farhan putus asa.


Elisa berjalan ditengah padatnya kendaraan, menawarkan dagangannya kepada pejalan kaki atau pengendara mobil yang sedang berhenti.


Ditengah keputus asaan, Farhan melihat gadis berjilbab yang membawa sesuatu diatas kepalanya.


"Diakah Elisa?" Dari jauh Farhan menatap seorang gadis berjilbab yang sedang melayani pembeli.


Farhan mendekatkan mobilnya, tapi tidak terlalu dekat. Semakin jelas Farhan menatap dan semakin jelas jika yang dia lihat adalah Elisa.


Elisa meneruskan berjalan menawarkan dagangannya kesatu orang keorang lain. Tak terasa air mata Farhan menetes.


"Elisa, begitu berat kehidupanmu?" Bisik Farhan lemah.


"Kamu tak pernah menampakkan deritamu, sungguh kamu wanita hebat." Farhan memuji Elisa.


Elisa berhenti dibawah pohon untuk istirahat sejenak. Dan menyeka keringatnya, dia tersenyum jualannya lumayan laris.

__ADS_1


"Andai aku disitu, aku akan menghapus keringat diwajahmu Elisa." Tatapan sedih Farhan, pilu melihat pujaan hatinya.


"Elisa, kamu pantas untuk dicintai. Aku janji suatu saat aku akan membebaskanmu dari kesusahan." Farhan terdiam menatap Elisa dari dalam balik kaca mobil.


Elisapun sudah cukup untuk beristirahat, diapun melanjutkan berjualan. Elisa tidak menyadari jika ada seseorang yang mengawasinya.


"Nak minta nak." suara kakek-kakek pengemis.


Elisa menatap kakek-kakek itu lalu memberikan sepotong kue.


"Kek, maaf aku hanya bisa memberikan ini. Ujar Elisa tampak sedih.


"Terimakasih nak, kakek lapar itu sudah cukup untuk mengganjal perut." Kakek itu menerima kue dari Elisa lalu memakannya.


"Sungguh mulia hatimu Elisa, bukan hanya wajahmu yang cantik tapi hatimu tak kalah lebih cantik." Puji Farhan sambil tersenyum.


Semua kue Elisa telah habis, Elisa tampak senang dan berniat langsung pulang. Farhan tetap mengikuti Elisa dengan mengambil jarak agak jauh.


Disepanjang jalan Elisa tampak semangat, sesekali bernyanyi menghilangkan kejenuhan. Dan memetik bunga-bunga yang dia lihat hanya sebagai mainan disepanjang jalan.


Sampailah Elisa dirumah, Nia yang tampak didepan rumah langsung menghadang Elisa dengan wajah yang suram.


"Apakah itu ibunya?" Bisik Farhan.


"Tapi, kenapa wajahnya berbeda. Ibu itu seperti ibu yang galak." Farhan mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Mana uangnya!" Nia mengulurkan telapak tangannya pada Elisa.


"Ini bu!" Elisa mengambil uang dikantong lalu memberikan pada ibunya.


"Bagus!" Nia tampak senang.


"Ini sapu kamu sapu itu depan rumah." Nia memberikan sapu lidi dengan kasar.


Elisapun menuruti tanpa mengeluh, tapi terlihat wajahnya sangat sedih.


Farhan yang melihat pemandangan itu sangat heran, mengapa ibunya Elisa sangat kasar. Berbeda dengan orang tuanya yang sangat memanjakannya. Apakah faktor ekonomi Farhan bingung memikirkan apa yang dia lihat.


"Elisa, lagi-lagi kamu sabar hatimu terbuat dari apa?" Farhan tampak tak tega.


"Jadi kapan kamu ngrasain bahagia, jika ibumu saja memperlakukanmu seperti itu?" Farhan bengong melihat Elisa menyapu.


Farhan terkesima dengan kecantikan Elisa, gadis berkerudung itu sangat ayu. Padahal terik matahari sudah membakarnya, tapi kecantikannya tidak pudar. Sungguh cantik dari hati. Farhan senyum-senyum sendiri.


"Jika suatu saat kamu menjadi milikku, akan kuperlakukan dirimu seperti putri." Farhan berjanji dalam hatinya.


Farhan sudah cukup mengikuti Elisa, dia tau bagaimana beratnya kehidupan Elisa. Dan Elisa memang gadis yang baik, yang tak pernah mengeluh dengan kondisinya. Wanita yang layak untuk dicintai dan dibahagiakan.


Farhan memutar mobilnya dan kembali kerumahnya. Sepanjang jalan Farhan merasa sedih dengan kehidupan yang dialami Elisa.


~ Jangan lupa tinggalkan jejal like, dan komennya. Jika berkenan kasih vote ya. Supaya penulis semakin semangat berkarya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2