Kesabaran Elisa

Kesabaran Elisa
Bab.23


__ADS_3

"Hay say, asyik banged." Tiba-tiba Tini menepuk punggung Elisa.


"Hmmm kamu ini!" Elisa merasa terkejut.


Elisa tampak sedang asyik menggambar, sedangkan teman-teman yang lain sibuk dengan aktivitasnya sendiri.


"Habis dari tadi serius amat, aku cari-cari tadi ditempat biasa kamu ga ada." Tini mencoba melihat apa yang digambar Elisa.


"Ya kamu bilang mau ketoilet lama kali, semedi kamu? Hahaha" goda Elisa sambil terus menggambar.


"Gambar apa sih, serius amat. Waawwwww cantik banged say." Tini kagum melihat gambar Elisa.


"Ah biasa say, itu hobby aku dari kecil. Dan cita-cita sih, sayang!" Elisa tak meneruskan kata-katanya dan wajahnya tampak sedih.


"Hmmm udah jangan sedih, ga papa bercita-cita ataupun bermimpi dulu. Karena orang sukses berawal dari mimpi." Tini melingkarkan tangannya dibahu Elisa.


"Kamu bercita-cita ingin jadi Desainer?" Ujar Tini sambil melihat Elisa menggambar.


Elisa hanya menganggukkan kepala, menahan sedih.


"Gambar kamu bagus banget tau, pasti suatu saat kamu akan menjadi Desainer terkenal." Puji Tini.


"Ahhhh kamu ini, orang seperti aku itu hanya bisa bermimpi say. Ya mimpi aja terus!" Elisa tersenyum kecut.


Tini merasa sedih dengan kondisi sahabatnya itu, iya benar yang dikatakan Elisa memang benar. "Tapi semoga dia suatu saat menjadi orang yang sucses." Bisik Tini dalam hati.


"Say, boleh ga gambar itu aku simpan. Ya sebagai kenang-kenangan." Tini memohon.


"Boleh apa sih yang ga boleh buat kamu, andai aku bisa berikan bintang untukmu akan aku berikan." Ujar Elisa terlihat serius.


"Wkwkwkwk apaan bintang? Terbang aja ambil kalau bisa. xixixixi."

__ADS_1


"Ihhh!" Elisa cemberut.


"Hahahaha" mereka berduapun tertawa bahagia.


"Elisa!" Tini memanggil Elisa pelan.


"Hmmmm!" Jawab Elisa singkat.


"Sebentar lagi kak Farhan lulus, dan pasti dah gak ada disekolah sini." Tini menatap Elisa.


"Ya tau, trus kenapa?" Elisa menatap heran.


"Emang kamu ga sedih gitu?" Tini menatap tajam.


"Sedih, Kenapa sedih?" Jawab Elisa cuek.


"Apa kamu tidak mencintai kak Farhan?" Tini sangat kepo.


"Itu lagi yang kamu masalahkan, cinta tidak mengenal status sosial." Tini tampak cemberut.


"Ya aku tau, walaupun aku cinta sama dia. Aku tidak mau pacaran dulu, aku hanya ingin ketika siap langsung nikah." Elisa tampak serius.


"Ya ya aku lupa, sahabatku ini sangat sholeha. Dan anti pacaran bagus!" Tini tertawa sambil mencubit lengan Elisa.


Elisa mengelus-ngelus lengannya sambil tertawa kecil.


"Elisa aku tau kamu mencintai kak Farhan, semoga suatu saat kalian bisa menyatu. Kak Farhan yang akan membahagiakanmu. Dan membebaskanmu dari kesusahan." Tini berdoa dalam hati.


Akhirnya jam pelajaran sekolah telah usai. Siswa siswi kembali kerumahnya masing-masing. Ketika sudah akan keluar pintu pagar. Elisa dikejutkan dengan panggilan.


"Elisa!" Farhan memanggil dan menghampiri Elisa.

__ADS_1


"Iya kak ada apa?" Elisa menatap Farhan.


"Kapan kamu ada waktu jalan sekali saja sama aku. Maaf!" Farhan menangkupkan kedua tangannya.


Elisa menatap Farhan sedih.


"Maksud kakak?" Elisa bingung dengan pertanyaan Farhan.


"Elisa, kamu tau sebentar lagi satu minggu lagi kelulusan. Aku mau satu hari saja kita jalan berdua, ya...?" Pinta Farhan memohon.


"Kak kakak tau khan, aku ga akan ada waktu kak. Sepulang sekolah aku harus berjualan." Elisa menatap sayu.


Farhan tampak sedih dan hanya bisa menatap Elisa tanpa sepatah katapun.


"Baiklah Elisa, aku minta maaf. Elisa aku mencintaimu?" Tiba-tiba tanpa sadar Farhan mengutarakan isi hatinya.


Elisa terkejut dan pura-pura tenang.


"Simpan cinta kakak sampai kakak sukses. Elisa tersenyum lalu pergi dari hadapan Farhan.


Farhan berdiri membisu, memandangi Elisa yang telah berlalu dari hadapannya.


"Elisa, aku akan pergi jauh darimu. Bagimana jika kamu menemukan pria lain. Aku tak akan pernah bisa hidup tanpa cintamu." Farhan tampak lesu.


Disepanjang jalan Elisa memikirkan kata-kata Farhan. Dan tersenyum membayangkan wajah tampan didepannya yang salah tingkah saat mengutarakan cintanya.


"Kak Farhan akupun mencintaimu, tak ada alasan aku tak menyukai pria sebaik kamu. Tapi aku sadar siapa diriku." Ucap Elisa dalam hati.


"Elisa, Elisasadar woi kamu siapa. Cewek miskin ga pantas untuk dia!" Elisa tersadar dengan harapan yang hanya akan membuanya sakit.


~ Jangan lupa, like, vote dan komennya ya. Terimakasih🙏

__ADS_1


__ADS_2